...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Rabu, 02 Juli 2014

Formulasi Jelly Drink Berbasis Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dan Spirulina platensis

Formulasi Jelly Drink Berbasis Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dan Spirulina platensis

Masluha, Dita

Abstract:
 
Upaya peningkatan kesejahteraan penduduk di negara berkembang mendorong terjadinya perubahan gaya hidup yakni aktivitas fisik yang rendah dan perubahan pola makan yakni asupan tinggi energi namun rendah serat. Rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan kandungan serat pangan, mineral dan komponen lainnya dapat dikembangkan menjadi produk yang digemari masyarakat seperti jelly drink. 
 
Jelly drink yang ada dipasaran umumnya menggunakan karagenan sebagai pembentuk gel, pemanis, pewarna, pengawet dan perasa sintetik serta kandungan gizi yang rendah sehingga perlu pengembangan produk sebagai contoh pemanfaatan rumput laut dan Spirulina untuk meningkatkan nilai gizinya. Rumput laut tidak hanya berfungsi sebagai pembentuk gel tetapi juga menambah kandungan gizi produk seperti mineral, vitamin dan komponen bioaktif. 
 
Spirulina yang memiliki kadar protein tinggi, asam lemak tidak jenuh, pigmen alami fikosianin dan klorofil yang menjadikan jelly drink lebih sehat untuk dikonsumsi. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mendapatkan formula jelly drink berbasis Eucheuma cottonii dan Spirulina platensis yang dapat diterima oleh konsumen dan membandingkan karakteristik jelly drink Spirulina komersial dan Spirulina hasil kultur. 
 
Tahapan penelitian yang dilakukan antara lain formulasi minuman fungsional dengan perlakuan Spirulina komersial (0,2%: 0,4% dan 0,6%), kultivasi Spirulina platensis dan pembuatan jelly drink dengan penambahan Spirulina hasil kultur. Formula terpilih didapatkan dari uji kepentingan (Bayes) dengan parameter hedonik, kadar protein dan aktivitas antioksidan, selanjutnya dibandingkan dengan minuman fungsional yang ditambah Spirulina kultur pada konsentrasi yang sama. 
 
Analisis yang diperbandingkan diantaranya uji hedonik, uji proksimat, serat pangan dan aktivitas antioksidan serta dilakukan perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap satu faktor, sedangkan data uji hedonik diolah menggunakan metode Kruskal Wallis. Perbedaan konsentrasi Spirulina komersial memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap aroma jelly drink dan juga kadar protein namun tidak memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap aktivitas antioksidan. 
 
Uji kepentingan (Bayes) menghasilkan jelly drink Spirulina komersial 0,4% sebagai produk terpilih dengan nilai kesukaan agak suka, kadar protein 2,242% (bk) dan aktivitas antioksidan (IC50) 4818,5 ppm. Jenis Spirulina tidak memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap tingkat kesukaan penelis. 
 
Karakteristik kimia jelly drink Spirulina 0,4% komersial dan kultur yang dihitung dengan basis kering berturut-turut: kadar abu 4,22% dan 5,96%, kadar protein 2,20% dan 0,78%, kadar lemak 0,15% dan 0,45%, kadar karbohidrat 70,04% dan 70,92%, kadar serat pangan total 23,38% dan 21,89% serta aktivitas antioksidan (IC50) 4818,5 ppm dan 4899,23 ppm. Jelly drink 
 
Spirulina kultur dan komersil dengan serving size 200 ml dapat menyumbangkan energi sebesar 92 kkal dan 79 kkal
 
Sumber :  

Preparasi Penentuan Ca, Na, dan K dalam Nugget Ayam-Rumput Laut (Eucheuma cottonii)

Preparasi Penentuan Ca, Na, dan K dalam Nugget Ayam-Rumput Laut (Eucheuma cottonii)

Amirah Setyaningrum, Sukesi Sukesi

Abstract


Pengaruh penambahan rumput laut merah Euchema cottonii terhadap penentuan kadar Kalsium, Natrium dan Kalium didalam nugget rumput laut dipelajari dalam penelitian ini. 
 
Nugget rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini memiliki 5 variasi massa rumput laut yang ditambahkan dalam nugget yakni 50 g (16,67%), 75 g (23,08%), 100 g (28,57%), 125 g (33,33%), dan 150 g (37,50%). 
 
Pada penentuan kadar air sampel yang dilakukan didapatkan bahwa sampel rumput laut merah segar Eucheuma cottonii memiliki kadar air sebesar 91,3803 %. Hasil kadar air  pada sampel nugget kontrol sekitar 59,4942 %. 
 
