...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Selasa, 12 November 2013

Petani Rumput Laut Mamolo sudah dikelola Koperasi Mamolo Sejahtera



Bupati Nunukan Drs. H. Basri saat menyarahkan badan usaha koperasi milik para petani rumput laut di kampung Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan Kecamatan Nunukan Selatan. (Aiyub/Humas Protokol)

Petani Rumput Laut Mamolo sudah dikelola Koperasi

Upaya untuk menghimpun Penyerahan badan hukum Koperasi bagi kelompok tani rumput laut di Kampung Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan yakni Koperasi Usaha Bersama Mamolo Sejahtera yang langsung diserahkan oleh Bupati Nunukan Drs. H. Basri saat dilakukan Panen raya rumput laut.

Katua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Nunukan Ir. H. Dian Kusumanto mengatakan pengelolaan hasil para petani rumput laut setelah dikelolah koperasi akan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan akan memperpendek mata rantai perdagangan para petani, para petani tidak akan dipermaikan oleh para pedagang untuk membeli hasil rumput laut dengan harga yang rendah.

Dikatakan, harga rumput laut kering saat ini mencapai Rp 15.000 per kilogram yang tentunya akan menambah perputaran perekonomian mencapai Rp 15 Milyar rupiah perbulan sehingga perputaran perekonomian Kabupaten Nunukan dari komoditi rumput laut mencapai R180 Milyar Rupiah pertahunnya.

 Dikatakan tingginya harga komoditi rumput laut kering disebabkan beberapa hal diantaranya mutu rumput laut relative bagus, kadar kotoran minimal, rendemen keraginan cukup tinggi, gell strength tinggi yang mengakibatkan para pengusaha dan eksportir menawarkan harga yang tinggi. Selain itu produksi rumput laut yang stabil dan kontinyu sepanjang tahun dengan jaminan ketersedian rumput laut kering selalu ada.

“Saat ini banyak daerah  sentra rumput laut sedang gagal panen sehingga pasokan kepedagang berkurang, sehingga mengakibatkan supply dan demand terganggu,” ujarnya.

Ditambahkannya, akibat perkembangan rumput laut yang cukup signifikan di Nunukan maka menimbulkan peluang-peluang kerja untuk menunjang usaha rumput laut adalah peluang usaha penyedian pelampung rumput laut yang biasanya digunakan oleh para petani adalah botol bekas air mineral yang saat ini membutuhkan 1.000.000 buah botol yang harus digantikan oleh para petani setiap 2 musim sekali, atau sekitar 10.000 botol  air mineral per harinya dibutuhakan, jasa pemasangan bibit yang memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk memelihara tali bentangan rumput laut yang saat ini sebanyak 125.000 tali per bulan tali bentangan yang harus dirawat dan dipasangi bibit.

“Banyak petani rumput laut yang menjual hasil panen rumput lautnya kepada para nelayan dalam kondisi masih segar (baca; basah) mengingat banyak petani tidak memiliki lantai penjemuran maupun lantai penjemuran yang dimilki sudah tidak mencukupi dari jumlah rumput laut yang dipanen,” ungkapnya.  (ayu/hms)
Sumber :  http://www.nunukankab.go.id/v3/berita-petani-rumput-laut-mamolo-sudah-dikelolah-koperasi-.html



A Rafiq Pelopor Rumput Laut Di kampung Mamolo


A Rafiq menerima penghargaan dari masyarakat mamolo sebagai pelopor petani rumput laut di Mamolo yang di berikan langsung oleh Ketua Koperasi Mamolo Sejahtera Kamaruddin. (Aiyub/Humas Protokol)

A Rafiq Pelopor Rumput Laut Di kampung Mamolo


Kampung Mamolo dulunya terkenal dengan kampung nelayan yang berada di pesisir pantai Nunukan, kini berubah menjadi Kampung Rumput Laut. Bagimana dan siapa yang menjadi pelopor rumput laut Dikampung Mamolo ?
 
DISAAT masyarakat Mamolo yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan dan kampung tersebut sangat terkenal dengan penghasil ikan segar yang setiap harinya dijajakan oleh para pedagang untuk masyarakat Kabupaten Nunukan sebelum memasuki tahun 2005 lalu.

