...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Senin, 06 Oktober 2014

Importor Eropa Incar Rumput Indonesia

Importir Eropa Incar Rumput Laut Indonesia
KOMPAS.com/ RAMDHAN TRIYADI BEMPAH
Head of Import Promotion Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), Pirmin Aregger, saat menghadiri jumpa pers di Hotel Novotel Bogor, Selasa (27/5/2014). Dirinya mengatakan akan memfasilitasi pertemuan para importir Eropa untuk mengenal produk rumput laut Indonesia. K97-14
Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut P. Hutagalung, berambisi untuk meningkatkan nilai ekspor produk rumput laut ke Eropa di tahun 2014. Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, menunjukkan bahwa untuk produk rumput laut pada tahun 2013 volume ekspor mencapai 182.000 ton, dengan nilai sebesar 209,5 juta dollar AS.

Nilai ekspor tersebut meningkat 17,8 persen dari nilai ekspor tahun 2012. "Jika melihat dari capaian peningkatan nilai ekspor dari tahun-tahun sebelumnya, besar kemungkinan di tahun 2014 nilai ekpor rumput laut akan meningkat," ucap Saut, saat menggelar Konferensi Pers di Hotel Novotel Bogor yang turut dihadiri oleh Head of Import Promotion Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), Pirmin Aregger, Selasa (27/5/2014).

Saut menjelaskan, nantinya sebanyak 10 perusahaan importir asal Eropa akan datang ke tanah air untuk melihat industri rumput laut, dan akan melakukan mitra kerjasama dengan sejumlah perusahaan di Indonesia.

"Ini merupakan kesempatan strategis untuk Indonesia. Karena saat ini, produk rumput laut Indonesia mempunyai kualitas terbaik dibandingkan negara-negara lainnya," katanya.

Saut melanjutkan, dengan meningkatnya nilai ekspor rumput laut dari Indonesia, diharapkan dapat menjadi penghela bagi tumbuh kembangnya industri pengolahan rumput laut dalam negeri.

"Rumput laut merupakan komoditas strategis yang bersifat pro-poor, pro-growth, pro-job, dan pro-environment," katanya.

Sementara itu Head of Import Promotion SIPPO, Pirmin Aregger mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi pertemuan para importir Eropa untuk mengenal produk rumput laut Indonesia. "Kami ingin menumbuhkan kepercayaan para importir untuk mengenal produk rumput laut Indonesia," ujarnya.

Kunjungan ke 10 perusahaan importir asal Eropa ini, rencananya akan dilaksanakan selama tiga hari. Selama berada di Indonesia, mereka akan mengunjungi sejumlah perusahaan pengolahan rumput laut di Jawa Barat.
Penulis: Kontributor Bogor, Ramdhan Triyadi Bempah
Editor: Erlangga Djumena
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/05/28/1051429/Importir.Eropa.Incar.Rumput.Laut.Indonesia#

PEMERINTAH GENJOT EKSPOR RUMPUT LAUT

Pemerintah Genjot Ekspor Rumput Laut


Rumput Laut
(Foto: Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) menggelar Foreign Buyer Mission Swiss Import Promotion Programe (FBM-SIPPO) yang digelar mulai 27 Mei 2014-30 Mei 2014. 

Kegiatan ini dalam rangka misi perdagangan guna meningkatkan pemasaran produk olahan rumput laut khususnya keraginan ke benua Eropa.

"Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan serupa yang telah dilaksanakan pada tahun 2013," seperti dikutip melalui keterangan resmi KKP, Jakarta, Selasa (28/5/2014).

Dalam acara ini akan dihadiri oleh 12  pengusaha dari 10 perusahaan importir karaginan dan agar di negara Eropa seperti Swiss, Jerman, Spanyol, Polandia, Norwegia, Irlandia dan Austria.

