...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Minggu, 19 April 2015

MENGEMBANGKAN USAHA JASA PENGERINGAN RUMPUT LAUT YANG MENGUNTUNGKAN





MENGEMBANGKAN USAHA JASA PENGERINGAN RUMPUT LAUT YANG MENGUNTUNGKAN

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto


Lazimnya para petani rumput laut di Nunukan melakukan pengeringan sendiri usai panen dari laut.  Tali-tali bentangan yang digelandoti rumput laut  bergerombol pada tali-tali cincin yang terikat rapat.  Ada sekitar 400-500 ikat rumput laut yang menjuntai memanjang di setiap tali bentangan dengan panjang antara 20-25 meter bahkan ada yang sampai 30 meter.  Jarak antar tali cincin ini sekitar 10 cm dan setiap titiknya ada 2 cincin.  Ini sering disebut sebagai sistem cincin dobel.  Pemanenan dilakukan dengan melepas tali bentangan dari tali fondasi di kedua ujungnya yang berada di dasar pantai yang tidak terlalu dalam.  Tali bentangan yang sarat dengan rumput laut yang telah tumbuh selama antara 45-60 hari ini kemudian ditarik untuk dinaikkan ke atas perahu.  Rata-rata setiap perahu petani rumput lau di Nunukan biasanya mampu mengangkut hasil panen sebanyak antara 25 sampai 40 tali bentangan.

Kalau sudah cukup penuh muatan perahu dengan hasil panen, maka rumput laut segera diangkut ke tempat penjemuran yang berada di tepi pantai.  Tempat penjemuran itu adalah berupa lantai para-para di atas laut.  Di atas para-para jemuran itu kadang-kadang ada yang dipasang tiang-tiang yang dipasangi selonjoran kayu untuk menggantung tali yang masih ada rumput lautnya.   Di Nunukan ada petani yang melakukan penjemuran dengan cara langsung menggantung rumput laut beserta tali dan botolnya,  namun ada pula yang melakukan ‘pemurutan’ atau melepas dulu rumput laut yang terikat di tali tersebut.  Masing-masing mempunyai alasan yang berbeda atas cara yang dilakukan tersebut.  

Yang paling awal melakukan cara penggantungan ini adalah petani rumput laut yang berada di Kampung Mamolo, dimana sekitar separuh dari petani rumput laut Nunukan ada di kampung ini.  Cara pengeringan gantung ini juga sudah mulai ditiru oleh petani rumput laut di Sedadap, Sei Jepun, Mansapa maupun di Sei Lancang dan lain-lain.  Dengan melakukan sistem penggantungan saat proses pengeringan pertama, beralasan agar rumput laut hasil pengeringan lebih berat timbangannya. Penggantungan rumput laut bersama talinya ini biasanya dilakukan selama 2 hari supaya layu dan agak kering, baru kemudian dilepasi atau dipurut dengan alat pemurut atau ditarik secara manual dengan tangan. Maksud dilakukannya pengeringan dengan sistem gantung ini rata-rata petani beralasan agar rendemennya agak tinggi. 

Cara yang berbeda yaitu dengan yang langsung melepas rumput laut dari tali yang mengikatnya.  Pekerjaan melepas rumput laut dari talinya ini disebut dengan ‘pemurutan’ atau memurut rumput laut.  Setelah rumput laut dipurut dan lepas dari talinya kemudian dilakukan penjemuran dengan merata-ratakan tumpukan rumput laut di lantai para-para yang berada di atas laut.  Ini merupakan cara yang mulai awal dilakukan oleh seluruh petani rumput laut yang ada di Nunukan.  Namun sekarang sebagian petani sudah menggantikannya dengan sistem gantung.  Kenapa cara ini dipertahankan, karena petani beralasan biar praktis dan bisa cepat bisa mengelola talinya untuk segera dipasangi bibit dan turun ke laut lagi.   Petani rumput laut yang berada di Kampung Tanjung, Sei Menteri dan Tanjung Batu di Pulau Nunukan masih menggunakan cara seperti ini.