Namun saat ini kampung Mamolo kini berubah darstis 100 derajat yang kini masyarakatnya kini beralih profesi sebagai petani rumput laut yang sepanjang jalan menuju lorong-lorong kampung teresbut kini dipenuhi dengan jemuran rumput laut dan tak tercium lagi bau ikan yang dikeringkan yang dulunya sangat menyegat hidung.

Perubahan tersebut terjadi pada tahun 2005 saat terjadinya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengakibatkan banyak nelayan yang menggantungkan perahunya ditambah lagi harga jual ikan segar merosot jauh, mengakibatkan para nelayan tidak sanggup menutupi biaya operasional dalam melaut dibandingkan dengan hasil tangkapan yang diperoleh.

Ditengah ketidakmampuan dan ketidakberdayaan para nelayan,  seseorang paruh baya yang bernama A Rafiq memperkenalkan rumput laut kepada masyarakat Mamolo dan menjadi salah satu pelopor untuk mengembangkan budidaya rumput laut diwilayah Mamolo yang saat ini cukup membantu masyarakat dan menjadikan Nunukan sebagai daerah penghasil rumput laut terbesar diwilayah Kalimantan Utara.

Rumput laut yang diperkenalkan A Rafiq didatangkan langsung dari Sulawesi Selatan atas jeri payah, pria paruh baya itulah masyarakat kampung Mamolo dapat melakukan budidaya rumput laut. Atas keberhasilan tersebut masyarakat Mamolo memberikan penghargaan kepada A Rafiq sebagai pelopor petani rumput laut di Mamolo yang di berikan langsung oleh Ketua Koperasi Mamolo Sejahtera Kamaruddin disaat masyarakat Mamolo sedang melakukan panen raya rumput laut.

Ketua Koperasi Mamolo Sejahtera Kamaruddin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak A Rafiq atas seluruh jeri payah yang dilakukan selama ini dalam memperkenalkan budidaya rumput laut pada masyarakat Mamolo yang hingga saat ini ditekuni dan menjadi salah satu profesi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Mamolo.

Meskipun diakui bahwa awal mulainya petani rumput laut menggeluti budidaya rumput laut sangat tertatih-tatih untuk memasarkan hasil pertanian tersebut yang harganya tidak menentu dan bahkan harga rumput laut mencapai level terndah sebesar Rp 5 Ribu perkilogramnya, maka itu menjadi tantangan masyarakat untuk lebih giat membudidayan rumput laut yang pada saat itu seolah diuji.

Namun yang terjadi banyak petani kembali menjual asset yang dimiliki para petani dengan harga yang sangat murah. Namun dengan ketabahan para petani rumput laut Mamolo pada saat ini menikmati hasil kerja keras para petani mengingat harga rumput laut mencapai Rp 15 Ribu Rupiah per kilogramnya. Yang kemudian banyak petani rumput laut kembali menekuni budidaya rumput laut dengan serius dengan menambah bentangan dan memperluas tempat jemuran.

Jika memasuki Kampung Mamolo saat ini akan kita temui pemandangan rumput laut dimana Masyarakat banyak melakukan penambahan dan pembangunan lantai jemuran untuk diperluas, tali-tali bentangan yang bergantung yang menunggu untuk dipasangi bibit rumput, tumpukan tali dan botol-botol bekas ari mineral ada dimana-mana dan bahkan banyak rumah dijadikan gudang penumpukan akibat tidak tersedianya gudang penyimpanan rumput laut hasil panen para petani, pemandanga tersebut menandakan bahwa perekonomian masyarakat Mamolo sedang tumbuh dan berkembang dari hasil komoditi rumput laut.