Di pihak Indonesia antara lain akan dihadiri oleh Hydrocolloid Indonesia, PT Agarindo Bogatama, PT Gumindo Perkasa Industri, PT Agar Swallow dan PT Galic Arthabahari. Lalu di Jawa Timur akan diikuti oleh PT Java Biocolloid, PT Amarta Carrageenan, PT Kappa Carragenan Nusantara, PT Algalindo. Sedangkan perusahaan dari Sulawesi Selatan yaitu PT Wahyu Putra Bimasakti dan PT Cahaya Cemerlang.
Selain itu, para buyer juga akan mengunjungi lokasi buidaya rumput laut jenis cottoni sebagai bahan karaginan dan gracilaria sebagai bahan agar guna meyakinkan para pembeli. Hal ini agar menunjukkan industri pengolahan rumput laut di Indonesia didukung dengan pasokan bahan baku yang kuat.
"Dengan meningkatnya ekspor agar dan karaginan dari Indonesia diharapkan dapat menjadi penghela bagi tumbuh kembangnya industri pengolahan rumput latu dalam negeri. Rumput laut merupakan komoditas strategis yang bersifat pro-poor, pro-growth, pro-job, dan pro-environment," tulis keterangan yang diterbitkan Selasa pekan ini.
Volume ekspor rumput laut mencapai 182 ribu ton dengan nilai transaksi US$ 209,5 juta atau meningkat sebanyak 17,8% pada 2013 dibandingkan dari tahun sebelumnya. Sementara untuk nilai impor produk rumput laut juga meningkat dari US$ 5,78 juta menjadi US$ 7,78 juta atau meningkat sebanyak 34,6%. (Amd/Ahm)
Credit: Agustina Melani

Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2055159/pemerintah-genjot-ekspor-rumput-laut


Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor Rumput Laut dan Kajian Trend Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia ke China

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/58112
http://mobile.repository.ipb.ac.id/handle/123456789/58112#sthash.9mneqT5j.dpuf

Sumber : http://mobile.repository.ipb.ac.id/handle/123456789/58112#sthash.9mneqT5j.dpbs


Studi tentang Daya Saing Rumput Laut Indoneaia di Padar Internasional

DatAuthorRajagukguk, Mark Majus
Abstract
Indonesia memiliki potensi sebagai eksportir rumput laut terbesar di dunia. Potensi perikanan Indonesia yang cukup besar, dimana kurang lebih dua juta hektar luas laut sangat cocok digunakan untuk pengembangan rumput laut. Jenis rumput laut yang banyak diminati pasar adalah jenis Euchema cottonii dan Glacillaria sp. Berdasarkan data FAO, Indonesia adalah negara terbesar ketiga sebagai produsen rumput laut, setelah China dan Philippines. Tahun 2007, Indonesia mampu memproduksi 1,733,705 ton rumput laut atau setara dengan 13.17 persen produksi rumput laut dunia. Dari sisi volume ekspor, Indonesia menempati posisi kedua setelah China dimana sejak tahun 1999 hingga 2006, Indonesia telah mengekspor 332,666 ton rumput laut dunia. Tetapi, apabila dilihat dari sisi nilai ekspor, Indonesia masih kalah tertinggal dari negara-negara dengan volume ekspor lebih rendah. Berdasarkan nilai ekspor, Indonesia hanya menempati posisi ke-lima, dimana sejak tahun 1999 hingga 2006 nilai ekspor Indonesia hanya 195,919 ribu US $. Kemudian, apabila ditinjau dari sisi harga ekspor, posisi Indonesia relatif masih kalah dibandingkan dengan negara lain. Pada tahun 2006, harga ekspor rumput laut Indonesia hanya 520.000 US $ per ton dan menjadikan Indonesia hanya berada pada posisi ke tujuh, kalah eksportir lain seperti Chile. Beragam permasalahan yang terjadi dengan produksi dan kondisi ekspor rumput laut Indonesia. Informasi-informasi tersebut diatas menjadi sebuah pertanyaan dan berbeda dengan seharusnya mengingat potensi Indonesia yang sangat besar dalam bidang perikanan dan kelautan. Informasi-informasi tersebut sekaligus dapat menunjukkan bahwa Indonesia masih belum memiliki daya saing untuk komoditi rumput laut di pasar internasional. Daya saing ekspor suatu komoditi di pasar internasional menggambarkan tingkat daya saing ekspor di pasar internasional dengan melihat besarnya pangsa pasar di dunia. Oleh karena itu daya saing dapat diukur dari persentase penguasaan pangsa pasar di negara-negara tujuan ekspor, dimana hubungan keduanya adalah positif. 

