...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Rabu, 06 November 2013

Kualitas Rumput Laut Olahan Indonesia Kalah dari Filipina


Kualitas Rumput Laut Olahan Indonesia Kalah dari Filipina
  Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com
  Print
 
JAKARTA, KOMPAS.com- Kualitas rumput laut olahan terutama jenis Alkali Treated Cottoni (ATC) Filipina lebih unggul dibanding Indonesia.

Direktur Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut Parulian Hutagalung mengatakan, hal itu harus diwaspadai, terlebih Indonesia akan memasuki pasar bebas ASEAN pada 2015.

"Meskipun impornya sedikit 700 ton, tapi kita tetap butuh. Makanya saya pesan pada kawan-kawan (pabrik pengolahan) untuk meningkatkan kualitas," kata Saut kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (4/10/2013).

Sepanjang 2012 Indonesia masih mengimpor 700 ton karagenan (hasil ekstraksi rumput laut) dari China dan Filipina. Sejak 2 tahun lalu pemerintah memang terus mendorong tumbuhnya pabrik pengolahan rumput laut.

Sejauh ini sudah ada 27 pabrik pengolahan, namun baru dua di antaranya yang bisa memenuhi permintaan pasar karagenan sesuai dengan spesifikasi pasar. "Sisanya itu ATC, dan Semi Refined Caraginan (SRF), itu tepungnya masih kurang putih dibanding China dan Filipina," kata dia.

Permintaan industri lokal bertumbuh, sementara pasokan caraginan yang sesuai permintaan dari dalam negeri masih kurang. Akibatnya, impor masih menjadi pilihan. Namun, Saut berharap ke depan blending (campuran bahan baku caraginan lebih besar dari produksi dalam negeri.

"Harapannya tahun ini pun impor kita bisa ditekan sampai 40 persen," ujarnya. Saut mengatakan permintaan tertinggi karagenan berasal dari industri pengolahaan daging, seperti untuk membungkus sosis. Selain itu, caraginan juga digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman seperti eskrim.

Sumber : http://www.jasuda.net/index_mbr.php?page=berita_detail&recordID=571

Industri Rumput Laut Indonesia Tertinggal dari Filipina & China


Pengusaha: Industri Rumput Laut Indonesia Tertinggal dari Filipina & China
Sumber: http://suarapengusaha.com/
 
 
SPC, Jakarta – Budidaya rumput laut Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara pesaingnya seperti Filipina dan China. Indonesia dianggap baru masuk dalam tahap pertumbuhan.

Namun seiring upaya keras pelaku di sektor pertanian ini, posisi Indonesia sebagai penghasil rumput laut mulai diperhitungkan dunia. Terbukti dar keputusan penyelenggaraan simposium rumput laut bertaraf internasional yang kali ini mengambil tema ‘Seaweed Science for Sustainable Prosperity’ di Bali, akhir April mendatang.

“Ini merupakan legitimasi dunia,” ujar Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/2/2013).

Indonesia pertama kali mengekspor rumput laut kering hasil budidaya jenis Eucheuma spinosum dari pantai Terora, Nusa Dua, Bali pada 1981. Pada 1982, Pemrakarsa rumput laut di Indonesia, Hariadi Adnan, membawa enam kilogram bibit Eucheuma Cottonii dari Filipina yang berkembang sampai sekarang ke hampir seluruh pelosok tanah air.

Indonesia pertama kali melampaui volume produksi rumput laut Filipina pada 2008. Pencapaian ini membuat International Seaweed Association (ISA) pada International Seaweed Symposium ke-20 di Meksiko memutuskan bahwa Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan International Seaweed Symposium 2013.

Dengan sejumlah perkembangan yang ada, ARLI mengusulkan perlunya penataan pola dan strategi pengembangan rumput laut nasional. Selama ini diakui, evaluasi industri pengolahan yang telah dan akan dibangun oleh pemerintah di beberapa daerah dibuat tanpa perencanaan dan studi kelayakan yang matang.

ARLI juga menyesalkan belum adanya tindak lanjut pemerintah terhadap usulan pembuatan Peta Jalan Rumput Laut Naisonal yang sudah sejak lama diusulkan. Padahal, Indonesia berpeluang menjadi negara terkemuka di bidang rumput laut.