Sumber Berita: www.swarakalibata.com
http://www.nunukankab.go.id/v3/berita-a-rafiq-pelopor-rumput-laut-di-kampung-mamolo.html#ixzz2kRN1f9La
Sumber : http://www.nunukankab.go.id/v3/berita-a-rafiq-pelopor-rumput-laut-di-kampung-mamolo.html



Jumat, 08 November 2013

Panen Raya Rumput Laut Melimpah Nunukan Penghasil Terbesar di Kaltim dan Kaltara


Panen Raya Rumput Laut Melimpah Nunukan Penghasil Terbesar di Kaltim dan Kaltara

Dikelilingi dengan hamparan lautan luas, Pulau Nunukan tentunya memiliki sejumlah pesona dan kekayaan alam laut. Salah satunya rumput laut yang kini semakin dikembangkan menjadi ikon daerah. Bahkan menjadi penghasil rumput laut terbesar di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara).

Atas pencapaian tersebut, untuk pertama kalinya, Kelurahan Tanjung Harapan Kecamatan Nunukan Selatan tepatnya di Kampung Mamolo yang merupakan basis terbesar penghasil rumput laut di Kabupaten Nunukan menggelar panen raya. Acara panen raya yang dilaksanakan Koperasi Serba Usaha (KSU) Mamolo Sejahtera milik masyarakat tersebut dihadiri langsung Bupati Nunukan Drs H Basri beserta pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan instansi vertikal lainnya.

Sebelum acara panen raya dimulai, Ketua KSU Mamolo Sejahtera Kamaruddin memberikan laporannya tentang keberhasilan warga Kampung Mamolo dalam menghasilkan rumput laut berkualitas terbaik. Ia mengatakan, keberhasilan petani tidak terlepas dari perhatian Pemkab Nunukan sendiri. Utamanya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan serta penyuluh lapangan yang banyak memberikan masukan tentang pengelolaan rumput laut dengan benar.

“Keberhasilan kami (KSU Mamolo Sejahtera, Red) dalam mengelola rumput laut yang dihasilkan masyarakat ini tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah. Berbagai bantuan juga telah banyak diberikan. Baik itu berupa bantuan modal maupun bantuan pengetahuan dari para penyuluh,” ungkapnya dihadapan Bupati Nunukan Drs H Basri serta sejumlah tamu undangan lainnya pada pelaksanaan panen raya rumput laut di Kampun Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan Kecamatan Nunukan Selatan, Rabu (6/11).

Sementara itu, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopindo) Kabupaten Nunukan Ir H Dian Kusumanto menyebutkan, Kabupaten Nunukan dalam sebulan mampu menghasilkan rumput laut sebanyak 900 ton. Dari 900 ton tersebut, 50 persen rumput laut dihasilkan dari masyarakat di Kampung Mamolo melalui KSU Mamolo Sejahtera. “Dalam sebulan itu, Nunukan mampu menghasilkan 900 ton. Nah, 50 persennya dari Mamolo ini,” sebutnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Nunukan ini mengatakan, selain petani rumput laut, ibu-ibu rumah tangga di Kampung Mamolo ini juga memiliki penghasilan tambahan dengan memasangkan bibit rumput laut di setiap bentangan. Sehingga perekonomian masyarakat ikut meningkat.

“KSU Mamolo Sejahtera ini merupakan satu-satunya koperasi yang membidangi rumput laut. Keterlibatan koperasi ini sangat besar. Bahkan, dengan adanya usaha rumput laut ini, perekonomian masyarakat Mamolo mulai meningkat,” terangnya.

Dalam panen raya tersebut, Bupati H Basri diberi kesempatan menarik tali bentangan untuk dipindah ke perahu sebagai simbolis panen raya dimulai. Tak hanya bupati, Komandan Kodim 0911 Nunukan Letkol Inf Putra Widiastawa beserta Wakapolres Nunukan Kompol Alim serta sejumlah kepala dinas ikut menarik tali bentangan rumput laut ke tempat penjemuran yang telah disiapkan. (sam/fly)

Sumber : http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Nunukan/47018

Kamis, 07 November 2013

Bupati Nunukan Terus Pantau Harga Rumput Laut


Bupati Terus Pantau Harga Rumput Laut Pemkab Fokus Kembangkan Komoditi Rumput Laut


NUNUKAN – 
Di tengah sulitnya nelayan tangkap mendapatkan penghasilan berupa ikan di laut, budidaya rumput laut menjadi alternatif menjanjikan. Alhasil, usaha rumput laut mampu memberikan jawaban pasti atas krisis yang melanda para nelayan tangkap ini.

