...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Kamis, 27 November 2014

PRODUKSI RUMPUT LAUT DAN PEMASARANNYA DI INDONESIA


PRODUKSI RUMPUT LAUT DAN PEMASARANNYA
DI INDONESIA

Oleh
Achmad Zatnika dan Sri Istini1)

ABSTRAK

Sebagai negera kepulauan dengan panjang garis pantai 81.000 km, Indonesia mempunyai potensi besar sebagai penghasil rumput laut. Beberapa jenis rumput laut bernilai ekonomis tersebar di perairan pantai Indonesia yaitu Eucheuma, Gelidium, Gracilaria, Gelidiella dan Hypnea. Dari data lima tahun terakhir produksi rumput laut Indonesia mencapai 7.600 ton per tahun dengan nilai Rp. 406 juta. Maluku adalah daerah produksi terbesar di Indonesia yaitu 78 % dari total produksi, akan tetapi ekspor terbesar justru melalui pelabuhan Ujung Pandang dan sedikit sekali yang melalui Ambon. 

Ekspor rumput laut pada tahun 1979 – 1984 rata-rata 1.950 ton per tahun dengan nilai US $ 258.000. Kualitas yang rendah serta rantai pemasaran yang panjang menyebabkan kuantitas dan kualitas produksi serta harga yang baik diperlukan usaha budidaya yang intensif. Disamping itu perlu dikembangkan industri pengolahan rumput laut dalam rangka meningkatakan nilai tambahnya.

1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negera kepulauan yang terdiri dari lebih 13.600 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Kondisi perairan Indonesia yang luas dan subur mencerminkan potensi hasil laut yang cukup tinggi. Salah satu komoditi sumberdaya laut yang ekonomis adalah rumput laut. Dari ratusan jenis rumput laut yang tersebar di perairan pantai Indonesia, terdapat 4 jenis bernilai ekonomis yaitu marga Gracilaria, Gelidium dan Gelidiellasebagai penghasil agar, dan marga Hypnea serta Eucheuma sebagai penghasil carrageenan.

Produksi rumput laut dalam 7 tahun terakhir menunjukkan kenaikan dari 4000 ton pada tahun 1977 menjadi 9600 ton pada tahun 1983, dimana pada tahun-tahun sebelumnya produksi rumput laut selalu menurun. Dari total produksi rumput laut di Indonesia sebagian besar dihasilkan di perairan Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Walaupun perairan pantai Indonesia mempunyai potensi sebagai penghasil rumput laut, tetapi masih kalah jauh dengan produksi rumput laut dari Filipina. Hal ini disebabkan karena produksi rumput laut Indonesia selama ini masih tergantung dari hasil panen dari alam, sedangkan di Filipina sudah dibudayakan secara intensif. Usaha budidaya rumput laut di Indonesia baru dilakukan di beberapa daerah seperti Bali, Sulawesi Tenggara dan itupun masih terbatas pada jenis Eucheuma.

Rumput laut Indonesia sebagian besar diekspor dalam bentuk kering (raw material) dan sebagian lagi dikonsumsi untuk keperluan perusahaan agar-agar atau dikonsumsi langsung oleh masyarakat sebagai sayuran. Peningkatan produksi antara tahun 1979–1983 diikuti kenaikan jumlah ekspor, tetapi tidak diikuti oleh kenaikan harga di sentra produksi dan nilai ekspor masih sangat rendah dibandingkan dengan harga rumput laut di negara lain. Dalam hal ini faktor kualitas sangat menentukan, demikian juga rantai pemasaran yang terlalu panjang menyebabkan harga yang diterima pemetik sangat rendah.

2. METODA

Untuk memperoleh informasi tentang perkembangan rumput laut di Indonesia kami lakukan pendekatan melalui :
  • Pengumpulan data primer dan sekunder di daerah rumput laut seperti Ambon, Sulawesi selatan, Bali, Surabaya, Pameungpeuk Garut.
  • informasi diperoleh melalui wawancara dengan petani rumput laut, eksportir, Dinas Perikanan dan sumber lainnya.
  • studi literatur.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Produksi rumput laut di Indonesia

Produksi rumput laut di Indonesia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, mengingat terbatasnya penelitian ke arah itu. Walaupun demikian sebaran rumput laut di wilayah perairan pantai Indonesia yang dikemukakan Soegiarto et al. (1978) serta data produksi tahunan dari Dit Jen. Perikanan dapat dijadikan gambaran potensi produksi rumput laut di Indonesia. Daerah yang mempunyai potensi sebagai penghasil rumput laut bernilai ekonomis adalah perairan pantai Kepulauan Riau, pantai barat Sumatera, Bangka Belitung, perairan pantai sebelah barat dan selatan Jawa, bagian timur Madura, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Maluku (gambar 1).

Produksi rumput laut di Indonesia pada tahun 1979 adalah 5945 ton dengan nilai 334 juta rupiah dan pada tahun 1983 sebesar 9607 ton dengan nilai 515 juta rupiah, atau rata-rata per tahuh sebesar 7600 ton dengan nilai 406 juta rupiah (table 1). Tujuh puluh delapan persen dari produksi rumput laut di Indonesia diperoleh dari Maluku, 9 % dari Bali dan NTT, 5% dari selatan Jawa dan sisanya tersebar di daerah lainnya (table 2). Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi rumput laut di Maluku pada tahun 1979 – 1983 adalah 5.920 ton per tahun jumlah tersebut lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu 2125 ton per tahun (Zoebir, 1980).

Suatu kenyataan bahwa produksi rumput laut di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan hasil dari Filipina pada periode yang sama (tabel 1 dan 3). Hal ini disebabkan produksi rumput laut Indonesia hampir seluruhnya berasal dari panen alamiah sedangkan di Filipina berasal dari usaha budidaya yang intensif. Produksi rumput laut yang tumbuh secara alami sangat tergantung pada keadaan substrat, kondisi perairan dan musim. Mubarak (1974) mengemukakan bahwa Eucheuma spinosum lebih baik tumbuh pada pasir bercampur karang mati dan produksinya lebih banyak pada saat setelah musim hujan. Produksi Eucheuma di perairan pantai Maluku dan Nusa Tenggara Timur yang tumbuh secara alami adalah 0.6 – 3.4 ton berat kering per ha.

Table 1 Produksi dan nilai rumput laut di Indonesia 1979 – 1983.
TAHUNVOLUME (TON).NILAI (RP.1.000)
19795.945334.000
19807.848421.000
19817.251362.000
19827.479398.000
19839.607515.000

Sumber : Dit Jen. Perikanan, Departemen Pertanian (1985).


Tabel 2 Produksi rumput laut dari beberapa daerah perairan pantai di Indonesia (1979 – 1983)

Perairan pantaiProduksi rumput laut (ton)
19791980198119821983
Barat Sumatera648662
Timur Sumatera39----
Selat Malaka251572-7-
Utara Sulawesi10811910512369
Selatan Sulawesi43678138280501
Selatan Jawa191486208407772
Bali / NTT4965504513151755
Maluku44183039634163416448
Total
59457848725174799607

Sumber : BPS.

