...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Kamis, 20 November 2014

Rabu, 19 November 2014

Berkunjung ke Petani Rumput Laut di Pulau Bum bum Sampoerna Sabah Malaysia

Pak Asep Ridwan alias Pak Hendra 
(yang semua foto dalam artikel ini berasal dsri beliau)

Pak Cik Wira bersama istri dan anaknya.
Sosok milyarder rumput laut dari Pulau Bum bum,  
Sampoerna,  Sabah, Malaysia

Pak Hendra bersama Pak Steven dan Timnya

Sosok rumput laut yang banyak berkembang 
di Sampoerna


Mencari terobosan ekspor yang lebih cepat dan menguntungkan dari Pelabuhan Tawau

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto,  M. Si.

Saya sangat salut dengan Pak Asep Ridwan, yang akrab dipanggil dengan Pak Hendra ini.  Beliau sangat mudah berbagi pengalaman, pengetahuan bahkan sangat terbuka jika ingin bekerjasama dengan beliau.  Pak Hendra sudah lama sekali berkecimpung di dunia rumput laut ini.  Bahkan hampir semua wilayah yang memiliki produk rumput laut di seluruh Indonesia ini pernah beliau kunjungi.  Sekarang ini banyak waktu Beliau tetcurah di Tarakan dan Nunukan, alasannya karena disini perlu peningkatan kualitas agar bisa bersaing dan bisa dijamin keberlanjutan usahanya di masa depan.   Soalnya produksi rumput laut dsri Nunukan dan Tarakan ini tidak pernah berhenti sepanjang tahun, dan sekarang sudah mencapai angka 3.500 ton per bulannya.

Minggu yang lalu Pak Hendra pergi melancong ke kawasan Sampoerna, tepatnya di Pulau Bum bum.  Menemui beberapa orang untuk menjajaki berbagai hal yang terkait dengan bisnis rumput laut.  Di kawasan ini, usaha rumput laut rupanya sudah sekitar 15 tahun berjalan.  Khususnya yang dikelola oleh Pak Cik Wira, warga tempatan di sana, yang hingga saat ini usaha itu berkembang semakin besar.

Pak Hendra memang agak lama berkunjung di tempat usahanya Pak Cik Wira ini.  Usaha farming rumpai laut, begitu disana orang menyebutkan rumput laut,  agak berbeda dengan yang dilakukan oleh para petani di Nunukan dan Indonesia pada umumnya.  Mungkin karena karakteristik wilayah perairan lautnya yang dangkal, terdapat banyak pulau-pulau kecil, perairannya yang jernih, dan di beberapa tempat juga ada dasar laut yang berkarang, serta arus laut atau gelombang yangbtidak terlalu kencang.

Oleh Pemerintah setempat Pak Cik Wira dan teman-temannya diberikan ijin penggunaan kawasan laut seluas 22.000 hektar.  Pak Cik Wira salah satu pemilik usaha farming rumput laut yang terbesar disana.  Beliau memulai nya sejak 15 tahun yang lalu, atau sekitar tahun 1999.  Beliau memulainya hanya dari 20 tali bentangan saja.  Usaha ini ditekuninya hingga sekarang beliau memiliki 3.000 tali bentangan yang sudah berproduksi setiap 40-50 hari sekali.  Selain itu, sekarang pun sudah siap 5.000 tali di gudang beliau yang sudah siap diturunkan ke laut.  Tidak lama lagi beliau akan memiliki 8.000 tali bentangan.  Luar biasa !!!











Ternyata tali bentangan yang dikelola Pak Wira tidak sama dengan model tali bentangan di Nunukan dan tempat lain di Indonesia.  Kalau di Nunukan, panjang tali bentangan hanya sekitar 22-25 meter.  Tetapi di kawasan Pulau Bum bum Sampoerna ini panjang setiap tali bentangan ada 200 meter.  Makanya tali ini tidak selalu diangkat ke daratan, tetapi selalu terikat di pancang-pancang di dasar perairan.  Mereka di kawasan ini menggunakan sistem budidaya tanam dasar.  Hampir sama seperti yang dilakukan oleh petani rumput laut di Nusa Lembongan Bali.