Sejumlah nelayan beralih profesi dari nelayan tangkap menjadi petani rumput laut. Sebab, penghasilan menjadi petani rumput laut jauh lebih menguntungkan. Namun, dari keberhasilan tersebut para petani bahan dasar agar-agar ini mengalami kesulitan utamanya dalam memasarkan dan harga rumput laut yang sempat turun dari Rp 10 perkilogram menjadi Rp 6 ribu per kilogramnya.

Melihat kondisi ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan melalui instansi terkait dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Nunukan membantu menstabilkan harga. Semakin berkembangnya hasil produksi itulah, maka pemerintah terus mencari jalan untuk dapat mengakomodir seluruh produksi rumput laut di Nunukan. Salah satu cara mengstabilkan harga dengan menjalin kerjasama dan kemitraan dengan pengusaha berskala besar.

Bupati Nunukan Drs H Basri dalam kesempatan panen raya rumput laut di Kampung Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan Kecamatan Nunukan Selatan, kemarin (6/11) menyampaikan upaya pemerintah daerah dalam menstabilkan harga rumput laut menjadi tanggung jawabnya. Pemerintah juga saat ini telah melakukan kerjasama dengan dua perusahaan besar (eksportir) Jakarta yang selama ini menjadi mitra nelayan rumput laut di Kabupaten Nunukan. 

Selain itu, peran serta pengusaha lokal tetap berjalan yang sebagian besar dikirim ke Makassar (Sulawesi Selatan) dan Surabaya (Jawa Timur). Perhatian lain untuk pengembangan produksi rumput laut adalah dengan mengalokasikan anggaran melalui Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) sembari melakukan negosiasi dengan lembaga keuangan seperti perbankan untuk bantuan modal.

“Melalui langkah itu sangat berdampak positif terhadap peningkatan produksi. Secara tidak langsung pula dapat mengangkat pendapatan nelayan pembudidaya itu sendiri. Dan tugas saya selaku pemerintah daerah itu ikut menstabilkan harga. Atau kalau bisa menaikkan harga dari harga sebelumnya untuk mensejahterakan para petani rumput laut ini,” terangnya.

Selain itu, beberapa arahan dan masukan kepada petani rumput laut seperti menghasilkan rumput laut dalam bentuk yang berbeda. Artinya, rumput laut tidak hanya dijual dalam bentuk aslinya (rumput laut kering,Red) melainkan sudah dapat dikonsumsi langsung. Misalnya bahan makanan yang berbahan dasar rumput laut. 

“Saya juga berharap, budidaya rumput laut ini jangan hanya sampai pada tahap panen lalu dijual begitu saja. Tapi, kalau bisa rumput laut itu bisa dijadikan bahan dasar olahan berbagai makanan yang dapat dijadikan ole-ole dan ciri khas Kabupaten Nunukan. Misalnya, dodol rumput laut, es rumput laut atau tepung rumput laut. Sehingga harganya bisa lebih tinggi lagi dibanding dijual dalam bentuk rumput laut kering,” harapnya menyarankan.  

“Karena rumput laut ini sudah mulai berkembang, maka saya meminta kepada seluruh pihak terkait untuk memperhatikan lokasi tanam rumput laut di laut lepas. Sebab, jangan sampai terjadi konflik antara petani memperebutkan lahan tanam tersebut. Ini menjadi tugas lurah, camat dan tentunya instansi terkait dalam pengawasannya,” sambungnya.

