...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Senin, 13 Oktober 2014

DARI SEMILOKA RUMPUT LAUT SE KALIMANTAN UTARA DI TARAKAN







Kaltara Pacu Industri Rumput Laut

Provinsi Kalimantan Utara membuka peluang investasi pabrik pengolahan rumput laut seiring potensi sumber daya alam yang melimpah.
Bupati Nunukan Basri mengatakan pihaknya berharap investor menanamkan modalnya untuk pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerahnya karena produksi komoditas tersebut terus meningkat.
“Jangan sampai investor nasional datang terlambat dari investor Malaysia,” ujar Basri dalam semiloka bertema Mendorong Pengembangan Industri Hasil Perikanan dan Rumput Laut Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Ekonomi Kaltara di Universitas Borneo, Tarakan, Kamis (9/10).
Semiloka tersebut diselenggarakan oleh Perwakilan Bank In donesia Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tarakan dan Universitas Borneo di Tarakan.
Sementara itu, Pj. Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie mengatakan pemerintah daerah membuka pintu investasi di industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan, termasuk rumput laut.
“Saat ini, sudah ada investor yang bekerja secara diam-diam di Nunukan untuk dibangun pabrik pengolahan rumput laut. Kami juga mencari investor untuk mengelola hasil perikanan, baik ikan segar untuk ekspor dan ikan olahan. Kami sangat mendukung adanya insentif bagi pengusaha yang mau berinvestasi atau petani dan nelayan yang melakukan usaha,” tuturnya.
Pemerintah berkewajiban untuk membangun infrastruktur agar aksesibilitas produksi berjalanlancar, menciptakan keamanan agar in vestasi berlanjut, dan memberikan bimbingan serta asistensi. Menurut Irianto, dukungan perbankan untuk sumber pembiayaan menjadi salah satu kunci terwujudnya investasi.
Wali Kota Tarakan Sofian Raga menegaskan rumput laut menjadi satu dari empat komoditas andalan yang dikembangkan di daerahnya, selain ikan, udang dan kepiting.
Pemkot Tarakan, mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut melalui pembangunan infrastruktur baik pelabuhan, bandara, kawasan industri, ketersediaan listrik dan air bersih.
“Untuk listrik tidak ada masalah. Air bersih, kami akan membangun embung baru pada 2015 sehingga pada 2018 produksi air bersih diharapkan 1.000 liter per detik. Kami jamin kebutuhan dua infrastruktur ini untuk investasi pabrik pengolahan rumput laut,” tegasnya.
Irianto, petani rumput laut di daerah pesisir Pantai Amal Tarakan, mengaku mendukung adanya rencana pembangunan pabrik pengolahan rumput laut karena keberadaan fasilitas tersebut dapat meningkatkan harga jual komoditas di tingkat petani.
PABRIK
Perwakilan dari Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) Sasmoyo S. Boesari mengatakan Tarakan dan Nunukan memiliki potensi yang luar biasa untuk dibangun pabrik, kendati ada beberapa tantangan yang harus diatasi untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut.
Tantangan tersebut yakni faktor warna hasil rumput laut yang lebih coklat dibandingkan hasil dari daerah lain, faktor impurity (kadar kotoran) dan kadar logam yang relatif lebih tinggi.
“Namun, handycap itu menjadi tanggung jawab bersama untuk diatasi. Saya punya harapan besar, akademisi di sini lebih serius mengkaji tiga handycap. Kalau itu bisa dipecahkan saya yakin dua daerah ini akan sukses,” katanya.
Menurut Sasmoyo, pihaknya merekomendasikan cukup dibangun satu pabrik dulu untuk tahap awal dan Tarakan dinilai lebih feasible dibandingkan dengan Nunukan. Satu pabrik pengolahan rumput laut tersebut memiliki kapasitas 300 ton per bulan dengan nilai investasi diperkirakan Rp15 miliar-Rp20 miliar.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) Arman Arfah mengatakan sistem resi gudang perlu dikembangkan untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini.
Kasubdit Pangan Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Norhayati Gobel menambahkan pemerintah mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini melalui sejumlah program.
“Infrastruktur tentunya perlu dipersiapkan untuk pengembangan sektor ini. Kami dukung dengan memberi fasilitasi seperti sarana produksi dan peralatan. Tahun lalu kami sediakan alokasi dana Rp1,7 miliar untuk Nunukan, tapi belum dapat terserap karena belum ada infrastruktur,” paparnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) Mokhammad Dadi Aryadi mengatakan Kaltara memiliki potensi yang besar di bidang kelautan dan perikanan. Potensi tersebut harus dapat dioptimalkan dengan baik sehingga bernilai ekonomis. 
(Siti Munawaroh)
Sumber : http://www.kemenperin.go.id/artikel/10197/Kaltara-Pacu-Industri-Rumput-Laut