Dengan berkembangnya usaha rumput laut karena kegairahan petani akhir-akhir ini  dimana harga rumput laut kering sampai mencapai Rp 15.000 per kg,  maka banyak petani terus menambah tali bentangannya.  Namun demikian tidak semua petani menambah kapasitas lantai para-para penjemurannya.  Jadi penambahan tali bentangan yang berarti akan menambah lagi angka produksi, seharusnya diikuti juga semakin luasnya tempat penjemuran.  Keadaan yang tidak seimbang ini berakibat pada beberapa hal :
1.    Jadwal penjemuran semakin padat
2.    Banyak petani terpaksa menunda panennya karena terkendala lantai jemurnya masih digunakan
3.    Munculnya jasa penjemuran rumput laut
4.    Munculnya usaha pembelian rumput laut basah
5.    Karena telat memanen maka banyak rumput laut yang rontok dari talinya
6.    Semakin semarak juga usaha pemasangan pukat rumput laut
7.    Harga kayu merah atau kayu bakau menjadi sedikit mahal karena sekarang sudah mulai dibatasi atau dilarang menebang sembarangan.  Kayu tersebut digunakan untuk pembuatan jemuran dan pengeringan rumput laut.

Perkembangan yang patut mendapatkan perhatian adalah mulai munculnya usaha pengeringan rumput laut dan diikuti dengan adanya pembelian rumput laut dalam keadaan basah yang baru dipanen dari laut.  Ini merupakan bagian dari perkembangan baru diversifikasi usaha di bidang pengelolaan rumput laut.  Munculnya usaha pengeringan seperti ini banyak mengandung keuntungan dan juga mengandung beberapa kekhawatiran.

Adapun keuntungan dari munculnya usaha pengeringan dengan melakukan pembelian rumput laut basah ini antara lain adalah :
1.    Petani budidaya akan lebih cepat menerima hasil bahkan secara langsung sehabis melakukan panen, karena tidak usah menunggu lagi sampai kering.
2.    Waktu petani menjadi lebih leluasa lagi dalam budidaya di laut, artinya ada peluang untuk lebih fokus dalam mengembangkan kualitas, kuantitas dan kapasitas budidaya rumput lautnya.  Hal ini karena waktu yang biasanya harus disediakan untuk proses penjemuran yang memakan masa sekitar seminggu sudah digantikan orang lain.
3.    Dengan cepat mendapatkan hasil penjualan petani bisa lebih cepat memberikan upah kepada jasa servis tali bentangan, pemeliharaan dan penggantian botol pelampung sampai pemasangan bibit dan pemasangan tali kembali ke laut.
4.    Ketegangan atau tingkat stress petani rumput laut akan berkurang dan para petani akan meningkat index kebahagiaannya.  Sebelum adanya pembelian basah petani tidak bisa banyak bergerak sebelum kering hasil panennya dan terjual.  Oleh karena itu kebanyakan mereka berhutang dana kepada para juragan. 
5.    Dengan cash flow dana yang cepat maka akan mengurangi ketergantungan petani terhadap para juragan, sebab hutang-hutangnya akan berkurang dan tidak banyak diperlukan lagi. 
6.    Usaha pengeringan yang dilakukan secara khusus dan profesional akan meningkatkan mutu rumput laut kering.  Ini akan berakibat pada peningkatan kepercayaan oleh para pedagang, eksportir maupun para prosesor alias pabrik.  Dengan mutu rumput laut yang bagus maka daya saing produk akan meningkat sehingga harga juga bisa diangkat menjadi lebih tinggi.
7.    Usaha pengeringan ini merupakan pilihan usaha yang cerdas, karena dari sisi perputaran modal, tingkat resiko usaha dan besarnya modal awal yang lebih menguntungkan dan mengandung nilai tambah dari sistem bisnis rumput laut secara keseluruhan.  Diversifikasi usaha dari sistem bisnis rumput laut yang prospektif ini akan berkembang dengan semaraka manakala sudah ada yang memulainya di Nunukan.  Psikologi bisnis di Nunukan selalu begitu, mungkin ini terjadi juga dimana-mana, begitu ada jenis usaha yang terlihat berkembang dengan baik, maka akan banyak yang meniru di belakangnya.
8.    Ada hasil samping dari usaha pengeringan yaitu air keringat rumput laut yang menetes saat proses pelayuan.  Air eksudat yang berasal dari tubuh rumput laut ini ditengarai masih mengandung mineral dan nutrisi yang sangat berguna bagi tanaman hewan dan bahkan manusia, baik untuk bahan pupuk tanaman maupun bahan suplemen nutrisi manusia maupun hewan ternak.
9.    Dan keuntungan lainnya yang berkembang setelah adanya jasa pengeringan ini.