Dalam setiap tali yang panjang nya 200 meter itu diikati bibit rumput laut dengan jarak cincin atau titik sekitar 15 cm.  Jadi setiap tali itu ada sekitar 1.330 titik bibit yang terikat dengan tali rafia yang dililitkan di tali bentangan yang dipasangi botol-botol bekas sebagai pelampungnya.  Ukuran bibit lebih besar dibandingkan dengan bibit yang biasa dipasangkan di tali bentangan paranpetani di Nunukan dan Tarakan.  Mungkin sekitar antara 20 sampai 50 gram beratnya setiap bibit.  Kalau di Nunukan para petani menggunakan ukuran bibit hanya sekitar 10-15 gram per titik cincin bibit.  Di Sampoerna ini setiap titik bibit hanya dipasang 1 cincin saja.  Beda dengan di Nunukan dan Tarakan yang setiap titoknya dipasang 2-3 cincin bibit.

Milyarder dari Pulau Bum bum

Menurut cerita Pak Hendra,  rata-rata produksi rumput laut kering dari setiap tali bentang milik Pak Cik Wira ini sekitar antara 75-80 kg.  Maka dari 3.000 tali bentangan yang ada akan menghasilkan sekitaran 225 sampai 240 ton setiap 50 harinya.  Hasil yang sangat besar bagi Pak Cik Wira yang beristri perempuan keturnan Indonesia ini.  Kalau seandainya harga rumput laut itu hanya Rp 10.000 saja, maka pendapatan kotor Pak Cik Wira ini sudah sekitar Rp 2,25 Milyar sampai Rp 2,4 Molyar setiap 50 hari.   Sebulannya ya lebih dari Rp 1,2 Milyar.  Maka benar saja kalau beliau sekarang sudah layak disebut sebagai Milyarder dari Pulau Bum bum Sampoerna.

Pada setiap petak lahan 1 hektar dengan ukuran 50 x 200 meter persegi, terdapat sekitar 50 tali bentangan.  Hal ini karena jarak pemasangan antar tali bentangan ini adalah sekitar 1 meteran, dan hanya dipasang 1 tali saja, atau single. Tidak seperti di Nunukan, kebanyakan petani memasang 2 tali bentangan berdempetan dalam satu ikatannya.   Maka jika ada 50 tali bentangan dalam setiap petak perairan seluas 1 hektar, akan menghasilkan setiap musimnya sekitar 3,75 - 4,0 ton rumput laut kering per musim per hektar.   Ini angka produksi yang sangat bagus sekali.   Dari 3.000 tali bentangan Pak Cik Wira ini berarti perlu areal penanaman 60 hektaran.  Namun demikian dalam hal pengaturan petak-petak penanaman masih mempertimbangkan spasi-spasi kosong untuk arus lalu lintas panen, pemeliharaan dan transportasi laut lainnya.

Dalam mengelola usaha farming rumput lautnya Pak Cik Wira ini memiliki 3 unit rumah penjemuran dan gudang di atas laut, jauh dari pantai dan berada di tengah-tengah areal kawasan budidaya rumput laut.  Masing-masing berukuran sekitar 20 x 30 meter persegi, yang berfungsi untuk rumah pondokan pekerja,  tempat kerja pemasangan bibit, gudang dan sekaligus lantai penjemuran dan paska panen rumput laut.  Di setiap unit rumah dan lantai penjemuran itu selalu ramai setiap harinya dengan aktifitas-aktifitas  para ibu-ibu memasang bibit,  pengelolaan paska panen dan lain-lainnya.  Ada berpuluh-puluh orang yang beraktifitas setiap harinya.  Kebanyakan mereka adalah tenaga borongan untuk pasang bibit dan pemanenan.  Sedangkan Pak Cik Wira sendiri hanya memiliki tenaga tetap 7 orang saja.