NUNUKAN MENJADI SASARAN MAGANG USAHA RUMPUT LAUT DARI BERBAGAI DAERAH

rumput laut
  Rumput Laut sedang digantung

DPRD Bulungan Cari Ilmu Rumput Laut di Nunukan

by 

Hamka
Wakil Ketua DPRD Bulungan, Hamka
Selain berkunjung ke Malinau, DPRD Bulungan Provinsi Kaltara, juga mengunjungi Kabupaten Nunukan untuk mempelajari budidaya rumput laut di daerah itu, karena saat ini perkembangan rumput laut menjadi salah satu komoditi yang cukup baik unutk dikembangkan dan mampu meningatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), selain itu kunjungan ke Nunukan juga untuk mengetahui protokoler keuangan dewan di DPRD Nunukan.
Wakil Ketua Dua DPRD Bulungan Provinsi Kaltara, Hamka menyebutkan Ketua Tim Kunjungan Kerja (Kunker) DPRD Bulungan yang akan berkunjung ke Kabupaten Nunukan uuntuk mempelajari rumput laut dan sistem keungan yang sudah di terapkan daerah tersebut.
“Untuk memantapkan program budidaya rumput laut ini, pihak dewan juga mengajak Kepala Dinas Perikanan Dan Kelautan. Agar kedepan program ini bisa diadopsi oleh Bulungan, mengingat nelayan kita sangat antusias untuk membudidayakannya, “ ujar Hamka kepada beritaheadline.com pada senin siang, (02/06/2014) di Bulungan.
Menurutnya, budidaya rumput laut di Kabupaten perbatasan ini sudah mampu mengangkat perekonomian para pembudidayanya. Hasil panen bahkan mampu diekspor ke sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, dan menjadi kwalitas yang cukup baik, dengan nilai jual yang cukup tinggi.
“Kita disini punya potensi budidaya rumput laut, namun kita kurang ilmu dan satu-satunya jalan adalah kita harus mencontoh dan belajar ne daerah lain,” tuturnya.
Reporter : Sahriansyah
Sumber : http://www.beritaheadline.com/dprd-bulungan-cari-ilmu-rumput-laut-di-nunukan/



SEMILOKA RUMPUT LAUT SE KALIMANTAN UTARA DI TARAKAN

Usulkan Bentuk Lembaga Penyangga Nelayan Dan Petani


Irianto Jadi Keynote Speaker Semiloka
rumput laut













Pemerintah Kabupaten Nunukan dan Pemkot Tarakan diminta segera membuat peraturan atau regulasi. Perlindungan bagi nelayan dan pembudidaya rumput laut sekaligus perlindungan bagi lingkungan agar kegiatan ekonomi berjalan secara berkelanjutan serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat yang lain terutama dalam sistem transportasi.

“Regulasi penting terutama dalam menjaga stabilitas harga supaya tidak anjlok dan justru sangat merugikan para petani. Saya mendapat informasi saat ini harga rumput laut 15 ribu per kg dimana sebelumnya 18 ribu namun ternyata harga yang diberikan kepada petani hanya 8 ribu. Karenanya saya minta Bupati Bulungan dan Walikota Tarakan untuk segera membuat regulasi yang komprehensif. Bahkan kalau perlu, kita akan keluarkan pergub (peraturan gubernur),”ujar Irianto saat membuka sekaligus menjadi keynote speaker dalam Semiloka.

