...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Rabu, 17 Agustus 2011

BEBAN BISNIS RUMPUT LAUTYANG MEMBERATKAN PETANI

KOMPONEN BIAYA PERDAGANGAN RUMPUT LAUT DI NUNUKAN YANG TINGGI MENJADI BEBAN PETANI

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Sudah agak lama Aren Foundation curiga, bahwa sebenarnya system perdagangan rumput laut di Nunukan ini tidak sehat dan kemudian cenderung semakin memberatkan petani. Kecurigaan itu semakin terbukti akhir-akhir ini, yaitu manakala harga di tingkat petani sedemikian anjloknya yang mencapai Rp 5.500 dan yang tertinggi hanya mencapai Rp 6.700 per kilogram rumput laut kering. Maka pantas saja para petani melalui Perhimpunan Petani Rumput Laut Nunukan sampai mendatangi DPRD Kabupaten Nunukan untuk mengadukan nasibnya. Tentu saja upaya seperti ini belum merubah apa-apa, belum juga bisa mengangkat harga yang kian merosot.

Ironisnya, pada saat kemudian pedagang rumput laut dari Surabaya dan Batam melakukan aksi pembelian dalam jumlah banyak dan dengan harga yang mencapai Rp 7.300 per kilogram, pedagang rumput laut local malah mencak-mencak. Maunya pedagang local mereka saja yang mengatur harga tingkat petani Nunukan, sedang pedagang dari luar tidak boleh masuk.

Sebenarnya dengan kedatangan pedagang dari luar Nunukan petani rumput laut sangat senang, karena mereka membeli dengan harga yang lebih tinggi. Selama tidak ada pedagang dari luar Nunukan harga dikontrol oleh pedagang-pedagang local dengan semaunya saja, bahkan harga cenderung terus menurun. Dengan demikian nasib lebih dari 1.400 petani rumput laut hanya diatur oleh beberapa gelintir pedagang local yang tidak tahu diri ini.

Rumput laut dari Nunukan selama ini oleh para pedagang dikirim ke Makasar dan Surabaya. Pengiriman ke Makasar biasanya menggunakan jalur pelabuhan Nunukan dengan Kapal Penumpang dan Barang jurusan Pare Pare. Biasanya rumput laut diangkut kapal dalam bentuk kemasan karung menuju Pelabuhan Pare Pare, kemudian dilanjutkan dengan diangkut truk dari Pelabuhan Pare-Pare menuju gudang Pabrik atau Eksportir yang ada di Makasar.

Sedangkan jalur perdagangan dari Nunukan ke Surabaya, biasanya menggunakan peti kemas alias container ukuran 20 feet dan diangkut oleh Kapal Barang jurusan Nunukan Surabaya. Dalam setiap container biasanya mampu menampung sekitar 150 karung dengan susunan lebar 5 karung, tinggi tumpukan 6 karung dan panjang barisan 5 karung. Setiap karung biasanya diisi sekitar 90 kg rumput laut kering, sehingga dalam setiap container mempunyai kapasitas angkut seberat 13,5 ton rumput laut kering.

Dari seorang pedagang local yang bekerja sama dengan eksportir dari Batam, yaitu Pak Ismail dan Pak Eka Wijaya, penulis mendapatkan rincian komponen biaya-biaya yang diduga mengandung ketidakberesan dalam system perdagangan rumput laut di Nunukan. Dimana sebenarnya biaya-biaya itu tidak semestinya menjadi beban pedagang, terlalu tinggi atau bahkan sebenarnya biaya itu diada-adakan oleh oknum-oknum tertentu.

Kenapa ini terjadi? Sistem yang kacau ini memang memungkinkan para siluman untuk bermain. Sistem yang tidak jelas, yang masih remang-remang, karena belum adanya peraturan dan belum adanya yang mengawasi, cenderung dimainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Inilah yang nanti menyebabkan biaya yang ditanggung oleh para pedagang terlalu tinggi. Dengan demikian yang paling gampang bagi para pedagang, yaitu membebankan biaya-biaya yang ditanggungnya itu kepada para petani, dengan cara menurunkan harga. Bahkan ‘kerugian-kerugian’ yang ditanggungnya pada pengiriman sebelumnya dibebankan pada harga pembelian pada pengiriman yang kemudian.

Mari kita lihat catatan dari Pak Eka Wijaya ketika mengirimkan rumput lautnya ke Pedagang Rumput Laut dari Batam yang dikirim melalui pelabuhan Surabaya. Komponen biaya perdagangan rumput laut dari Nunukan ke Surabaya untuk hitungan per container kapasitas 20 feet :

1. Pembelian karung sebanyak 150 lembar @ Rp 5.000 = Rp 750.000,-

2. Biaya pengisian (sasak) rumput laut ke dalam karung @ Rp 5.000 x 150 karung = Rp 750.000,-

3. Biaya buruh angkat karung rumput laut ke container @ Rp 10.300 x 150 karung = Rp 1.545.000,-

4. Biaya angkut truk (50 karung/ rit) dari gudang ke pelabuhan 3 rit x Rp 150.000 = Rp 450.000,-

5. Biaya surat karantina Rp 550.000,-

6. Biaya administrasi pelabuhan Rp 1.000.000,-

7. Biaya masuk truk ke areal pelabuhan 3 truk x Rp 60.000 = Rp 180.000

8. Biaya Loading container dari Nunukan ke Pelabuhan Surabaya Rp 5.551.000,-

Jumlah biaya per container = Rp 9.576.000

Apakah itu saja? Ternyata tidak, masih ada komponen-komponen biaya yang bisa saja membengkak dan lebih besar, ini sifatnya tidak terduga atau tidak diperhitungkan sebelumnya. Biaya lain yang tidak terduga itu antara lain adalah :

1. Pembelian di tingkat petani

2. Kemungkinan penyusutan dari kelembaban

3. Upah tenaga angkut ke gudang, biaya pengeringan, biaya sasak, dll.

4. Biaya angkut dari tempat petani ke gudang penampungan

5. Dll.

Dari gambaran seperti di atas, wajar saja kalau para pedagang local itu berbuat seperti seolah tidak bertanggung jawab atau maunya sendiri. Ini bisa terjadi karena para pedagang juga mengalami ketikjelasan system para pabrikan atau eksportir, bahkan mereka tidak mampu membuat kompromi yang saling menguntungkan. Ketidakmampuan komunikasi bisnis inilah yang kemudian menciptakan suasana bisnis rumput laut ini semakin tidak jelas juga, bahkan cenderung merugikan para petani.

Sepertinya ini terjadi di semua wilayah yang aturan-aturannya belum jelas, pedagang yang memperebutkan jatah rejeki rumput laut ini belum kompetitif, pemerintah juga masih penuh keraguan untuk intervensi, sementara para petani sangat lemah baik permodalan, kelembagaan dan jaringannya. Di Nunukan itu semua terjadi karena hampir seluruh keadaan itu memang ada disana.

Bagaimana menurut Anda??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar