.
Rabu, 09 September 2015
Jumat, 12 Juni 2015
Kamis, 07 Mei 2015
Kenapa Harga Rumput Laut di Nunukan Turun ?
Kenapa Harga Rumput Laut di Nunukan Turun ?
Selasa, 05 Mei 2015 - 21.48 WIB | Dibaca : 327 kali

Ir H Dian Kusumanto MSi. (dok pribadi)
Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto, M.Si.
MEMASUKI Bulan April yang lalu petani rumput laut Kabupaten Nunukan mengeluhkan harga rumput laut yang turun cukup drastis. Padahal pada Bulan Maret sudah ada gerakan peningkatan harga dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.000 hingga Rp 9.000 dan sampai Rp 10.400 per kg rumput laut kering. Sekarang, di akhir April ini harganya kembali turun hingga Rp 7.500 per kg. Beberapa pelaku usaha sudah mulai gelisah dan bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi ??
Kalau sudah begitu, Bupati Nunukan sering mendapat laporan dan bahkan keluhan. Maklum Pak Basri memang sangat getol dan konsen memperhatikan pergerakan harga rumput laut ini. Karena itulah akhirnya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, sebagai institusi yang dianggap paling bertanggungjawab terkait komoditi ini menjadi sasaran kegelisahan semua pihak. Apalagi ini masa-masa menjelang Pilkada, dan Bupati incumbent ini juga harus menjaga performence-nya untuk tetap menjaga, mengawal harga rumput laut ini tetap bagus dan menguntungkan bagi petani rumput laut di Kabupaten Nunukan.
Oleh Pak Asep Hendra, seorang pedagang rumput laut yang sudah menjajagi berbagai daerah di Indonesia, kejadian ini memang sudah lama dikhawatirkan. Hal yang selama ini ‘menyelamatkan’ nasib rumput laut Nunukan adalah karena kelebihan komparatifnya. Produksi rumput laut Nunukan ini cukup unik karena terus berproduksi sepanjang tahun, tidak pernah terputus layaknya beberapa produsen besar rumput lainnya. Beberapa daerah produsen seperti NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku Tenggara, Maluku (Ambon), termasuk NTB dan Bali serta wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah, selalu mengalami masa-masa kosong atau tidak berproduksi. Kondisi alam laut yang bergelombang tinggi, musim penghujan atau musim kemarau puncak, semua itu menyebabkan produksi rumput laut terganggu dan merugi bila dilakukan pembudidayaan. Maka lebih baik petani istirahat untuk budidaya rumput laut.
Padahal bisa dikatakan, mutu rumput laut Nunukan termasuk yang dianggap kurang bagus. Penampilannya kurang cerah, bahkan terkesan banyak kehitaman dan gelap. Belum lagi kadar garam dan kotorannya yang melebihi standar. Tingkat kekeringannya juga belum bagus bahkan relatif tinggi kadar airnya. Kisarannya antara 38% bahkan 40% lebih. Namun karena tidak ada alternatif pasokan dari daerah lain, karena tidak panen, maka mutu yang rendah ini juga dibeli saja oleh para pedagang untuk memenuhi kuota para eksportir dan pabrikan.
Tahun lalu memang Nunukan bernasib baik, karena banyak daerah yang gagal panen. Bahkan tingkat harga setahun yang lalu di Nunukan mencapai hingga Rp 15.000 dan bahkan hingga angka Rp 18.000 per kg. Harga yang sedang panas itu dipengaruhi oleh kebutuhan industri rumput laut di China yang sangat besar, dan tidak mungkin berhenti mengolah bahan baku rumput laut. Di Philipina tahun lalu, pada bulan-bulan seperti ini juga banyak bencana alam yang memporak-porandakan petani rumput laut disana. Sekarang kondisi alam sudah baik, dan para petani sudah kembali pulih untuk berproduksi kembali.
Kejadian inilah yang tidak dipahami oleh petani dan para pelaku usaha rumput laut di Nunukan. Keunggulan Nunukan selama ini sifatnya hanya semu saja. Karena pada saat daerah produsen yang lain panen besar dengan mutu rumput laut yang memang baik, maka seolah-olah Nunukan hanya menjadi pilihan paling belakang. Hal ini, tidak bisa dipungkiri dan harus disadarai oleh stakeholder yang ada di Kabupaten Nunukan karena mutu atau kualitas rumput laut Nunukan masih rendah sehingga kalah bersaing dengan daerah yang lain di Indonesia.