Seminar dan lokakarya (semiloka) dengan tema Mendorong Pengembangan Industri Hasil Perikanan dan Rumput Laut dalam Rangka Percepatan Pembangunan Ekonomi Kalimantan Utara di kampus Universitas Borneo, Tarakan, Kamis (9/10). Hadir pula Walikota Tarakan Ir Sopian Raga, Bupati Nunukan Drs Basri, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur Ameriza Ma’ruf Moesa, Rektor UB Dr Bambang Widigdo dan yang mewakili Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian.

Selain regulasi yang melindungi nelayan dan pembudidaya rumput laut, Irianto juga mengusulkan di Nunukan dan Tarakan dibentuk semacam Lembaga Penyangga yang berfungsi untuk menjaga stabilitas harga sehingga petani tetap diuntungkan saat terjadi panen besar. Selain itu membantu petani agar kian semangat mengembangkan budidaya rumput laut. 

Dicontohkan di Kabupaten Bantul, pemerintahnya memiliki gudang cukup besar untuk menampung padi hasil pembelian dari petani. Meskipun panen besar dan padi melimpah, para petani tetap dihargai hasil panennya dengan baik. Selanjutnya dengan menggunakan armada yang dimiliki dan sewa, hasil panen itu dijual ke pasar di Jakarta dengan harga pasar.

Ia memberikan apresiasi dengan kegiatan semiloka yang diselenggarakan Perwakilan Bank Indonesia Kaltim bekerjasama dengan Universitas Borneo dan Pemkot Tarakan. Namun hendaknya mampu diimplementasikan sehingga menimbulkan dampak berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kaltara. Terlebih dalam pertemuan hadir para pelaku bisnis di bidang industri perikanan dan rumput laut dengan lembaga keuangan. Selain itu dengan melibatkan perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan informasi aktual dan terkini mengenai teknologi pengembangan industri perikanan dan pengolahan rumput laut yang akan bermanfaat bagi para pelaku bisnis.

“Dengan kegiatan semiloka ini semua pihak mulai dari pemerintah, kalangan akademisi, para pelaku bisnis bisa melakukan sinergitas dan kerjasama dalam pengembangan industri pengolahan hasil perikanan dan rumput laut. Tentu saja pihak Bank Indonesia dapat memberikan kemudahan-kemudahan perkreditan bagi usaha-usaha di sektor perikanan termasuk petani rumput laut,”ujarnya. (drm/dishubkominfo)

Selalu Bekerja Keras dan Pantang Menyerah

Penjabat Gubernur Kalimantan Utara Dr H Irianto Lambrie dalam semiloka juga mengajak para peserta untuk merenung sejenak, introspeksi diri telah sejauh mana proses kehidupan yang dijalani mulai kehidupan pribadi, rumah tangga, bisnis serta pekerjaan dan karir.

Ia mengatakan untuk mencapai destinasi itu, mengutip pakar Paul G Stoltz PhD yang dikutip Djokosantoso Moeljono dalam bukunya The Climbers, disebutkan manusia itu ibarat pendaki. Jenis pertama Quitters yang memilih berhenti, menghindari kewajiban dan mundur serta menolak kesempatan untuk menggapai keindahan yang ditawarkan di puncak pegunungan. Jenis kedua berkemah atau Campers, yang melakukan pendakian tidak terlalu jauh dan memilih berkemah serta menghabiskan hidupnya di tanah datar yang ditemukan. Terakhir pendaki atau Climbers yang seumur hidupnya mengabdikan diri untuk melakukan pendakian atau pencapain tujuan organisasi.

“Saya berdoa dan berharap, kita masuk tipe Climbers yang selalu bekerja keras, pantang menyerah dan tidak mudah mengeluh menghadapi tantangan hidup. Para pendaki sesekali memasang tenda dan beristirahat tetapi setelah tubuhnya segar, kembali meneruskan perjalanan pendakian. Bersyukurlah jika kita mampu menjadi seorang pendaki tangguh karena ketika berhasil mencapai puncak sebuah gunung masih ada gunung lain yang dapat kita daki,”ujarnya. *

Reporter  : Darajat Mazunus/Hms Pemprov Kaltara.
Editor      : Sahriansyah.