Sumber : http://www.jasuda.net/index_mbr.php?page=berita_detail&recordID=541

Panen Pertama Rumput Laut di Kotawaringin Barat Kalteng


Panen Pertama Rumput Laut di Kotawaringin Barat Kalteng




Selasa, 4 Mei 2010 dilakukan panen perdana program budidaya rumput laut. Panen perdana
yang dilakukan di Desa Teluk Bogam tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, SH., didampingi Bupati Kobar Dr. H. Ujang Iskandar, ST, M.Si serta Wakil Bupati Kobar Drs.H. Sukirman, M.Si dan Unsur Muspida Kabupaten Kotawaringin Barat. Dalam panen perdana ini dihasilkan rumput laut sebanyak 60 ton dari 50 jalur tanam. Gubernur dan bupati juga secara langsung menarik sebuah jalur tanam rumput laut.

Dalam sambutannya, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, SH mengungkapkan keberhasilan program budidaya rumput laut tersebut hingga sampai saat panen adalah berkat kerjasama semua pihak, baik itu pemprop, pemkab maupun masyarakat nelayan. Gubernur Kalteng berharap panen rumput laut ini terus berkelanjutan.

Potensi yang ada saat ini tidak boleh berhenti dan harus bisa dikembangkan.Selain itu kedepannya disiapkan industri rumput laut dari hulu ke hilir. Rencana ke depan akan dibangun pabrik agar-agar dan kosmetik yang  berbahan baku rumput laut. Ada 7 kabupaten yang ada di provinsi Kalimantan
Tengah yang langsung menghadap laut, panjang garis pantai yang ada mencapai 750 km, sekitar 156 km panjang garis pantai berada di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, Ini merupakan aset yang bisa dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu Bupati Kotawaringin Barat Dr. H. Ujang Iskandar, ST, M.Si mengatakan bahwa
kedatangan Gubernur Kalimantan Tengah untuk melaksanakan panen perdana rumput laut diharapkan akan memotivasi masyarakat, khususnya para nelayan dan petani rumput laut untuk terus meningkatkan hasil produksinya. Bupati juga mengungkapkan keinginannya agar 500 Ha lahan potensial yang bisa memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dan kabupaten Kotawaringin Barat.

Saat ini potensi pengembangan budidaya rumput laut di kabupaten Kotawaringin Barat seluas
500 Ha yang tersebar di dua kecamatan, yaitu kecamatan Kumai dan kecamatan Arut Selatan dan di bagi kedalam dua wilayah yaitu wilayah timur dan barat. Untuk wilayah Barat terdiri dari 5 desa yaitu : Desa Kubu, Desa Bakau, Desa Teluk Bogam, Desa Keraya dan Desa Sebuai. Sedangkan wilyah Timur terdiri dari 2 desa,  yaitu Desa Teluk Pulai dan Desa Sungai Cabang Timur. Khusus untuk Desa Teluk Bogam, sampai dengan awal tahun 2010 produksi yang sudah dihasilkan adalah sebanyak 70 ton. Lebih lanjut Bupati Kobar mengatakan bahwa kebutuhan rumput laut di negara kita saat ini sebanyak 40.000 ton/tahun, sebanyak 22.000 ton untuk pasar dalam negeri dan 18.000 ton untuk  kebutuhan ekspor. Saat ini dari total kebutuhan tersebut baru dapat dipenuhi sekitar 30.000 ton/tahun. Dengan demikian peluang usaha budidaya rumput laut masih terbuka lebar.


Penanaman Rumput laut sebagai revitalisasi perikanan

Rumput laut memiliki berbagai keunggulan dibandingkan produk kelautan lainnya. Keunggulan
itu antara lain peluang ekspornya yang masih terbuka luas, harganya relatif stabil, dan belum ada kuota perdagangan bagi rumput laut. Keunggulan lainya adalah yaitu teknologi pembudidayaanya yang sederhana sehingga mudah dikuasai petani, siklus budidayanya relatif singkat sehingga cepat memberikan penghasilan dan keuntungan, kebutuhan modal relatif kecil. Dan pembudidayaan
rumput laut tergolong usaha padat karya. Disisi lain, rumput laut ramah lingkungan dan tidak ada produk sintetisnya.

Hal inilah yang menjadi sasaran dari program yang digalakkan pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. Program budidaya rumput laut di kabupaten Kotawaringin Barat ini mulai dijajaki sejak tahun 2001 dan dikembangkan pada tahun 2003 melalui beberapa kegiatan pendampigan diantaranya adalah penyediaan teknologi anjuran budidaya rumput laut, pengembangan budidaya rumput laut secara masal,  pelatihan budidaya dan pengolahan rumput laut, penyediaan sarana dan prasarana
penanganan pasca panen, serta bantuan modal usaha bagi masyarakat pembudidaya.

Dampak keberhasilan program budidaya rumput laut ini sangat dirasakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal dipesisir pantai. Kondisi ekonomi akhir – akhir ini memaksa masyarakat untuk mencari lahan baru sebagai mata pencarian Budidaya rumput laut ini mampu menjadi alternatif pilihan sebagai mata pencarian baru bagi masyarakat. Hal ini lah yang berdampak langsung pada masyarakat yaitu berupa peningkatan penghasilan.

Dari sudut pandang lain budidaya rumput laut sangat menguntungkan karena dalam proses budidayanya tidak banyak menuntut tingkat keterampilan tinggi dan modal besar, sehingga dapat dilakukan oleh semua anggota keluarga nelayan termasuk ibu rumah tangga. Selain itu masa panen atau produksinya relatif singkat jika dibandingkan dengan budidaya laut yang lain misalnya bandeng, undang, dan kerang. Pangsa pasar rumput laut juga sanga luas baik dalam maupun luar negeri, bahkan untuk tingkat konsumsi (pasar) taraf lokal pun para pembudidayanya masih kualahan untuk mencukupinya. Belum lagi ditambah permintaan luar negeri yang kian hari semakin meningkat, bahkan bisa dikatakan tidak terbatas. Dengan adanya aktifitas budidaya rumput laut ini tentunya banyak keuntungan yang bisa didapatkan diantaranya berkurangnya jumlah pengangguran, bertambahnya peluang usaha, meningkatnya pendapatan keluarga dan masyarakat serta yang lebih luas adalah bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD) Kab.Kotawaringin Barat.

Kajian Ekonomi Rumput Laut

Mengingat nilai gizi yang terkandung didalamya, menjadikan rumput laut sebagai komoditas yang potensial untuk dikembangkan. Di samping itu, kegunaan rumput laut juga dapat dijadikan bahan makanan seperti agar-agar, sayuran, kue,  dan menghasilan bahan algin, karaginan, dan fluseran yang digunakan dalam indutri farmasi, kosmetik, tekstil dan lain sebagainya.

Ditinjau dari sisi lahan, usaha budidaya rumput laut tidak banyak kendala. Budidaya dapat dilakukan di hampir seluruh wilayah perairan laut nusantara, namun tergantung pada jenis dan metode budidayanya serta jenis rumput laut yang akan dibudidayakan. Dari sisi penerapan teknologi, budidaya rumput laut juga lebih mudah, efisien serta ekonomis mudah, dibandingkan teknologi yang digunakan dalam budidaya produk kelautan lainnya.

Rumput laut juga mengambil peran sangat penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan petani ikan serta mampu menjaga kelestarian sumber daya hayati perairan.

Dampak lain yang didapat dengan adanya aktifitas budidayanya rumput laut ini adalah adanya persaingan usaha yang semakin ketat sehingga roda perekonomian akan terus berjalan, selanjutnya berakibat terciptanya iklim usaha yang semakin kondusif dan pada akhirnya tercipta peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat pesisir khususnya dan masyarakat kabupaten Kotawaringin Barat pada umumnya.

Potensi Rumput Laut di Kabupaten Kotawaringin Barat

Potensi pengembangan rumput laut di kab. Kotawaringin Barat seluas 500 Ha yang tersebar di dua kecamatan yaitu kecamatan Kumai dan kecamatan Arut Selatan.di bagi dalam dua wilayah, yaitu wilayah timur dan wilayah barat. Untuk Wilayah Barat terdiri dari 5 desa yaitu : Desa Kubu, Desa Bakau, Desa Teluk Bogam, Desa Keraya, dan Desa Sebuai. Sedangkan Wilayah Timur terdiri dai dari 2 desa yaitu Desa Teluk Pulai dan Desa Sungai Cabang Timur. Khusus untuk desa Teluk Bogam, sampai dengan awal tahun 2010 produksi yang sudah dihasilkan adalah sebanyak 70 ton.

 Sesuai kondisi Geografisnya, kabupaten Kotawaringin Barat memiliki garis pantai sepanjang 156 Km dengan luas 1.250 km2 merupakan kawasan pesisir laut yang potensial untuk pengembangan usaha perikanan tangkap maupun bididaya. Selain itu ditambah kondisi pantai yang tidak terlalu curam,relatif bersih, berpasir putih dan gelombang laut yang tidak terlalu besar. Hal inilah yang menjadikan betapa kawasan di pesisir pantai Kotawaingin Barat merupakan kawasan yang cocok
untuk pengembangan budidaya rumput laut.