Namun demikian ada juga yang mengkhawatirkan jika usaha jasa pengeringan ini menjadi semarak.  Karena akan terjadi pembelian rumput laut basah besar-besaran yang memberi pengaruh mengkhawatirkan sebagai berikut :
1.    Dikhawatirkan akan terjadinya pencurian rumput laut dari tali bentangan yang terpotong atau dipotong dengan sengaja.
2.    Dikhawatirkan terganggunya bisnis para pedagang yang sudah eksis sebelumnya, sehingga akan ada persaingan yang tidak sehat.
3.    Dikhawatirkan banyak penjemuran para petani yang menganggur karena banyak petani yang menyerahkan pada usaha bisnis jasa pengeringan rumput laut ini.
4.    Dikhawatirkan ada persaingan rekruting tenaga kerja yang biasanya bekerja sama dengan petani kemudian akan memilih bekerja di unit usaha pengeringan ini.  Petani yang masih bertahan dengan mengelola pengeringan sendiri akan mengalami sedikit kesulitan mencari tenaga kerja yang sudah tersedot di unit pengeringan.
5.    Akan semakin marak usaha pencarian rumput laut dengan sistem pukat.  Ternyata sebagian besar para pemukat yang bukan petani rumput laut tidak memiliki tempat penjemuran yang memadai.  Maraknya pemukat kalau tidak ada pengaturan dan pengawasan dikhawatirkan akan menyebabkan persaingan antar pemukat.  Ini akan menyebabkan usaha pemukat dilakukan pada malam hari yang bisa merusak lahan areal budidaya rumput laut para petani budidaya. Akan ada potensi masalah antara para pemukat maupun antara pemukat dengan petani budidaya.
6.    Dan lain-lain.

Lalu bagaimana gambaran analisa usaha dan seberapa besar keuntungannya ?  Mudahan nanti akan ada tulisan sambungannya...... (hehehe biar penasaran!!)

Senin, 16 Februari 2015

Dengan budidaya rumput laut kesejahteraan masyarakat meningkat




    BUDIDAYA RUMPUT LAUT DORONG KEMANDIRIAN DAN TINGKATKAN KESEJAHTERAAN

    Rumput laut saat ini adalah salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya karena volume produksinya yang cukup besar dan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Produksi rumput laut Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 9,28 juta ton meningkat hampir 3 juta ton dari sebelumnya pada tahun 2012 sebesar 6,51 ton. “Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong pengembangan budidaya rumput laut, karena rumput laut adalah komoditas strategis yang mampu mendorong kemandirian masyarakat pesisir melalui usaha budidaya. Terlebih budidaya rumput laut merupakan budidaya yang sederhana yang dapat dilakukan secara berkelompok maupun oleh keluarga, “demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Kabupaten Takalar,Sulawesi Selatan.

    Slamet menambahkan Indonesia saat ini menuju produsen rumput laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. Hal ini didukung dengan potensi pengembangan lahan budidaya rumput laut yang masih terbuka lebar, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. “Indonesia bagian timur dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sentra rumput laut, salah satunya di Sulawesi Selatan dan juga wilayah lain seperti  Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara dan wilayah Kalimantan seperti di Nunukan dan Tarakan”, tambah Slamet.

    Saat ini yang diperlukan adalah membangun unit-unit pengolahan rumput laut yang dekat dengan sentra – sentra budidaya rumput laut, seperti yang ada di Sumba Timur, NTT. “Dengan dukungan unit pengolahan yang dekat dengan usaha budidaya rumput laut, akan sehingga mempermudah pemasaran dan menurunkan biaya transportasi. Dengan demikian akanmmenambah daya saing dan nilai tambah rumput laut, sehingga mampu bersaing di pasar global”, ungkap Slamet.

    Dari sektor hulu atau budidaya, saat ini telah dikembangkan bibit rumput laut kultur jaringan (kuljar) hasil kerjasama DJPB dan SEAMEO BIOTROP Bogor. “Dengan keunggulan yang dimiliki rumput laut kultur jaringan (kuljar) ini, kendala yang selama ini dihadapi dalam berbudidaya rumput laut seperti kendala lokasi, salinitas, dan curah hujan, dapat diatasi sehingga mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional khususnya jenis E. cottonii. papar Slamet.

    Selain rumput laut jenis E. cottonii, di Kabupaten Takalar juga dikembangkan budidaya rumput laut jenis Caulerpa sp. Atau lebih dikenal dengan nama lawi-lawi. Jenis rumput laut ini, banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai makanan sehari-hari. “Budidaya lawi-lawi yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Laekang Kab. Takalar, merupakan bagian dari tugas DJPB melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam hal ini Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Dari lahan tambak seluas 3500 m2, dapat dihasilkan 50 karung lawi-lawi atau 2 ton per bulan dengan harga Rp, 150.000,- per karung atau rata-rata Rp. 7,5 juta per bulan. Dengan hanya mengandalkan pergantian air dan mengurangi kandungan lumpur tambak, masyarakat dapat memperoleh pendapatan yang cukup besar. Yang perlu diperhatikan adalah peremajaan bibit, distribusi hasil atau pemasaran dan juga pengepakan. DJPB melalui BPBAP Takalar akan terus mendampingi”, ujar Slamet.

    Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI

    Dalam kesempatan yang sama, Komisi IV DPR RI yang dipimpin oleh Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) menyampaikan kegembiraannya dengan meningkatnya perekonomian masyarakat pesisir Di Desa Leikang. “Komisi IV DPR RI akan terus mendorong dan mendukung program pemerintah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berkat budidaya rumput laut, ibu-ibu di sini mendapatkan tambahan penghasilan Rp. 50.000,- per hari, Ini akan membantu ekonomi rumah tangga di sini. Yang harus di tingkatkan dan disediakan adalah bantuan permodalan baik dari perbankan maupun dari pemerintah baik pemerintah daerah maupun pusat”, kata Titiek.

    Slamet menambahkan bahwa untuk mendukung akses permodalan bagi pembudidaya, KKP melalui DJPB bekerja sama dengan BPN mengeluarkan program sertifikasi hak atas tanah budidaya atau SEHATKAN. “Sertifikasi hak atas tanah budidaya ini sudah dimulai sosialisasinya sejak tahun 2013 dan mulai dijalankan tahun 2014. Sampai saat ini sudah diterbitkan 1500 sertifikat untuk para pembudidaya, dan akan terus dilanjutkan. Kita harapkan dengan adanya sertifikat ini, akses permodalan untuk pembudidaya akan lebih mudah”, papar Slamet.

    Usaha perikanan Budidaya saat ini dituntut untuk lebih memperhatikan lingkungan dalam pelaksanaannya. Budidaya rumput laut adalah contoh nyata dari budidaya yang memperhatikan lingkungan. “Disamping itu masyarakat pembudidaya harus lebih mandiri dengan menggunakan semua bahan baku dan peralatan yang berasal dari dalam negeri sehingga menjadi lebih mandiri dan mampu memiliki daya saing lebih untuk bersaing di pasar global”, pungkas Slamet.

    Sumber: RMR

Sumber :http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=1085

Mengatasi Bibit bermutu dengan kultur jaringan

BIMTEK DAN TEMU LAPANG BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Pesawaran merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Lampung yang mempunyai potensi untuk pengembangan Rumput Laut. Kendala yang dihadapi yakni ketersediaan bibit dalam jumlah cukup dengan kual;itas yang baik, saat ini sudah dapat diatasi melalui teknologi kultur jaringan hasil penelitian SEAMEO BIOTROP Bogor. BBPBL menjadi salah satu institusi yang ditunjuk untuk  melakukan uji multilokasi Budidaya Rumput Laut menggunakan bibit hasil kultur jaringan tersebut di beberapa wilayah di Prop. Lampung yang salah satunya dilakukan di Desa Puhawang, Pesawaran.
Dalam rangka pemantapan teknologi dan keterampilan pembudidaya, pada akhir September 2013 BBPBL telah melakukan Bimtek dan temu Lapang bagi pembudidaya Rumput Laut di dusun Kalangan, Desa Puhawang, Kec. Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran yang tergabung dalam Kelompok Tani Rumput Laut Bina Bersama yang dihadiri juga oleh staf Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) selaku pembina teknis di masyarakat. Kelompok ini merupakan kelompok binaan BBPBL Lampung, telah menanam  Rumput Laut hasil kultur jaringan pada tanggal 22 April 2013 dengan bibit sebanyak 2,7 kg pada 6 (enam) unit rakit metode Jalur Kombinasi. Satu unit rakit terdiri dari 5 petak, dengan ukuran 5 m x 10 m per petaknya. Hasil monitoring pada tanggal 26 September 2013, biomass rumput laut telah mencapai 2.000 kg (2 ton). Rumput laut hasil kultur jaringan mempunyai keunggulan pertumbuhannya cepat, tahan penyakit, dan terutama dapat diproduksi massal tanpa kendala musim dibandingkan dengan strain lokal sehingga diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan bibit Kakap Putih ukuran 6 – 7 cm sebanyak 500 ekor. Hal ini merupakan bentuk kepedulian BBPBL kepada para pembudidaya Rumput laut, untuk dapat meningkatkan pendapatannya. 
Perjalanan menuju lokasi

Foto bersama dengan para petani keramba
Kondisi rumput laut hasil binaan BBPBL Lampung
Pertemuan dan diskusi dengan para petani rumput laut
Foto bersama dengan para petani rumput laut


Sumber : http://bbpbl.djpb.kkp.go.id/index.php/component/content/article/1-latest-news/98-bimtek-dan-temu-lapang-budidaya-rumput-laut.html

Tekad KKP Indonesia jadi produsen rumput laut terbesar dunia

KKP jadikan Indonesia produsen rumput laut terbesar



Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong pengembangan budi daya rumput laut melalui kebijakan industrialisasi menuju produsen rumput laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. 