Sumber : http://beritakaltara.com/?p=7185


Darmiah SE, Sang Penggiat Olahan Rumput Laut dari Nunukan

From Nunukan with Dodol




JAUH dari hiruk pikuk kota, belasan kaum hawa membuat adonan kerupuk berbahan dasar rumput laut. Suasana riang menyeruak ke segala sudut ruang. Sesekali terlontar guyonan dan tawa, namun tangan-tangan mereka tetap bergerak cekatan mengaduk adonan agar merata. Padahal usia sebagian dari mereka sudah tak bisa lagi dibilang muda.

Mereka adalah warga belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tut Wuri Handayani, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berada di paling utara di Provinsi Kalimantan Timur. Rupanya adonan yang mereka buat adalah adonan dodol rumput laut. Komoditas rumput laut yang melimpah di daerah ini dimanfaatkan PKBM Tut Wuri Handayani untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat setempat. Di bawah bimbingan Darmiah, SE, rumput laut diolah menjadi beraneka cemilan yang maknyus. Diantaranya kerupuk, selai, candy, tortilla, dan dodol. Jangan mengira PKBM Tut Wuri Handayani memproduksi aneka cemilan ini secara asal-asalan.

Nyatanya, semua jenis produk sudah tembus dijual di super market-super marketdan bandar udara (bandara) setempat. Semua orang tahu bahwa super market tak sembarang menerima pasokan produk makanan, kecuali produk tersebut telah teruji secara higienis, cita rasa, branding dan kemasan, “Dengan dijual di bandara, kami boleh sedikit berbangga karena semua jenis produk kami bisa dinikmati masyarakat luas. Bukan hanya oleh masyarakat Nunukan tetapi juga masyarakat Indonesia untuk dijadikan oleh-oleh,” kata Darmiah saat disambangi aksara belum lama ini.

Geliat kewirausahaan PKBM Tut Wuri Handayani diawali ketika lembaga itu menerima dana bantuan Aksara Kewirausahaan sebesar Rp 70 juta dari Dirjen PAUDNI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pusat pada 2011 lalu. Dan pihak kementerian tak kapok menyalurkan bantuan ke PKBM Tut Wuri Handayani. Sebab PKBM ini dianggap mampu menggunakan dana bantuan sesuai yang diharapkan, “Maka pada tahun berikutnya Tut  Wuri Handayani kembali dipercaya diikutkan dalam program Pemberdayaan Perempuan. Dana ini dimanfaatkan untuk lebih menggairahkan bidang kewirausahaan yang terfokus kepada pengolahan rumput laut,” papar Darmiah.

“Kami tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan. Kami ingin dana bantuan yang diterima benar-benar dimanfaatkan sesuai peruntukannya,” ujar Sarina, Sekretaris PKBM Tut Wuri Handayani. Dia menjelaskan, kewirausahaan di bidang pengolahan rumput laut sangat membantu mengangkat derajat perekonomian masyarakat sekitar, “Warga belajar tak hanya mampu membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mampu memiliki keterampilan yang mendatangkan penghasilan,” jelas perempuan kelahiran Nunukan 15 Mei 1990 ini.  

Sarina bersama sang ketua dan pengurus lainnya tak akan berhenti berinovasi. Semakin dikenal produk yang mereka hasilkan, semakin terpacu untuk lebih meningkatkan usahanya, “Pada akhirnya warga di sini, khususnya mereka dari kalangan ekonomi rendah bisa mandiri. Itu harapan kami,” imbuh Sarina diamini dengan anggukan Darmiah yang duduk di sampingnya, “Yang pasti, kami akan terus berkarya karena di Nunukan Selatan ini sasaran PKBM tak akan pernah habis. Sebagai wilayah perbatasan, tempat ini menjadi lalu lintas bagi TKI yang bekerja di Malaysia. Mereka memang yang menjadi sasaran utama kami,” timpal Darmiah.

