...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Selasa, 15 Juli 2014

Olahan Rumput Laut Bercita Rasa Gurih Pedas Khas Bali

 
 
 
Olahan Rumput Laut Bercita Rasa Gurih Pedas Khas Bali

Masyarakat Bali memiliki makanan tradisional yang terbuat dari rumput laut. Hidangan ini populer dengan sebutan bulung kuah pindang. Bulung merupakan sebutan lokal untuk rumput laut.

Secara umum, ada beberapa jenis rumput laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, diantaranya Gracillaria sp., Caulerpa spp., dan Eucheuma cottonii. Untuk bulung kuah pindang, rumput laut yang digunakan merupakan jenis Kappaphycus alvarezii.

Rumput laut jenis ini memiliki morfologi tubuh memanjang dengan diameter 1-5 milimeter. Dalam kondisi segar, rumput laut jenis ini memiliki warna hijau gelap agak kemerahan.

Setelah diolah, rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii yang akan dijadikan bahan bulung kuah pindang akan berwarna putih dan hijau. Yang berwarna hijau diperoleh dari hasil perendaman menggunakan kapur sirih selama setengah jam.

Sementara, rumput laut berwarna putih dihasilkan melalui proses penjemuran berulang selama beberapa hari, disertai proses pengeringan. Kedua jenis rumput laut ini lalu direbus dalam air mendidih selama sekitar 10 menit. Setelah itu, rumput laut ditiriskan.

Kuah pindang untuk makanan ini dibuat dari rebusan ikan yang dicampur dengan daun salam, serai, dan sedikit garam. Ikan yang biasanya digunakan antara lain ikan tongkol, tuna, atau sarden (lemuru). Jika menggunakan ikan sarden, kuah pindang yang dihasilkan akan berwarna lebih keruh dan memiliki aroma yang lebih kuat.

Untuk bumbu, digunakan terasi bakar, garam, jahe, serta cabai rawit besar (cabe beo). Semua bahan ini diulek kasar, kemudian disiram dengan kuah pindang.

Saat disajikan, rumput laut diberi garam, kelapa parut, serta perasan jeruk limau. Setelahnya, rumput laut disiram dengan bumbu yang telah dicampur dengan kuah pindang.

Sebagai pelengkap, biasa diberi taburan kacang tolo, kacang tanah, atau kacang kedelai yang telah digoreng kering. Sajian rumput laut yang kerenyes dengan kuah gurih pedas cocok menjadi teman bersantai menikmati waktu senggang.

Bulung kuah pindang mudah ditemukan di banyak lokasi, seperti di sekitar Kota Denpasar. Makanan ini biasa disajikan bersama beberapa hidangan khas Bali lainnya, seperti tipat cantok, serombotan, dan rujak Buleleng. [Ardee/IndonesiaKaya]

Sumber : http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/olahan-rumput-laut-bercita-rasa-gurih-pedas-khas-bali
 

Rabu, 02 Juli 2014

Pengaruh Aplikasi Kappa Karagenan terhadap Stabilitas Susu Kedelai (Glycine max, L.Merr)

Pengaruh Aplikasi Kappa Karagenan terhadap Stabilitas Susu Kedelai (Glycine max, L.Merr)

Sualang, Obrin

Abstract:
Kappa karagenan adalah salah satu jenis karagenan yang diekstrak dari rumput laut Eucheuma cottonii. Jenis rumput laut ini banyak terdapat di perairan Indonesia dan berpotensi besar untuk dikembangkan. 
 
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan memperoleh konsentrasi optimum bagi penggunaan kappa karagenan sebagai penstabil pada susu kedelai. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari stabilitas susu kedelai selama penyimpanan. 
 
 Konsentrasi kappa karagenan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,000 %, 0,010 %, 0,015 %, 0,020 %, 0,025 % dan 0,030 % Cb/v). Selang konsentrasi tersebut merupakan penghalusan dari konsentrasi hasil penelitian sebelumnya, yaitu sebesar 0,02 (Muntaji, 1994) . Penyimpanan dilakukan selama empat minggu pada suhu ±8°C. 
 
Parameter yang dipakai untuk melihat kestabilan susu kedelai selama penyimpanan mencalcup paramater fisik (total padatan, pH dan viskositas), kimia (TBA) dan mikrobiologi (TPC) . 
Pada uji TPC, penyimpanan dilakukan pada dua kondisi, yaitu sulm kamar (± 37°C) dan suhu dingin (± SOC) . 
 
Pengamatan terhadap paramater tersebut dilakukan setiap minggu selama empat minggu. Uji organoleptik menggunakan metode uji tingkat kesukaan (consumer preference test) dengan tujuh skala hedonik.
 

