...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Kamis, 20 Februari 2014

BENARKAH PRODUKSI RUMPUT LAUT DI NUNUKAN MENURUN?



BENARKAH PRODUKSI RUMPUT LAUT DI NUNUKAN MENURUN?

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto


Memasuki minggu kedua Bulan Februari 2014 ini, cuaca di Nunukan dan sekitarnya sangat terik dan panas pada siang harinya.  Langit terang berwarna biru, awan pun seolah menyingkir jauh-jauh.  Pada hal selama kurang lebih pada pertengahan Bulan Januari hingga awal Bulan Februari cuaca seolah-olah musim penghujan yang panjang.  Namun herannya, justru pada saat itu petani sedang banyak melakukan panen dan hamparan para-para penjemuran para petani dipenuhi oleh rumput laut yang sedang digantung, maupun rumput laut yang sedang dihamparkan tipis-tipis.  Waktu itu juga tidak ada keluhan tentang adanya penurunan produksi para pembudidaya.  Maka terpaksa banyak petani yang harus menunda dulu panennya, karena tempat penjemuran masih belum kosong, karena kendala hujan menyebabkan waktu pengeringan rumput laut menjadi panjang.  Namun sekarang ini pada saat cuaca yang panas, justru penjemuran banyak yang kosong.  Belum banyak petani yang memanen rumput lautnya.    

Panen menurun karena rumput laut rontok
Beberapa petani di Mamolo, yang merupakan sentra rumput laut di Kabupaten Nunukan ini yang mengakui kalau mereka kurang berhasil panennya.  Pada saat dipanen ternyata banyak rumput laut yang mengalami rontok sehingga hasil panen mengalami penurunan dari pada biasanya.  Memang masih sangat bervariasi kerugian mereka karena rumput laut yang banyak mengalami kerontokan, ada yang mengaku sekitar 30% turunnya.  Ada pula yang mengaku sekitar separuhnya dan beberapa bahkan hanya memanen cuma 25% saja dari biasanya.   Turunnya hasil  panen ini ternyata disebabkan adanya penyakit ice-ice yang menyerang cabang-cabang rumput laut Eucheuma cottonii ini.  Serangan ini menyebabkan lunak dan rapuhnya rumput laut, sehingga kalau ada gerakan air laut agak kuat sedikit saja batang yang rapuh tadi mudah sekali terlepas dan putus.  Karena banyak yang terputus maka hasil panen petani menjadi sangat menurun.

Mengapa hal ini bisa terjadi?  Itulah kebanyakan pertanyaan petani yang disampaikan kepada penulis.  Namun demikian, beberapa petani juga sudah memahami penyebabnya atau kira-kira penyebab timbulnya keadaan tadi, antara lain :
1.    Iklim sebelumnya yang curah hujan sangat tinggi menyebabkan kekeruhan air laut meningkat, karena air tawar dari sungai-sungai yang membawa lumpur dari daratan.  Pada saat itu salinitas menurun, proses fotosintesa dan metabolisme terganggu sehingga rumput laut mengalami penurunan daya tahannya terhadap lingkungan.  Kekeruhan air laut tentu juga membawa biang-biang hama penyakit yang kemudian menempel dan menyerang rumput laut yang sedang lemah tadi.  Keadaan ini baru terasa akibatnya setelah beberapa hari kemudian.
2.     Pada saat cuaca yang sangat panas di tengah hari tentu akan memanaskan suhu air laut.  Keadaan ini akan menyebabkan rumput laut merenggangkan sel-selnya dan menyebabkan menurunnya kekuatan.  Cuaca yang panas disertai gerakan air laut yang kuat terus menerus kemudian akan berakibat memutuskan rumput laut yang sel-selnya sedang merenggang dan kurang kuat tadi.  Apalagi jika sudah terinfeksi oleh penyakit ice-ice, maka cuaca panas dan gerakan air laut yang kuat akan semakin banyak menyebabkan rumput laut rontok dan putus.
3.    Bibit rumput laut yang sudah tidak bagus dan tidak sehat alias sudah terjangkit oleh penyakit dan tetap ditanam oleh petani. 
4.    Sistem penanaman yang sangat padat, karena jarak pemasangan bibit yang terlalu rapat, dan adanya pemasangan tali secara dobel.   Keadaan yang terlalu rapat ini tentu menyebabkan kurangnya asupan nutrisi dan juga cahaya matahari untuk proses metabolisme.  Ditambah lagi keadaan air laut yang sangat keruh dan salinitas yang berkurang karena air hujan dan air sungai yang sangat banyak.