Untuk lebih mempopulerkan produknya, PKBM Tut Wuri Handayani getol mengikuti sejumlah pameran dan bazaar dalam berbagai event. Bukan hanya di Nunukan, Darmiah dan kawan-kawan kerap harus memajangkan hasil karya mereka di daerah-daerah lain. Semua produknya diberi merk Cahaya Madinah. Pada pertengahan Juni 2013 lalu PKBM ini juga menjadi peserta bazaar dalam event gelar budaya Nunukan Gemilang. Event tahunan ini sayang untuk dilewatkan karena sanggar-sanggar tari yang tampil bukan hanya dari Nunukan, tetapi juga dari negara jiran, Malaysia dan Brunai.

Tak sulit bagi PKBM Tut Handayani menerobos pasar dengan berbagai strateginya, “Beruntung kami sudah lama bermitra dengan instansi pemerintah seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan instansi swasta seperti Pupuk Kaltim. Sehingga kami dapat meng-up date info-info seputar penjualan produk,” tutur Darmiah. Diakui dia,  kemitraan ini terjalin setelah pihak instansi tak meragukan kiprah yang dijalankan PKBM Tut Wuri Handayani.

Diungkapkan Darmiah, komoditas lokal seperti laut memiliki nilai ekonomi yang tinggi, terlebih setelah melalui proses pengolahan, Untuk itu kami berharap pemerintah tak berhenti memberikan sokongan untuk lebih memberdayakan usaha yang kami jalani. Dia mengaku saat ini sedang harap-harap cemas setelah pihaknya mengajukan permohonan dana bantuan program penyaluran dan pegolahan kegiatan PKBM Tematik, “Jika permohonan kami disetujui, tentu kami akan dengan mudah mengembangkan usaha rumput laut. Dengan sendirinya, Tut Wuri Handayani juga berperan dalam menciptakan lapangan kerja,” ujar Darmiah.

 Hal itu senada dengan yang dilontarkan Sarina. Menurutnya, suntikan dana sangat diperlukan karena selama ini pihaknya keteteran memenuhi permintaan pasar, “Jumlah peminat produksi kami yang begitu banyak tak sebanding dengan produksi yang kami hasilkan karena minimnya modal. Bisa dibayangkan, kalau saja modal memadai, dipastikan kami akan lebih semangat berkreasi,” tambah Sarina.****


Ny Sofyah:
Tak Sekadar Bertahan Hidup

Ny Sofyah bukan penduduk asli Nunukan. Dia berasal dari Jawa Timur. Sebelum menetap di kabupaten itu, Sofyah pernah mengadu peruntungan di negeri tetangga, Malaysia. Namun setelah kontrak kerjanya habis, dia tak lantas pulang kampung. Sofyah malah memantapkan diri tinggal di Nunukan. Menempati rumah kontrakan, Sofyah kerap bolak-balik ke sekretariat PKBM Tut Wuri Handayani. Perempuan drop out (DO) tersebut menjadi warga belajar di lembaga tersebut. Dia sudah lulus paket A, dan kini hendak melanjutkan ke paket B.

“Ketika berangkat dari  kampung di Jawa Timur sana, saya tak bisa membaca. Sekarang alhamdulillah, saya sudah pandai membaca dan berhitung,” kata ibu satu anak yang bersuamikan nelayan ini. Dia mengaku tak menyangka jika kedatangannya ke Nunukan mendapat ilmu, “Awalnya tak terpikirkan saya ikut dalam kegiatan belajar. Usia saya sudah tak lagi muda. Waktu itu yang ada di pikiran saya adalah bagaimana bisa bertahan hidup. Mencari uang. Eh, ternyata saya malah masuk sekolah gratis di sini,” katanya.

Program yang diikuti Sofyah bukan hanya program keaksaraan, tetapi program lainnya yang berorientasi kepada peningkatan tarap ekonomi. Dia mengikuti program PKH, “Saya sudah pandai bikin kerupuk dan dodol yang berbahan dasar rumput laut,” ujarnya bangga. Untuk mencapai lokasi PKBM Tut Wuri Handayani, Sofyah yang tinggal di Jalan Ujang Dewa RT 1 Kelurahan Nunukan Selatan ini cukup berjalan kaki, “Jaraknya dekat kok,” ujarnya.