Dewasa ini di perairan Lasori Sulawesi Tenggara telah dilakukan budidayaEucheuma dengan produksi 6 – 8 ton / ha. Di Bali dengan budidaya dicapai produksi 5 – 6 ton / ha. Dari hasil budidaya Bali dapat mensuplai Eucheumalebih dari 120 ton/bulan dari 22 ha areal budidaya. Apabila kita bandingkan dengan produksi hasil panen dari alam di Maluku dan Nusa Tenggara Timur yaitu 0.6 – 3.4 ton / ha, maka usaha budidaya meningkatkan produksi rumput laut Filipina melalui usaha budidaya yang intensif dapat meningkatkan produksi Eucheuma dari 398 ton per tahun pada tahun 1970 – 1973 menjadi 20.000 ton per tahun pada tahun 1978 – 1984 (Porse, 1985). 

Saat ini Filipina merupakan penghasil rumput laut Eucheuma terbesar yang dapat mensuplai kebutuhan dunia.
Selain Eucheuma, jenis lainnya yang bernilai ekonomis dan cukup potensial adalah Hypnea, Gracilaria, Gelidium dan Gelidiella. Data produksi dari ketiga jenis rumput laut tersebut tidak diperoleh dengan pasti dan pada data statistik berbaur dengan produksi Eucheuma. Di perairan Pulau Kefing Maluku Tengah, produksi Gracilaria adalah 1,28 ton/ha (Sumadiharga, 1978). Penelitian potensi produksi rumput laut di Indonesia masih sangat sedikit dan perlu penelitian lebih lanjut.

Apabila kita bandingkan produksi rumput laut dengan produksi komoditi perikanan lainnya, ternyata nilai rumput laut hanya 0.3 % - nya saja (tabel 4). Nilai yang kecil tersebut memerlukan perhatian yang besar, mengingat perairan Indonesia cukup potensial untuk budidaya rumput laut, prospek pemasarannya cukup baik. Masalahnya sekarang bagaimana caranya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Caranya yaitu mengadakan seleksi bibit yang unggul, mengembangkan budidaya dan memperbaiki cara penanganan lepas panennya.

Tabel 3. Produksi Eucheuma sp di Filipina
TAHUNPRODUKSI (TON)
197813.000
197914.000
198017.000
198118.000
198226.000
198326.000
198423.000


Sumber : Porse (1985).


Tabel 4. Nilai produksi rumput laut dan produksi perikanan laut lainnya (1977 – 1983)

TAHUNRUMPUT LAUT
(Rp. 1000,-)
PRODUKSI PERIKANAN LAUT LAINNYA
(Rp. 1000,-)
PERSENTASE RUMPUT LAUT
1977203.00051.884.0000.4
1978742.00066.207.0001.1
1979334.000105.664.0000.4
1980421.000121.374.0000.3
1981362.000136.073.0000.3
1982398.000132.284.0000.3
1983515.000179.772.0000.3

Sumber : Dit. Jen. Perikanan 1985

3.2. Pemasaran rumput laut di Indonesia

3.2.1. Ekspor rumput laut

Prospek usaha rumput laut di masa mendatang cukup baik dan memberikan harapan. Sebagai contoh, permintaan dunia terhadap Eucheuma dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Bahkan menurut Doty (1973) permintaan dunia untuk jenis Eucheuma di- taksir dapat mencapai 10 kali produksi alami. Tiga perusahaan industri carrageenan terbesar didunia (USA, Denmark dan Prancis) setiap tahunnya membutuhkan rumput laut sebanyak 20.000 ton sedangkan yang tersedia di pasaran dunia hanya 18.000 ton/tahun (BPEN, 1978). Kemudian Porse (1985) menunjukkan bahwa dewasa ini permintaan dunia untuk Eucheuma adalah 50.000 ton per tahun, sedangkan suplai hanya mencapai 44.000 ton per tahun, untuk memenuhi permintaan dunia masih diperlukan 6.000 ton per tahun. Dari sejumlah suplai Eucheuma, Indonesia hanya mensuplai 9 % - nya.

Ekspor rumput laut dari Indonesia pada tahun 1979 – 1984 rata-rata 1950 ton per tahun dengan nilai US $ 258.000. Volume ekspor tersebut dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah. Pada tahun 1971 dan 1972 ekspor rumput laut dari Indonesia mencapai 3.700 ton, setelah itu menurun dan pada tahun 1980 hanya 596 ton ; akan tetapi pada tahun berikutnya meningkat lagi dan pada tahun 1984 mencapai 3.000 ton (Tabel 7).

Tabel 5. Estimasi produksi rumput laut di dunia (ton berat kering) sesuai dengan bahan koloid yang dihasilkannya.
DAERAH PRODUKSICARRAGEENAN & FULCELLARANAGARALGIN
19711975198019841975198019751980
Asia4.50030017.90028.0002.30018.0882004.570
Amerika Latin4.000-5.7206.0003009.99020012.800
Eropa?6.9008.400?2.3006.35010.70034.000
Amerika Utara6.0004.8007.0005.000100-6.70042.000
Negara lain5.500-1504.5003501.666-6.000

Sumber : Mc. Hugh D.J. and B.V. Lanier (1983)
Pores H. (1985)
Saleh S. (1985)


Tabel 6. Estimasi produksi olahan rumput laut di dunia serta bahan bakunya tahun 1980
Daerah produksiAgarRumput lautCarrageenanRumput lautAlginatRumput laut
Asia3.57418.08850017.9001.9504.570
Amerika Latin8579.990-55.72012.10012.800
Eropa1.9906.3507.9008.40012.82534.000
Amerika Utara200-4.5007.0006.70042.000
Lainnya4401.666-150-6.000
 7.06136.09412.90039.17021.57599.370

Tabel 7. Ekspor rumput laut 1979–1984
TAHUNVOLUMENILAI (US $)
19791.836.076170.132
1980596.629143.016
1981690.29161.302
19822.110.703166.201
19833.402.139346.619
19843.061.122658.842

Sumber : BPS

Harga ekspor rumput laut pada tahun 1983 dan 1984 dari data BPS adalah antara Rp. 100,- - Rp. 200,-/kg (tabel 6). Akan tetapi menurut keterangan eksportir di Ujung Pandang dan Surabaya harga ekspor rumput laut pada tahun 1983/1984 adalah US $ 450–500 per ton atau kurang lebih Rp. 450–Rp. 500, -/kg FOB. Porse (1985) menunjukkan bahwa harga rumput laut untuk carrageenan dari Indonesia adalah US $ 425 per ton FOB atau Rp. 425,-/kg. Kemudian informasi dari sentral produksi diperoleh bahwa harga lokal di Ambon, Sulawesi Tenggara dan Bali pada tahun yang sama berkisar antara Rp. 100,-s/d Rp. 250,-/kg. Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa data ekspor yang tercatat BPS tidak sesuai dengan kenyataan. Kemudian apabila kita bandingkan dengan harga rumput laut yang dibeli oleh eksportir dari pedagang / pengumpul rumput laut yaitu rata-rata Rp. 345, - maka nilai ekspor yaitu 43 % harga di dalam negeri. Dengan kata lain bahwa apabila kita memperhatikan informasi harga dari pedagang dan eksportir Indonesia, maka sebetulnya nilai ekspor dari Indonesia dua kali lebih besar dari nilai yang diperoleh dari BPS. Nilai ekspor ini dapat ditingkatkan lagi bila kualitas dan kuantitas produksi rumput laut ditingkatan lagi. Sebagai perbandingan harga rata-rata rumput laut dari berbagai negara dikemukakan pada Tabel 9.