Hasil petani budidaya menurun, hasil petani pukat meningkat
Dari keadaan diatas menyebabkan hasil petani budidaya mengalami penurunan yang lumayan drastis. Rumput laut yang banyak mengalami putus dan rontok itu kemudian akan jatuh ke dasar laut dan terobang-ambing terkena gerakan air laut karena arus laut dan gelombang.  Rumput laut yang rontok tadi juga terus tumbuh dan berkembang meskipun sudah tidak terikat di tali bentangan lagi.   Dengan banyaknya rumput laut yang rontok maka semakin banyak pula hasil tangkapan rumput laut dari para petani pukat.   Hal ini terlihat waktu penulis melintas di kampung Mantikas Tidung di Pulau Sebatik, dimana mayoritas merupakan petani rumput laut dengan hasil pukat, terlihat hasil rumput laut kering yang ditampung di gudang juga meningkat.  Demikian juga para pemukat rumput laut yang ada di Sedadap terlihat mengalami peningkatan aktifitas saat-saat ini.

Pak Sholeh, salah satu pemukat di Sedadap mengatakan memang ada peningkatan hasil tangkapan rumput laut yang terjaring oleh pukat.  Pada hari-hari ‘jadi’, yaitu hari-hari dimana terjadi pergerakan air laut pasang dan surut yang kuat, para pemukat melakukan pekerjaannya.  Pada saat ‘air mati’, yaitu saat dimana antara pasang dan surut itu fluktuasinya tidak terlalu besar sehingga tidak ada gerakan arus air laut, para pemukat libur tidak memukat rumput laut.  Pada saat seperti ini para pemukat di Mantikas Sebatik justru turun ke laut untuk memukat udang.  Jadi bagi petani nelayan di Kabupaten Nunukan ini terus melakukan aktifitasnya ke laut.

Sebenarnya tidak semua petani budidaya mengalami kegagalan panen karena kerontokan rumput laut,  tetapi hanya sebagian saja yang mengalaminya.  Di Nunukan hal ini seolah-olah bergantian,  kalau sekarang yang terkena penyakit di bagian selatan pulau Nunukan, justru yang di sebelah utara dan barat pulau Nunukan baik-baik saja hasil panennya.  Demikian sebaliknya, pada bulan-bulan ‘.....ber’ akhir tahun kemarin wilayah pesisir laut sisi utara pulau Nunukan mengalami sedikit masalah hama seperti tiram, gulma seperti rumput laut liar yang menempel dan penyakit seperti ice-ice, sehingga menurunkan mutu dan hasil panen rumput laut mereka.   

Namun secara keseluruhan produksi yang ada di Kabupaten Nunukan, baik dari wilayah pulau Sebatik dan pulau Nunukan, baik yang berasal dari hasil budidaya dan non budidaya (pukat), menunjukkan angka peningkatan terus-menerus.  Menurun sedikit dari budidaya tetapi meningkat sedikit hasil dari non budidaya, jadi secara keseluruhan tidak mengalami penurunan hasil.  Oleh karena itu peran para petani nelayan pukat ini bisa dikatakan sebagai penyangga bahkan pengaman dari rumput laut yang rontok ke dasar laut.  Lingkungan laut sekitar tempat budidaya rumput laut menjadi bersih dari rumput laut yang rontok, dari gulma laut liar seperti lumut atau jenis tumbuhan laut lainnya, dan dari ikan dan hewan laut predator atau pemakan rumput laut.  Makanya para pemukat ini harus tetap diperhatikan juga agar fungsi sebagai penyangga dan pengaman tetap berlangsung, kalau tidak dikelola dengan baik malah bisa menjadi bermusuhan dengan para petani budidaya.