Menurut penilaian Pak Hendra yang berkunjung kesana dengan Tim sebanyak 4 orang itu,  sistem kerja mereka sangat efisien.   Pola kerjanya sangat rapi dan teratur, mungkin karena tidak banyak orang pemiliknya, yang lain hanya pekerja.  Dalam hal pengelolaan mutu rumput lautnya juga sangat bagus,  mereka sangat menomorsatukan kualitas. Terlihat dari contoh hasil  rumput lautnya yang dibawa Pak Hendra sangat bagus.  Warnanya benih dan bersih, kekeringannya sangat rata sekitar 36-38 % kadar airnya.   Kandungan garam yang menempel juga sangat minim.  Kalau untuk ekspor sudah pasti langsung lolos.

Menjajagi ekspor rumput laut dari Pelabuhan Tawau

Karena itulah Pak Hendra dan timnya sekalian menjajagi peluang ekspor rumput laut dari Pelabuhan Tawau itu.  Kabarnya biaya pengiriman kontainer unyik ekspor ke China dan Philippina jauh lebih murah.  Ke China hanya sekitar  US$ 500,  atau sekitar Rp 6 juta per kontainer 20 feet, yang berisi 20 ton rumput laut kering yang sudah dipress.  Jadi biaya kirim dari Pelabuhan Tawau ke China hanya Rp 300 per kg.  Biaya yang sangat murah, setara dengan biaya-biaya lokal dari tempat petani sampai di Pelabuhan lokal di Nunukan.   Betapa murahnya biaya pengiriman ekspor ke China dsri Pelabuhan Tawau itu.

Kalau kita bandingkan dengan biaya pengiriman dari Pelabuhan Nunukan ke Makassar atau ke Pelabuhan Surabaya yang hampir mencapai Rp 1.000 per kg nya, bahkan bisa lebih besar lagi.  Hal ini tentu bisa menjadi suatu alternatif untuk melakukan ekspor rumput laut asal Nunukan bekerja sama dengan Eksportir rumput laut di Tawau.  Kalau perlu kita berkongsi membuat perusahaan eksport dengan warga Malaysia sana untuk sama-sama melakukan kerja sama ekspor bersama-sama.   Hal itu dimaksudkan agar biaya-biaya untuk ekspor bisa lebih murah,  dan agar bisa menjadi nilai tambah bagi harga pembelian di tingkat petani.   Meskipun sebenarnya kita kehilangan peluang pendapatan dari jasa trabsportasi dan pelabuhan lokal.

Beberapa hitungan perkiraan biaya dari Nunukan ke Pelabuhan ekspor di Tawau sekitar Rp 500 per kg nya.  Ada penghematan lumayan besar, yaitu sekitar Rp 500 - Rp 1.000 per kg.  Apalagi jika pengiriman dilakukan langsung dari laut ke laut, artinya tidak usah lagi hsrus naik ke daratan.   Karena tingkat kemahalan biaya bongkar muat inilah yang sangat besar, biasa membebani sistem perdagangan komoditi-komoditi wilayah kepulauan Indonesia ini.  Ini tentu sejalan dengan perkembangan terbaru, yaitu akan bergulirnya Masyarakat Ekonomi ASEAN.... MEA.

Semoga.

(Sumber : Wawancara dsn diskusi dengan Pak Hendra lewat lisan dan bia WA)






Senin, 17 November 2014

Usaha meningkatkan produktivitas Rumput Laut Eucheuma cottonii di PT. TAP Tarakan





Foto-foto di atas oleh : Pak Asep Ridwan 
Lokasi : Mamolo Nunukan Selatan

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto,  M.Si.

Kemarin kedatangan tamu dari PT TIRTA AGUNG PERKASA.
Pak Rudy Gunawan didampingi Pak Sumardi.  Beliau usaha Seaweed Farming &  Carrageenan di Pantai Amal Tarakan.
Sistem usahanya adalah kemitraan antara Perusahaan (Inti) dan Petani (Plasma).   Pola kemitraan usahanya bagi hasil dengan proporsi tertentu, sedangkan semua sarana prasarana difasilitasi oleh Perusahaan.  Petani hanya menanggung tenaga dalam persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan, pemanenan serta pengeringan.