"Hal ini didukung dengan potensi pengembangan lahan budi daya rumput laut yang masih terbuka lebar, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto, dalam siaran pers yang diterima Antara di Bogor, Kamis. 

Slamet mengatakan, rumput laut saat ini merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budi daya baik sebagai salah satu komoditas industrialisasi tetapi juga karena volume produksinya yang cukup besar.

Produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2013, lanjut Slamet, adalah sebesar 7,68 juta ton. Jumlah ini meningkat lebih dari 2 juta ton dari tahun sebelumnya yakni 5,73 ton di tahun 2012. 

"Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui DJPB terus mendorong pengembangan budidaya rumput laut melalui kebijakan industrialisasi seiring meningkatnya permintaan dunia terhadap komoditas rumput laut yang cenderung meningkat," kata Slamet.

Slamet menjelaskan, Indonesia bagian Tmur dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sentral rumput laut, seperti di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara dan juga di wilayah Kalimantan seperti Nunukan dan Tarakan. 

Menurut Slamet, kebijakan industrialisasi untuk komoditas rumput laut sangat tepat untuk mengembangkan komoditas ini baik dari segi peningkatan produksi maupun memberi nilai tambah sehingga rumput laut dari Indonesia mampu bersaing di pasar global.

"Saat ini yang diperlukan adalah meningkatkan dukungan sektor pengolahan terhadap usaha budidaya rumput laut," kata Slamet.

Dukungan yang diperlukan, lanjut Slamet, antara lain didirikannya unit pengolahan rumput laut di sentra-sentra budidaya rumput laut, sehingga mempermudah pemasaran dan menurunkan biaya transportasi. 

Menurutnya, hal ini akan selaras dengan kebijakan industrialisasi yang mengintegrasikan sektor hulu yaitu budidaya dengan sektor hilir yaitu pengolahan. 

Dikatakanya, dari sektor hulu atau budidaya, saat ini telah dikembangkan bibit rumput laut kultur jaringan (kuljar) hasil kerja sama DJPB dan SEAMEO BIOTROP Bogor. 

"Dengan keunggulan yang dimiliki rumput laut kultur jaringan (kuljar) ini, kendala yang selama ini dihadapi dalam budidaya rumput laut seperti kendala lokasi, salinitas, dan curah hujan, dapat diatasi sehingga mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional khususnya jenis E. cottonii," ujar Slamet.

Lebih lanjut Slamet, mengatakan, dengan bibit rumput laut kuljar, pengembangan lokasi budidaya rumput laut melalui kegiatan ekstensifikasi dapat dilakukan. 

Ia menyebutkan, penguasaan teknologi dalam hal peningkatan kualitas bibit rumput laut ini perlu di dukung dengan pengembangan kebun bibit rumput laut kultur jaringan sehingga masyarakat tidak mengambil bibit dari hasil pembudidayaannya tetapi dari pembibit rumput laut yang memang fokus pada usaha pembibitan. 

"Sehingga, kualitas bibit tetap terjaga dan ketersediaannya berkelanjutan. Hal ini pun akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja karena membuka lapangan pekerjaan sebagai penghasil bibit rumput laut yang berkualitas," kata Slamet.

Slamet menambahkan, industrialisasi rumput laut telah dilaksanakan sejak tahun 2013 di enam provinsi, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. 

"Melalui kebijakan industrialisasi, integrasi hulu dan hilir akan dapat dilakukan dengan mudah karena pembudidaya rumput laut akan dapat dengan mudah memasarkan produknya, sementara pabrik pengolah akan mudah mendapatkan bahan baku," kata Slamet.

Sumber : http://bogor.antaranews.com/m/berita/9324/kkp-jadikan-indonesia-produsen-rumput-laut-terbesar

Lombok sudah kembangkan bibit rumput laut kultur jaringan, Nunukan kapan ?