Bibit Bonding dari Pak Boding
Kerontokan rumput laut dan penurunan hasil panen ternyata tidak dialami oleh petani yang memiliki bibit rumput laut yang bagus.  Seperti yang disampaikan oleh Pak Daeng Baso Lau, ada seorang petani rumput laut di wilayah Sei Lancang tetap bisa panen secara normal.  Bahkan hasil panennya melebihi para petani tetangganya.  Makanya Pak Daeng ini kemudian menanam bibit pilihan yang dibeli dari petani tadi.  Biasanya rumput laut yang dijadikan bibit secara borongan itu harganya Rp 100.000 per tali bentangan, namun Pak Daeng membelinya dengan harga dua kali lipat, yaitu Rp 200.000.  Petani di Sungai Lancang yang memiliki bibit bagus tadi namanya Pak Boding.  Sedangkan nama bibit rumput laut yang bagus tadi adalah bibit Bonding.  Rupanya keadaan iklim dan cuaca yang mengalami perubahan secara drastis beberapa minggu ini tidak mempengaruhi hasil panennya.  Hasil panen rumput laut Pak Boding tetap bagus dan bahkan lebih bagus dari petani-petani lainnya di Nunukan.

Penulis menjadi penasaran dengan bibit yang yang dibeli Pak Daeng dari Pak Boding ini.  Maka kemudian penulis menelusuri dari mana dan bagaimana bibit itu bisa sangat bagus hasilnya itu.  Ternyata bibit Bonding tadi bukan bibit baru yang didatangkan dari luar, apa lagi dari luar negeri.  Tidak.  Bibit Bonding tadi sebenarnya berasal dari bibit yang dipilih atau diseleksi dari penanaman sendiri.  Rumput laut yang mempunyai pertumbuhan sangat bagus dari yang lainnya itu yang dipilih menjadi bibit pilihan, yang kemudian dijadikan bibit selanjutnya untuk ditanam.  Selanjutnya setelah bibit ditanam diamati oleh Pak Boding dan dipilih yang paling bagus diantara yang ada untuk disisihkan lagi menjadi bibit berikutnya.  Begitu seterusnya.  Jadi pemilihan rumput laut untuk dijadikan bibit ini memang diseleksi sendiri dan dilakukan terus menerus.

Pola tanam lebih longgar produksi rumput laut aman dan tinggi hasilnya
Apa ada lagi yang berbeda dari cara-cara pola budidayanya?  Ternyata memang ada perbedaan, apa yang dilakukan oleh Pak Boding dengan petani rumput laut pada umumnya.  Dalam hal cara pemasangan tali, Pak Boding memasangnya dengan jarak antar tali yang lebih lebar alias longgar.  Pak Boding juga memasang talinya dengan cara tunggal, tidak dobel pemasangan talinya.   Sedangkan para petani pada umumnya memasang tali secara dobel dan dengan jarak pasang talinya yang sangat rapat.  Makanya rumput laut yang dibudidaya Pak Boding ini bentuknya lebih bulat beruas-ruas pendek namun gemuk dan tidak ramping memanjang seperti petani yang lain.  Mungkin dengan sinar matahari yang cukup banyak dan dengan jarak yang cukup lebar membuat pertumbuhan rumput laut itu lebih membulat dan gemuk.  Seperti juga pada tanaman yang di darat, jika sinar matahari kurang karena jarak tanam yang rapat maka tanaman akan mengalami itiolasi  alias pemanjangan sel dan ruas-ruas batangnya dengan ukuran yang kecil memanjang.


Dengan keadaan yang bulat melebar dengan ruas-ruas batang yang pendek-pendek tetapi gemuk, maka akan lebih banyak mendapatkan sinar matahari dan lebih jauh dari permukaan dasar laut yang biasanya berlumpur.  Sebaliknya, jika pertumbuhan rumput lautnya memanjang ke bawah, maka akan lebih dekat dengan permukaan tanah laut yang pasti berlumpur.  Lumpur-lumpur dan kotoran di dasar laut itu juga banyak terdapat penyakit maupun bibit-bibit tiram yang nanti bisa menempel pada tali dan bahkan rumput laut dan ikut menghisap sari makanan yang ada.  Oleh karena itu maka rumput laut yang ditanam dengan bibit Bonding dan dengan pola Pak Boding tadi hasilnya bisa mencapai 14 sampai 16 kg rumput laut kering per satu tali bentangan.  Sedangkan petani umumnya sekarang ini hanya antara 5 sampai 8 kg per tali.