Semula.....pola budidayanya masih mengikuti yang sudah berkembang dan dilakukan oleh petani di Tarakan, yaitu :
1.  Dalam setiap tali bentang dipasang tali cincin rangkap 3 di setiap titik yang berjumlah sekitar 235 titik.
2.  Tempat dan waktu untuk pasang bibit hiasanya memakan waktu hingga 36 jam dan tidak diberi perlakuan khusus.
3.  Bibit rumput laut diambil dari tanaman budidaya yang berumur sekitar 2 bulan.

Dengan pola itu produktivitasnya sejak bulan Oktober November 2013 hingga Maret 2014 yang lalu... menghasilkan rata-rata 5-6 kg rumput laut kering per bentang.  Tetapi sejak April hingga Juni 2014 produktivitas turun hingga cuma 4 kg RLK per bentang.
Karena hasil yang tidak bagus itu lah maka Perusahaan melakukan beberapa perbaikan pola budidaya rumput laut sebagai berikut :

1. Jumlah titik tanam dalam bentangan dikurangi atau dijarangkan hanya menjadi 160 titik.
2. Sedangkan jumlah cincin per titik dikurangi hanya 1 atau 2 cincin saja per titik tanam.
3. Untuk pemasangan bibit dilakukan dengan bibit yang berumur sekitar 30 hari saja.
4. Lama pemasangan bibit diusahakan maksimal hanya 6 jam saja supaya tidak terjadi pengeringan di permukaan bibit yang menyebabkan stagnasi pertumbuhannya.
5. Melakukan pemupukan dengan cara perendaman sebentar atau pencelupan dalam larutan NPK encer pada saat rumput laut usia sekitar 30 hari.

Dengan perubahan perlakuan seperti di atas, menurut Pak Rudy Gunawan.... maka ada peningkatan hasil mulai bulan Juli hingga September 2014 dengan produktivitas mencapai 9 kg RLK per tali bentang.
Namun demikian ternyata angka produktivitas ini kemudian menurun lagi pada pertengahan September hinggabulan November sekarang ini hanya tinggal 4 kg RLK per bentang.

Pada saat kemaren datang ke kantor saya, dan meminta saran tentang upaya perbaikan dan peningkatan produksi.  Maka saya sarankan  untuk tetap melakukan pola perbaikan sebelumnya itu, serta ditambahkan juga dengan  melakukan beberapa hal sebagai berikut :

1. Penggunaa bibit rumput laut E. cottonii hasil kultur jaringan.
2. Pola tanam mengadopsi sistem Jajar Legowo.
3. Penggunaan bibit besar ukuran 100 - 200 gram per titik yang diikat dengan tali rafia.
4. Melakukan perendaman bibit... selama masa pemasangan bibit, untuk menjaga tetap basah dan lembabnya permukaan bibit rumput laut.  Perendaman dilakukan di dalam suatu wadah yang berisi air laut yang sudah diberikan cairan "pupuk".

Mudahan upaya ini bisa berhasil meningkatkan produksi dan hasil panen serta meningkatkan pendapatan keuntungan perusahaan serta petani peserta kemitraan itu.
Semoga.