Sejak menjadi warga belajar PKBM Tut Wuri Handayani, hari-hari Sofyah adalah hari-hari di mana dia berakrab ria dengan buku-buku, membuat dodol, dan kerupuk. Dia mengaku berusaha sebisa mungkin mengikuti instruksi yang diberikan sang tutor, “Ternyata semakin banyak belajar, saya semakin sadar bahwa mengantongi ilmu itu jauh lebih berarti daripada mengantongi uang. Uang bisa habis dalam sehari, tetapi ilmu akan dibawa sepanjang saya hidup. Dengan memiliki ilmu dan keterampilan, semakin mudah kita mencari nafkah,” pungkasnya.***

Sumber :  http://tatangbudimansyah.blogspot.com/2013/08/from-nunukan-with-dodol.html

Indonesia dan Filipina Teken MoU Pengembangan Rumput Laut skema MEA 2015

  • Index Regional »
  • AGRI 2,019.06 -3.92 -0.2%
  • |
  • BASIC-IND 508.27 -0.61 -0.1%
  • |
  • COMPOSITE 4,913.05 -49.91 -1.0%
  • |
  • CONSUMER 2,067.46 -12.82 -0.6%
  • |
  • DBX 722.63 -3.88 -0.5%
  • |
  • FINANCE 669.97 -5.90 -0.9%
  • |
  • IDX30 423.94 -4.84 -1.1%
  • |
  • INFRASTRUC 1,138.05 -9.47 -0.8%
  • |
  • Investor33 343.78 -4.41 -1.3%
  • |
  • ISSI 158.07 -1.81 -1.1%

  • |
    6%
  • MISC-IND FT 6,340 -92 -1.4%
  • |
  • FTSE 6,367 %
  •  (
  • 1



Indonesia-Filipina Teken MoU Pengembangan Rumput Laut
Ilustrasi Rumput Laut
Ilustrasi Rumput Laut (sumber: capitalseaweed.vn)



Indonesia dan Filipina membangun kerja sama strategis pengembangan budidaya rumput laut dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut merupakan persiapan kedua negara untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
Sebelum melakukan kerja sama, menurut Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis, telah ada komunikasi intensif dengan Seaweed Industry Association Of the Philippines (SIAP) dan Atase Perdagangan RI di Manila yang juga didukung oleh Gubernur Sulawesi Selatan, sebagai daerah produsen dan eksportir terbesar rumput laut di Indonesia.
"Kami membahas tentang perlunya dibangun kerja sama strategis dengan Filipina yang telah berpengalaman jauh dibidang perdagangan, teknis budidaya, pascapanen dan penanganan rumput laut untuk meningkatkan kualitas serta investasi pengembangan industri yang dituangkan ke dalam bentuk nota kesepahaman," ujar Safari dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, di Jakarta, Jumat (12/9).
Dia menuturkan, permintaan kebutuhan rumput laut kering untuk ekspor ke Filipina mencapai 40-50 ribu ton. Sebab itu, pihaknya meminta dukungan pemerintah dalam implementasi kerja sama antara kedua negara.
Ia mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman ini sangat penting bagi pelaku usaha dan petani rumput laut Indonesia sebagai bentuk perluasan pemasaran.
Penandatanganan tersebut disaksikan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi. Para pelaku usaha rumput laut nasional pun ikut menyaksikan, seperti Wakil Ketua Komite Rumput Laut Indonesia (KRLI) Iskak Indrayani, Koordinator ARLI Wilayah Indonesia Timur Djusdil Akrim yang juga merupakan Direktur PT. Bantimurung Indah, anggota ARLI H. Fattah Maskur (PT. Rika Raihan Mandiri) dan Minche Wijaya (CV. Adi Tirta) serta Mursalim (Celebes Seaweed Group).
Setelah melakukan penandatanganan MoU, delegasi yang terdiri dari Pemerintah RI dan para pelaku usaha rumput laut akan melakukan kunjungan ke sentra industri pengolahan rumput laut di Manila.
Safari mengatakan, kunjungan itu untuk mendapatkan informasi yang komprehensif dalam proses pengolahan dan teknologi yang diterapkan untuk produk turunan rumput laut.
Penulis: LEO/LIS
Sumber:Investor Daily/PR
Sumber : http://www.beritasatu.com/ekonomi/209348-indonesiafilipina-teken-mou-pengembangan-rumput-laut.html