Dalam hal pemilihan ukuran tali bentangan ternyata Pak Boding memilih tali dengan ukuran lebih besar, yaitu tali nomor 7.  Sedangkan petani yang lain umumnya memilih tali nomor 6 yang ukurannya lebih kecil.  Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan rumput laut yang lebih pesat dan menghasilkan beban yang lebih berat.  Makanya tali harus lebih besar supaya lebih kuat untuk menyangga rumput laut yang lebih berat tadi.  Selain itu jumlah botol-botol pelampung juga ditambah sehingga posisi rumput laut tetap terangkat dekat dengan permukaan air laut dan tidak jatuh ke bawah mendekati dasar laut yang peluh lumpur dan kotoran.   Rupanya cara-cara Pak Boding yang berbeda inilah yang menyebabkannya tetap menghasilkan rumput laut dengan produktivitas yang sangat tinggi.

Pak Daeng sangat senang bisa mendapatkan bibit Bonding dari Pak Boding tadi.  Betapa tidak, dengan membeli bibit borongan sebanyak 5 tali bentangan senilai Rp 1 juta, Pak Daeng kemudian bisa memasang untuk 81 tali bentangannya.  Ini berarti 1 tali bibit Bonding bisa digunakan untuk memasang sebanyak 16 tali bentangan budidaya.   Berbeda dengan yang ia beli sebelumnya dari bibit biasa sebanyak 48 tali dengan nilai Rp 4,8 juta  yang kemudian hanya dipasang bibit untuk 160 tali bentangan budidaya.  Artinya dengan bibit biasa 1 tali hanya untuk kurang dari 4 tali bentangan budidaya.  Makanya dengan bibit Bonding ini Pak Daeng bisa jauh lebih hemat, dan nanti dia berharap mendapatkan hasil panen yang 2 kali lebih banyak.

Jenis bibit
Jumlah perbanyakan tali bentangan budidaya dari 1 tali bibit
Hasil panen per tali budidaya (kg rumput laut kering)
Pola tanam
Jumlah tali per meter panjang tali fondasi
Bibit Biasa
3 – 4 tali
5 – 8 kg per tali (sekarang bisa 1 – 4 kg per tali)
Tali dobel (kembar) dengan jarak ikat sekitar  35-50 cm
4 - 6 tali per meter
Bibit Bonding
16 tali
12 – 16 kg per tali (sekarang pun tetap)
Tali tunggal dengan jarak 80-100 cm
1 – 1,25 per meter
  
Mudahan nanti penulis bisa menelusuri lagi perkembangan yang baik ini tentang pola budidaya rumput laut di Nunukan. 

Bagaimana dengan keadaan dan yang pernah Anda ketahui di daerah Anda?
Mari kita selalu sharing informasi untuk kemajuan rumput laut Indonesia!  Supaya kita berjaya dengan kekayaan laut kita sendiri!  Aamiin.
Salam Indonesia Raya!

Salam dari Aren Foundation! 
(DR ALGA productin)

Selasa, 28 Januari 2014

KUNJUNGAN BELAJAR KE PABRIK PENGOLAHAN KARAGENAN RUMPUT LAUT DI PASURUAN JAWA TIMUR



KUNJUNGAN BELAJAR KE PABRIK PENGOLAHAN KARAGENAN RUMPUT LAUT DI PASURUAN JAWA TIMUR

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Saya sempat pesimis bisa masuk ke dalam pabrik yang mengolah rumput laut menjadi karagenan.  Namun hal itu tidak terbukti pada saat kami mengunjungi Pabrik Kappa Karagenan di Desa Kurung Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan.  Pak Hamzah, sang pemilik pabrik,  sungguh sangat membuka diri dan membuka pabrik seterang-terangnya dan menjawab semua pertanyaan yang disampaikan oleh para tamu.  Tidak ada hal-hal yang disembunyikan dari detil-detil pabrik yang dimilikinya.  Ini aneh bin ajaib.  Sebab selama ini beberapa teman yang berusaha masuk ke beberapa pabrik hanya diterima di ruang tunggu atau bahkan hanya di pos satpam pabrik.