Selasa, 11 November 2014

Kaltara Oacu Industti Rumput Laut



Kaltara Pacu Industri Rumput Laut


Sumber: Bisnis Indonesia
TARAKAN-Provinsi Kalimantan Utara membuka peluang investasi pabrik pengolahan rumput laut seiring potensi sumber daya alam yang melimpah.
Bupati Nunukan Basri mengatakan pihaknya berharap investor menanamkan modalnya untuk pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerahnya karena produksi komoditas tersebut terus meningkat.
“Jangan sampai investor nasional datang terlambat dari investor Malaysia,” ujar Basri dalam semiloka bertema Mendorong Pengembangan Industri Hasil Perikanan dan Rumput Laut Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Ekonomi Kaltara di Universitas Borneo, Tarakan, Kamis (9/10).
Semiloka tersebut diselenggarakan oleh Perwakilan Bank In donesia Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tarakan dan Universitas Borneo di Tarakan.
Sementara itu, Pj. Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie mengatakan pemerintah daerah membuka pintu investasi di industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan, termasuk rumput laut.
“Saat ini, sudah ada investor yang bekerja secara diam-diam di Nunukan untuk dibangun pabrik pengolahan rumput laut. Kami juga mencari investor untuk mengelola hasil perikanan, baik ikan segar untuk ekspor dan ikan olahan. Kami sangat mendukung adanya insentif bagi pengusaha yang mau berinvestasi atau petani dan nelayan yang melakukan usaha,” tuturnya.
Pemerintah berkewajiban untuk membangun infrastruktur agar aksesibilitas produksi berjalanlancar, menciptakan keamanan agar in vestasi berlanjut, dan memberikan bimbingan serta asistensi. Menurut Irianto, dukungan perbankan untuk sumber pembiayaan menjadi salah satu kunci terwujudnya investasi.
Wali Kota Tarakan Sofian Raga menegaskan rumput laut menjadi satu dari empat komoditas andalan yang dikembangkan di daerahnya, selain ikan, udang dan kepiting.
Pemkot Tarakan, mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut melalui pembangunan infrastruktur baik pelabuhan, bandara, kawasan industri, ketersediaan listrik dan air bersih.
“Untuk listrik tidak ada masalah. Air bersih, kami akan membangun embung baru pada 2015 sehingga pada 2018 produksi air bersih diharapkan 1.000 liter per detik. Kami jamin kebutuhan dua infrastruktur ini untuk investasi pabrik pengolahan rumput laut,” tegasnya.
Irianto, petani rumput laut di daerah pesisir Pantai Amal Tarakan, mengaku mendukung adanya rencana pembangunan pabrik pengolahan rumput laut karena keberadaan fasilitas tersebut dapat meningkatkan harga jual komoditas di tingkat petani.
PABRIK
Perwakilan dari Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) Sasmoyo S. Boesari mengatakan Tarakan dan Nunukan memiliki potensi yang luar biasa untuk dibangun pabrik, kendati ada beberapa tantangan yang harus diatasi untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut.
Tantangan tersebut yakni faktor warna hasil rumput laut yang lebih coklat dibandingkan hasil dari daerah lain, faktor impurity (kadar kotoran) dan kadar logam yang relatif lebih tinggi.
“Namun, handycap itu menjadi tanggung jawab bersama untuk diatasi. Saya punya harapan besar, akademisi di sini lebih serius mengkaji tiga handycap. Kalau itu bisa dipecahkan saya yakin dua daerah ini akan sukses,” katanya.
Menurut Sasmoyo, pihaknya merekomendasikan cukup dibangun satu pabrik dulu untuk tahap awal dan Tarakan dinilai lebih feasible dibandingkan dengan Nunukan. Satu pabrik pengolahan rumput laut tersebut memiliki kapasitas 300 ton per bulan dengan nilai investasi diperkirakan Rp15 miliar-Rp20 miliar.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) Arman Arfah mengatakan sistem resi gudang perlu dikembangkan untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini.
Kasubdit Pangan Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Norhayati Gobel menambahkan pemerintah mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini melalui sejumlah program.
“Infrastruktur tentunya perlu dipersiapkan untuk pengembangan sektor ini. Kami dukung dengan memberi fasilitasi seperti sarana produksi dan peralatan. Tahun lalu kami sediakan alokasi dana Rp1,7 miliar untuk Nunukan, tapi belum dapat terserap karena belum ada infrastruktur,” paparnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) Mokhammad Dadi Aryadi mengatakan Kaltara memiliki potensi yang besar di bidang kelautan dan perikanan. Potensi tersebut harus dapat dioptimalkan dengan baik sehingga bernilai ekonomis. 
Siti Munawaroh.





Indonesia dan Filipina Kolaborasi untuk Kuasai Pasar Rumput Laut Dunia









Indonesia dan Filipina Kolaborasi untuk Kuasai Pasar Rumput Laut Dunia

Indonesia dan Filipina berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan rumput laut di pasaran dunia. Meski kedua negara ini semula bersaing.

"Kita mulai melihat (persoalan ini) dengan perspektif baru. Pasar dunia untuk rumput laut sangat besar, sehingga kedua negara dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia akan komoditi ini," jelas Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), seperti dikutip dari rilis Humas Kementerian Perdagangan, Senin (15/9/2014).
Di bawah payung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kedua negara berjanji akan berkolaborasi untuk menjadikan ASEAN sebagai basis produksi, dan memaksimalkan pemenuhan pasar rumput laut dunia.