Menurut Pak Asep Hendra hal ini terjadi karena beberapa hal, yaitu :
- Areal budidaya rumput laut di seluruh wilayah Kabupaten Nunukan ini berlumpur.
- Sistem pengeringan umumnya masih belum menghasilkan kualitas rumput laut yang baik. Sistem pengeringan gantung disinyalir menghasilkan rumput laut yang gelap kehitaman.
- Perilaku pedagang yang hanya mengutamakan kuantitas untuk memenuhi kuota yang banyak, karena menghitung komisi atau fee pedagang berdasarkan jumlah. Semakin banyak jumlah yang bisa dibeli, maka semakin banyak juga komisinya. Kualitas dinomorduakan.
- Komitmen kualitas rumput laut belum menjadi budaya bagi masyarakat.
Agak sedikit berbeda dengan keadaan rumput laut di Tarakan, yang meskipun memiliki kondisi sama dengan Nunukan, menghasilkan rumput laut yang cukup baik. Beberapa hal yang berbeda itu antara lain adalah :
- Pola pengelolaan pasca panen dikelola dengan cara lebih baik.
- Dilakukan dengan melepaskan rumput laut segar dari talinya dan dengan cara penutupan dengan plastik atau terpal (di’oven’) sehingga menghasilkan rumput laut lebih bening atau ‘putih’.
- Komitmen para pedagang juga sudah berorientasi pada kualitas.
- Pedagang melakukan sortasi hasil pembelian rumput laut dari petani atau pedagang pengumpul (peluncur) dan memperbaiki tingkat kekeringan rumput laut hingga sesuai standar.
- Biaya-biaya operasional dan biaya komersial lebih murah (ongkos kontainer, ongkos pelabuhan, transport, buruh pelabuhan, dll.)
Jadi, kenapa harga rumput laut Nunukan turun ? Sekarang kita bisa menjawab apa saja penyebabnya, yaitu :
- Karena mutu rumput laut Nunukan masih inferior (rendah), hanya pilihan kedua, ketiga atau yang belakangan.
- Produksi rumput laut daerah lain sedang berproduksi baik, sehingga ada pilihan yang lebih baik.
- Di luar negeri, di Philipina sebagai produsen terbesar setelah Indonesia sekarang sedang jadi-jadinya panen.
- Kualitas belum menjadi komitmen para pedagang, sehingga petani pun mengikuti saja, karena yang biasa-biasa juga sudah laku. Beda dengan Tarakan yang komitmen para pedagangnya pada kualitas yang baik, sehingga para petani pun mengikuti irama komitmen pada kualitas ini.
- Pedagang belum melakukan sortasi dan pengeringan ulang setiap pembelian rumput laut sebelum dikirim keluar.
Sehingga ini bisa diketahui faktor-faktor yang menyebabkan turun dan naiknya harga rumput laut di Kabupaten Nunukan serta dapat digambarkan dengan grafik sebagai berikut :
|
Lalu kalau sudah diketahui faktor-faktor atau sebab musabab naik turunnya harga rumput laut, kita kemudian dapat menetapkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkat harga dan bersaing dengan daerah-daerah yang lain, yaitu kita harus :
- Memperbaiki kualitas rumput laut dengan berbagai teknik.
- Membangun komitmen yang kuat terhadap kualitas diantara para pedagang, petani dan Pemerintah Daerah.
- Kontrol kualitas dengan sortifikasi agar dilakukan oleh para pedagang sebelum barang dikirim ke luar.
- Meminimalkan biaya-biaya dan melakukan efisiensi tata kerja dengan sebaik-baiknya.
- Meniadakan pungli.
Begitulah jawaban atas pertanyaan dari judul di atas. Bagaimana menurut Anda ??
Minggu, 19 April 2015
MENGEMBANGKAN USAHA JASA PENGERINGAN RUMPUT LAUT YANG MENGUNTUNGKAN
MENGEMBANGKAN USAHA JASA
PENGERINGAN RUMPUT LAUT YANG MENGUNTUNGKAN
Oleh : Ir. H. Dian
Kusumanto
Lazimnya para petani
rumput laut di Nunukan melakukan pengeringan sendiri usai panen dari laut. Tali-tali bentangan yang digelandoti rumput
laut bergerombol pada tali-tali cincin
yang terikat rapat. Ada sekitar 400-500
ikat rumput laut yang menjuntai memanjang di setiap tali bentangan dengan
panjang antara 20-25 meter bahkan ada yang sampai 30 meter. Jarak antar tali cincin ini sekitar 10 cm dan
setiap titiknya ada 2 cincin. Ini sering
disebut sebagai sistem cincin dobel. Pemanenan
dilakukan dengan melepas tali bentangan dari tali fondasi di kedua ujungnya
yang berada di dasar pantai yang tidak terlalu dalam. Tali bentangan yang sarat dengan rumput laut
yang telah tumbuh selama antara 45-60 hari ini kemudian ditarik untuk dinaikkan
ke atas perahu. Rata-rata setiap perahu
petani rumput lau di Nunukan biasanya mampu mengangkut hasil panen sebanyak
antara 25 sampai 40 tali bentangan.