Pada nugget rumput laut didapatkan hasil kadar air berkisar antara 73,0972 % - 77,7232 %. Proses destruksi pada penentuan Ca, Na dan K dalam Nugget Ayam-Rumput Laut (Eucheuma cottonii)  dihasilkan  larutan  jernih yang menunjukkan proses destruksi telah sempurna

Sumber :  http://ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/view/4308

Pembuatan Minuman sebagai Usaha Diversifikasi Rumput Laut Eucheuma cottonii

Pembuatan Minuman sebagai Usaha Diversifikasi Rumput Laut Eucheuma cottonii

Nursanto, Imam

Abstract:

Alga laut atau yang lebih dikenal dengan sehutan "rumput laut" Eucheuma cottonii merupakan salah satu sumberdaya alam hayati Indonesia. Tumbuhan ini mempunyai nilai ekonomis yang penting dalam industri kosmetik, pangan dan lain-lain.

Bahan ini banyak diolah dalam bentuk kering setelah melalui proses penjemuran atau diolah menjadi makanan siap konsumsi, seperti: dodol, manisan dan minuman. Pada saat ini banyak terdapat minuman sari buah, tetapi masih jarang dijumpai minuman dari rumput laut.

Rumput laut bermanfaat untuk kesehatan karena kandungan zat gizinya; antara lain: karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan sedikit lemak. Beberapa jenis mengandung lebih banyak vitamin A (beta karoten), B1, B2, B6, B12, C dan niacin, serta mineral penting, seperti kalsium dan zat besi.

Masyarakat tradisional biasa memanfaatkan air cucian beras untuk merendam rumput laut sebelum diolah menjadi makanan. Perendaman tersebut bertujuan untuk menghilangkan bau amis pada rumput laut

Sumber :  http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/16866


Pemanfaatan Natrium Alginat sebagai Fortifikasi Serat dalam Pembuatan Minuman Serbuk Effervescent Bercitarasa Jeruk Lemon

Pemanfaatan Natrium Alginat sebagai Fortifikasi Serat dalam Pembuatan Minuman Serbuk Effervescent Bercitarasa Jeruk Lemon

Dwijayanti, Ranti

Abstract:

Minuman yang saat ini sedang digemari oleh masyarakat adalah minuman instan. Minuman instan yaitu minuman yang berdaya tahan lama, cepat saji, praktis, dan mudah dalam pembuatannya. Salah satu produk minuman instan yang sedang digemari adalah minuman effervescent. Minuman effervescent merupakan salah satu produk minuman yang memiliki kemampuan menghasilkan gas CO2 serta memberikan efek sparkle (seperti rasa air soda). 
 
Sebagai salah satu bentuk diversifikasi produk hasil perairan dari rumput laut coklat, dalam penelitian ini dibuat salah satu bentuk minuman effervescent serbuk dengan penambahan Na-alginat sebagai fortifikasi serat. Penambahan natrium alginat dalam minuman effervescent ini karena rumput laut merupakan salah satu jenis tanaman laut yang kaya polisakarida dengan kandungan serat pangan cukup tinggi. Minuman ini diberikan penambahan jeruk lemon sebagai penambah citarasa. 
 
Tujuan penelitian ini adalah mempelajari proses ekstraksi Na-alginat dan evaluasi karakteristiknya, mempelajari pembuatan minuman serbuk effervescent dengan penambahan jeruk lemon dan natrium alginat, mencari komposisi natrium alginat yang disukai pada proses aplikasinya terhadap minuman serbuk effervescent, mempelajari karakteristik sensori dan fisika-kimia minuman serbuk effervescent terpilih dibandingkan dengan minuman effervescent komersil. Ekstraksi Na-alginat dari Sargassum sp. menghasilkan rendemen 16,45 %, kadar susut pengeringan 12,13 %, kadar abu 19,25 %, pH 6,48, viskositas 315 cPs, dan derajat putih 49,9 %. 
 
Untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap efek effervescent mix maka pada penelitian pendahuluan dilakukan uji sensori dan fisika-kimia terhadap 4 perlakuan effervescent mix yaitu 28,8 %, 31,3 %, 33,8 %, dan 36,3 %. Effervescent mix 33,8 % dianggap sebagai formulasi terbaik yang selanjutnya digunakan dalam penelitian utama dimana akan dicari perlakuan terbaik dengan penambahan Na-alginat 0 %, 1 %, 2 %, 3 %, 4 %, dan 5 %. 
 
Berdasarkan uji sensori yang terdiri dari uji pembedaan atribut dan uji hedonik dengan parameter efek effervescent, efek sparkle, penampakan, kekentalan, aroma, dan rasa diperoleh minuman effervescent yang terbaik adalah dengan konsentrasi Na-alginat 1%. Formulasi yang terbaik ini selanjutnya diuji dengan minuman effervescent komersil yang ada di pasaran. 
 