Artinya, jika pangsa pasar semakin besar, maka dapat dikatakan bahwa daya saing ekspor komoditi tersebut juga semakin besar. Merujuk kepada pernyatan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia di pasar internasional, dimana akan dianalisis menurut negara tujuan ekspor yang diurutkan berdasarkan nilai ekspor terbesar. Dalam penelitian ini juga akan diketahui apa faktor-faktor yang diduga mempengaruhi perubahan penguasaan pangsa pasar ekspor di negara tujuan serta pengaruhnya terhadap pangsa pasar ekspor rumput laut di negara tujuan ekspor. Kemudian, dari hasil yang diperoleh akan dianalisis posisi daya siang ekspor rumput laut Indonesia di negara tujuan ekspor, dimana apabila pangsa pasar lebih besar atau sama dengan 20 persen, maka dapat dikatakan bahwa rumput laut Indonesia memiliki daya saing di negara bersangkutan. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai faktor-faktor apa yang mempengaruhi perubahan pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia, serta pengaruhnya. Informasi ini penting untuk diketahui untuk dapat menentukan posisi daya saing serta strategi yang dapat dilakukan oleh para pengambil kebijakan dari hasil penelitian. 

Faktor-faktor yang diduga sebagai variabel yang mempengaruhi pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia di negara tujuan ekspor adalah volume ekspor rumput laut Indonesia ke negara tujuan ekspor (Q), harga ekspor rumput laut Indonesia (PX), nilai tukar (NT), GDP per kapita negara tujuan ekspor (GDP), serta produksi nasional rumput laut Indonesia (PR). Penelitian dilakukan dengan menggunakan data-data sekunder yang diperoleh dari badan-badan yang kompeten seperti DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) Republik Indonesia, FAO (Food and Agricultural Organization), UN Comtrade (United Nations Commodity of Trade), FED (Federal Reserved), Departemen Perdagangan RI, Badan Pusat Statistik, serta lembaga-lembaga lain yang diperlukan untuk penelitian. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia di negara tujuan ekspor dilakukan dengan regresi data panel, yakni dengan melakukan metode Pooled OLS, metode Fixed effect, dan metode Random effect. Penggunaan dan penjelasan ketiga metode ini akan dijelaskan kemudian dalam skripsi. Metode terbaik yang digunakan berdasarkan uji yang telah dilakukan adalah metode Fixed effect. Pada model yang dihasilkan, ternyata tidak semua variabel yang dinyatakan berpengaruh nyata secara statistik terhadap pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia. Variabel yang dinyatakan berpengaruh nyata secara statistik terhadap pangsa pasar adalah volume ekspor ke negara tujuan (Q), nilai tukar (NT), dan GDP per kapita negara tujuan (GDP). Sedangkan variabel harga ekspor (PX), dan produksi rumput laut nasional (PR) adalah variabel yang tidak berpengaruh nyata secara statistik. 

Model pangsa pasar yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mengetahui posisi daya saing ekspor rumput laut di negara tujuan ekspor pada tahun-tahun tertentu. Dari hasil analisis yang dilakukan, Indonesia memiliki daya saing di negara Hongkong, Philippina, Spain, dan Denmark. Hal berbeda ditemukan pada negara China dimana pada negara tersebut Indonesia baru berdaya saing setelah tahun 2004. Sedangkan untuk negara USA, Indonesia baru mempunyai daya saing pada tahun 2006, demikian juga dengan di Korea Selatan baru pada tahun 2005. Sedangkan di negara Jepang, United Kingdom, dan France, Indonesai sama sekali tidak memiliki daya saing. Hal ini terjadi karena beberapa permasalahan seperti mutu dan kualitas produk Indonesia yang masih rendah. Indonesia sebaiknya mulai untuk melakukan ekspor dalam bentuk olahan, bukan hanya dalam bentuk bahan baku (raw seeweds). Hal ini akan menambah nilai ekspor yang berdampak pada peningkatan harga ekspor. Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah peningkatan mutu rumput laut ekspor. Peningkatan mutu dan adanya kerjasama dari berbagai pihak dapat menjadi dorongan modal baru bagi peningkatan posisi daya saing ekspor rumput laut di pasar intrnasional.
- See more at: http://mobile.repository.ipb.ac.id/handle/123456789/14083#sthash.PL9gstIC.dpuf
Sumber : http://mobile.repository.ipb.ac.id/handle/123456789/14083#sthash.PL9gstIC.dpbs