Lombok, Kembangkan Rumput Laut Hasil Kultur Jaringan


Potensi kelautan dan perikanan di Indonesia belum sepenuhnya tergarap. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produk kelautan dan perikanan yang masih belum banyak dikembangkan. Meskipun begitu, upayanya terus digencarkan. Salah satunya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai mengembangkan industrialisasi marikultur atau produksi perikanan budidaya laut. Salah satu komoditasnya adalah rumput laut.
Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut. Melirik potensi ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB) KKP mengembangkan rumput laut kultur jaringan, yakni pembudidayaan rumput laut yang dihasilkan secara generatif. Upaya ini bekerjasama dengan Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop), Bogor, Jawa Barat.
Melalui kultur jaringan, diklaim mampu meningkatkan nilai produksi rumput laut. Hasan (56 tahun) pembudidaya rumput laut, di Desa Seriwe,Kecamatan Jaruwaru, Lombok Timur mengatakan hal tersebut. Menurutnya, sistem kultur jaringan rumput laut yang dibudidayakannya lebih dapat bertahan lama. "Melalui pembudidayaan biasa (secara vegetatif) umur 35 hari sudah mulai rontok. Jadi harus dipanen lebih awal. Padahal, rumput laut idealnya dipanen setelah berumur 40-45 hari," kata Hasan Sabtu (3/5) lalu. 
Melalui kultur jaringan, masa panen dilakukan pada usia 40 hari. Hasan mengaku benih rumput laut kultur jaringan ini diperoleh dari Balai Budidaya Laut (BBL)Lombok. Kata lelaki yang sudah 10 tahun membudidayakan rumput laut ini, awalnya ia hanya mempunyai 7 bibit, namun kini Hasan telah membudidayakan sebanyak 80 tali ris, tiap ris memiliki panjang 20 meter. Secara teknis ia dibantu penyuluh dari BBL Lombok.
Hasan, petambak rumput laut dari Kabupaten Lombok itu tak sendiri. Setidaknya, ada lima petambak yang telah menjajal pembudidayaan rumput laut melalui kultur jaringan yang digencarkan sejak empat bulan lalu. "Ini merupakan upaya desiminasi produk dari Balai Budidaya Laut Lombok," kata Ujang Kamarudin Kepala BBL Lombok. Lebih lanjut, ia mengatakan,BBL Lombok berencana membangun labolatorium kultur jaringan sendiri. 
Menurut Ujang, tak hanya rumput laut, BBL Lombok juga mengembangkan budidaya  ikan kerapu lepas pantai (off shore). Tambak ikan laut yang berada di Lombok Timur itu, dilakukan panen perdana oleh menteri kelautan dan perikanan Sharif C. Sutardjo, Sabtu pagi bersama Dirjen PB, Slamet Soebjakto. (AS)

Sumber : http://www.gatra.com/nusantara-1/bali-nusa-tenggara/52056-lombok,-kembangkan-rumput-laut-hasil-kultur-jaringan.html

Indonesia akan pimpin produksi rumput laut dunia

Indonesia Berpeluang Menjadi Produsen Rumput Laut Dunia


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong pengembangan budidaya rumput laut. Selain salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya juga produksinya cukup besar dan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir.

Produksi rumput laut Indonesia tahun 2013 sebesar 9,28 juta ton meningkat hampir 3 juta ton dari tahun sebelumnya pada 2012 sebesar 6,51 ton.

“Rumput laut merupakan komoditas strategis yang mampu mendorong kemandirian masyarakat pesisir melalui usaha budidaya. Budidaya rumput laut ini sederhana yang dapat dilakukan secara berkelompok maupun oleh keluarga,“ ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, dalam pesan tertulis, Jumat (12/12).

Slamet menambahkan Indonesia saat ini menuju produsen rumput laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. Sebab, potensi pengembangan lahan budidaya rumput laut yang masih terbuka lebar, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.

Indonesia bagian timur dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sentra rumput laut, salah satunya di Sulawesi Selatan dan juga wilayah lain seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara dan wilayah Kalimantan seperti di Nunukan dan Tarakan.

Hal lainnya perlu membangun unit-unit pengolahan rumput laut yang dekat dengan sentra-sentra budidaya rumput laut, seperti di Sumba Timur, NTT.
“Dengan dukungan unit pengolahan yang dekat dengan usaha budidaya rumput laut, akan mempermudah pemasaran dan menurunkan biaya transportasi. Sehingga mampu bersaing di pasar global,” ungkap Slamet.