Berdasarkan uji sensori dan uji fisikakimia, produk minuman effervescent pada penelitian ini dapat diunggulkan dalam kandungan serat pangannya yaitu nilai rata-rata serat makanan tak larut sebesar 0,87 %; serat makanan larut sebesar 7,82 %; total serat makanan sebesar 8,69 %. Tingginya nilai serat pangan dalam minuman effervescent ini dikarenakan adanya penambahan Na-alginat dimana Na-alginat merupakan polisakarida dengan kandungan serat pangan cukup tinggi.
 

Pengolahan Rumput Laut (Eucheuma Cottoni) Menjadi Serbuk Minuman Instan

 

Pengolahan Rumput Laut (Eucheuma Cottoni) Menjadi Serbuk Minuman Instan

Wibowo, Lukas; Fitriyani, Evi

Abstract:
Diversifikasi produk rumput laut berupa minuman berserat dalam bentuk bubuk yang sebelumnya telah mengalami proses pengeringan dan penepungan menjadi serbuk instan rumput laut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan proses pengolahan serbuk minuman rumput laut dengan menguji nilai kandungan kadar air, kadar abu, kadar serat dan karbohidrat dari minuman serbuk rumput laut. 
 
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. 
 
Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan perbandingan gula dengan 4 jenis tipe formula, yaitu: Rumput laut Kontrol (0% gula, 0% Essens), Rumput laut EG 25% (25% gula, 1% Essens), Rumput laut EG 50% (50% gula, 1% Essens), Rumput laut EG 75% (75% Gula, 1% Essens). 
 
Dari hasil penelitian bahwa serbuk minuman rumput laut didapat kandungan serat kasar pada penambahan tanpa perlakuan 11,83%, EG 25% sebesar 6,19%, EG 50% sebesar 5,80% dan EG 50% sebesar 5,25%. Hasil analisis proksimat serbuk minuman terbaik yaitu pada perlakuan tanpa gula dengan kadar air 2,07%; abu 25%; dan karbohidrat 2,28%.
 