PEMANFAATAN EKSTRAK RUMPUT LAUT Caulerpa racemosa SEBAGAI BIOKONTROL PENYAKIT INFEKSI PADA ORGANISME BUDIDAYA

PEMANFAATAN EKSTRAK RUMPUT LAUT Caulerpa racemosa SEBAGAI BIOKONTROL PENYAKIT INFEKSI PADA ORGANISME BUDIDAYA

Elmi Nurhaidah Zainuddin1; Rajuddin Syamsuddin1; Hamzah Sunusi1; Abustang1; Asmi Citra Malina1; Andi Aliah Hidayani; Huyyirnah1)

Abstract:
Semakin banyak permasalahan yang dihadapi dalam penggunaan antibiotik sintetik membuat perlu penelitian tentang potensi rumput laut Caulerpa racemosa sebagai biokontrol (antibiotik alami) dalam pengendalian penyakit infeksi pada organisme budidaya. 
 
Metode yang digunakan terdiri dari: 
1. Ekstraksi C. racemosa secara berkesinambungan dengan pelarut n-heksana, etil asetat, metanol, dan metanol/H2O menggunakan stirer; 
2. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak C. racemosa terhadap 7 strain bakteri patogen dengan metode difusi agar; 
3. Pengujian sitotoksisitas ekstrak C. racemosa dengan brine shrimp lethality test (BSLT); 
4. Penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak aktif C. racemosa dengan metode difusi agar; 
5. Deteksi senyawa antibakteri ekstrak aktif C. racemosa dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT)-bioautografi. 
 
Hasil pengujian membuktikan bahwa hanya ekstrak n-heksana, ekstrak metanol dan ekstrak metanol/H2O yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Aktivitas tertinggi diperlihatkan oleh ekstrak metanol/H2O terhadap strain Vibrio harveyi BPPBAP (Ø zona hambat 20,7 mm) disusul ekstrak metanol/H2O dan ekstrak metanol terhadap strain Vibrio harveyi FIKP dengan diameter zona hambat masing-masing 20,0 mm. 
 
Hasil uji sitotoksisitas memperlihatkan hanya ekstrak n-heksana yang bersifat toksik, namun dalam tingkatan yang rendah, dengan LC50 = 874,3 ppm, sementara ke-3 ekstrak lainnya tidak bersifat toksik (LC50 >1000 ppm). 
 
 Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak n-heksana terhadap Vibrio harveyi BPPBAP (15,625 ppm) lebih tinggi dari nilai KHM ekstrak metanol (<15,625 ppm). Hasil deteksi senyawa antibakteri ekstrak n-heksana terhadap Vibrio harveyi FIKP memperlihatkan zona hambat pada noda dengan Rf 0,68 berwarna hijau muda baik secara visual maupun pada UV 254, dan ekstrak metanol pada noda dengan Rf.0,74 (kuning kehijauan) dan Rf 0,86 (hijau muda) pada UV 254 dan 366. 
 
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ekstrak Caulerpa racemosa berpotensi sebagai biokontrol (antibakteri alami) penyakit infeksi pada organisme budidaya. Agar penggunaannya di lapangan aman dan ramah lingkungan, perlu penelitian lebih lanjut secara in vitro dan in vivo di laboratorium maupun di lapangan.
 
Sumber :  http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/7194
 

ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN RUMPUT LAUT SKALA RUMAH TANGGA DI KABUPATEN BANTAENG

ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN RUMPUT LAUT SKALA RUMAH TANGGA DI KABUPATEN BANTAENG

Mardiana E. Fachry; Sutinah Made; YunusTamamma; Sri Suroadhawaty; Firman *

Abstract:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan usaha pengolahan rumput laut skala rumah tangga untuk dikembangkan menjadi sentra olahan rumput laut di Kabupaten Bantaeng. 
 
Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan mulai persiapan bulan Juli sampai Desember 2012. Populasi penelitian adalah semua pengolah rumput laut skala rumah tangga yang terdapat di 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Bisappu, Kecamatan Bantaeng dan Kecamatan Pajukukang, Sampel adalah populasi sebanyak 28 pengolah. 
 
 Pendekatan penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan SWOT analisis yang menggambarkan kondisi dan potensi usaha untuk dikembangkan kedalam sentra. Olahan rumput laut. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara dan FGD , data sekunder berasal dari DKP Provinsi dan Kabupaten. 
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Bantaeng sangat berpotensi untuk mengem bangkan sentra olahan rumput laut karena didukung oleh ketersediaan lahan, jumlah pembudidaya dan karakteristik pengolah serta adanya kebijakan pemerintah menetapkan Bantaeng sebagai salah satu sentra olahan di Indonesia.
 

PENGARUH SUHU DAN LAJU ALIR UDARA PENGERING PADA PENGERINGAN KARAGINAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SPRAY DRYER

PENGARUH SUHU DAN LAJU ALIR UDARA PENGERING PADA PENGERINGAN KARAGINAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SPRAY DRYER

Ruben Tinosa Dwika, Trisna Ceningsih, Setia Budi Sasongko

Abstract


Carrageenan, as one of the treatment of seaweed, is very important role in food and beverage industry, pharmaceuticals, and others. The low quality of carrageenan in the state due to the less accurate drying system which is used as the final materials handling unit (finishing product). 
 
The method of spray dryer is drying the liquid by contacting the liquid droplets in the opposite direction or the direction of hot air. Humidity can be reduced by passing the air in the adsorbent column that will absorb moisture in it before entering the furnace room. 
 