GENJOT EKSPOR RUMPUT LAUT, PEMERINTAH BANTU PROMOSIKAN 11 PERUSAHAAN

Genjot Ekspor Rumput Laut, Pemerintah Bantu Promosikan 11 Perusahaan

May 30, 2014 - 
Source : http://finance.detik.com/read/2014/05/27/105434/2593226/1036/genjot-ekspor-rumput-laut-pemerintah-bantu-promosikan-11-perusahaan
Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut P Hutagalung memaparkan, buyer yang akan datang dan siap melakukan bisnis di Indonesia pada acara tersebut berjumlah 12 orang dari 10 perusahaan importir karaginan dan agar di negara-negara Eropa seperti Swiss, Jerman, Spanyol, Polandia, Norwegia, Irlandia, dan Austria.
Adapun perusahaan Indonesia yang akan dimitrakan yaitu Hydrocolloid Indonesia, Agarindo Bogatama, Gumindo Perkasa Industri, Agar Swallow, Galic Arthabahari, Java Biocolloid, Amarta Carrageenan, Kappa Carragenan Nusantara, Algalindo, Wahyu Putra Bimasakti, dan Cahaya Cemerlang.

"Dengan meningkatnya ekspor agar dan karaginan dari Indonesia diharapkan dapat menjadi pendorong tumbuhnya industri pengolahan rumput laut dalam negeri. Rumput laut merupakan komoditas strategis yang bersifat pro-poor, pro-growth, pro-job, dan pro-environment," kata Saut dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/05/2014).

Menurut data KKP, nilai ekspor produk perikanan Indonesia pada 2013 mencapai US$ 4,18 miliar dan nilai impor US$ 467,4 juta. Khusus untuk produk rumput laut, pada 2013 volume ekspor mencapai 182 ribu ton dengan nilai US$ 209,5 juta. Nilai ekspor tersebut meningkat 17,8 % dibandingkan 2012.

Sementara impor produk rumput laut pada 2012 adalah US$ 5,78 juta. Pada 2013 nilainya US$ 7,78 juta atau meningkat 34,6%.

Saut menjelaskan nantinya para buyer juga akan mengunjungi lokasi budidaya rumput laut jenis cottoni sebagai bahan karaginan dan gracilaria sebagai bahan agar. Ini bertujuan meyakinkan mereka bahwa industri pengolahan rumput laut di Indonesia didukung dengan pasokan bahan baku yang kuat.

"Dengan adanya program Foreign Buyer Mission diharapkan dapat menjadi salah satu faktor dan elemen untuk menunjang keberhasilan pencapaian target ekspor produk perikanan Indonesia," katanya.

Sumber : http://www.indonesiaeximbank.go.id/news-events/export-corner/genjot-ekspor-rumput-laut-pemerintah-bantu-promosikan-11-perusahaan


Ekspor Rumput Nisnis Yang Menjanjikan

Bisnis Rumput Laut Menjanjikan, Berikut Negara Tujuan Ekspornya


Indonesia menargetkan produksi rumput laut basah pada 2014 sebesar 10 juta ton atau sekitar satu juta ton rumput laut kering.
"Hal ini menyikapi tingginya permintaan pasar dunia dan Indonesia menempati posisi sebagai negara penghasil rumput laut terbesar di dunia dengan volume ekspor 174 ribu ton atau setara dengan nilai transaksi dagang US$132,48 juta pada 2013," kata Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Antarjo Dikin disela-sela kehadirannya di Makassar, Sabtu (21/3/2014).
Dia mengatakan, rumput laut merupakan bagian dari potensi keanekaragaman hayati yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. Rata-rata produksi mencapai 46,73 ton per tahun dan dimanfaatkan sekitar 0,7 juta ton per tahun untuk bahan makanan, pakan ikan, cat, keramik, kosmetik, pasta gigi, shampo dan farmasi (obat-obatan).
Menurut dia, dari total eskpor rumput laut ke luar negeri, sekitar 50 persen diantaranya dikirim ke China. Sisanya dikirim ke negara-negara Eropa seperti Belanda, Denmark, Prancis, Spanyol dan Inggris.
"Prospek ekonomi rumput laut ini sangat baik, karena menjadi bisnis baru yang menjanjikan dan bahan makanan sehat," katanya.
Turunan produk rumput laut yang dihasilkan banyak kegunaannya diantaranya sebagai pengenyal, pengemulsi dan penjernih. Dari sekitar 555 jenis rumput laut tersebar di Indonesia, 55 jenis diantaranya diketahui bernilai ekonomis tinggi.
Adapun tiga jenis rumput laut yang sudah dikembangkan adalah Gracilaria spp (agar-agar), Eucheuma cottoni (karaginan) dan sargassum spp (Alginat) spinosum dengan lahan budidaya mencapai 1.110.900 hektare.
"Untuk mendukung kegiatan ekspor, semua persyaratan pasar mancanegara harus diperhatikan misalnya batas cemaran timbal (Pb) pada rumput laut sebesar 0,001 persen (10 ppm) dan Arsenik (As) maksimum 0,0002 persen (2 ppm)," katanya.
Sumber : Antara
Editor : Miftahul Ulum