Pabrik ini terkesan agak tersembunyi, karena untuk memasuki pabrik rombongan dari Kabupaten Nunukan yang dipimpin langsung oleh Bupati Nunukan, yaitu Bapak Letkol Purnawirawan Drs. H. Basri.  Dengan menggunakan Bus Mini dari Surabaya harus melalui jalan kampung yang tidak beraspal dan melalui kebun-kebun masyarakat.  Meski tidak terlalu jauh jaraknya dengan Jalan Raya Kejayan yang menghubungkan Kota Pasuruan dan Kota Kecamatan Porwosari, hanya sekitar 500-an meter.  Sebenarnya lokasi pabrik Pak Hamzah ini tepat di Belakang Pabrik milik Mayora Grup yang berdampingan dengan persawahan yang relatif subur dengan pengairan yang baik.

Meskipun agak tersembunyi, ternyata Pabrik Pak Hamzah ini demikian terbuka, karena tidak ada pagarnya.  Pintu pabrik juga dibuka lebar-lebar dan penulis tidak mendapati Satpam yang berseragam yang berjaga di pos jaga, karena memang tidak ada pos jaganya.   Masuk ke area pabrik kami disuguhi pemandangan berupa hamparan seperti tumpukan kain putih yang sedang dijemur di atas terpal.  Ada juga yang sedang dijemur menggunakan rak-rak penjemur yang beroda. Rupanya yang dijemur itu adalah lembaran-lembaran karagenan yang baru dipress berbentuk seperti kain putih yang sedang dijemur.  Penjemuran dilakukan karena panas matahari sedang cerah hingga energinya bisa mengeringkan lembar-lembar karagenan itu.



Gedung Pabrik Pak Hamzah ini lebarnya sekitar 20-an meter sedang panjangnya mungkin sekitar 60-an meter.  Kesan pertama memasuki pabrik ini adalah kesederhanaanya.  Pabrik ini benar-benar menyatu dan akrab dengan lingkungan sekitarnya.  Ada kebun-kebun Mangga, kebun Jati dan Sawah masyarakat di sisi barat dan belakang pabrik.  Bahkan sawah yang berada di belakang pabrik tersebut merupakan bagian yang dimiliki Pak Hamzah untuk memanfaatkan limbah cair pabrik untuk pupuk penyubur tanaman padi.   Sungguh pabrik ini sangat aman bagi lingkungan persawahan yang ada di sekitarnya, bahkan bisa memberikan pupuk tambahan dari limbah cair maupun padat dari aktifitas produksinya. 


Begitu masuk ke dalam gedung Pabrik kami bertemu dengan alat pengering yang lama sudah saya pandangi melalui gambar-gambar di internet jika kita cari dengan kata kunci “seaweed dryer”.  Industri rumput laut di China sudah sangat akrab dengan alat ini.  Maka banyak sekali penawaran alat mesin ini di China.  Menurut Pak Hamzah di China terdapat sekitar 600 pabrik pengolahan rumput laut menjadi karagenan.  Di China sendiri rumput laut hanya bisa dibudidaya sekitar 3 bulan saja atau satu musim saja.  Karena dari 4 musim sub tropik disana, 1 musim panas saja yang bisa dibudidayakan rumput laut.  Makanya China sangat bergantung pada pasokan bahan baku rumput laut dari luar, termasuk yang paling besar adalah dari Indonesia.

Sekarang ini sebenarnya Indonesia sudah menjadi produsen terbesar rumput laut di dunia, setelah sekitar tahun 2008 mengalahkan dominansinya Filippina.  Namun dalam hal devisa yang dihasilkan Filippina memperoleh nilai ekspor lebih besar dibanding Indonesia.  Itu karena Indonesia mengekspor rumput laut sebagian besar (sekitar 85%) dalam bentuk raw material , sebaliknya Filippina sudah lebih banyak (sekitar 85%) mengekspornya dalam bentuk olahan jadi atau setengah jadi.   Rumput laut kering (dried seaweed) yang diproduksi Indonesia sebagian besar diekspor ke China, dan sebagian kecil ke Filippina, Malaysia dan beberapa negara eropa.