Untuk diketahui, kawasan budidaya rumput laut di wilayah Kabupaten Nunukan terfokus pada lokasi tertentu yakni masyarakat nelayan Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan, Kampung Nelayan Kelurahan Mansapa, Sedadap Kelurahan Nunukan Selatan, kawasan Pelabuhan Tunon Taka Kelurahan Nunukan Timur dan Jalan Tanjung Kelurahan Nunukan Barat. (sam/fly) 

Sumber : http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Nunukan/47017


Rabu, 06 November 2013

Pabrik Rumput Laut di Maluku Utara Beroperasi Awal Mei 2013


Pabrik Rumput Laut di Maluku Utara Beroperasi Awal Mei 2013

Pabrik rumput laut di Ternate, Maluku Utara (Malut) merupakan bantuan Kementerian Perindustiran dan Perdagangan 1.000 ton per bulan, berkapasitas 1.000 ton per bulan tersebut kini sedang dalam tahap penyelesaian akhir dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal Mei 2013.

Wakil Wali Kota Ternate, Arifin Djafar, di Ternate, Selasa(24/4) mengharapkan, dengan adanya pabrik tersebut akan meningkatkan nilai tambah produksi rumput laut di Malut, karena nantinya sudah bisa dipasarkan dalam bentuk olahan, selain itu juga diharapkan menciptakan stabilitas harga rumput laut di daerah ini.

Menurut Arifin, harga rumput laut di Malut selama ini sering dimainkan para pengusaha pengumpul. Petani rumput laut tak berdaya menghadapi permainan harga itu, karena tidak ada pihak lain yang membeli dengan harga memadai.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan memberikan bantuan pabrik rumput laut di Ternate untuk mendukung kebijakan pemerintah setempat yang selama ini menjadikan rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan di sektor kelautan dan perikanan.

Sebelumnya, Kementerian Kelautah dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi rumput laut mencapai 7,5 juta ton pada 2013 atau naik 30 persen dari produksi rumput tahun sebelumnya yang baru 5,2 juta ton.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo menargetkan tahun 2014 produksi rumput laut nasional naik lagi menjadi 10 juta ton. SElain itu, Pemerintah juga menerapkan strategi untuk meningkatkan ilai tambah komoditas tersebut dan menargetkan produksi rumput laut olahan tahun ini mencapai 205 ribu ton.

Sumber : http://satunegeri.com/pabrik-rumput-laut-di-maluku-utara-beroperasi-awal-mei-2013.html

PABRIK RUMPUT LAUT SEGERA BEROPERASI DI MOROWALI


PABRIK RUMPUT LAUT SEGERA BEROPERASI DI MOROWALI
  

Seorang investor lokal sedang membangun sebuah pabrik pengolahan rumput laut menjadi bahan setengah jadi (chip dan bubuk) berkapasitas tiga ton per hari di Desa Bahonsuai, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

"Investasi total sekitar Rp5 miliar dan ditargetkan beroperasi pada April 2013," kata H. Rahman Direktur PT Serba Teknik yang ditemui di lokasi pabrik Bahonsuai, Kamis.

Menurut Rahman yang juga Ketua Dewan Koperarsi Indonesia (Dekopin) Kabupaten Morowali tersebut, investasi pribadi yang telah ditanamkannya sampai saat ini sudah mencapai Rp3 miliar berupa lahan dua hektare serta satu unit bangunan pabrik, sebuah rumah tinggal dan satu unit kantor.

Selain itu, ia juga menerima bantuan dari Kementerian Perindustrian pada 2011 berupa peralatan pengolahan rumput laut yang bernilai Rp1,5 miliar.

"Saya masih akan menanam investasi lagi sekitar Rp500 juta untuk menyelesaikan bangunan pabrik ini. Semua investasi bersumber dari dana pribadi tanpa meminjam uang di bank," katanya di sela-sela mengawasi pekerja memasang keramik di lantai dan bak-bak pencucian rumput laut di dalam pabriknya.

Menurut Rahman, ia tertarik membangun pabrik rumput laut setengah jadi karena peluang pasarnya sangat besar dan produksi rumput laut di daerahnya sangat melimpah.

"Kasian petani rumput laut kalau menjual hasil mentah terus, kita harus berupaya agar ada nilai tambah bagi mereka dan juga daerah, karena itu pabrik ini harus segera beroperasi," ujarnya.

H. Rahman yang juga Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Bumi Lestari Bahonsuai itu, ia membina sejumlah kelompok usaha budidaya rumput laut di dua kecamatan yakni Bumi Raya dan Witaponda yang berjumlah 2.016 orang.

