...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Jumat, 02 Oktober 2015

Harga rumput laut di Nunukan turun hingga hanya Rp 5.000 per kilogram kering


Harga Rumput Laut Anjlok, Hanya 5.000/kg

Anjloknya harga berimbas pada minat petani di Nunukan mulai menurun memproduksi rumput laut.
 
 
Share 
/
JAKARTA – Harga rumput laut  di tingkat petani anjlok dalam beberapa terakhir. Periode September 2015, harga mencapai titik terendah, hanya Rp 5.000 per kg. 
“Harga rumput laut di tingkat petani turun dari Rp 18.000 tahun 2014. Pada bulan Juli masih Rp 8.000 turun lagi menjadi Rp 7.000 sekitar Agustus dan sekarang terjun ke Rp 5.000 per kilogram,” kata pelaku usaha rumput laut di Nunukan, Asep Ridwan yang dihubungi Jumat (2/10).

Asep mengatakan merosotnya harga sangat merugikan petani mengingat biaya produksi sebesar Rp 4.000 kg. Harga tersebut jauh dari harga toleransi rumput laut di tingkat petani Rp 7.000.

“Rumput laut seperti tidak ada harganya sekarang, tidak Cuma di Nunukan tapi di daerah lain juga sama.  Petani masih harus membagi keuntungan dengan pekerja, sehingga pendapatan mereka menjadi sangat minim,” jelas Asep.   


Menurutnya, anjloknya harga disebabkan Tiongkok sebagai pembeli terbesar rumput laut Indonesia mulai membatasi impornya. Stok bahan baku Tiongkok sudah penuh sampai tahun depan. Hal itu disebabkan industri pengguna rumput laut di Tiongkok mengalami penurunan produksi.  


Menurutnya, anjloknya harga berimbas pada minat petani di Nunukan mulai menurun memproduksi rumput laut. Saat ini produksi rumput laut turun menjadi 3.000 ton per bulan padahal sebelumnya bisa mencapa 3.800 ton per bulan. Jika tidak ada perbaikan harga, dia memperkirakan produksi akan terus menurun hingga 2.000 ton per bulan.

“Lebih baik menjadi buruh harian dari pada menjadi petani rumput laut,” katanya. Asep berharap ada  langkah penyelamatan dari pemerintah agar kehidupan petani rumput laut. Perlu ada program stok penyangga, sehingga harga rumput laut bisa tetap stabil. Filipina disebutnya sudah menerapkan sistem stok penyangga hingga enam bulan ke depan.
Indonesia merupakan produsen terbesar rumput laut di dunia, khususnya jenisEucheuma cottonii. Berdasarkan data sementara statistic FAO yang dikeluarkan pada Maret 2015, produksi rumput laut Indonesia jenis E. cottonii pada tahun 2013 menempati urutan pertama dunia sebanyak 8,3 juta ton. Sedangkan untuk rumput laut jenis Gracilaria sp., pada 2013, Indonesia menempati urutan kedua setelah China, dengan produksi sebesar 975 ribu ton.     

Sumber : Sinar Harapan

Kamis, 01 Oktober 2015

SEABFEX V Tahun 2015 di Yogyakarta

SEABFEX V Tahun 2015 di Yogyakarta

Tanggal Rilis :
Selasa, 29 September 2015
Penulis Artikel :
sukarmi
Fotografer :
Iswanto
Lokasi :
Ambarrukmo Hotel
YOGYAKARTA (29/09/2015) jogjaprov.go.id- Indonesia merupakan produsen terbesar rumput laut jenis Cottonii dan sangat berpotensi untuk pengembangan jenis rumput laut lainnya karena 45 % species dunia ada di sini. Beberapa keunggulan rumput laut diantaranya adalah dalam pengembangannya cukup menggunakan teknologi yang sederhana, kebutuhan modal dan biaya operasional yang relaitif lebih ringan serta produk olahannya relatif beragam dan menguntungkan.
 
Karenanya Pemerintah dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Rumput laut memiliki posisi yang strategis dalam menopang perekonomian nasional melalui peningkatan penerimaan devisa negara sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan masyarakat sekitar lingkungan budidayanya.
 
Sehubungan dengan hal itu Direktorat Pengembangan Investasi, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan untuk kelima kalinya menyelenggarakan Business Forum dan Exhibition (SEABFEX) berskala Internasional. Kegiatan yang merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat, kali ini diselenggarakan di DIY yang telah dibuka oleh Dirjen Peningkatan Daya Saing Kementrian Kelautan RI, Nilanto Wibowo, Senin (28/09) malam tadi di Pendopo Royal Ambarukmo Yogyakarta.
 