Manfaat Rumput Laut Bagi Kesehatan Manusia




Manfaat Rumput Laut

Bagi yang suka mengkonsumsi agar-agar, tentunya mengenal rumput laut. Rumput laut merupakan tumbuhan laut yang kenyal, enak, dan kaya akan serat. Kita juga sering menjumpai rumput laut yang pada aneka masakan Jepang dan Korea seperti lapisan sushi, snack, dan berbagai macam makanan tradisional. Beberapa rumput laut yang dapat dimakan yang paling populer termasuk dalam kombu hijau, hijiki kering hitam, dulse kenyal merah, zamrud wakame, selada laut berdaun berwarna cerah, dan nori panggang hitam. Di sekitar kita pun rumput laut sering ditemui pada sebagai komposisi sup buah atau es campur. Namun, mungkin kita belum terlalu mengaetahui manfaat yang sebenarnya. Berikut adalah 20 manfaat rumput laut:
  • Dibandingkan dengan tumbuhan lain yang tumbuh di daratan, semua makanan dari laut mengandung 10 hingga 20 kali lebih besar untuk vitamin, mineral, dan asam amino. Rumput laut, tentu saja mengandung nutrisi yang lebih besar daripada sayuran yang tumbuh di daratan.
  • Anda penggemar sushi? Nori, lembar sayuran laut gelap yang digunakan untuk membungkus gulungan nasi yang lezat khas Jepang, kandungan protein di dalamnya bisa setinggi 25-50% dari beratnya saat kering – yang tertinggi dari setiap sayuran laut. Makanan mengandung kaya akan vitamin A yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan mata.
  • Yodium alami pada rumput laut adalah cara mudah dan aman untuk mememnuhi kebutuhan diet Anda. Gejala kekurangan yodium meliputi keletihan kronis, kulit yang kering, alergi dingin, dan kelebihan berat badan kelenjar tiroid (gondok). Gejalan ini sama dengan gejala defisiensi kelenjar tiroid. Menurut herbalis berpengalaman, DR. Ryan Drum,menyatakan, Anda harus makan sekitar 40 lbs sayuran segar dan / atau buah-buahan (yang banyak sayuran!) hanya untuk mendapatkan yodium sebanyak yang Anda makan dari 1 gram rumput laut.
  • Manfaat Rumput Laut
  • Lupakan diet dengan mengurangi makan. Satu-satunya cara untuk mengurangi dan mempertahankan berat badan Anda adalah makan makanan yang sehat dah berolahraga. Tumbuhan laut membantu membakar dan melunturkan lemak dari tubuh Anda.
  • Lelah dengan derita alergi yang Anda alami? Sistem imun Anda yang lemah mengakibatkan pilek dan bersin-bersin di pagi hari. Perkuat system imun Anda dengan mengkonsumsi rumput laut tiap hari.
  • Rumput laut sangat kaya akan serat. Usus kita akan bekerja lebih baik ketika mendapat asupan rumput laut setiap hari. Rumput laut membersihkan sistem pencernaan ; meringankan, menawarkan racun, dan dan memelihara permukaan yang tertekan; membantu metabolisme lipid; dan mempertahankan keseimbangan yang sehat pada ragi dan bakteri yang tercerna pada usus.
  • Konsumsi rutin berbagai jenis rumput laut tidak hanya membuat organ kita menjadi lebih sehat, tetapi juga membuat rambut Anda menjadi lebih berkilau dan kulit menjadi bercahaya. Manfaat yang utama dari rumput laut ini, terutama vitamin A.
  • Rumput laut termasuk makanan ringan untuk mengontrol berat badan karena hanya memiliki 5 hingga 20 kalori tiap penyajian dan tidak mengandung lemak. Kandungan seratnya juga menyebabkan rasa kenyang.
  • Peneliti dari Jepang di Universitas Hokkaido menemukan bahwa substansi dari rumput laut yang berwarna coklat yang bernama fucoxanthin membantu mengurangi akumulasi lemak dalam sel tubuh hewan ketika di teiliti di laboratorium—meskipun tidak ada bukti yang hasilnya terbukti pada manusia.
  • Butiran rumput laut telah diuji di Inggris sebagai zat perisa pengganti sodium pada snack dan produk makanan olahan. dapat menurunkan resiko tekanan darah tinggi, yang mengurangi resiko serangna jantung atau stroke.
  • Sodium yang muncul secara alami pada beberapa tipe rumput laut membersihkan badan kita dengan, dibutuhkan oleh kelenjar kita. Sodium itu juga membantu fungsi syaraf dan otot. Ya, garam sangat sehta jika dikonsumsi pada kadar yang sewajarnya.
  • Ketika dikonsumsi sebagai bagian dari menu sehari-hari, rumput laut dapa menyeimbangkan gula darah karena kandungan serat yang mudah larut ini membantu memperlambat tingkat makanan yang tercrna dan terserap dalam aliran darah.
  • Agar-agar merupakan makanan yang terbuat dari rumput laut yang mengandung serat yang gampang dicerna. Ketika dikonsumsi sebagai obat pencahar, agar-agar terlarut dalam air di dalam usus dan diserap. Proses ini menciptakan pergerakan dalam usus yang melacarkan buang air besar.
  • Rumput laut serta ekstrak rumput laut membantu dalam detoksifikasi tubuh.
  • Rumput laut dalam bentuk apapun bermanfaat untuk kesehatan kulit seperti eksim dan psoriasis.
  • Bila ditambahkan ke dalam makanan Anda, ekstrak rumput laut membuat makanan Anda ‘tinggi serat makanan’, yang membantu meningkatkan kesehatan pencernaan Anda dan juga kesehatan secara keseluruhan.
  • Alginat dari rumput laut membantu meningkatkan metabolisme dan dengan demikian, dapat mencegah kenaikan berat badan dari konsumsi tinggi lemak, makanan berkalori tinggi.
  • Rumput laut atau ekstrak rumput laut dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan, membantu tubuh melawan infeksi virus seperti herpes.
  • Seanol, antioksidan kuat dari rumput laut membantu meningkatkan kewaspadaan mental dan energi. Ini menghambat pertumbuhan radikal bebas yang membantu mengurangi kemungkinan pertumbuhan sel kanker.
  • Rumput laut dapat meringankan gejala osteoartritis oleh sekitar 15%. Peningkatan mobilitas dan penurunan nyeri adalah melihat pada pasien arthritis setelah penggunaan rutin ekstrak rumput laut.
 Sumber : http://infomanfaat.com/83/manfaat-rumput-laut/tanaman

Selasa, 01 Juli 2014

Pemanfaatan Selulosa dari Limbah Rumput Laut (Gelidiella acerosa ) sebagai Boikomposit yang Ramah Lingkungan

Pemanfaatan Selulosa dari Limbah Rumput Laut (Gelidiella acerosa ) sebagai Boikomposit yang Ramah Lingkungan

Oleh  : Achmad Fathony (Pacitan Indonesia)




Latar Belakang Masalah
 
            Dewasa ini, pengunaan material komposit mulai banyak dikembangkan dalam dunia industri manufaktur. Pengunaan material komposit yang ramah lingkungan dan bisa didaur ulang kembali, merupakan tuntutan teknologi saat ini. Salah satu material komposit yang diharapkan di dunia industri yaitu material komposit dengan material pengisi (filler) baik yang berupa serat alami maupun serat buatan. Pada dasarnya material komposit merupakan gabungan dari dua atau lebih material yang berbeda menjadi suatu bentuk unit mikroskopik, yang terbuat dari bermacam-macam kombinasi sifat atau gabungan antara serat dan matrik. Saat ini bahan komposit yang diperkuat dengan serat merupakan bahan teknik yang banyak digunakan karena kekuatan dan kekakuan spesifik yang jauh di atas bahan teknik pada umumnya, sehingga sifatnya dapat didesain mendekati kebutuhan (Jones, 1975).
 