"Jadi kalau soal penydiaan bahan baku berupa rumput laut jenis cottoni, tidak akan menemui masalah, jumlahnya berlimpah karena petani binaan cukup banyak," ujarnya.

Mengenai pasar, Rahman mengatakan, tidak ada masalah sebab ia sudah memiliki mitra dengan sebuah industri besar.

"Dalam satu atau dua pekan ini, mitra saya itu akan melihat dari dekat persiapan yang saya lakukan. Ia akan menampung semua hasil produksi dan akan membantu baik teknis maupun finansial dalam mengembangkan pabrik ini," kata Rahman yang juga menekuni usaha bidang konstruksi itu.

Bila pabrik ini beroperasi pada bulan April 2013, jumlah tenaga kerja yang akan terserap mencapai sedikitnya 60 orang, kata Rahman dengan menambahkan bahwa ia mendapat dukungan besar dan motivasi dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Hasanuddin Atjo untuk segera merealisasikan pabrik ini. (Ant)

Sumber : http://www.dkp.sulteng.go.id/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=174:pabrik-rumput-laut-segera-beroperasi-di-morowali&catid=3:sekretariat&Itemid=64

KKP Gencarkan Industrialisasi Rumput Laut


KKP Gencarkan Industrialisasi Rumput Laut
Sumber: http://kkp.go.id/
 
 
JAKARTA (Suara Karya): 
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak para pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya di bidang industri pengolahan rumput laut. Industrialisasi rumput laut tersebut diyakini akan mendatangkan keuntungan yang baik bagi pelaku usahan serta memberikan lapangan pekerjaan dan peningkatan perekonomian bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, hal tersebut merupakan bagian dari komitmen KKP untuk mengembangkan program industrialisasi sektor kelautan dan perikanan. Diantaranya, untuk komoditas rumput laut, KKP sudah mengajak PT Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL) untuk menjalankan industrinya di Desa Tanamanang, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). "Pabrik tersebut sudah beroperasi sejak 2012, tapi memang kapasitasnya masih tidak terlalu banyak baru 124.000 kilogram dalam melakukan produksi chips rumput laut yang dipasar-kan ke berbagai perusahaan di seluruh Indonesia," kata Slamet di Jakarta, kemarin.

Dia menilai, pembangunan pabrik PT ASTIL di Sumba Timur sangat tepat. Apalagi keberadaaan pabrik pengolahan rumput laut ini sangat penting untuk menampung hasil budidaya rumput laut yang ada di sekitar Kabupaten Sumba Timur khususnya maupun Provinsi NTT. Selain itu, dia mengatakan, pendirian PT ASTIL se-cara langsung sangat menguntungkan masyarakat karena faktor jarak sehingga mampu mengurangi biaya transportasi. "Pabrik ini dapat memproduksi chips rumput laut sebanyak 2 ton per hari dari bahan baku 6 ton per hari. Kapasi-tas produksinya akan terus ditingkatkan hingga 10 ton per hari," ujarnya.

Dia menambahkan, Kabupaten Sumba Timur NTT merupakan salah satu kawasan percontohan minapolitan komoditas rumput laut. Data statistik menunjukkan produksi rumput laut di Provinsi NTT pada 2012 sebesar 398.000 ton. Dari jumlah tersebut, 1.393,8 ton berasal dari Kabupaten Sumba Timur. Untuk itu, keberadaan pabrik akan dapat meningkatkan nilai tambah produk rumput laut.

Dengan demikian, tujuan program industrialisasi perikanan yaitu meningkatkan produktivitas, nilai tambah produk serta meningkatkan daya saing dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam hal penyerapan tenaga kerja dan penggerak perekonomian masyarakat. "Potensi lahan budidaya rumput laut yang dimiliki Sumba Timur cukup besar. Potensi ini diharapkan dapat meningkatkan produksi rumput laut sehingga mendukung peningkatan produksi secara nasional," katanya.


Sumber : http://www.jasuda.net/index_mbr.php?page=berita_detail&recordID=539