Kurang lebih 80 % dari jumlah ekspor rumput laut pada tahun 1979 – 1983 berasal dari pelabuhan Ujung Pandang, dan hanya 2 % yang berasal pelabuhan Ambon, bahkan pada tahun 1981 dan 1982 tidak ada ekspor rumput laut dari Ambon (Tabel 8). Padahal 78 % dari produksi rumput laut di Indonesia berasal dari Maluku. Rendahnya ekspor dari Ambon pada tahun tersebut disebabkan eksportir di Ambon tidak bergairah lagi mengekspor rumput laut yang harganya terus menurun dan mereka lebih menyukai komoditi ekspor lainnya seperti rempah-rempah dan mutiara. Perwakilan eksportir di sentra produksi rumput laut akhirnya digantikan oleh para pengumpul yang mempunyai perahu motor. Mereka mengunjungi daerah produksi di pulau-pulau Maluku dan membawa dan menjualnya kepada eksportir di Ujung Pandang atau Surabaya.

Tabel 8. Ekspor rumput laut dari tiap pelabuhan (kg), 1979 – 1983
PELABUHAN19791980198119821983
Sumatera Barat30.00035.000---
Riau72.87020.900---
Tanjung Priok112.20084.18027.76070.7002.000
Surabaya62.047146.017102.86244.269236.315
Ujung Pandang1.503.253287.796552.2691.944.5312.595.433
Kendari----159.520
Belawan--7.400--
Kupang---51.203-
Ngurah Rai----30
Ambon55.90622.736--74.929
Waingapu----282.912
Total1.836.076596.629690.2912.110.7033.405.139


Tabel 9. Harga rata-rata rumput laut di beberapa negera.
JENIS RUMPUT LAUTNEGARATAHUNUS$/TON
1. Untuk industri agar:
- Gracilaria sp
Chili1978760
Jepang1979780
- Gelidium sp
 
Jepang19781.100
Chili19791.100
2. Untuk industri carrageenan :
- Eucheuma spinosum
Filipina19801.120
1981*385
1982380
1984*425
Chili1981*500
1984*460
Canada1981*570
1984*615
Indonesia1981*380
1984*425
- Eucheuma cottonii
Filipina1980560
1982310
3. Untuk industri alginat:
- Algae coklat
rata-rata1980250
- Laminaria
Inggris1979100
- Ascophyllum
Inggris1979100
- Devevilea
Chili1979230
- Sargassum
India1981130

Sumber : McHugh D.J. and B.V. Lanier (1983)
* Porse (1985)

Disatu pihak Indonesia cukup potensial sebagai penghasil rumput laut seperti agar-agar, algin dan carrageenan. Untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri Indonesia masih mengimpor agar, algin dan carrageenan dalam jumlah cukup besar. Pada tahun 1981 – 1984 Indonesia mengimpor agar senilai US $ 410.958 per tahun dan algin US $ 5.050.426 per tahun (tabel 9) belum termasuk carrageenan. Total agar dan algin rata-rata US $ 5.461.385 per tahun. Nilai agar dan algin tersebut hampir 30 kali nilai ekspor rumput laut pada periode yang sama. Di Indonesia terdapat beberapa perusahaan agar untuk bahan makanan baik skala “home industry” maupun semi tradisional. Industri agar-agar tersebut di Indonesia perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi mengingat potensi bahan bakunya cukup tersedia.

Apabila senyawa agar carrageenan dan alginat dapat diproduksi di dalam negeri, maka nilai impor dari jenis senyawa tersebut dapat menjadi investasi negara dan akan lebih menguntungkan lagi bila sanggup mengekspor hasil olahan dari rumput laut tersebut dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat.

3.2.2. Tata niaga rumput laut.

Sampai saat ini pengelolaan rumput laut oleh nelayan merupakan usaha sambilan yang diperoleh dari hasil panen langsung dari alam. Usaha budidaya hanya berkembang di beberapa daerah saja seperti di perairan Bali sebelah tenggara yaitu di Nusa Dua, Serangan, Nusa Lembongan dan Nusa Penida, di perairan Sulawesi Tenggara seperti di Buton dan usaha budidaya tersebut baru untuk jenis Eucheuma saja. Sebagian besar hasil panen baik yang berasal dari alam maupun budidaya dijual untuk diekspor dan sebagian lagi untuk kebutuhan di dalam negeri sebagai pembuat agar-agar dan juga dikonsumsi sebagai sayuran oleh masyarakat pesisir.

Tabel 10. Impor agar-agar dan alginat 1980 – 1984
TahunAgar-agarAlginatTotal
Nilai (US$)
Volume (kg)Nilai (US$)Volume (kg)Nilai (US$)
1980159.349       ---
198143.372300.7104.639.5085.114.5985.415.308
1982261.947542.1932.938.3034.764.9685.307.161
1983350.111526.9573.717.9014.848.9975.375.954
1984162.885273.9733.653.3655.473.1425.747.115

Rantai pemasaran rumput laut mulai dari pemetik sampai eksportir di beberapa daerah pada umumnya sama. Nelayan atau petani rumput laut menjual rumput laut hasil panen dari alam atau budidaya kepada pedagang lokal (pedagang di kecamatan). Kemudian oleh pedagang lokal dijual kepada pedagang antar pulau yang kadang-kadang merupakan perwakilan eksportir yang ditempatkan di sentra-sentra produksi rumput laut. Pedagang antar pulau tersebut membawa rumput laut kering kepada eksportir di kota-kota pelabuhan seperti eksportir-eksportir di Ujung Pandang, Ambon, Surabaya, Denpasar, Jakarta dan di kota pelabuhan lainnya. 

Rantai pemasaran dari tiga sentra produksi pada tahun 1983 / 1984 dapat dilihat pada gambar 2.
Harga rumput laut masih ditentukan oleh eksportir karena rumput laut yang dibeli eksportir belum memenuhi standar ekspor. Demikian juga harga rumput laut masih dipengaruhi dan ditentukan para importir, karena sampai saat ini ada tiga importir besar di dunia yang menguasai pasaran yaitu Marine Colloids INc. dari USA Pierrefitte Auby dari Perancis dan The Copenhagen Pectin Factory dan Denmark. Ekspor rumput laut pada umumnya lewat agen-agen mereka di Singapura, sehingga memperpanjang lagi rantai pemasaran yang telah ada di Indonesia. Harga ekspor rumput laut dari Indonesia berkisar US $ 425 - US $ 500/ton FOB atau sekitar Rp. 425 - Rp. 500, - per kg. Harga yang dibeli eksportir dari pedagang Indonesia rata-rata Rp. 350,-/kg.

Dengan harga rata-rata Rp. 350,-/, eksportir masih harus melakukan penyortiran karena rumput laut masih tercampur dengan kotoran, pasir, jenis rumput laut lain, kayu, pecahan karang dan lain-lain. Karena harga masih ditentukan eksportir dan pedagang antar pulau yang membawa rumput laut dari sentra produksi harus mengeluarkan biaya transportasi, maka harga pada setiap pedagang lokal akan berbeda-beda tergantung dari jauh dekatnya sentra produksi atau sulit tidaknya dijangkau oleh pedagang antar pulau. Pedagang lokal yang jauh dan sulit dijangkau akan menerima harga rumput laut paling rendah, akibatnya harga yang diterima pemetik rumput laut lebih rendah lagi, seperti contohnya harga pada pemetik rumput laut di pulau-pulau Maluku. Contoh lain dari rantai pemasaran rumput laut penghasil agar di Pameungpeuk Garut yang cukup panjang (Gambar 3).

Gambar 1.
Gambar 1. Sebaran rumput laut bernilai ekonomis di Indonesia


USS 450 – 500/TON FOB
Gambar 2.