Penelitian yang mengarah pada pengembangan bahan komposit telah banyak dilakukan, terutama yang berkaitan dengan komposit penguatan serat alam yang berbahan matrik polimer. Pada dekade terakhir, komposit serat alam dengan termoplastik dan termoset telah digunakan oleh produsen mobil Eropa untuk  door panel, seat back, headliner, package tray, dashboard dan trunk liner. Perkembangan teknologi dengan menggunakan komposit serat alam banyak difokuskan pada komposit yang didasarkan polypropylene (Wulandari, 2009).
 
Serat alami adalah serat yang dihasilkan dari bahan-bahan alam. Serat alami banyak digunakan sebagai material pengisi dan memperkuat komposit. Serat alami yang sering dimanfaatkan pengisi komposit, diantaranya enceng gondok, daun nanas, jerami dan masih banyak serat alami yang lain yang biasa dimanfaatkan. Serat alami juga mempunyai keuntungan, yaitu jumlahnya berlimpah, memiliki specific cost yang rendah (Sanadi, 1992; Yam, 1990), dapat diperbarui, densitas rendah, bebas CO2, non-abrasive dan dapat daur ulang, serta tidak mencemari lingkungan (Gauthier, 1998). Serat alami mengandung lignoselulosa yang banyak ditemukan pada tanaman. Salah satu sumber lignoselulosa yang belum digunakan sebagai bahan pengisi dan penguat komposit adalah rumput laut.
 
Rumput laut merupakan tanaman yang hidup di perairan, yang mempunyai produktivitas tinggi. Berdasarkan catatan Ditjen Perikanan Budi Daya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), produksi rumput laut nasional pada 2004 baru sekitar 410.570 ton. Pada 2005 angka itu meningkat menjadi 910.636 ton. Tahun 2007 meningkat lagi menjadi 1.079.850 ton. Adapun area strategis yang dapat digunakan untuk budi daya rumput laut di seluruh Indonesia adalah 21.500 hektare.
 
Selama ini rumput laut banyak diolah menjadi karagenan. Besarnya potensi dan prospek pengolahan rumput laut masih belum diimbangi dengan penanganan limbah dari pengolahannya. Untuk diketahui bahwa limbah dari pengolahan rumput laut sebesar 65 persen. Selama ini limbah rumput laut cenderung terbuang dan menjadi sampah organik. Sebuah data menyebutkan, pada 2008 limbah pengolahan rumput laut mencapai 1.682.545 ton (Nuryati, 2009). Limbah sebanyak itu ternyata masih menjadi masalah yang perlu dicarikan solusinya, yakni dengan memanfaatkannya menjadi produk yang bisa memberikan nilai tambah pada usaha pengolahan rumput laut selain dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan. Salah satu pemanfaatan limbah rumput laut adalah sebagai biometerial pengisi dan penguat komposit
 
Limbah rumput laut kaya akan kandungan lignoselulosa. Muzakir (2009) menyatakan bahwa ampas rumput laut mengandung lignoselulosa yang tinggi. JECFA (2007) menambahkan bahwa kandungan rumput laut (Gelidiella acerosa.) mencapai 13,65% selulosa. Selulosa merupakan serat alami sebgai bahan pengisi dan penguat material komposit. Namun, kelemahan serat alami sebagai material komposit adalah moisture absorption tinggi dan sifat adhesi serat/ matriks tidak bagus sehingga memberikan sifat mekanik yang rendah pada natural fibre composites. Oleh karena itu, perlu penambahan perlakuan kimia pada serat alam yaitu dengan menambahkan maleic anhydride pada polypropylene dapat meningkatkan sifat kebasahan (wetting) dari serat alam dan memperkuat ikatan serat/matriks.
 
Limbah rumput laut merupakan serat alami yang kaya akan lignoselulosa (selulosa), yang dapat dimanfaatkan sebagai biomaterial pengisi dan penguat komposit. Kelebihan serat alami sebagai biomaterial komposit adalah memiliki specific cost yang rendah, dapat diperbarui, densitas rendah, bebas CO2, non-abrasive dan dapat daur ulang, serta tidak mencemari lingkungan. Namun serat alami juga memiliki kelemahan, yaitu moisture absorption tinggi dan sifat adhesi serat/ matriks tidak bagus sehingga memberikan sifat mekanik yang rendah pada natural fibre composites. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian mengenai komposit dari serat rumput laut dengan menambahkan maleic anhydride pada polypropylene dapat meningkatkan sifat kebasahan (wetting) dari serat alam dan memperkuat ikatan serat/matriks.
 