Dalam kesempatan yang sama Gubernur DIY, melalui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, dr. Andung Prihadi Santoso, MKes menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki Sumber Kekayaan Alam (SKAL) yang menjanjikan untuk dieksplorasi dan dieksploitasi sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan Nasional.
 
Ditambahkannya pula bahwa hamparan laut yang luas merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumber daya laut yang dimiliki, ditambah lagi dengan letak wilayah Indonesia yang strategis di daerah tropis.
 
Gubernur DIY menghimbau bangsa Indonesia agar menjadi suatu keharusan memiliki kedaulatan sebagai produsen terkemuka rumput laut, tidak hanya pada level nasional dan regional, namun juga internasional. Terlebih jika melihat perkembangan produksi rumput laut yang sampai dengan saat ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Selain itu antusiasme masyarakat terhadap budidaya rumput laut sangat tinggi, karena terbukti tidak dipengaruhi oleh dampak krisis ekonomi global serta mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara siginifikan.
 
Kegiatan ini berlangsung dari 28 hingga 30 September 2015 yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan dan pelaku usaha rumput laut dari dalam dan luar negeri, pelaku industri rumput laut dalam dan luar negeri, para asosiasi dan komisi rumput laut, pembudidaya dan UMKM serta para peneliti dan akademisi. (teb)
 
HUMAS DIY

Jumat, 25 September 2015

Maria Gigih Setiarti, yang sangat gigih meningkatkan nilai tambah rumput laut dengan aneka olahannya










Olahan Rumput Laut ala Depok
Jauh dari sentra budidaya rumput laut, tidak menyurutkan niat Maria Gigih Setiarti untuk mengembangkan usaha pengolahan rumput laut. Kini wanita kelahiran Pekalongan Jawa Tengah ini sudah mampu membuat lebih dari 20 jenis produk olahan rumput laut dengan wilayah pemasaran seluruh Indonesia. Bentuk olahannya antara lain sirup, dodol, agar-agar, rumput laut siap olah, selai, dan jus.

Dalam satu bulan, Maria mengaku membutuhkan 5 ton rumput laut basah.  Dengan omzet sekitar Rp 80 – 100 juta per bulan, ia memperoleh margin sekitar 20 – 25%. Harga Pokok Produksi  55%, ditambah variabel lainnya. “Pada hari raya atau momen tertentu omzet bisa berlipat ganda hingga 4 kali lipat,” kata Maria kepada TROBOS Aqua.

Maria, kini mengelola dua perusahaan, untuk produk-produk olahannya. Untuk pemasaran, telah mencakup seluruh supermarket di Indonesia. “Pasar ekspor secara rutin enggak, tapi sudah ada yang memesan juga,” ucap ia.

Meski bukan berlatar belakang perikanan atau teknologi pangan, Maria senantiasa belajar untuk mengembangkan diri. Ia bekerja sama dengan teman yang ahli dalam teknologi pangan dari Universitas Pasundan, Bandung dan mengambil kursus Manajemen Ekonomi di Universitas Indonesia. “Saya memiliki kompetensi yang baik dalam pengolahan rumput laut serta dapat membuka jaringan kepada berbagai pihak,” terang Maria.

Kepincut Rumput Laut

Maria memulai usaha pada 1994 di Depok Jawa Barat. Awalnya ia melakukan semua proses pengolahan sendiri, namun seiring dengan perkembangan usahanya namun kini Maria dibantu oleh 23 orang tenaga kerja. Ketika 1994, rumput laut dinilai belum memiliki arti apa-apa. “Saat itu, suami saya bekerja di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ia yang membawa literatur mengenai rumput laut dan memperkenalkannya kepada saya,” terangnya.

Kemudian ia pun mempelajari dan melihat begitu besar potensi dari rumput laut. “Pada saat itu, saya menilai prospek dari usaha rumput laut masih sangat besar, kebetulan suami juga ingin berhenti bekerja jadi saya mulai menekuni usaha tersebut,” ucap Maria.

Walau bukan berasal dari sentra budidaya rumput laut, tempat usaha Maria telah menjadi contoh bagi sentra-sentra penghasil rumput laut. Sekarang malah tempat tersebut dijadikan sebagai tempat studi banding.

Ketika rumput laut belum populer, dan bentuknya masih basah, ia mendapat bahan baku dari daerah Kepulauan Seribu. Namun, seberjalannya waktu, kini rumput laut dapat disimpan dalam kondisi kering sehingga mudah untuk di stok. “Jadi meski jauh dari tempat sentra budidaya, saya masih mendapat stok bahan baku yang cukup,” katanya.

Maria menggunakan rumput laut jenis Cotonii dan Spinosum. Karena produk olahannyamemiliki pasar yang mapan sehingga membutuhkan kontinuitas bahan baku, maka Maria telah menjalin hubungan dengan banyak pembudidayarumput laut. “Kini pun saya sudah menanam sendiri rumput laut di daerah Belitung Timur,” ujarnya.