Gambar 2. Skema rantai pemasaran rumput laut Eucheuma sp (1983/1984)

Gambar 3.

Gambar 3. Skema pemasaran rumput laut penghasil agar dan hasil olahannya


Telah dikemukakan sebelumnya bahwa rumput laut untuk industri agar-agar lebih mahal dari pada jenis rumput laut untuk produksi carrageenan dan algin (table 8.) Akan tetapi panjangnya rantai pemasaran dan rendahnya kwalitas rumput laut yang dipanen akibat cara panen dan penanganan lepas panen yang kurang baik menyebabkan harga dari pemetik sangat rendah yaitu Rp. 100/kg pada tahun 1985. Pada setiap pengumpul dan penyalur selalu dilakukan penyortiran dan proses pencucian. Perbedaan harga antara yang dijual oleh penyalur tunggal di kecamatan dengan harga yang diterima pemetik cukup besar yaitu Rp. 1.400/kg.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa kualitas rumput laut dan rantai pemasaran mempengaruhi harga yang diterima pemetik rumput laut. Harga rumput laut di sentra produksi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas dan atau memperpendek rantai pemasaran. Kualitas dapat ditingkatakan dengan melakukan usaha budidaya atau kultivasi dan penanganan lepas panen yang baik. Rantai pemasaran dapat diperpendek dengan mengikutsertakan atau melibatkan KUD yang berperan sebagai pengumpul sekaligus penyalur ke eksportir. Dan untuk mendorong usaha budidaya perlu adanya penyuluhan cara-cara budidaya rumput laut dan penanganan lepas panennya oleh tenaga penyuluh yang terampil, dan juga pemberian pinjaman modal oleh pemerintah kepada para petani rumput laut dengan bunga modal yang rendah.

Tabel 11. Syarat mutu komoditi rumput laut
Karakteristik    
EucheumaGelidiumGracilariaHypnea
- Kadar air makas (%)32152520
- Benda asing maks (%)5555
- Bauspesifikspesifikspesifikspesifik
rumput lautrumput lautrumput lautrumput laut

Keterangan : Benda asing: rumput laut lainnya, garam, pasir, karang dan kayu (ranting)
Sumber : Soegiarto. A dan Sulistijo (1985).

4. KESIMPULAN DAN SARAN

Indonesia cukup potensial sebagai penghasil rumput laut. Sampai saat ini Indonesia mengekspor rumput laut dan sebaliknya masih mengimpor hasil olahannya a seperti agar, carrageenan dan algin. Nilai impor senyawa tersebut hampir 30 kali nilai ekspor rumput laut. Sudah saatnya Indonesia meningkatkan dan mengembangkan industri pengolahan rumput laut.

Kualitas rumput laut untuk diekspor masih rendah sehingga harga yang diterima pemetik sangat rendah. Untuk memenuhi syarat ekspor masih perlu dilakukan penyortiran oleh pedagang/penyalur dan eksportir. Kualitas yang rendah, rantai pemasaran yang panjang serta kesulitan sarana transportasi laut menyebabkan terdapat perbedaan harga yang cukup besar antara harga yang diterima pemetik dengan eksportir. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksidapat ditingkatkan melalui usaha budidaya rumput laut. Untuk hal terse but perlu adanya penyuluhan dan pendidikan ketrampilan bagi petani rumput laut baik teknik budidaya maupun penanganan pasca panen disertai penyediaan sarana transportasi dan pinjaman modal dari pemerintah. Rantai pemasaran dapat diperpendek dengan melibatkan KUD setempat sebagai penampung dan penyalur sekaligus pembina bagi petani pemetik rumput laut.

DAFTAR PUSTAKA

B.P.E.N. 1978. Rumput laut. Badan pengembangan Ekspor Nasional. Departemen Perdagangan dan Koperasi. 21 hlm.
Dit. Jen Perikanan 1985. Statistik Perikanan Indonesia 1983. Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian Jakarta. 97 hlm.
Doty, M.S. 1973. Farming the red seaweed, Eucheuma for carrageenans. Micronesica IX (1) : 59 - 73.
McHugh, D.J. and B.V. Lanier 1983. The World Seaweed Industry and Trade, South China Sea Fisheries Development and Coordinating Programme Food Agriculture Organization of the United Nation, Manila. ADB/FAO Market Studies Vol. 6 : 30 hlm.
Mubarak, H. 1974. Laporan Survey Eucheuma di Perairan Maluku dan Nusa Tenggara Timur, Juli - Nopember 1974. Laporan Penelitian Perikanan Laut I : 1 – 29.
Porse, H. 1985. Makalah Diskusi Panel Pengembangan Industri Pengolahan rumput laut di Indonesia Jakarta 26 Februari 1985.
Saleh, S. 1985. Kegunaan Rumput Laut dan aspek pemasarannya. Makalah pada Diskusi Panel Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut di Indonesia, Jakarta 26 Februari 1985 : 15 hlm.
Soegiarto. A., Sulistijo, W.S. Atmadja, H. Mubarak 1978. Rumput Laut (algae) Manfaat, Potensi dan Usaha Budidayannya. LON - LIPI Jakarta : 61 hlm.
Soegiarto, A dan Sulistijo. 1985. Produksi dan Budidaya Rumput Laut di Indonesia. Makalah pada Diskusi Panel Pengembangan Industri pengolahan rumput laut di Indonesia, Jakarta 26 Feb. 1985.
Sumadiharga. K. 1978. Prospek Budidaya Rumput Laut Eucheuma di Daerah Pulau Kefing dan Pulau Geser, Maluku Tengah. LPPL. Badan Litbang. Pertanian Departemen Pertanian : 28 hlm.
Zoebir. R. 1980 Pemasaran Rumput Laut di Maluku dan Peningkatannya pada masa yang akan datang. Dalam rangka Pekan Dagang Rumput Laut di Maluku. 25–27 September, di Ambon.

Sumber : http://www.fao.org/docrep/field/003/ab882e/AB882E15.htm

Pengembangan Potensi Rumput Laut Melalui Kemitraan dan Entrepreneurship


Pengembangan Potensi Rumput Laut Melalui Kemitraan dan Entrepreneurship

  • Thursday, 11 July 2013 


  • 2
    ilustrasi
    ilustrasi
    Sidoarjonews- Pemerintah kabupaten (pemkab ) Sidoarjo melalui dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sidoarjo juga telah membuat terobosan baru untuk mengelola tambak yakni menerapkan program Polyculture 3 in 1. Yaitu system kelola tambak bisa dimanfaatkan untuk tiga macam jenis budidaya, yaitu Gracilaria (rumput laut), Udang dan Bandeng.
    Hal itu di tegaskan M. Rofik Kasubbid Sumber Daya Alam Bappeda Sidoarjo,kamis (11/7). Gracilaria (rumput laut) dapat memperbaiki kualitas lingkungan tambak yang memungkinkan udang dan bandeng dapat hidup lebih baik. Gracilaria juga mempunyai nilai yang eknomis, manfaat dan permintaan pasar cukup besar, serta bisa meningkatkan produktivitas udang dan bandeng.
    Manfaat lainnya adalah teknologinya sangat senderhana, biaya pembeliharaan murah, bisa memperbaiki kualitas lingkungan dan mempunyai nilai ekonomis. Selain itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak, begitu juga pemintaan pasar juga masih sangat besar.
    “Harga jual rumput laut jenis Gracilaria mentah, kering petani antara Rp 6.000,- hingga Rp 8.000 per kg dan pada waktu tertentu bisa mencapai Rp 10.000 per kg”, jelasnya.
    Lebih jauh menurut Rofik,potensi eknomis budidaya rumput laut ini,lebih baik bila dilakukan proses industrialisasi rumput laut di wilayah Kecamatan Jabon.Perlu adanya kemitraan antara pembudidaya rumput laut dengan perusahaan yang mengolahnya.
    “Kemarin, Senin sampai Selasa 8 – 9 Juli, Kami difasilitasi oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan Dirjen Perikanan Budidaya di Hotel Oval Surabaya telah disepakati nantinya dilakukan kerjasama berupa kemitraan.” Terang Rofik.
    Diharapkan dari perusahaan baik melalui CSR nya ataupun kemitraan industrial model inti plasma memberikan bimbingan , pembinaan dan pendampingan kepada pembudidaya rumput laut, sejak pemeliharaan hingga pasca-panen agar kualitas dan jumlah produksinya meningkat serta sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Industri terkait.
    “Pembudidaya rumput laut juga penting untuk dibekali wawasan enterpreunership guna memasarkan hasil produksinya serta dibantu dalam kemudahan akses ke lembaga keuangan juga”.Tandas rofik.(Ed1)