Carrageenan with a spray drying process using zeolite as an absorbent of moisture is an alternative option to achieve an effective hot air. Variable used in this research was the temperature change of air for drying (70°C, 80oC, 90oC, 100oC) and a flow rate of air dryers (11 m / sec, 12 m / sec, 13 m / sec, 14 m / sec). 
 
The results showed that water content carrageenan products affected by temperature and air velocity dryer into the column. Carrageenan results with the lowest water content of 11.19% is achieved on the process conditions with a temperature of 100oC column with drying air velocity 14 m / sec. 
 
In addition, the heat transfer process (based on temperature) is more affected than the mass transfer processes of momentum transfer (based on drying air flow rate). As well, the efficiency of the drying process the product increases with increasing drying temperature and air velocity. 
 
The efficiency of the drying process the product for 83.33% carrageenan obtained at 100oC temperature conditions and the drying air velocity 14 m/sec.
 
Sumber : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki/article/view/941
 

STRATEGI RISET RUMPUT LAUT UNTUK PRODUKSI PRODUK SPESIFIK DAERAH SULAWESI TENGAH

STRATEGI RISET RUMPUT LAUT UNTUK PRODUKSI PRODUK SPESIFIK DAERAH SULAWESI TENGAH

Mappiratu Mappiratu

Abstract


Masyarakat Sulawesi Tengah pada dasarnya telah mengenal rumput laut sejak dulu, namun baru dilakukan kegiatan budidaya dalam skala kecil pada tahun 1990.  Perkembangan budidaya rumput laut kearah yang lebih maju, setelah tim peneliti dari Lembaga Penelitian Perikanan Laut (LPPL) berhasil membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii di Kepulauan Samaringga pada tahun 1997 (Fauziah, 2009; Hamja, 2009).

 Sejak itu, kegiatan budidaya rumput laut oleh masyarakat pesisir Sulawesi Tengah berkembang dari tahun ke tahun sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dan nilai ekonomi rumput laut itu sendiri, yang saat ini sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah telah mengenal rumput laut dan telah menjadikan sebagai sumber pendapatan utama.

Selain Eucheuma cottonii , berkembang pula budidaya rumput laut jenis Gracilaria sp, terutama di daerah Kabupaten Morowali. Rumput laut Eucheuma cottonii di budidayakan di laut dan merupakan penghasil karaginan, sedangkan Gracilaria sp di budidayakan di Tambak dan merupakan penghasil agar-agar.

Pada tahun 2005, produksi rumput laut Eucheuma cottonii dan  Gracilaria sp di Sulawesi Tengah mencapai 244.133 ton basah. Dengan produksi tersebut, Sulawesi Tengah menempati  urutan  ketiga  penghasil  rumput laut terbesar di Indonesia, setelah Sulawesi  Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Produksi tersebut sesungguhnya masih sangat rendah, jika dibandingkan dengan  luas  areal  tersedia  sebesar 106.000


Sumber : http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/MLS/article/view/76

PENGGUNAAN RUMPUT LAUT SEBAGAI STABILIZER ES KRIM SUSU SARI KEDELAI

PENGGUNAAN RUMPUT LAUT SEBAGAI STABILIZER ES KRIM SUSU SARI KEDELAI


Aviani Violisa, Amat Nyoto, Nunung Nurjanah

Abstract


The used of seaweed as stabilizing agent on the soymilk-based ice cream. The purpose of this study is to investigate the chemical, physical and organoleptic characteristics of soymilk-based ice cream, in which seaweed is used as a stabilizing agent.

The results of this study showed that soymilk-based ice cream with seaweed at the concen­tration of 0.5% have the highest fat and protein contents, viscosity, and the longest melt-down rate. Ice cream with the concentration of 0.4% had the highest solid level, while the concentration of 0.3% produced the highest overrun of ice cream.

For the hedonic-quality parameter, ice cream with the concentration of 0.5% had the highest of aroma score and soft texture, while at the concentra­tion of 0.3% had the highest sweet flavor.

For the hedonic parameter, ice cream with the con­cen­tra­tion of 0.4% had the highest aroma and sweet flavor preference.


Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sifat kimia, fisik, dan organoleptik es krim susu sari kedelai dengan rumput laut sebagai stabilizer. Hasil penelitian me­nunjukkan bahwa es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut konsentrasi 0,5% memiliki kadar lemak tertinggi, kadar protein tertinggi, viskositas tertinggi, dan waktu meleleh paling lama.

Es krim padatan tertinggi diperoleh dari stabilizer kon­sentrasi 0,4%. Overrun tertinggi terdapat pada es krim dengan stabilizer konsentrasi 0,3%.

 Hasil uji mutu hedonik, es krim dengan stabilizer konsentrasi 0,5% menghasil­kan aroma tertinggi dan tekstur paling lembut, sedangkan es krim dengan stabilizer 0,3% menghasilkan rasa termanis.

Hasil uji hedonik, es krim dengan stabilizer kon­sen­trasi 0,4% memiliki nilai kesukaan aroma tertinggi dan kesukaan rasa tertinggi.

Sumber : http://journal.um.ac.id/index.php/teknologi-kejuruan/article/view/3711