Terus Berkembang

Dulu rumput laut hanya diolah menjadi manisan, masih sederhana sekali. Maka melalui usahanya Maria mencoba mengembangkan produks olahan supaya lebih menarik dan digemari,seperti dibuat koktail. Berangkat dari itu mulai ada pengembangan produk seperti jus, dodol, hingga saat ini ada 22 item produk. “Tiga produk unggulannya antara lain jus, koktail, dan bentuk segar atau sayur,”ujar Maria.

Rumput laut adalah bahan mentah, maka itu sangat penting akan kualitasnya. Maria menjelaskan, alur produksinya, pertama rumput laut yang telah berusia 45 hari (ditanam) dipanen, setelah itu dibersihkan dari kotoran dan kerang. Kemudian rumput laut dijemur hingga kadar air maksimal 25%. “Bila sudah kering, baru dikirimkan ke pabrik untuk proses pengolahan,” ucapnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-39/ 15 Agustus 2015 - 15 September 2015

Focus Group Discussion (FGD) tenrsng Peningkatan Daya Saing Rumput Laut Kabupaten Nunukan Menuju Keberlangsungan Usaha dan Kesejahteraan Masyarakat.








Mengoptimalkan Ekonomi Rumput Laut








Mengoptimalkan Ekonomi Rumput Laut

Kontak Email : suhana@suhana.web.id dan suhanaipb@gmail.com, HP 081310858708


Oleh : Suhana


Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah dan para pelaku ekonomi perikanan nasional. Hal ini disebabkan rumput laut dapat dijadikan salah satu sumber andalan ekonomi perikanan nasional. Indonesia memiliki berbagai posisi strategis dalam perekonomian rumput laut dunia, namun demikian posisi strategis tersebut sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam meningkatkan kinerja ekonomi perikanan dan kesejahteraan masyarakat pembudidaya rumput laut nasional. Oleh sebab itu ditengah minimnya terobosan baru ekonomi perikanan nasional, rumput laut dapat dijadikan sebagai salah satu kekuatan ekonomi perikanan nasional.

Tiga posisi strategis rumput laut Indonesia di dunia internasional :
pertama, produksi rumput laut Indonesia merupakan terbesar kedua dunia setelah China.  Data FAO (2015) menunjukan bahwa total produksi rumput laut dunia tahun 2013 mencapai 26,98 juta ton basah, dan Indonesia menyumbang 34,47 persen dari produksi tersebut, yaitu sekitar 9,30 juta ton basah. Sementara produksi rumput laut China pada tahun yang sama sudah mencapai sekitar 13,56 juta ton basah, atau sekitar 50,27 persen dari total produksi rumput laut dunia. Tetapi satu hal bahwa untuk rumput laut jenis E. Cottonii  yang merupakan bahan baku karagenan tidak diproduksi oleh China. Di Asia hanya Indonesia dan Philippines yang banyak memproduksi jenis rumput laut E. Cottonii. Selain itu juga produksi rumput laut Indonesia dapat berlangsung sepanjang tahun dengan potensi lahan budidaya mencapai 1,11 juta Ha.

Kedua, Indonesia saat ini merupakan negara pemasok utama rumput laut kering dipasar internasional, khusunya untuk jenis  rumput laut E. Cottonii.  Data UN-Comtrade (2015) tercatat bahwa pada tahun 2014 volume ekspor rumput laut kering dunia mencapai 169,64 ribu ton dan Indonesia menyumbang 70,01 persen dari total volume ekspor dunia tersebut. Pasar utama komoditas rumput laut kering dunia adalah China (55,42 %), Jepang (14,04 %), Korea (6,11 %), France (4,70 %) dan USA (3,06 %). Salah satu wilayah di Indonesia yang mengekspor rumput laut kering ke China adalah dari Pulau Sebatik, Nunukan Kalimantan Utara (Lihat Gambar dibawah ini.

 

Gambar 1. Jalur Ekspor Rumput Laut Dari Sebatik Ke Negara Tujuan Ekspor

Ketiga, data UN-Comtrade (2015) menunjukkan bahwa pemasok utama komoditas rumput laut kering ke China adalah Indonesia. Pada tahun 2014 tercatat bahwa 97,72 persen dari total volume impor rumput laut China (129,91 ribu ton) berasal dari Indonesia. 

Berdasarkan ketiga hal tersebut sangat jelas bahwa Indonesia seharusnya bisa memainkan peran strategis dalam perdagangan rumput laut kering dipasar Internasional. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian, harga rumput laut kering dunia saat ini dimainkan oleh China.