Dari sektor hulu atau budidaya, saat ini telah dikembangkan bibit rumput laut kultur jaringan (kuljar) hasil kerjasama DJPB dan Seamo Biotrop Bogor.
“Kendala yang selama ini dihadapi berbudidaya rumput laut seperti lokasi, salinitas, dan curah hujan sudah dapat diatasi sehingga mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional khususnya jenis E. cottonii,” papar Slamet.

Di Kabupaten Takalar juga mengembangkan budidaya rumput laut jenis Caulerpa sp. Atau lebih dikenal dengan nama lawi-lawi. Jenis rumput laut ini, banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai makanan sehari-hari. 

Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI
Sementara, Komisi IV DPR RI yang dipimpin oleh Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) menyampaikan, Komisi IV DPR RI akan terus mendorong dan mandukung program pemerintah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Yang harus di tingkatkan dan disediakan adalah bantuan permodalan baik dari perbankan maupun dari pemerintah,” kata Titiek.

Slamet menambahkan bahwa untuk mendukung akses permodalan bagi pembudidaya, KKP melalui DJPB bekerja sama dengan BPN mengeluarkan program sertifikasi hak atas tanah budidaya atau SEHATKAN.

“Sertifikasi hak atas tanah budidaya ini sudah dimulai sosialisasinya sejak 2013 dan mulai dijalankan 2014. Sampai saat ini sudah diterbitkan 1.500 sertifikat untuk para pembudidaya, dan akan terus dilanjutkan. Kita harapkan adanya sertifikat ini, akses permodalan untuk pembudidaya akan lebih mudah,” papar Slamet.

Sumber :  http://www.gatra.com/ekonomi-1/110181-indonesia-berpeluang-menjadi-produsen-rumput-laut-dunia.html