    Sumber : http://www.sidoarjonews.com/pengembangan-potensi-rumput-laut-melalui-kemitraan-dan-entrepreneurship/#.VHc7eaiMNDt

    Potensi Ekonomi Rumput Laut Triliunan Rupiah


    Potensi Ekonomi Rumput Laut Triliunan Rupiah

    Bandarlampung – Nilai potensi ekonomi rumput laut (Gracilaria spp dan Eucheuma spp ) di Provinsi Lampung bisa mencapai triliunan rupiah per tahun bila dikelola dengan baik.
    “Potensi ekonomi rumput laut Lampung sangat luar biasa, jika budidaya komoditas itu dilakukan dengan sungguh-sungguh,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian dan Ilmu Kelautan IPB, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, di Bandarlampung, Kamis.
    Ia menyebutkan, nilai potensi rumput laut “Gracilaria spp” jika dibudidayakan dengan baik bisa mencapai Rp10 triliun per tahun, sedang rumput laut jenis “Eucheuma spp” nilainya bisa mencapai Rp13 triliun/tahun.
    Ia mengatakan, lahan tambak dan perairan laut yang dibutuhkan untuk budidaya rumput laut itu sekitar 50 ribu hektar.
    Sementara lanjutnya, potensi ekonomi perikanan budidaya lainnya seperti udang vaname nilainya bisa mencapai belasan triliunan rupiah per tahun sedang udang windu bisa mencapai Rp2 triliun/tahun.
    Di sisi lain menurut dia, potensi nilai ekonomi perikanan budidaya itu cukup dahsyat. “Jika kita mampu mengembangkan 100.000 ha tambak untuk budidaya udang vaname maka setahun produksinya mencapai 2 ton/tahun senilai 10 miliar dolar AS,” kata dia.
    Pendapatan petambak juga tinggi rata-rata Rp8 juta/ha/bulan, dan tenaga yang terserap sebanyak 400.000 orang.
    Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu mengatakan khusus untuk budidaya rumput laut gracilaria dengan tambak seluas 200.000 ha maka tiap tahun dihasilkan 4 juta ton rumput laut kering atau senilai 2 miliar dolar dengan pendapatan petambak Rp3 juta/ha/bulan, dan lapangan kerja yang tercipta sekitar satu juta orang.
    Selanjutnya menurut dia, bila satu juta hektar perairan laut dikembangkan untuk budidaya rumput laut Eucheuma spp, maka dalam setahun dapat diproduksi 20 juta rumput laut kering yang nilainya sebesar 20 miliar dolar.
    Pendapatan pembudidaya komoditas itu lanjut dia, sekitar Rp12 juta/ha/bulan dan tenaga kerja yang terserap mencapai empat juta orang.
    Ia menambahkan, jika rumput laut itu diproses lebih lanjut bisa menghasilkan sekitar 500 produk hilir termasuk berbagai produk farmasi, kosmetik, dan produk industri lainnya yang nilai ekonominya bisa berlipat ganda.
    Sementara potensi perikanan tangkap di Lampung diperkirakan mencapai 388 ribu ton, tetapi yang baru tergali hanya 42 persen saja.
    (Sumber: Antara)
    Sumber : http://rokhmindahuri.info/2012/01/26/potensi-ekonomi-rumput-laut-triliunan-rupiah/

    STATUS RUMPUT LAUT INDONESIA PELUANG DAN TANTANGAN


    STATUS RUMPUT LAUT INDONESIA
    PELUANG DAN TANTANGAN
     

    Oleh : Cocon, S.Pi*) 


    Sebagai bagian dari Coral Triangel, Indonesia memang disuguhi begitu besar potensi perairan dengan segenap sumberdaya dan keanekaragaman hayati yang ada. Rumput laut salah satu komoditas yang saat ini menjadi trend di pasar perdagangan global pun mampu tumbuh subur di perairan bumi pertiwi ini. Sumber dari SEAplant.net menyebutkan bahwa perairan Indonesia hampir menguasai 65 % potensi perairan coral tri angel yang potensial untuk tumbuh kembangnya berbagai jenis rumput laut khususnya jenis Kappaphycus alvarezii, jauh mengungguli potensi negara-negara lainnya yaitu berturut-turut Philipina sebesar 15%, Kepulauan Solomon 7%, Malaysia 5%, Papua Nugini 5% dan Timor Leste sebesar 1%. Berbagai jenis rumput laut ekonomis tinggi dan telah berhasil dibudidayakan di Perairan Indonesia secara umum berasal dari jenis alga merah (Rhodophyceae) antara lain Eucheuma cottonii / Kappaphycus alvarezii doty, E. Spinosum, dan Gracilaria sp; Ptylopora dan Halymenia sp 

    Dari aspek pasar menunjukan bahwa perkembangan pasar rumput laut di perdagangan global menunjukkan trend kenaikan yang cukup tinggi, seiiring dengan peningkatan kebutuhan bahan baku industri baik untuk food grade, pharmaeutical maupun industryal grade. Pertumbuhan penduduk dunia yang semakin pesat dan Kompleksitas nilai guna rumput laut yang begitu besar sebagai penunjang kebutuhan hidup masyarakat dunia, maka tidak heran memang jika saat ini rumput laut menjadi komoditas yang prospektif dan telah menjadi bagian dari kebutuhan global. Betapa tidak sejak kita bangun tidur sampai pada saat melakukan aktivitas, sebenarnya kita telah terbiasa menggunakan produk berbahan baku rumput laut. 

    Indonesia memanfaatkan peluang 

    Membangun sebuah cita-cita memang harus bermula dari mimpi besar, sejatinya itulah yang saat ini sudah mulai dibangun Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui penetapan Visi menjadikan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar dunia tahun 2015. Visi yang oleh beberapa kalangan dianggap terlalu ambisius. Ya, mungkin itu persepsi dari sebagian masyarakat awam yang memandangnya sebagai sesuatu hal yang maustahil mampu dicapai. Namun demikian, satu hal yang perlu dicatat, bahwa sejak orientasi arah pembangunan saat ini mulai digerakan terhadap pendekatan pembangunan wilayah kepulauan (islands development approaches), maka sudah saatnya pembangunan berbasis Kelautan dan Perikanan menjadi tumpuan utama dalam rangka membangun pergerakan ekonomi nasional. Indonesai dengan segenap potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, memang menjadi senjata ampuh dalam upaya pencapaian visi tersebut. Dengan potensi pengembangan budidaya air laut sebesar 8,4 juta hektar, bukan hal mustahil mimpi besar itu mampu dicapai jika semua elemen bangsa mempunyai mimpi besar yang sama yang terimplementasi melalui kerjasama sinergi dalam upaya memanfaatkan sumberdaya perairan yang ada. 