Kalau sudah cukup penuh
muatan perahu dengan hasil panen, maka rumput laut segera diangkut ke tempat
penjemuran yang berada di tepi pantai. Tempat
penjemuran itu adalah berupa lantai para-para di atas laut. Di atas para-para jemuran itu kadang-kadang
ada yang dipasang tiang-tiang yang dipasangi selonjoran kayu untuk menggantung
tali yang masih ada rumput lautnya. Di
Nunukan ada petani yang melakukan penjemuran dengan cara langsung menggantung
rumput laut beserta tali dan botolnya,
namun ada pula yang melakukan ‘pemurutan’ atau melepas dulu rumput laut
yang terikat di tali tersebut.
Masing-masing mempunyai alasan yang berbeda atas cara yang dilakukan
tersebut.
Yang paling awal
melakukan cara penggantungan ini adalah petani rumput laut yang berada di
Kampung Mamolo, dimana sekitar separuh dari petani rumput laut Nunukan ada di
kampung ini. Cara pengeringan gantung
ini juga sudah mulai ditiru oleh petani rumput laut di Sedadap, Sei Jepun,
Mansapa maupun di Sei Lancang dan lain-lain.
Dengan melakukan sistem penggantungan saat proses pengeringan pertama,
beralasan agar rumput laut hasil pengeringan lebih berat timbangannya. Penggantungan
rumput laut bersama talinya ini biasanya dilakukan selama 2 hari supaya layu
dan agak kering, baru kemudian dilepasi atau dipurut dengan alat pemurut atau
ditarik secara manual dengan tangan. Maksud dilakukannya pengeringan dengan
sistem gantung ini rata-rata petani beralasan agar rendemennya agak
tinggi.
Cara yang berbeda yaitu
dengan yang langsung melepas rumput laut dari tali yang mengikatnya. Pekerjaan melepas rumput laut dari talinya
ini disebut dengan ‘pemurutan’ atau memurut rumput laut. Setelah rumput laut dipurut dan lepas dari
talinya kemudian dilakukan penjemuran dengan merata-ratakan tumpukan rumput
laut di lantai para-para yang berada di atas laut. Ini merupakan cara yang mulai awal dilakukan
oleh seluruh petani rumput laut yang ada di Nunukan. Namun sekarang sebagian petani sudah
menggantikannya dengan sistem gantung.
Kenapa cara ini dipertahankan, karena petani beralasan biar praktis dan
bisa cepat bisa mengelola talinya untuk segera dipasangi bibit dan turun ke
laut lagi. Petani rumput laut yang berada di Kampung
Tanjung, Sei Menteri dan Tanjung Batu di Pulau Nunukan masih menggunakan cara
seperti ini.
Dengan berkembangnya
usaha rumput laut karena kegairahan petani akhir-akhir ini dimana harga rumput laut kering sampai
mencapai Rp 15.000 per kg, maka banyak
petani terus menambah tali bentangannya.
Namun demikian tidak semua petani menambah kapasitas lantai para-para
penjemurannya. Jadi penambahan tali
bentangan yang berarti akan menambah lagi angka produksi, seharusnya diikuti
juga semakin luasnya tempat penjemuran.
Keadaan yang tidak seimbang ini berakibat pada beberapa hal :
1.
Jadwal
penjemuran semakin padat
2.
Banyak petani
terpaksa menunda panennya karena terkendala lantai jemurnya masih digunakan
3.
Munculnya
jasa penjemuran rumput laut
4.
Munculnya usaha
pembelian rumput laut basah
5.
Karena telat
memanen maka banyak rumput laut yang rontok dari talinya
6.
Semakin
semarak juga usaha pemasangan pukat rumput laut
7.
Harga kayu
merah atau kayu bakau menjadi sedikit mahal karena sekarang sudah mulai
dibatasi atau dilarang menebang sembarangan.