Pabrik pengolahan rumput laut yang ada di Indonesia bisa dihitung dengan jari.  Sebagian besar adalah mengolah rumput laut menjadi bahan setengah jadi berupa Chip ATC  dan Semi Refine Carrageenan (SRC).  Hanya sedikit Pabrik yang mengolah rumput laut menjadi Refine Carrageenan ini.  Dan Pabrik Pak Hamzah bisa dikatakan sebagai pabrik pertama milik anak Indonesia yang mengolah rumput laut menjadi tepung RC.  Beberapa pabrik yang mengolah rumput laut menjadi RC sebagian besar dimiliki oleh pemodal asing atau korporasi raksasa nasional.

Ditanya tentang sedikitnya pemain RC, Pak Hamzah bercerita demikian panjang.  Dominansi industri China sangat menguasai perdagangan rumput laut Indonesia.  Bahkan Indonesia dikesankan tidak akan mampu membuat pabrik pengolahan RC.  Seandainya mampu mungkin pasarnya juga tidak akan mampu menembus kartel China yang sudah sangat mendominasi bisnis rumput laut dan karagenan dunia.   Sehingga dari awal Pak Hamzah juga sudah memperhitungkan itu.  Kuatnya kartel rumput laut China ini, ternyata sangat mempengaruhi 2 pusat bisnis rumput laut yang ada di Indonesia Timur, yaitu Surabaya dan Makassar.  

Seluruh produksi rumput laut Indonesia sebagian besar diproduksi di bagian timur Indonesia seperti :
1.    Pulau Kalimantan di Provinsi Kaltara (Nunukan, Tarakan),  Provinsi Kalimantan Timur (Bontang, Kutim, Balikpapan dan Pasir Panajam Utara)
2.    Maluku Tenggara, Maluku Utara
3.    Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah
4.    Sulawesi Selatan dan Sulawei Tenggara
5.    NTT, NTB dan Bali.
6.    Dll.

Memulai pabrik dengan kapasitas kecil

Kunjungan belajar ke pabrik  PT Kappa Carrageenan Nusantara milik Pak Hamzah ini menyertakan juga Rombongan dari PT Manrapi dari Nunukan untuk menjajagi model pabrik serupa jika dibangun di Nunukan.  Rombongan PT Manrapi yang dipimpin oleh H. Irwan Sabri SE, juga menyertakan Kepala Dinas Perindagkop dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan beserta Kepala Bidang Perijinan dan Pengolahan Hasil Perikanan Kabupaten Nunukan.   PT Manrapi milik H. Sabri, seorang pengusaha tambang Batubara ini, bertekad untuk membangun industri pengolahan rumput laut di Nunukan.

Karena PT Manrapi juga secepatnya akan memulai pembangunan pabrik pengolahan rumput serupa di Nunukan.  Pembangunan pabrik dimaksud akan memanfaatkan melimpahnya bahan baku yang selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah ke Makassar, Surabaya dan Tawau Malaysia.  Sangat disayangkan.  Dengan dibangunnya pabrik pengolahan rumput laut di Nunukan akan menciptakan nilai tambah dan juga menyerap tenaga kerja di Nunukan.  Selain itu tentu hal ini juga bisa lebih menstabilkan harga di tingkat petani dan juga mampu meningkatkan daya saing produk ke luar daerah.  Kalau pembangunan ini sukses maka kepercayaan diri para pengusaha lokal untuk berinvestasi di negerinya sendiri juga akan semakin besar.

Selama ini Bupati Nunukan, Bapak Drs. H Basri, juga menghendaki agar rumput laut yang dibawa keluar dari Nunukan tidak lagi dikirim dalam bentuk gelondongan alias mentah. Tapi dikirim keluar daerah bahkan keluar negeri sudah dalam bentuk setengah jadi yaitu berupa Chip ATC dan Semi Rfine Carrageenan atau bahkan sudah dalam bentuk Refine Carrageenan.   Seandainya bisa maka sangat mungkin juga sudah bisa diolah menjadi aneka produk pangan olahan yang berbahan dasar rumput laut.  Tentu ini akan menghidupkan roda ekonomi rakyat dan menyediakan kesempatan kerja bagi warga Nunukan, sebagaimana visi yang sudah dipatrikan dalam program Gerbang Emas.