Kolaborasi ini diwujudkan melalui penandatangan memorandum of understanding (MoU) oleh Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dan Seaweed Industry Assosiation of the Phillipines (SIAP), sekaligus menjadi 'win win situation' bagi kedua negara yang semula bersaing.

"ARLI dan SIAP sepakat untuk melakukan kerja sama dalam pengolahan dan pemasaran rumput laut sejumlah 50 ribu ton atau senilai US$50 juta. Indonesia saat ini mengekspor sekitar 180 ribu ton rumput laut atau senilai US$165 juta," jelas Bayu.

Sebagai penghasil dan eksportir rumput laut, Indonesia dan Filipina menjalin kerja sama dari hulu hingga hilir. Keduanya sepakat saling memperkuat pengembangan industri rumput laut, dimana SIAP berperan untuk memenuhi kebutuhan food grade seaweed, sementara Indonesia untuk mengembangkan rumput laut sebagai bahan baku biofuel. (pemi)

Sumber: Citra Indonesia

Senin, 13 Oktober 2014

DARI SEMILOKA RUMPUT LAUT SE KALIMANTAN UTARA DI TARAKAN







Kaltara Pacu Industri Rumput Laut

Provinsi Kalimantan Utara membuka peluang investasi pabrik pengolahan rumput laut seiring potensi sumber daya alam yang melimpah.
Bupati Nunukan Basri mengatakan pihaknya berharap investor menanamkan modalnya untuk pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerahnya karena produksi komoditas tersebut terus meningkat.
“Jangan sampai investor nasional datang terlambat dari investor Malaysia,” ujar Basri dalam semiloka bertema Mendorong Pengembangan Industri Hasil Perikanan dan Rumput Laut Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Ekonomi Kaltara di Universitas Borneo, Tarakan, Kamis (9/10).
Semiloka tersebut diselenggarakan oleh Perwakilan Bank In donesia Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tarakan dan Universitas Borneo di Tarakan.
Sementara itu, Pj. Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie mengatakan pemerintah daerah membuka pintu investasi di industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan, termasuk rumput laut.
“Saat ini, sudah ada investor yang bekerja secara diam-diam di Nunukan untuk dibangun pabrik pengolahan rumput laut. Kami juga mencari investor untuk mengelola hasil perikanan, baik ikan segar untuk ekspor dan ikan olahan. Kami sangat mendukung adanya insentif bagi pengusaha yang mau berinvestasi atau petani dan nelayan yang melakukan usaha,” tuturnya.
Pemerintah berkewajiban untuk membangun infrastruktur agar aksesibilitas produksi berjalanlancar, menciptakan keamanan agar in vestasi berlanjut, dan memberikan bimbingan serta asistensi. Menurut Irianto, dukungan perbankan untuk sumber pembiayaan menjadi salah satu kunci terwujudnya investasi.
Wali Kota Tarakan Sofian Raga menegaskan rumput laut menjadi satu dari empat komoditas andalan yang dikembangkan di daerahnya, selain ikan, udang dan kepiting.
Pemkot Tarakan, mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut melalui pembangunan infrastruktur baik pelabuhan, bandara, kawasan industri, ketersediaan listrik dan air bersih.
“Untuk listrik tidak ada masalah. Air bersih, kami akan membangun embung baru pada 2015 sehingga pada 2018 produksi air bersih diharapkan 1.000 liter per detik. Kami jamin kebutuhan dua infrastruktur ini untuk investasi pabrik pengolahan rumput laut,” tegasnya.
Irianto, petani rumput laut di daerah pesisir Pantai Amal Tarakan, mengaku mendukung adanya rencana pembangunan pabrik pengolahan rumput laut karena keberadaan fasilitas tersebut dapat meningkatkan harga jual komoditas di tingkat petani.
PABRIK
Perwakilan dari Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) Sasmoyo S. Boesari mengatakan Tarakan dan Nunukan memiliki potensi yang luar biasa untuk dibangun pabrik, kendati ada beberapa tantangan yang harus diatasi untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut.
Tantangan tersebut yakni faktor warna hasil rumput laut yang lebih coklat dibandingkan hasil dari daerah lain, faktor impurity (kadar kotoran) dan kadar logam yang relatif lebih tinggi.
“Namun, handycap itu menjadi tanggung jawab bersama untuk diatasi. Saya punya harapan besar, akademisi di sini lebih serius mengkaji tiga handycap. Kalau itu bisa dipecahkan saya yakin dua daerah ini akan sukses,” katanya.
Menurut Sasmoyo, pihaknya merekomendasikan cukup dibangun satu pabrik dulu untuk tahap awal dan Tarakan dinilai lebih feasible dibandingkan dengan Nunukan. Satu pabrik pengolahan rumput laut tersebut memiliki kapasitas 300 ton per bulan dengan nilai investasi diperkirakan Rp15 miliar-Rp20 miliar.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) Arman Arfah mengatakan sistem resi gudang perlu dikembangkan untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini.
Kasubdit Pangan Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Norhayati Gobel menambahkan pemerintah mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini melalui sejumlah program.
“Infrastruktur tentunya perlu dipersiapkan untuk pengembangan sektor ini. Kami dukung dengan memberi fasilitasi seperti sarana produksi dan peralatan. Tahun lalu kami sediakan alokasi dana Rp1,7 miliar untuk Nunukan, tapi belum dapat terserap karena belum ada infrastruktur,” paparnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) Mokhammad Dadi Aryadi mengatakan Kaltara memiliki potensi yang besar di bidang kelautan dan perikanan. Potensi tersebut harus dapat dioptimalkan dengan baik sehingga bernilai ekonomis. 
(Siti Munawaroh)
Sumber : http://www.kemenperin.go.id/artikel/10197/Kaltara-Pacu-Industri-Rumput-Laut