Selengkapnya ada di tautan ini (Sumber) :  http://tonyachmad-smartboy.blogspot.com/2010/11/pemanfaatan-selulosa-dari-limbah-rumput.html
 
 
2.         Rumput Laut (Gelidiella acerosa)
Rumput laut adalah salah satu sumber daya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati.

2.1       Klasifikasi dan Karakteristik Rumput Laut (Gelidium sp)
            Klasifikasi rumput laut (Gelidium sp)adalah
Devisi              : Rhodophyta
Kelas               : Rhodophyceae
Sub kelas         : Florideae
Ordo                : Gigartinales
Famili              : Solieriaceae
Gambar 5. Eucheuma sp.
 
Genus              : Eucheuma
Spesies             : Eucheuma sp.

            Eucheuma sp. merupakan tanaman yang hidup dilaut. Eucheuma sp. tumbuh pada tempat-tempat yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya, antara lain tumbuh pada perairan yang jernih, dasar perairannya berpasir atau berlumpur dan hidupnya menempel pada karang yang mati. Persyaratan hidup lainnya yaitu ada arus atau terkena gerakan air. Kadar garamnya antara 28-36 %. Dari beberapa persyaratan, yang terpenting adalah Eucheuma sp. memerlukan sinar matahari untuk dapat melakukan fotosintesis (Aslan, 1998).
 
            Bentuk dari Eucheuma sp. tidak mempunyai perbedaan susunan kerangka antara akar, batang, dan daun. Keseluruhan tanaman ini merupakan batang yang dikenal sebagai talus (thallus). Thallus ada yang berbentuk bulat, silindris atau gepeng bercabang-cabang. Rumpun terbentuk oleh berbagai sistem percabangan ada yang tampak sederhana berupa filamen dan ada pula yang berupa percabangan kompleks. Jumlah setiap percabangan ada yang runcing dan ada yang tumpul. Permukaan kulit luar agak kasar, karena mempunyai gerigi dan bintik-bintik kasar. Eucheuma spinosum memiliki permukaan licin, berwarna coklat tua, hijau coklat, hijau kuning, atau merah ungu. Tingginya dapat mencapai 30 cm. Eucheuma spinosum tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun dengn ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari. Cabang-cabang tersebut ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk.

2.2       Komposisi kimia rumput laut Eucheuma sp.
Rumput laut merupakan salah satu sumber nutrisi yang bagus. Rumput laut mengandung komposisi kimia, baik makronutrisi maupun mikronutrisi. Makronutrisi rumput laut meliputi protein, lemak, kabohidrat, abu, air dan serat. Sementara kandungan mikronutrisi rumput laut yaitu vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, E dan juga aneka mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, natrium, zat besi, selenium, dan iodium. Adapun kandungan makronutrisi dan mikronutrisi rumput laut, sebagai berikut:

Tabel 5. Komposisi kimia rumput laut (Eucheuma sp.)
Komponen Kimia
Komposisi
Kadar air
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat kasar
Abu
Mineral :
Ca
Fe
Cu
Pb
Vit B1 (Thiamin)
Vit B2 (Ribolavin)
Vit C
Keragenan
21,90 (%)
5,12 (%)
0,13 (%)
13,38 (%)
1,39 (%)
14,21 (%)
52,85 ppm
0,180 ppm
0,768 ppm
-
0,21 mg/100g
2,26 mg/100g
43 mg/100g
65,75 %
Sumber: Supriyadi (2000)
 
2.3       Serat Rumput Laut (Eucheuma sp.)
 
            Berdasarkan catatan Ditjen Perikanan Budi Daya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), produksi rumput laut nasional pada 2004 baru sekitar 410.570 ton. Pada 2005 angka itu meningkat menjadi 910.636 ton. Tahun 2007 meningkat lagi menjadi 1.079.850 ton. Adapun area strategis yang dapat digunakan untuk budi daya rumput laut di seluruh Indonesia adalah 21.500 hektare.
 
Selama ini rumput laut banyak diolah menjadi karagenan. Besarnya potensi dan prospek pengolahan rumput laut masih belum diimbangi dengan penanganan limbah dari pengolahannya. Untuk diketahui bahwa limbah dari pengolahan rumput laut sebesar 65 persen. Selama ini limbah rumput laut cenderung terbuang dan menjadi sampah organik. Sebuah data menyebutkan, pada 2008 limbah pengolahan rumput laut mencapai 1.682.545 ton. Limbah sebanyak itu ternyata masih menjadi masalah yang perlu dicarikan solusinya, yakni dengan memanfaatkannya menjadi produk yang bisa memberikan nilai tambah pada usaha pengolahan rumput laut selain dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan.
 