Bupati menghendaki kalau bisa semua produksi rumput laut se Kabupaten Nunukan ini bisa dihilirisasi menjadi komoditi yang bernilai tambah.  Maka semula jika pabrik pengolahan rumput laut di Nunukan ini berkembang akan mampu mengolah seluruh produksi yang ada, yaitu sebanyak 1.000 ton per bulan.  Namun Pak Hamzah mengingatkan agar membangun pabrik pengolahan dimulai dari skala ekonomis minimal dulu seperti pabrik yang dimilikinya.  Bila mengikuti jejak Pak Hamzah, maka biarlah pabrik di Nunukan nanti dimulai dengan kapasitas olah 5 ton rumput laut kering per hari, atau sebanyak 150 ton per bulan.  Maka jika diolah menjadi tepung karagenan akan dihasilkan antara 30-40 ton tepung karagenan per bulan.

Jika pabrik dibangun dalam kapasitas besar dan menyedot seluruh bahan baku di Nunukan, maka bisa menyebabkan beberapa kemungkinan sebagai berikut :
1.  Berkurangnya jatah pengiriman oleh pedagang lokal ke Makassar dan Surabaya.
2.  Akan merubah sedikit atau banyak keseimbangan harga rumput laut di tingkat eksportir yang akan berimbas juga kepada pabrik di luar Nunukan.
3.  Memancing reaksi pedagang besar yang berhubungan dengan pabrik dan importir di China (Kartel China) yang membuat harga di tingkat petani tidak stabil.
4.  Mematikan peran pedagang pengumpul, peluncur di lapangan dan para pengusaha angkutan dan tenaga kerja yang biasanya bekerja pada rantai tata niaga ini.
5.  Harga di tingkat petani di Nunukan akan lebih stabil dan kualitas hasil rumput laut lebih terkontrol.
6.  Ada penyerapan tenaga kerja cukup besar yang diperlukan untuk operasionalisasi pabrik dan tenaga di dalam tata niaga baru yang lebih pendek dari petani ke pabrik.
7.  Merubah pola tata niaga dan sistem yang menyesuaikan dengan permintaan atau persyaratan mutu menurut standar pabrik.
8.  Pabrik berkembang pengaruhnya menjadi trigger, driver, leader dalam sistem bisnis rumput laut di Nunukan.
9.  Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya poin 8 di atas, maka peran pemerintah dalam menjalankan sistem pengawasan yang standar dapat menyusun peraturan perundangan dengan pihak Legislatif.
10.  Jika dukungan bahan baku, bahan penolong, bahan bakar, listrik, air, sistem pengelolaan SDM (tenaga kerja) atau jika manajemen Pabrik lemah, maka akan mengalami kewalahan dalam mengelola input yang dibutuhkan maupun output yang dihasilkan.
11.  Imbas dari lemahnya sistem manajemen pabrik akan berdampak besar pada tata niaga yang sudah terlanjur monopolistik (nanti).  Namun mungkin (nanti) akan menyebabkan gejolak sementara saja sebab bagaimanapun reaksi pasar yang besar akan menyerapnya.
12.  Dan lain-lainnya.

Oleh karena itu perlu diciptakan keseimbangan yang mensinergikan beberapa kepentingan dalam sistem bisnis rumput laut ini.  Perubahan sistem dengan munculnya pabrik berskala besar jangan menyebabkan goncangan di tingkat petani, khususnya dalam hal harga dan pengelolaan mutu rumput laut.   Namun yang sering terjadi adalah sebaliknya, pabriklah yang biasanya terguncang karena harga beli rumput laut di tingkat petani itu naiknya ekstrim.  Pada kondisi begini pabrik agak mengerem pembelian bahan baku dan memanfaatkan stok bahan baku yang masih ada di gudang.  Oleh karena itu pabrik yang memiliki modal besar biasanya akan melakukan aksi borong jika harga rumput laut sedang turun.

Selasa, 21 Januari 2014