Sumber : http://surabaya.bisnis.com/read/20140322/10/69511/bisnis-rumput-laut-menjanjikan-berikut-negara-tujuan-ekspornya



INDONESIA AKAN GARAP EKSPOR PRODUK RUMPUT LAUT KE BRASIL

Indonesia ekspor produk rumput laut ke Brasil

6 hari lalu | Dibaca 2348 kali
Rumput laut. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Jakarta (ANTARA News) - Produk rumput laut asal Indonesia menembus pasar Brasil, Amerika Selatan, setelah Kementerian Perdagangan memfasilitasi perusahaan negara itu melalui program misi pembelian dengan nilai ekspor mencapai tiga juta dolar Amerika Serikat.

"Kerja sama ini menunjukkan keseriusan eksportir Indonesia untuk terus memperluas pasarnya ke kawasan yang prospektif, yaitu Amerika Selatan," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, saat menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Barasindo Gum dengan Indobras Representacao Comercial, di Jakarta, Selasa.

Dalam kesempatan tersebut, transaksi pembelian diwakili oleh dua perusahaan asal Indonesia yakni PT Brasindo Gum dan PT Gumindo Perkasa Industri dengan perusahaan asal Brasil, Indobras Representacao Comercial yang akan membeli produk turunan rumput laut berupa Alkali Treatment Carrageenan (ATC Chip).

Dalam nota kesepahaman tersebut, PT Brasindo Gum ditargetkan untuk memenuhi target senilai 1,8 juta dolar AS, sementara PT Gumindo Perkasa Industri senilai 1,2 juta dolar AS.

"Brasil merupakan salah satu pasar ekspor prospektif Indonesia di kawasan Amerika Selatan. Target ekspor nasional ke Brasil diharapkan tumbuh sebesar 4-5 persen atau senilai 1,57-1,59 miliar dolar AS," kata Nus.

Menurut Nus, kerja sama pembelian tersebut sangat penting dilakukan khususnya untuk menaikkan nilai ekspor ke kawasan Amerika Selatan, dimana rumput laut sendiri merupakan salah satu potensi sumber daya kelautan yang cukup besar dan dapat menjadi komoditas unggulan ekspor.

"Upaya diversifikasi pasar terus dilakukan dengan menggenjot kinerja ekspor ke pasar utama dan pasar prospektif. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan target ekspor makanan olahan senilai 4,9-5 miliar dolar AS atau tumbuh 10,5-11,5 persen pada 2014-2015 dapat tercapai," ujar Nus.

Misi pembelian tersebut merupakan program Kementerian Perdagangan berupa kegiatan promosi yang membantu dunia usaha dengan mendatangkan calon pembeli ke Indonesia untuk melakukan kesepakatan atau transaksi dagang dalam rangka melakukan ekspor.

Kinerja ekspor produk rumput laut Indonesia pada 2013 mencapai 162,4 juta dolar AS dengan tren positif sebesar 12,95 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Ekspor terbesar produk rumput laut Indonesia adalah ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebesar 76,92 persen, Filipina 6,69 persen, Chili 4,69 persen, Korea Selatan 2,44 persen, dan Hong Kong 1,75 persen, sementara Brasil berada pada tingkat 12 dengan tren pertumbuhan sebesar 0,42 persen.

Ekspor rumput laut Indonesia pada periode Januari-Juni 2014 mencapai 102,9 juta dolar AS atau mengalami peningkatan sebesar 47,70 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Editor: Suryanto

Sumber :http://m.antaranews.com/berita/456224/indonesia-ekspor-produk-rumput-laut-ke-brasil