Melihat potensi pengembangan rumput laut di Kabupaten Kotawaringin Barat yang sangat menjanjikan itu, maka pada tahun ini nelayan-nelayan asal Desa Teluk Bogam,  Kotawaringin Barat mulai melakukan pembudidayaan rumput laut.
“Memang benar di sini sekarang ada pengembangan budidaya rumput laut. Dan sudah ada tiga kelompok disini, “ Kata Asfan salah satu ketua kelompok. Menurut dia bahwa dengan adanya budidaya baru ini sangat membantu penaikan sektor ekonomi nelayan. Pasalnya, selama ini nelayan di Teluk Bogam masih bergantung dengan hasil tangakapan laut yang terkadang tidak menentu.

Dengan adanya ini maka setidaknya bisa menjadi salah satu sektor pendapatan baru bagi warga di sini.  Saat ini sudah ada 3 kelompok yang terbentuk dan setiap kelompok beranggotakan sekitar 10 orang warga.   Dengan perawatan rumput laut ini memang sedikit merepotkan tapi tidak menyulitkan.  Maksud nya yaitu nelayan harus rutin setiap hari melihat dan memeriksa kondisi rumput laut. Dan untuk memeriksa ini dilakukan bergiliran sesuai dengan kelompoknya. Setiap kelompok mengelola dengan petak yang berbeda.  Setiap petak ini sudah diberikan benih rumput laut dengan benih sekitar kurang lebih satu ton. Yang membuat nelayan kaget ternyata dari benih 21 ton ini menghasilakan hasil sepuluh kali lipat atau 10 ton.

(Diterbitkan Oleh : Bagian Humas Setda Kabupaten Kotawaringin Barat di Buletin Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat)
Sumber : http://cybex.deptan.go.id/lokalita/panen-pertama-rumput-laut


Selasa, 05 November 2013

Pengering Rumput Laut Tenaga Surya di Banten





 
 
Rumput laut merupakan salah satu komoditas sektor kelautan dan perikanan yang memiliki potensi ekonomi sangat baik dengan daya serap pasar yang sangat besar baik untuk tujuan pangan atau non pangan. Salah satu kendala untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk rumput laut ini adalah ketersediaan teknologi pengering yang tepat dan cukup mudah untuk dioperasikan oleh para petani di sentra-sentra produksinya di daerah.
 Kenyataannya sebagian besar produksi hasil rumput laut seringkali tidak memiliki kemampuan atau teknologi yang memadai untuk pengeringan sehingga produksinya bernilai ekonomi rendah. Karena permasalahan tersebut di atas maka perlu dirancang suatu Alat Pengering Tenaga Surya Hibrid yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan itu.
 Dengan alat pengering ini diharapkan dapat dihasilkan rumput laut kering ( jenis gracillaria,sp dan cottoni) yang mempunyai tingkat mutu kekeringan sesuai dengan yang dipersyaratkan secara lebih merata baik dari sisi kadar air maupun dari sisi warnanya yang hitam seragam dan dengan waktu pengeringan yang lebih cepat. Dari sisi nilai ekonomi, dapat mengurangi atau menghemat pemakaian bahan bakar konvensial dengan memanfaatkan sumber energi matahari.
  1. Pengering Rumput Laut Surya Thermal Hibrid kapasitas 4 ton/hari Lokasi penerapan : Desa Tenjo ayu  Kecamatan Tanara Kab Serang propinsi Banten


Spesifikasi Peralatan:
 Model : bed dryer
 Konsumsi Power : 600 W
 Kapasitas : 4000 kg
 Temperatur : 55 – 60 o C
 Bahan bakar gasifier biomassa : sekam padi
 Dimensi :
 -          green house ( p x l x t) : 14,5 x 7 x 2,7 (m)
 -          ruang pengering ( p x l x t): 12 x 3 x 1,1 (m)
 -          biomassa gasifier burner ( p x l x t) : 1,5 x 1,5 x 2 (m)
 -          kolektor ( p x l x t): 14,5 x 4 x 0,2
   
  1. Pengering Rumput Laut Surya Thermal Hibrid kapasitas 2 ton/hari
          Lokasi Penerapan : desa Kemayungan kecamatan Pontang kabupaten Serang propinsi Banten


Spesifikasi Peralatan:
 Model : tray dryer
 Konsumsi Power : 250 W
 Kapasitas : 2000 kg
 Temperatur : 55 – 60 o C
 Bahan bakar tungku biomassa : multifuel
 Dimensi :
 -          green house ( p x l x t) : 8 x 2 x 2,1 (m)
 -          biomassa burner ( p x l x t) : 0,6 x 0,6 x 0,7 (m)
 -          kolektor ( p x l x t): 8 x 2,02 x 0,2 (m)

Penulis : Titik Nurmawati, ST

Sumber : http://b2te.bppt.go.id/index.php/hasil-riset/98-hasil-riset-b2te/169-pengering-rumput-laut.html