Dengan Bibit Rumput Laut Kultur Jaringan produktivitas akan memingkat

umput Laut Kuljar Siap Mengisi Pasar
Bibit unggul meningkatkan produktivitas dan daya tahan penyakit. Hasil panen pun bertambah.
Rumput laut salah satu komoditas ekspor unggulan. Produksi rumput laut Indonesia pada 2013 ini ditargetkan sekitar 7,5 juta ton atau meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,1 juta ton.
Menurut Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kendala usaha budidaya rumput laut adalah ketersediaan bibit berkualitas dan tahan terhadap penyakit. Padahal, kebutuhan rumput laut sangat tinggi untuk bahan baku industri makanan, farmasi, dan kosmetika.
Inovasi Kuljar
Membudidayakan rumput laut bisa jadi alternatif meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir selain dari menangkap ikan. Apalagi hanya perlu waktu 45 hari untuk tanam hingga siap panen. Bibitnya pun hanya dibudidaya selama 30 hari dan cukup sekali tebar untuk digunakan beberapa kali.
Sayang, usaha budidaya rumput laut terkendala serangan penyakit bulu kucing atau lumut bulu yang disebabkan cendawan. Lumut bulu bisa menutupi seluruh permukaan thalus sehingga mencegah proses fotosintesis dan menyebabkan kematian rumput laut. Pada 2009-2010 penyakit ini menyerang rumput laut di Desa Legundi, Kec. Ketapang, Kab. Lampung Selatan, Prov. Lampung mengakibatkan gagal panen hingga pembudidaya tidak lagi berproduksi.
Mengatasi hal itu, Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung bekerja sama dengan Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop), Bogor, Jabar, merakit bibit rumput laut Euchema cottonii berkualitas unggul dengan teknologi kultur jaringan (kuljar). “Rumput laut kultur jaringan ini terobosan yang sangat baik sekali oleh BBPBL Lampung dan Biotrop. Ini dibuat melalui kegiatan rekayasa teknologi sebagai cikal bakal untuk perbaiki kualitas rumput laut di Lampung Selatan. Kuljar ini diambil dari keturunan atau strain yang lebih cepat tumbuh dan kandungan karagenannya bisa lebih tinggi,” papar Dirjen.
Menurut Totok, begitu ia disapa, bibit rumput laut kuljar ini asli dari Indonesia. “Rumput laut itu diisolasi bibitnya, dibiakkan murni, dibesarkan lagi, dikultur di bak, diadaptasikan di laut yang terlindung. Rumput laut kuljar ini produksinya cukup bagus, dibibitnya 7 kali lipat kalau untuk pembesaran 10 kali lipat,” imbuhnya.
Keunggulan
Menurut Slamet Abadi, Teknisi Litkayasa BBPBL Lampung, rumput laut kuljar menawarkan keunggulan.  “Rumput laut kuljar itu mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan rumput laut lokal, lebih tahan terhadap penyakit, kandungan karagenan lebih tinggi, dan bibit rumput laut kuljar ini setiap saat bisa diproduksi, tidak mengenal musim karena pembibitannya melalui lab,” terang Badrun, sapaan akrabnya, kepada AGRINA.
Rumput laut lokal, sambung Badrun, laju pertumbuhan hariannya (LPH) sekitar 4% - 5%. Sementara, LPH rumput laut kuljar berkisar 7% - 11%. Jadi, jika dikalkulasi, hasil panen rumput laut kuljar lebih banyak daripada rumput laut lokal. Bila rumput laut lokal bisa dipanen sebanyak 7 – 10 ton/4.000 m2, produksi rumput laut kuljar mencapai 10-15 kali lipatnya.  
Hasil uji multilokasi di beberapa tempat di Lampung Selatan, rumput laut kuljar lebih tahan terhadap gangguan penyakit bulu kucing yang dua-tiga tahun terakhir marak menyerang rumput laut lokal. “Rumput laut lokal yang sudah kena penyakit paling banter laju pertumbuhannya 2% - 3%. Satu sudah terkena, bisa massal kena semua. Kalau rumput laut kuljar sampai sekarang ini belum kena penyakit. Kalaupun kena cuma sedikit, mungkin di bawah 1%,” ulas pria kelahiran 30 Maret 1981 itu.
Hal ini diakui pula oleh Sumidi, pembudidaya rumput laut sekaligus Ketua Kelompok Bintang Samudra di Desa Ketapang, Kec. Ketapang, Lampung Selatan. Rumput laut kuljar, ujarnya, “Pertumbuhannya lebih cepat dan tahan penyakit. Thalusnya lebih panjang, lebih rimbun. Masa pemeliharaan sama tapi bobot yang dihasilkan lebih banyak, nah hasil panennya lebih tinggi,” ungkap Sumidi.
Lebih menggembirakan, rumput laut kuljar mengandung karagenan 44%, lebih tinggi ketimbang rumput laut lokal yang sebesar 32%. Karagenan digunakan pada industri makanan sebagai bahan pengental, pembuat gel, dan pengemulsi.
Seritifikasi Pembibitan
Penelitian rumput laut kuljar dilakukan sejak Mei 2012. Pada Februari 2013 rumput laut kuljar mulai disebar ke kalangan masyarakat di Desa Bandaragung, Kec. Rawasragi, Lampung Selatan untuk proses pembibitan. ”Pertama 7 ons kita kasih ke petani, kemarin Agustus sudah mencapai 300-an kg,” ucap Badrun.
Saat ini ada empat lokasi uji multilokasi pembibitan rumput laut kuljar, yaitu Desa Bandaragung, Kec. Rawasragi; Desa Ketapang, Kec. Ketapang (Kab. Lampung Selatan) ; Pulau Pahawang, Kec. Marga Punduh (Kab. Pesawaran), dan di Kab. Serang, Banten berturut-turut sebesar 300 kg, 1.200 kg, 1.500 kg, dan 150 kg. Lokasi yang disebut kebun bibit tersebut dipilih karena mendekati sentra budidaya rumput laut.
Untuk menjadi bibit, rumput laut ditanam sebanyak 50 - 100 gr/rumpun dan siap dipanen dalam 30 hari. Bibit rumput laut kuljar ini bisa ditanam pada perairan yang keruh dan salinitas rendah. Totok menjelaskan, perairan keruh menandakan banyaknya kandungan nutrisi di dalam air sehingga bagus bagi pertumbuhan rumput laut. Sebelumnya, lokasi budidaya rumput laut mensyaratkan perairan yang jernih.
Pada perairan yang subur, hasil panen bibit rumput laut kuljar bisa mencapai 400 gr/rumpun. Sedangkan bibit rumput laut lokal dalam 30 hari pemeliharaan hanya mencapai 200-300 gr/rumpun. Slamet menambahkan, bibit rumput laut ini akan dibatasi penggunaannya sebanyak 5-6 kali siklus budidaya untuk menjaga sifat unggulnya. Setelah siklus keenam, akan dikeluarkan bibit baru dari laboratorium BBPBL Ambon. 
Bibit rumput laut kuljar yang siap disebarkan ke masyarakat akan diberi sertifikasi oleh BBPBL Lampung. Bibit ini juga akan dijual dengan harga lebih tinggi.  Bila bibit rumput laut lokal biasa dibandrol Rp3.500/kg, yang hasil kuljar sekitar Rp4.000an/kg.
Windi Listianingsih
sumber : 
http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=10&aid=4665