Kayu tersebut digunakan untuk pembuatan jemuran dan pengeringan rumput
laut.
Perkembangan yang patut
mendapatkan perhatian adalah mulai munculnya usaha pengeringan rumput laut dan
diikuti dengan adanya pembelian rumput laut dalam keadaan basah yang baru
dipanen dari laut. Ini merupakan bagian
dari perkembangan baru diversifikasi usaha di bidang pengelolaan rumput
laut. Munculnya usaha pengeringan
seperti ini banyak mengandung keuntungan dan juga mengandung beberapa
kekhawatiran.
Adapun keuntungan dari
munculnya usaha pengeringan dengan melakukan pembelian rumput laut basah ini
antara lain adalah :
1.
Petani budidaya
akan lebih cepat menerima hasil bahkan secara langsung sehabis melakukan panen,
karena tidak usah menunggu lagi sampai kering.
2.
Waktu petani
menjadi lebih leluasa lagi dalam budidaya di laut, artinya ada peluang untuk
lebih fokus dalam mengembangkan kualitas, kuantitas dan kapasitas budidaya
rumput lautnya. Hal ini karena waktu yang
biasanya harus disediakan untuk proses penjemuran yang memakan masa sekitar
seminggu sudah digantikan orang lain.
3.
Dengan cepat
mendapatkan hasil penjualan petani bisa lebih cepat memberikan upah kepada jasa
servis tali bentangan, pemeliharaan dan penggantian botol pelampung sampai
pemasangan bibit dan pemasangan tali kembali ke laut.
4.
Ketegangan
atau tingkat stress petani rumput laut akan berkurang dan para petani akan
meningkat index kebahagiaannya. Sebelum
adanya pembelian basah petani tidak bisa banyak bergerak sebelum kering hasil
panennya dan terjual. Oleh karena itu
kebanyakan mereka berhutang dana kepada para juragan.
5.
Dengan cash
flow dana yang cepat maka akan mengurangi ketergantungan petani terhadap para
juragan, sebab hutang-hutangnya akan berkurang dan tidak banyak diperlukan
lagi.
6.
Usaha
pengeringan yang dilakukan secara khusus dan profesional akan meningkatkan mutu
rumput laut kering. Ini akan berakibat
pada peningkatan kepercayaan oleh para pedagang, eksportir maupun para prosesor
alias pabrik. Dengan mutu rumput laut
yang bagus maka daya saing produk akan meningkat sehingga harga juga bisa
diangkat menjadi lebih tinggi.
7.
Usaha
pengeringan ini merupakan pilihan usaha yang cerdas, karena dari sisi
perputaran modal, tingkat resiko usaha dan besarnya modal awal yang lebih
menguntungkan dan mengandung nilai tambah dari sistem bisnis rumput laut secara
keseluruhan. Diversifikasi usaha dari
sistem bisnis rumput laut yang prospektif ini akan berkembang dengan semaraka
manakala sudah ada yang memulainya di Nunukan.
Psikologi bisnis di Nunukan selalu begitu, mungkin ini terjadi juga
dimana-mana, begitu ada jenis usaha yang terlihat berkembang dengan baik, maka
akan banyak yang meniru di belakangnya.
8.
Ada hasil
samping dari usaha pengeringan yaitu air keringat rumput laut yang menetes saat
proses pelayuan. Air eksudat yang
berasal dari tubuh rumput laut ini ditengarai masih mengandung mineral dan
nutrisi yang sangat berguna bagi tanaman hewan dan bahkan manusia, baik untuk
bahan pupuk tanaman maupun bahan suplemen nutrisi manusia maupun hewan ternak.
9.
Dan
keuntungan lainnya yang berkembang setelah adanya jasa pengeringan ini.
Namun demikian ada juga
yang mengkhawatirkan jika usaha jasa pengeringan ini menjadi semarak. Karena akan terjadi pembelian rumput laut
basah besar-besaran yang memberi pengaruh mengkhawatirkan sebagai berikut :
1.
Dikhawatirkan
akan terjadinya pencurian rumput laut dari tali bentangan yang terpotong atau
dipotong dengan sengaja.
2.
Dikhawatirkan
terganggunya bisnis para pedagang yang sudah eksis sebelumnya, sehingga akan
ada persaingan yang tidak sehat.
3.
Dikhawatirkan
banyak penjemuran para petani yang menganggur karena banyak petani yang
menyerahkan pada usaha bisnis jasa pengeringan rumput laut ini.
4.