            Rumput laut (Eucheuma sp.) mengandung serat, yang terdiri dari selulosa dan hemiselulosa. Mudzakir (2009) melaporkan bahwa selulosa yang terdapat pada ampas rumput laut tidak murni, namun bercampur bersama lignin sehingga membentuk lignoselulosa. JECFA (2007) menambahkan bahwa kandungan rumput laut (Euchiuma sp.) mencapai 15% selulosa.

2.3.1 Selulosa Rumput Laut (Eucheuma sp.)
           
            Rumput laut (Eucheuma sp.) mengandung selulosa dalam bentuk lignoselulosa. Untuk pemisahan selulosa dari ligno selulosa melalui proses ekstraksi. Proses ekstraksi untuk mendapatkan selulosa dari lignoselulosa rumput laut, dimulai dari pemanasan ampas rumput laut yang telah diblender bercampur air pada suhu 80-900 C selama kurang lebih 30 menit. Setelah dingin, ampas rumput laut disaring dan diambil filtrat-nya, kemudian ditambahkan etanol dan disimpan dalam freezer selama 18 jam. Setelah 18 jam didinginkan, filtrat lalu dicairkan pada suhu ruang kemudian disentrifugasi. Hasil sentrifugasi kemudian membentuk endapan. Endapan tersebut dilakukan kembali setelah ditambahkan air 1:2 (b:v).
 
            Larutan yang telah dipanaskan tadi kemudian ditambahkan sodium hidroksida (NaOH). Sodium hidroksida (NaOH) alias soda kue inilah yang kemudian berperan memisahkan lignin dari selulosa dan hemiselulosa yang menyelimuti. Penelitian belum selesai sampai disini. Selulosa dan hemiselulosa hasil pisahan tadi harus bertaut. Maka digunakanlah karbondisulfit atau CS2 sebagai penautan. Untuk menghasilkan serat, selulosa dan hemisellulosa yang telah bertaut tadi harus kembali didinginkan selama 18 jam, sehingga membentuk gumpalan. Gumpalan ini kemudian dimasukkan ke dalam spinneret atau mesinpintal. Dalam tekanan udara dan putaran yang sangat tinggi, keluarlah serat-serat dengan diameter lebih kecil dari 0,1 mm dari 50 titik.

3.         Polipropilena
 
3.1       Pengertian Polipropilena
 
            Polipropilena atau polipropena (PP) adalah sebuah polimer termo-plastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah terpakaikan ulang serta bagian plastik, perlengkapan labolatorium, pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer. Polimer adisi yang terbuat dari propilena monomer, permukaannya tidak rata serta memiliki sifat resistan yang tidak biasa terhadap kebanyakan pelarut kimia, basa dan asam. Polipropena biasanya didaur-ulang, dan simbol daur ulangnya adalah nomor "5". 
 
Pengolahan lelehnya polipropilena bisa dicapai melalui ekstrusi dan pencetakan. Metode ekstrusi (peleleran) yang umum menyertakan produksi serat pintal ikat (spun bond) dan tiup (hembus) leleh untuk membentuk gulungan yang panjang buat nantinya diubah menjadi beragam produk yang berguna seperti masker muka, penyaring, popok dan lap.
 
            Teknik pembentukan yang paling umum adalah pencetakan suntik, yang digunakan untuk berbagai bagian seperti cangkir, alat pemotong, botol kecil, topi, wadah, perabotan, dan suku cadang otomotif seperti baterai. Teknik pencetakan tiup dan injection-stretch blow molding juga digunakan, yang melibatkan ekstrusi dan pencetakan.

3.2       Sifat-sifat Polipropilena
 
            Kebanyakan polipropilena komersial merupakan isotaktik dan memiliki kristalinitas tingkat menengah di antara polietilena berdensitas rendah dengan polietilena berdensitas tinggi; modulus Youngnya juga menengah. Melalui penggabungan partikel karet, PP bisa dibuat menjadi liat serta fleksibel, bahkan di suhu yang rendah. Hal ini membolehkan polipropilena digunakan sebagai pengganti berbagai plastik teknik, seperti ABS. Polipropilena memiliki permukaan yang tak rata, seringkali lebih kaku daripada beberapa plastik yang lain, lumayan ekonomis, dan bisa dibuat translusen (bening) saat tak berwarna tapi tidak setransparan polistirena, akrilik maupun plastik tertentu lainnya. Bisa bula dibuat buram dan/atau berwarna-warni melalui penggunaan pigmen, Polipropilena memiliki resistensi yang sangat bagus terhadap kelelahan (bahan). Polipropilena memiliki titik lebur ~160°C (320°F), sebagaimana yang ditentukan Differential Scanning Calorimetry (DSC).
 