Rumput laut kering merupakan salah satu bahan utama untuk membuat produk karagenan. Karagenen merupakan salah satu bahan penting yang digunakan oleh berbagai industri, termasuk industri yang ada di Indonesia seperti tekstil, kosmetik, es krim, industri makanan dan industri lainnya. Berdasarkan data UN-Comtrade (2015) terlihat bahwa eksportir terbesar komoditas karagenen dunia adalah China, yaitu mencapai 48,73 ribu ton pertahun atau sekitar 34,80 persen dari total volume ekspor komoditas karagenen dunia. Dan Indonesia sendiri baru bisa mengekspor sekitar 4,93 ribu ton per tahun atau sekitar 3,52 persen dari total volume ekspor komoditas karagenan dunia.

Artinya bahwa pasokan bahan baku rumput kering Indonesia ke China telah dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat karagenan dan telah mendorong China sebagai produsen karagenan terbesar dunia. Dengan demikian nilai tambah dari rumput laut tersebut lebih banyak dinikmati oleh negara China daripada Indonesia. Harga rumput laut kering dunia tahun 2014 rata-rata 1,36 $ USA per Kg, sementara harga produk karagenen mencapai 6,75 $ USA per Kg. Sehingga sangat wajar apabila saat ini walaupun Indonesia merupakan negara pemasok rumput laut kering dunia, kesejahteraan para pembudidaya rumput laut nasional belum seperti yang diharapkan. Disinilah paradoks ekonomi rumput laut yang mesti segera dibenahi oleh pemerintah dalam meningkatkan sekejahteraan masyarakat pembudidaya rumput laut.

Bulog Perikanan dan Diplomasi Perdagangan
Berdasarkan hal tersebut diatas pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu bergerak cepat agar ketiga posisi strategis rumput laut Indonesia di dunia Internasional dapat dioptimalkan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya rumput laut dan sebagai kekuatan baru ekonomi perikanan nasional. Pemerintah perlu segera menyusun strategi dan rencana aksi serta implementasinya dalam pengembangan ekonomi rumput laut nasional, baik strategi jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah pertama, membentuk Bulog Perikanan yang berfungsi sebagai penyangga hasil produksi rumput laut nasional. Produksi rumput laut nasional perlu diselamatkan oleh pemerintah agar para pembudidaya rumput laut nasional tidak kecewa dengan hasil produksinya tersebut. Para pembudidaya rumput laut selalu mendapatkan harga yang sangat murah ketika sedang panen rumput laut. Disinilah peran bulog dalam menyelamatkan hasil produksi rumput laut nasional.

Selain itu juga peran penting bulog perikanan adalah untuk meningkatkan posisi tawar rumput laut nasional di pasar Internasional. Saat ini para pelaku ekspor rumput laut tidak memiliki gudang penyimpanan yang memadai untuk menampung rumput laut kering yang siap ekspor, sehingga walaupun harga rumput laut kurang baik terpaksa mereka mengekspor rumput lautnya karena tidak adanya gudang penyimpanan.

Kedua, pengembangan kebun bibit rumput laut di sentra-sentra produksi rumput laut nasional. Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu segera menginisiasi program kebun bibit rumput laut nasional guna meningkatkan kualitas bibit rumput laut dan pasokan kebutuhan bibit rumput laut nasional. Ketiga, penguatan para pembudidaya rumput laut nasional agar dapat meningkatkan kualitas rumput laut yang diproduksinya. Keempat, menginisiasi pemanfaatkan teknologi pasca panen untuk rumput laut ditingkat pembudidaya, misalnya teknologi pengering rumput laut yang optimal. Selama ini sebagain besar pembudidaya rumput laut mengeringkan hasil produksinya dengan cara dijemur dibawah terik matahari.

Sementara itu dalam jangka menengah dan panjang pemerintah perlu segera mendorong pelaku usaha nasional untuk membangun industri pengolahan rumput laut menjadi karagenan. Karagenan memiliki peran penting dalam mendukung industri nasional lainnya seperti industri makanan, obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi dan industri lainnya. Selain itu juga pemerintah perlu terus meningkatkan kemampuan politik perdagangan internasionalnya guna meningkatkan posisi tawar rumput laut dipasar Internasional. Pemerintah harus mampu “menggertak” China supaya dapat berlaku adil dalam memainkan harga rumput laut internasional.

Alhasil pemerintah dan para pelau utama rumput laut perlu segera bahu membahu membenahi ekonomi rumput laut nasional guna terus meningkatkan kesejahteraan pembudidaya rumput laut dan pertumbuhan ekonomi perikanan nasional. Dengan adanya upaya yang serius tersebut tidak menutup kemungkinan langkah Indonesia sebagai negara terbesar ekonomi rumput laut dunia dapat terwujud. 
Semoga...

Sumber : 
http://suhana.web.id/index.php/industri-kelautan/93-mengoptimalkan-ekonomi-rumput-laut