    Dalam upaya pencapaian Visi dan Misi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan komoditas unggulan yang menjadi sasaran utama, dimana komoditas rumput laut menjadi salah satu ikon yang diharapkan mampu mewujudkan mimpi besar Indonesia. Tahun ini Indonesia mampu menggeser pesaing utamanya Philipina sebagai produsen rumput laut terbesar dunia dengan total produksi di Tahun 2010 mencapai 3.082.113 ton atau menguasai sekitar 50% produk rumput laut hasil budidaya di dunia yaitu untuk jenis Eucheuma, Gracilaria dan Kappaphycus. Sebuah keberhasilan tentunya yang diperlihatkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan. 

    Bicara peluang terhadap pasar perdagangan rumput laut dunia, Indonesia berada pada posisi yang mempunyai peluang besar dalam memasok kebutuhan bahan baku rumput laut. Sebagai gambaran Tahun 2010 peluang kebutuhan rumput laut Eucheuma cottonii dunia mencapai 274.100 ton, dimana Indonesia mempunyai peluang memberikan kontribusi ekspor sebesar 80.000 ton atau sekitar 29,19% , sedangkan peluang kebutuhan dunia akan rumput laut jenis Gracilaria sp mencapai 116.000 ton, dimana Indonesia mempunyai peluang kontribusi sebesar 57.500 atau sekitar 49,57% (sumber : BPPT dan ISS, 2006). 

    Proyeksi dan pencapaian produksi rumput laut Indonesia 

    Jika mengacu pada visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan, maka hal yang paling mungkin untuk didorong peningkatannya dalam upaya pencapaian target tersebut adalah sub sektor perikanan budidaya. Inilah, yang saat ini menjadi Pekerrjaan Rumah yang besar bagi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam upaya menopang terwujudnya mimpi besar Indonesia sebagai penghasil produk perikanan terbesar dunia. Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan adanya target pencaiapan produksi sebesar 353% sampai dengan tahun 2014 khususnya bagi komoditas yang menjadi unggulan saat ini, dimana rumput laut menjadi penyumbang besar target pencapaian produksi tersebut yaitu ditargetkan peningkatannya sebesar 10 juta ton di Tahun 2014 . 

    Produksi rumput laut diproyeksikan rata-rata meningkat pertahun sebesar 32 % (dari Tahun 2010-2014) atau meningkat sebesar 392% dari Tahun 2009 ke Tahun 2014. Proyeksi tersebut masing-masing berturut-turut Tahun 2009 diproyeksikan meningkat menjadi sebesar 2.574.000, Tahun 2010 sebesar 2.672.800 ton, Tahun 2011 sebesar 3.504.200 ton, Tahun 2012 sebesar 5.100.000 ton, tahun 2013 sebesar 7.500.000 ton dan Tahun 2014 sebesar 10 juta ton. Data statistik menunjukkan bahwa Tahun 2010 produksi rumput laut Nasional mencapai 3.082.113 ton mengalami kenaikan rata-rata sebesar 23% per tahun. Nilai ini mampu melampaui target/sasaran produksi Tahun 2010 sebesar 15 % dari target di Tahun yang sama sebesar 2.672.800 ton. Nilai tersebut tentunya menjadi salah satu indikator bahwa langkah menuju target 10 juta ton di Tahun 2014 sangat optimis untuk dicapai. Total produksi rumput nasional tersebut masih didominasi oleh 5 (lima) besar Provinsi utama penghasil rumput laut berturut-turut Sulawesi Selatan, NTT, Bali, Sulawesi Tengah dan NTB. 

    Peningkatan produksi rumput laut Nasional diiringi pula oleh peningkatan volume dan nilai ekspor rumput laut Indonesia ke berbagai negara tujuan utama ekspor seperti China, Philipina, Vietnam, Hongkong dan Korsel. Perkembangan volume dan nilai ekspor dalam kurun waktu Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2010 secara umum mengalami kenaikan. Tahun 2010 volume ekspor rumput laut Indonesia (rumput laut kering, karaginan dan agar) mencapai 126.177.521 kg meningkat sebesar 34% dari tahun sebelumnya yang mencapai angka 94.002.964 kg. Sedangkan nilai ekspor Tahun 2010 mencapai sebesar 155.619.562 US$ meningkat 77 % Jika dibandingkan dari total nilai ekspor tahun sebelumnya yang mencapai 87.773.297 US$ (Sumber : Statistik Ekspor-Impor Produk Perikanan tahun 2010). Sebagai gambaran bahwa peluang kebutuhan hydrokoloid dunia sampai dengan Tahun 2010 untuk produk karaginan (RC) mencapai 31.800 ton sedangkan untuk agar mencapai 18.120 (Sumber: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 2006). Nilai tersebut diprediksi akan mengalami kenaikan secara signifikan seiring semakin pesatnya pertumbuhan penduduk dunia yang sudah barang tentu diiringi oleh semakin tingginya tuntutan kebutuhan hidup masyarakat. 

    Staregi dasar pencapaian peningkatan produksi rumput laut 

    Upaya pemanfaatan potensi sumberdaya rumput laut Indonesia sebagai bentuk konkrit dalam rangka mewujudkan target pencapaian produksi, memang menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan melalui kerjasama sinergi antara stakeholders yang terlibat. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam hal ini telah menetapkan strategi dasar sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan potensi dan pengembangan kawasan budidaya rumput laut di Indonesia. 

    Startegi dasar tersebut meliputi : 1). Kebijakan Ektensifikasi, diarahkan dalam upaya memperluas dan mengembangkan jumlah unit lahan budidaya, khususnya pada kawasan-kawasan startegis dan potensial untuk pengembangan rumput laut di Indonesia; 2). Kebijakan Intensifikasi, diarahkan dalam upaya mengembangkan input teknologi budidaya yang secara langsung berdampak terhadap peningkatan jumlah unit budidaya dan kapasitas produksi; 3). Kebijakan Diversifakasi, diarahkan dalam upaya memperkenalkan dan mengembangkan jenis-jenis rumput laut komersial yang mempunyai nilai ekonomis dan peluang pasar yang luas. Melalui UPT Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, saat ini telah mampu memperkenalkan dan membudidayakan jenis rumput laut baru selain Kappaphycus alvarezii, antara lain Ptylopora sebagai bahan baku kertas yang telah berhasil dikembangkan di Bali dan Lombok, Halymenia sp sebagai penghasil lamba karaginan dan telah berhasil di budidayakan di Bali dan NTT (Kabupaten Rote Ndao). Jenis baru ini diharapkan akan mampu dikembangkan di Perairan lain di Indonesia melalui alih terap teknologi budidaya terhadap masyarakat pembudidaya.

    Melihat rumput laut menjadi komoditas unggulan nasional dan telah secara nyata mampu menggerakan ekonomi lokal, regional dan nasional serta menjadi salah satu kegiatan usaha yang mampu menyentuh peran pemberdayaan masyarakat secara luas, maka kebijakan industrialisasi rumput laut saat ini telah menjadi issue penting dan telah ditindak lanjuti melalui nota kesepahaman mengenai pengembangaan kawasan budidaya dan industri rumput laut di 7 Propinsi yakni Propinsi NTT, NTB, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Nota kesepahamn tersebut dibangun dengan melibatkan 6 lembaga/kementerian yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian PDT, Kementeria Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. 