NUNUKAN MENJADI SASARAN MAGANG USAHA RUMPUT LAUT DARI BERBAGAI DAERAH

rumput laut
  Rumput Laut sedang digantung

DPRD Bulungan Cari Ilmu Rumput Laut di Nunukan

by 

Hamka
Wakil Ketua DPRD Bulungan, Hamka
Selain berkunjung ke Malinau, DPRD Bulungan Provinsi Kaltara, juga mengunjungi Kabupaten Nunukan untuk mempelajari budidaya rumput laut di daerah itu, karena saat ini perkembangan rumput laut menjadi salah satu komoditi yang cukup baik unutk dikembangkan dan mampu meningatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), selain itu kunjungan ke Nunukan juga untuk mengetahui protokoler keuangan dewan di DPRD Nunukan.
Wakil Ketua Dua DPRD Bulungan Provinsi Kaltara, Hamka menyebutkan Ketua Tim Kunjungan Kerja (Kunker) DPRD Bulungan yang akan berkunjung ke Kabupaten Nunukan uuntuk mempelajari rumput laut dan sistem keungan yang sudah di terapkan daerah tersebut.
“Untuk memantapkan program budidaya rumput laut ini, pihak dewan juga mengajak Kepala Dinas Perikanan Dan Kelautan. Agar kedepan program ini bisa diadopsi oleh Bulungan, mengingat nelayan kita sangat antusias untuk membudidayakannya, “ ujar Hamka kepada beritaheadline.com pada senin siang, (02/06/2014) di Bulungan.
Menurutnya, budidaya rumput laut di Kabupaten perbatasan ini sudah mampu mengangkat perekonomian para pembudidayanya. Hasil panen bahkan mampu diekspor ke sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, dan menjadi kwalitas yang cukup baik, dengan nilai jual yang cukup tinggi.
“Kita disini punya potensi budidaya rumput laut, namun kita kurang ilmu dan satu-satunya jalan adalah kita harus mencontoh dan belajar ne daerah lain,” tuturnya.
Reporter : Sahriansyah
Sumber : http://www.beritaheadline.com/dprd-bulungan-cari-ilmu-rumput-laut-di-nunukan/