            MFR (Melt Flow Rate) maupun MFI (Melt Flow Index) merupakan suatu indikasi berat molekulnya PP serta menentukan seberapa mudahnya bahan mentah yang meleleh akan mengalir saat pengolahan berlangsung. MFR PP yang lebih tinggi akan mengisi cetakan plastik dengan lebih mudah selama berlangsungnya proses produksi pencetakan suntik maupun tiup. Tapi ketika arus leleh (melt flow) meningkat, maka beberapa sifat fisik, seperti kuat dampak, akan menurun.
 
            Ada tiga tipe umumnya PP: homopoli.mer, random copolymer dan impact copolymer atau kopolimer blok. Comonomer yang digunakan adalah etena. Karet etena-propilena yang ditambahkan ke homopolimer PP meningkatkan kuat dampak suhu rendahnya. Monomer etena berpolimer acak yang ditambahkan ke homopolimer PP menurunkan kristalinitas polimer dan membuat polimer lebih tembus pandang.

3.3       Aplikasi Polipropilena
            Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang tak tertentu, contohnya digunakan untuk saringan udara, gas, dan cair dimana serat bisa dibentuk menjadi lembaran atau jaring yang bisa dilipat untuk membentuk kartrij atau lapisan yang menyaring dalam batas-batas 0,5 sampai 30 mikron. Aplikasi ini bisa ditemukan di dalam rumah sebagai saringan air atau saringan tipe pengondisian udara karena menyerap air (hidrofil), bukan yang secara alami menolak air (hidrofobik).
 
            Polipropilena mampu menahan panas di dalam autoklaf. Karenanya polipropilena bisa di manfaatkan untuk penyimpan makanan karena tidak akan meleleh di dalam mesin cuci piring dan selama proses pengisian panas industri berlangsung.Polipropilena juga bisa dibuat menjadi botol sekali pakai untuk menyimpat produk konsumen berbentuk cairan atau tepung, meksi HDPE dan polietilena tereftalatlah yang umum dipakai untuk membuat botol semacam itu. Ember plastik, baterai mobil, kontainer penyejuk, piring, dan kendi sering terbuat dari polipropilena atau HDPE, keduanya memiliki penampilan, rasa, serta sifat yang hampir sama pada suhu ambien.
 
Polipropilena yang berwarna-warni banyak dipakai dalam pembuatan permadani dan tatakan untuk digunakan di rumah.
 
            Militer AS pernah menggunakan polipropilena atau 'polypro' untuk membuat lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang atau celana dalam yang panjang. (Saat ini, poliester menggantikan polipropilena dalam berbagai aplikasi di militer AS. Kaos dari polipropilena tidak mudah terbakar, tapi bisa meleleh yang berakibat pada bekas terbakar pada bagian baju yang terkena apapun jenis ledakan atau api.
 
            Tali yang terbuat dari polipropilena cukup ringan untuk mengapung  di air.Polipropilena digunakan pula sebagai pengganti polivinil klorida (PVC) sebagai insulasi untuk kabel listrik LSZH (Low Smoke Zero Halogen) dalam lingkungan ventilasi-rendah, terutama sekali terowongan. Ini karena PP mengeluarkan sedikit asap serta halogen yang tak bertoksik, yang akan menghasilkan asam dalam kondisi suhu tinggi.
 
            PP jg digunakan dalam duia medis, yang paling umum adalah sebagai bahan pembuat benang jahit untuk operasi yang diberi nama Prolene, yang dibuat oleh Ethicon Inc. Selain itu Polipropilena telah digunakan dalam operasi memperbaiki hernia untuk melindungi tubuh dari hernia baru di lokasi yang sama. Tambalan kecil dari PP yang diletakkan di lokasi hernia, di bawah kulit, tidak menyebabkan rasa saki dan jarang ditolak oleh tubuh.
 
            Polipropilena sangat umum digunakan untuk pencetakan plastik dimana ia disuntikkan ke dalam cetakan dalam keadaan meleleh, membentuk berbagai bentuk yang kompleks pada volume yang tinggi dan biaya yang relatif rendah. Hasilnya bisa berupa tutup botol, botol, dll. Polipropilena juga  diproduksi dalam bentuk lembaran yang telah digunakan secara meluas untuk produksi stationary folder, pengemasan, dan kotak penyimpanan.
 
            Polipropilena dalam bentuk busa disebut juga Expanded Polypropylene (EPP). EPP mempunyai kekakuannya yang rendah sehingga mampu mempertahankan bentuknya sesudah mengalami benturan. Dengan sifat tersebut EPP digunakan secara luas dalam miniatur pesawat dan kendaraan yang dikontrol radio lainnya.
 
 
 
Selengkapnya ada di tautan ini (Sumber) :  http://tonyachmad-smartboy.blogspot.com/2010/11/pemanfaatan-selulosa-dari-limbah-rumput.html