    Strategi pengembangan teknologi berbasis mutu dan keamanan pangan (food safety) 

    Pencaiapan target peningkatan produksi rumput laut, bukan berarti dalam perjalanannya tidak mengalami kendala, namun demikian pada kenyataanya kendala tersebut seringkali muncul dan berpotensi menghambat proses pengembangan rumput laut Indonesia. Permasalahan utama yang saat ini dihadapi terkait : 1) permasalahan ketersediaan bibit bermutu dimana saat ini mulai terjadi degradasi kualitas bibit pada beberapa kawasan budidaya; 2) permasalahan jaminan mutu hasil produksi budidaya yang berpotensi mengganggu rantai pasok (suplly chain) rumput laut; 3) Penerapan teknologi belum yang sepenuhnya menerapkan terwujudnya quality assurance, apalagi food safety, dan traceability ; 4) permasalahan terhadap pengendalian hama penyakit maupun dampak lingkungan perairan yang fluktuatif. 

    Dalam upaya menjawab permasalahan teknologi budidaya di atas, Ditjen Perikanan Budidaya telah melakukan langkah kebijakan konkrit yang secara langsung menopang terhadap peningkatan produksi rumput laut, antara lain: 

    Pertama, penerapan teknologi budidaya berkelanjutan melalui penerapan prinsip-prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) pasa setiap proses produksi. Direktorat Produksi Tahun 2010 telah membuat acuan penerapan pelaksanaan CBIB serta petunjuk teknis penilaian sertifikasi CBIB budidaya rumput laut, sehingga diharapkan ke depan telah mulai berkembang unit usaha budidaya rumput laut yang tersertifikasi. 

    Kedua, Penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas, melalui pengembangan kebun bibit rumput laut di kawasan sentral budidaya rumput laut serta kebijakan alokasi subsidi bibit rumput laut. 

    Ketiga, Pembinaan intensif secara berkelanjutan baik teknis maupun non teknis. Upaya tersebut dalam bentuk monitoring, evaluasi, kegiatan temu lapang, serta kegiatan lain yang secara langsung mendukung aktivitas usaha budidaya; 

    Ke-empat, Dukungan dana penguatan modal, upaya tersebut melalui alokasi DPM, Paket Wirausaha, subsidi benih ,PUMP, , peluncuran skame kredit semisal KUR dan KPPE. Dimana upaya tersebut dalam rangka memberikan stimulan yang secara langsung mendukung peningkatan kapasitas usaha Pokdakan rumput laut; 

    Ke-lima, Pengembangan kawasan pembudidayaan secara bertahap , yaitu melalui pengembangan kawasan minapolitan budidaya, membangun pendekatan akuabisnis serta mendorong terbangunya pola kemitraan usaha yang berkelanjutan. Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan 24 Kabupaten/Kota sebagai sasaran percontohan minapolitan budidaya, dimana sebanyaak 6 Kabupaten Kota diarahkan untuk pengembangan rumput laut yakni Kabupaten Serang (Banten), Kabupaten Pandeglang (Banten), Kabupaten Sumbawa (NTB), Kabupaten Sumba Timur (NTT), Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah), Kabupaten Pahuwato (Gorontalo) 

    Ke-enam, membangun kerjasama, sinergitas, persamaan persepsi dan tanggungjawab bersama antara seluruh stakeholders dalam upaya pengembangan rumput laut nasional melalui kegiatan Forum Budidaya Rumput laut. Direktorat Produksi telah menetapkan kegiatan “Forum Rumput Laut Nasional” sebagai agenda tahunan. Dimana hasil rumusan kegiatan tersebut diharapkan akan menjadi bahan acuan dan rekomendasi dalam menentukan langkah kebijakan strategis bagi pengembangan rumput laut Nasional. Tahun 2010 telah diselenggarakan Forum Rumput Laut di Propinsi Bali dengan fokus terhadap upaya pengembangan jenis rumput laut Halymenia sp, sedangkan Tahun 2012 Forum Rumput Laut Nasional direncanakan dilaksanakan di Propinsi NTB dimana diharapkan akan mampu menjawab peluang, tantangan dan permasalahan bisnis perumput lautan Indonesia. 

    Produksi VS rantai pasok (suplly chain) 

    Pencapaian produksi yang menjadi kinerja Ditjen Perikanan Budidaya, ternyata belum sepenuhnya diimbangi oleh mulusnya perputaran rantai pasok pada sebagian kawasan pengembangan. Kondisi rantai pasok hasil produksi rumput laut masih menjadi permasalahan yang berpotensi menghambat jalannya siklus aquabisnis rumput laut. Kondisi ini secara umum masih terjadi di beberapa kawasan sentral produksi rumput laut. Masih adanya Inkonsistensi yang mencakup Jaminan kontinyuitas penyerapan produksi, stabilitas harga dan jaminan kualitas produksi masih menjadi penghambat mata rantai produksi, dimana fenomena ini terjadi karena masih munculnya permasalahan pasar di level zona I (pembudidaya) dan zona II (pengepul). Beberapa industri nasional mengaku bahwa saat ini seringkali terjadi kompetisi pasar yang tidak sehat, dimana saat ini harga pasar masih dikendalikan pihak eksportir yang lebih parah dengan masuknya para spekulan yang masuk dan melakukan pembelian langsung di tingkat pembudidaya. Kondisi ini berpotensi industri nasional akan sulit bersaing dalam melakukan penyerapan produk dari hulu. 

    Kebijakan pembatasan ekspor rumput laut dalam bentuk raw material merupakan langkah baik, namun demikian sejatinya pembatasan ekspor rumput laut tersebut hendaknya diimbangi oleh kemampuan penyerapan bahan baku oleh Industri Nasional. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan kebutuhan bahan baku rumput laut serta jumlah/kemampuan industri nasional dalam melakukan penyerapan produksi dari pembudidaya. Upaya tersebut dalam rangka menjamin keseimbangan antara produksi yang dihasilkan pembudidaya (hulu) dengan jaminan penyerapan produksi yang ada di hilir (industri). Disamping itu Industri Nasional perlu didorong agar pro aktif melakukan kontrol langsung terhadap spesifikasi mutu yang dihasilkan pembudidaya. Konsep iPasar yang diharapkan mampu menjawab permasalahan rantai pasok rumput laut Indonesia perlu segera diiplementasikan terutama di sentra-sentra produksi rumput laut, langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan sosialisasi secara menyeluruh terhadap stakeholders terkait mekanisme dan konsep iPasar sehingga diharapkan akan terbangun persamaan persepsi guna menghindari image negatif di kalangan pelaku usaha terkait peran iPasar. 

    Pentingnya Kelembagaan dalam aquabisnis rumput laut 

    Kenapa Kelembagaan yang penulis tekankan, dan apa pula hubungannya dengan siklus aquabisnis ? Menurut Hermanto dan Subowo, 2006 membedakan bahwa secara empiris kelembagaan dapat dibedakan, antara lain: (1) kelembagaan sosial nonbisnis yang merupakan lembaga yang mendukung penciptaan teknologi, penyampaian teknologi, penggunaan teknologi dan pengerahan partisipasi masyarakat, seperti lembaga penelitian, penyuluhan, kelompok tani dan sebagainya, dan (2) lembaga bisnis penunjang yang merupakan lembaga yang bertujuan mencari keuntungan, seperti koperasi, usaha perorangan, usaha jasa keuangan dan sebagainya. Kelembagaan sendiri mempunyai arti luas yang mencakup aturan main, kode etik, sikap dan tingkah laku seseorang, organisasi atau suatu sistem. Nah, ke-dua jenis kelembagaan inilah sesungguhnya yang harus menjadi isyu penting dalam upaya menggerakan siklus aquabisnis rumput laut yang berkelanjutan, jika kelembagaan ini mampu berjalan secara efektif sangat mungkin permasalahan yang saat ini masih mendera tidak lagi menjadi penghambat bagi keberlangsungan usaha dari para pelaku. 