Rumput Laut Cokelat Melawan Obesitas

Peneliti: Rumput Laut Cokelat Mampu Tekan Obesitas
Seorang petani rumput laut menjemur rumput laut hasil panennya di Galesong Selatan, Takalar, Sulsel, Sabtu (10/5).
Seorang petani rumput laut menjemur rumput laut hasil panennya di Galesong Selatan, Takalar, Sulsel, Sabtu (10/5). (sumber: Antara/Yusran Uccang)

Peneliti dari Universitas Ma Chung Malang, Leenawaty Limantara, mengungkapkan rumput laut cokelat yang banyak ditemukan di pantai Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, mampu menekan obesitas dan harganya jauh lebih mahal dari jenis lain.
"Kami sudah melakukan penelitian di Sumenep dan hasilnya, rumput laut cokelat bisa menjadi obat antiobesitas. Rumput laut ini bisa menjadi harapan baru bagi petani untuk bertahan dari gempuran berbagai produk yang dipasarkan luas di era globalisasi," kata Leenawaty Limantara di Malang, Jawa Timur (Jatim), Minggu (28/9).
Penelitian yang dilakukan Rektorat Universitas Ma Chung tersebut didanai oleh Alexander Von Humboldt Foundation melalui Ma Chung Research Center for Photosyntetic Pigments (MCRPP).
Menurut dia, harga rumput laut mentah (belum diolah atau dikemas) rata-rata paling tinggi hanya Rp 15.000 per kilogram, namun jika sudah diolah menjadi produk obat-obatan, khususnya obat atau jamu antiobesitas bisa mencapai 4.000 kali dari harga semula.
Ia mengatakan untuk mengembangkan budi daya rumput laut tersebut, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan Pemprov Jatim melalui program inovasi "Sentra Hilir Produk Pigmen Rumput Laut Indonesia".
Jatim dipilih menjadi sentra budi daya dan pengembangan rumput laut cokelat karena berbagai alasan, di antaranya sarana transportasi dan infrastrukturnya cukup memadai.
Memang di daerah lain, seperti Kalimantan, Sulawesi dan wilayah timur Indonesia lainnya juga ada rumput laut cokelat, namun sarana dan prasarana pendukungnya masih belum memadai, sehingga akan menghambat proses atau lalu lintas pergerakan antarwilayah.
Selain itu, kata Leenawaty, pihaknya sudah menandatangani kerja sama dengan Pemprov Jatim, dan juga ditawari kerja sama dengan perusahaan kosmetik Martha Tilaar untuk mengembangkan jamu antiobesitas berbahan dasar rumput laut yang dihasilkan dari penelitian yang dilakukan MCRPP.
Sebenarnya, lanjutnya, di Indonesia banyak sekali spesies tumbuhan yang bisa dikembangkan dan dibudidayakan untuk menjadi bahan baku obat, makanan maupun lainnya, namun tidak terproteksi, sehingga banyak yang hilang dan mati dengan sendirinya.
"Seharusnya pemerintah yang mengamankan dan memproteksi berbagai spesies tersebut agar tidak sampai punah. Paling tidak ada bank spesies dan gen agar pada saat dibutuhkan pengembangannya bisa langsung dilakukan. Bahkan bila perlu kerja sama antarpemerintah dan ini harus diupayakan dan diprioritaskan," tegasnya.
Penulis: /FEB
Sumber:Antara
Sumber : http://www.beritasatu.com/kesehatan/213341-peneliti-rumput-laut-cokelat-mampu-tekan-obesitas.html