Dikhawatirkan
ada persaingan rekruting tenaga kerja yang biasanya bekerja sama dengan petani
kemudian akan memilih bekerja di unit usaha pengeringan ini. Petani yang masih bertahan dengan mengelola
pengeringan sendiri akan mengalami sedikit kesulitan mencari tenaga kerja yang
sudah tersedot di unit pengeringan.
5.
Akan semakin
marak usaha pencarian rumput laut dengan sistem pukat. Ternyata sebagian besar para pemukat yang
bukan petani rumput laut tidak memiliki tempat penjemuran yang memadai. Maraknya pemukat kalau tidak ada pengaturan
dan pengawasan dikhawatirkan akan menyebabkan persaingan antar pemukat. Ini akan menyebabkan usaha pemukat dilakukan
pada malam hari yang bisa merusak lahan areal budidaya rumput laut para petani
budidaya. Akan ada potensi masalah antara para pemukat maupun antara pemukat
dengan petani budidaya.
6.
Dan
lain-lain.
Senin, 16 Februari 2015
Dengan budidaya rumput laut kesejahteraan masyarakat meningkat

BUDIDAYA RUMPUT LAUT DORONG KEMANDIRIAN DAN TINGKATKAN KESEJAHTERAAN
Rumput laut saat ini adalah salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya karena volume produksinya yang cukup besar dan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Produksi rumput laut Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 9,28 juta ton meningkat hampir 3 juta ton dari sebelumnya pada tahun 2012 sebesar 6,51 ton. “Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong pengembangan budidaya rumput laut, karena rumput laut adalah komoditas strategis yang mampu mendorong kemandirian masyarakat pesisir melalui usaha budidaya. Terlebih budidaya rumput laut merupakan budidaya yang sederhana yang dapat dilakukan secara berkelompok maupun oleh keluarga, “demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Kabupaten Takalar,Sulawesi Selatan.
Slamet menambahkan Indonesia saat ini menuju produsen rumput laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. Hal ini didukung dengan potensi pengembangan lahan budidaya rumput laut yang masih terbuka lebar, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. “Indonesia bagian timur dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sentra rumput laut, salah satunya di Sulawesi Selatan dan juga wilayah lain seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara dan wilayah Kalimantan seperti di Nunukan dan Tarakan”, tambah Slamet.
Saat ini yang diperlukan adalah membangun unit-unit pengolahan rumput laut yang dekat dengan sentra – sentra budidaya rumput laut, seperti yang ada di Sumba Timur, NTT. “Dengan dukungan unit pengolahan yang dekat dengan usaha budidaya rumput laut, akan sehingga mempermudah pemasaran dan menurunkan biaya transportasi. Dengan demikian akanmmenambah daya saing dan nilai tambah rumput laut, sehingga mampu bersaing di pasar global”, ungkap Slamet.
Dari sektor hulu atau budidaya, saat ini telah dikembangkan bibit rumput laut kultur jaringan (kuljar) hasil kerjasama DJPB dan SEAMEO BIOTROP Bogor. “Dengan keunggulan yang dimiliki rumput laut kultur jaringan (kuljar) ini, kendala yang selama ini dihadapi dalam berbudidaya rumput laut seperti kendala lokasi, salinitas, dan curah hujan, dapat diatasi sehingga mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional khususnya jenis E. cottonii. papar Slamet.
Selain rumput laut jenis E. cottonii, di Kabupaten Takalar juga dikembangkan budidaya rumput laut jenis Caulerpa sp. Atau lebih dikenal dengan nama lawi-lawi. Jenis rumput laut ini, banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai makanan sehari-hari. “Budidaya lawi-lawi yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Laekang Kab. Takalar, merupakan bagian dari tugas DJPB melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam hal ini Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Dari lahan tambak seluas 3500 m2, dapat dihasilkan 50 karung lawi-lawi atau 2 ton per bulan dengan harga Rp, 150.000,- per karung atau rata-rata Rp. 7,5 juta per bulan. Dengan hanya mengandalkan pergantian air dan mengurangi kandungan lumpur tambak, masyarakat dapat memperoleh pendapatan yang cukup besar. Yang perlu diperhatikan adalah peremajaan bibit, distribusi hasil atau pemasaran dan juga pengepakan. DJPB melalui BPBAP Takalar akan terus mendampingi”, ujar Slamet.
Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI
Dalam kesempatan yang sama, Komisi IV DPR RI yang dipimpin oleh Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) menyampaikan kegembiraannya dengan meningkatnya perekonomian masyarakat pesisir Di Desa Leikang. “Komisi IV DPR RI akan terus mendorong dan mendukung program pemerintah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berkat budidaya rumput laut, ibu-ibu di sini mendapatkan tambahan penghasilan Rp. 50.000,- per hari, Ini akan membantu ekonomi rumah tangga di sini. Yang harus di tingkatkan dan disediakan adalah bantuan permodalan baik dari perbankan maupun dari pemerintah baik pemerintah daerah maupun pusat”, kata Titiek.
Slamet menambahkan bahwa untuk mendukung akses permodalan bagi pembudidaya, KKP melalui DJPB bekerja sama dengan BPN mengeluarkan program sertifikasi hak atas tanah budidaya atau SEHATKAN. “Sertifikasi hak atas tanah budidaya ini sudah dimulai sosialisasinya sejak tahun 2013 dan mulai dijalankan tahun 2014. Sampai saat ini sudah diterbitkan 1500 sertifikat untuk para pembudidaya, dan akan terus dilanjutkan. Kita harapkan dengan adanya sertifikat ini, akses permodalan untuk pembudidaya akan lebih mudah”, papar Slamet.
Usaha perikanan Budidaya saat ini dituntut untuk lebih memperhatikan lingkungan dalam pelaksanaannya. Budidaya rumput laut adalah contoh nyata dari budidaya yang memperhatikan lingkungan. “Disamping itu masyarakat pembudidaya harus lebih mandiri dengan menggunakan semua bahan baku dan peralatan yang berasal dari dalam negeri sehingga menjadi lebih mandiri dan mampu memiliki daya saing lebih untuk bersaing di pasar global”, pungkas Slamet.
Sumber: RMR
Sumber :http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=1085
Mengatasi Bibit bermutu dengan kultur jaringan
BIMTEK DAN TEMU LAPANG BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Pesawaran merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Lampung yang mempunyai potensi untuk pengembangan Rumput Laut. Kendala yang dihadapi yakni ketersediaan bibit dalam jumlah cukup dengan kual;itas yang baik, saat ini sudah dapat diatasi melalui teknologi kultur jaringan hasil penelitian SEAMEO BIOTROP Bogor. BBPBL menjadi salah satu institusi yang ditunjuk untuk melakukan uji multilokasi Budidaya Rumput Laut menggunakan bibit hasil kultur jaringan tersebut di beberapa wilayah di Prop. Lampung yang salah satunya dilakukan di Desa Puhawang, Pesawaran.
Dalam rangka pemantapan teknologi dan keterampilan pembudidaya, pada akhir September 2013 BBPBL telah melakukan Bimtek dan temu Lapang bagi pembudidaya Rumput Laut di dusun Kalangan, Desa Puhawang, Kec. Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran yang tergabung dalam Kelompok Tani Rumput Laut Bina Bersama yang dihadiri juga oleh staf Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) selaku pembina teknis di masyarakat. Kelompok ini merupakan kelompok binaan BBPBL Lampung, telah menanam Rumput Laut hasil kultur jaringan pada tanggal 22 April 2013 dengan bibit sebanyak 2,7 kg pada 6 (enam) unit rakit metode Jalur Kombinasi. Satu unit rakit terdiri dari 5 petak, dengan ukuran 5 m x 10 m per petaknya. Hasil monitoring pada tanggal 26 September 2013, biomass rumput laut telah mencapai 2.000 kg (2 ton). Rumput laut hasil kultur jaringan mempunyai keunggulan pertumbuhannya cepat, tahan penyakit, dan terutama dapat diproduksi massal tanpa kendala musim dibandingkan dengan strain lokal sehingga diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan bibit Kakap Putih ukuran 6 – 7 cm sebanyak 500 ekor. Hal ini merupakan bentuk kepedulian BBPBL kepada para pembudidaya Rumput laut, untuk dapat meningkatkan pendapatannya.

Perjalanan menuju lokasi



Foto bersama dengan para petani keramba





Kondisi rumput laut hasil binaan BBPBL Lampung





Pertemuan dan diskusi dengan para petani rumput laut


Foto bersama dengan para petani rumput laut
Sumber : http://bbpbl.djpb.kkp.go.id/index.php/component/content/article/1-latest-news/98-bimtek-dan-temu-lapang-budidaya-rumput-laut.html
Langganan:
Postingan (Atom)





