    Melalui kelembagaan maka akan terbangun aturan yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama, hak dan kewajiban anggota, mampu mengatur kode etik, membangun kontrak melalui pola kemitraan yang berkelanjutan, informasi pasar dan teknologi, serta membangun link pasar yang berkelanjutan. Pelaku yang tergabung dalam kelembagaan yang kuat sudah sejatinya akan mempunyai pola pikir yang maju (visioner) serta mampu beradaptasi dalam menghadapi proses dinamika kelompok. 

    Sejarah menunjukkan bahwa di negara-negara maju, kelembagaan yang baik akan mampu mendorong tumbuh kembangnya kegiatan bisnis dan pembangunan secara umum. Sudah bukan rahasia umum, bahwa aquabisnis rumput laut yang dikelola dengan baik telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat baik sebagai modal ekonomi (economic capital) khususnya dalam penyediaan kebutuhan hidup, modal alam (natural capital) dalam penyediaan produk-produk primer, modal finansial (financial capital) pemenuhan kebutuhan akan keuangan, dan modal sosial (social capital) sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat pesisir. Ke-lima modal diatas tentunya akan mampu dicapai melalui kerjasama sinergi yang didasarkan oleh rasa tanggungjawab (responsibility), komitmen, kesamaan kebutuhan dan kepercayaan (trust). 

    Kelembagaan penunjang, misalnya koperasi yang dikelola secara profesional pada kawasan pengembangan budidaya rumput laut akan menjamin pergerakan rantai pasok (suplly chain) pada setiap unit produksi dengan begitu secara langsung akan mempengaruhi terhadap peningkatan efektifitas dan efisiensi jalannya siklus aquabisnis rumput. Pada akhirnya satu-satunya jalan untuk mewadahi hal tersebut di atas adalah melalui pengembangan kelembagaan, sehingga kelembagaan mestinya sudah harus menjadi isyu penting dalam pengembangan aquabisnis rumput laut yang berkelanjutan. Sejatinya sebuah kelembagaan penunjang menjadi unsur penting dalam menjamin perputaran mata rantai siklus aquabisnis rumput laut. Koperasi sebagai bentuk demokrasi ekonomi Indonesia telah terbukti mampu menumbuhkembangkan pergerakan ekomoni masyarakat. Sayangnya, koperasi dibeberapa daerah masih belum mewakili kebutuhan/kepentingan anggota, artinya Ruh koperasi belum tertanam dalam wadah organisasi tersebut. Koperasi yang dikelola secara profesional akan menjamin keberlanjutan usaha yang dijalankan oleh anggota karena secara langsung akan berpengaruh terhadap peningkatan bargaining position hasil produksi, jaminan kualitas, jaminan pasar dan stabilitas harga. Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi yang dicanangkan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM sangat positif dan perlu diterapkan kuhsusnya pada kawasan pengembangan perikanan budidaya. 

    Membangun kemitraan usaha yang berkelanjutan 

    Dalam hal ini penulis perlu menekankan bagaimana kelembagaan menjadi faktor penting dalam membuka peluang membangun kemitraan usaha yang bersifat luas. Karena dalam aquabisnis sendiri interaksi antara subsistem/unit usaha akan berjalan efektif jika pola kemitraan tersebut mampu dibangun secara kuat dan berkelajutan. Dalam siklus aquabisnis peran kemitraan sendiri diibaratkan sebagai “Bahan bakar” yang tentunya akan mempengaruhi pergerakan semua sistem yang ada. Lalu kemitraan yang bagaimana yang akan mampu menggerakan jalannya siklus tersebut,.? Menurut Suwandi, 1995 mendefinisikan bahwa Kemitraan Agrobisnis adalah hubungan bisnis usaha sektor pertanian yang melibatkan satu atau sekelompok orang atau badan hukum dengan satu atau sekelompok orang atau badan hukum dimana masing-masing pihak memperoleh penghasilan dari usaha bisnis yang sama atau saling berkaitan dengan tujuan terciptanya keseimbangan, keselarasan, dan keterpaduan yang didasari rasa saling menguntungkan, memerlukan dan saling melaksanakan etika bisnis. Jika penulis kaitkan dengan aquabisnis rumput laut, maka sejatinya kemitraan usaha tersebut adalah hubungan antara perusahaan mitra dengan pelaku utama (pembudidaya) dalam meningkatkan efektifitas, efesiensi dan produktifitas diseluruh subsistem aquabisnis rumput laut sehingga tercipta nilai tambah dan daya saing produk rumput laut yang dihasilkan. 

    Bentuk kemitraan usaha yang seringkali dibangun misalnya melalui pola inti plasma maupun CSR (Coorporate Social Responsibility ). CSR sebagai manifestasi peran pihak perusahaan dalam upaya pemberdayaan masyarakat local memang menjadi sebuah keharusan sebagai bentuk tanggung jawab moral yang harus secara langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Pola CSR dianggap mempunyai dampak yang cukup signifikan dalam upaya mengembangkan potensi suatu daerah. Sehingga perlu adanya upaya dalam mendorong konsep ini agar mampu berjalan terutama pada kawasan-kawasan pengembangan budidaya rumput laut. Sebagai gambaran, Kabupaten Penajam Paser Utara yang nota bene merupakan kawasan pengembangan baru, namun pada kenyataannya telah mampu menunjukkan proses pengembangan kawasan rumput laut yang relatif cepat, dimana kondisi ini tidak terlepas dari pola CSR yang dibangun antara Kelompok dengan perusahaan migas dalam hal ini PT. Cevron. Pola-pola kemitraan serupa hendaknya sudah mulai dikembangkan di sentra kawasan pengembangan budidaya rumput laut. Peran pendampingan dan penyuluhan yang profesional sangat dituntut dalam membangun kelembagaan yang kuat dan mandiri. Penyuluh bukan hanya sekedar menampung permasalahan yang ada, tetapi penyuluh profesional seyogyannya mampu menjadi, mitra, motivator, fasilitator dan dinamisator bagi pelaku utama. Peran advokasi dari penyuluh sangat diharapkan dalam membangun sebuah kelembagaan yang profesional di kawasan pengembangan budidaya. 

    Jika ke-semua langkah kebijakan di atas mampu dibangun dalam rangka menjamin keberlangsungan siklus aquabisnis rumput laut yaitu melalui kerjasama yang efektif dan bertanggung jawab antar seluruh stakeholders, maka sudah dipastikan akan mampu mewujudkan mimpi besar Indonesia bukan hanya sekedar pemasok bahan baku rumput laut saja, namun mampu menjadikan Indonesia sebagai kiblat industri rumput laut dunia. Semoga,...!!! 


    *) : Penulis sebagai Analis Budidaya Perikanan pada Direktorat Produksi, Ditjen Perikanan Budidaya 

    Sumber : http://seaweed81jpr.blogspot.com