Senin, 04 November 2013

Dahlan Iskan: Kurangi Impor Rumput Laut







Dahlan: Kurangi Impor Rumput Laut 

Penulis : Didik Purwanto

Menteri BUMN Dahlan Iskan prihatin dengan kondisi petani rumput laut di tanah air. Di tengah membludaknya rumput laut di daerah, namun impor rumput laut justru masih tinggi.
Berdasarkan hitungan Dahlan, Indonesia masih mengimpor 1.200 ton per tahun untuk produk olahan rumput laut. Misalnya dari makanan, kosmetik hingga pengikat kapsul. Apalagi produsen penghasil karagenan (produk olahan rumput laut) di Indonesia hanya tiga, yaitu dua milik asing dan hanya satu milik produsen dalam negeri.

Sehingga pihaknya mendorong produsen karagenan dalam negeri untuk bisa membangun sentra-sentra produksi karagenan di daerah penghasil rumput laut di tanah air. Hal ini diharapkan bisa menekan impor olahan rumput laut yang tinggi tersebut.

"Kekayaan terbesar Indonesia adalah laut. Indonesia juga memiliki kekayaan rumput laut terbanyak di dunia. Pembangunan produsen karagenan ini bisa menekan impor yang ada," kata Dahlan melalui pesan singkatnya kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (28/1/2013).

Keinginan pemerintah untuk bisa swasembada rumput laut ini disebabkan karena Dahlan telah melihat produsen karagenan di Desa Kurung Kecamatan Kejayan Pasuruan Jawa Timur. Satu-satunya pabrik milik orang lokal ini mampu menghasilkan karagenan yang sama dengan milik asing. Pabrik ini sudah menghasilkan karagenan sebesar 40 ton per bulan.

Saat menjadi tepung karagenan mampu dijual dengan harga 13 dollar AS atau sekitar Rp 120.000. Untuk pembuatan karagenan tersebut, pabrik ini memerlukan bahan baku 5 ton rumput laut per hari dengan harga jual dari petani Rp 6.000-8.000 per kg. Sementara sampai pabrik ini dijual dengan harga Rp 10.000-11.000 per kg.

Dengan kondisi tersebut, BUMN akan menjajaki kemungkinan untuk membangun pabrik seperti ini di pusat-pusat penghasil rumput laut. "Ini akan mengentaskan kemiskinan masyarakat nelayan di Indonesia Timur," tambahnya.

Sekadar catatan, di China sudah ada 600 pabrik karagenan sejenis. Menurut ahli dunia, ada 11 titik tempat penanaman rumput laut terbaik di dunia dan enam titik di antaranya ada di Indonesia.
Editor : Erlangga Djumena 
 
Sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/01/28/09521996/Dahlan.Kurangi.Impor.Rumput.Laut
 




Industri hilir rumput laut makin bergairah

Industri hilir rumput laut makin bergairah

Industri hilir rumput laut makin bergairah

Enam perusahaan akan menanamkan investasi di sektor hilir rumput laut tahun ini. Dengan total nilai investasi sekitar Rp 165 miliar, masing-masing  perusahaan itu membangun fasilitas pengolahan rumput laut, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 100 ton per bulan
Mengutip data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), enam perusahaan yang akan menanamkan uangnya di sektor hilir rumput laut tersebut antara lain PT Hydrocolloid, PT Java Biocolloid, PT Indo Seaweed, PT Wahyu Bima Sakti dan CV Sriwijaya.

Keenam perusahaan tersebut akan menghasilkan produk-produk olahan rumput laut seperti semi refined carrageenan (SRC) dan refined carrageenan (RC).

Michael Agusta, Direktur Java Biocolloid, mengatakan, perusahaan tersebut tertarik membangun usaha di Indonesia karena melimpahnya bahan baku rumput laut. "Bahan baku kami peroleh dari sistem kemitraan dengan petani rumput laut lokal," tutur dia di sela-sela  acara International Seaweed Symposium (ISS) di Bali, Senin (22/4).

Menurut Michael, produksi olahan rumput laut Java Biocolloid adalah carrageenan (karaginan) dan agar-agar. Dengan investasi Rp 80 miliar, kapasitas pabrik baru yang akan dibangun di Surabaya itu mencapai 2.000 ton per tahun. Perinciannya sebanyak 1.500 ton karaginan dan 500 ton tepung agar-agar.

Merujuk ke situs resmi Java Biocolloid, perusahaan itu adalah anak usaha Hakiki Donarta Group. Java Bilocolloid khusus memproduksi hydrocolloids yang diambil dari rumput laut dan bahan tanaman lain.

Saat ini, Java Biocolloid memiliki pabrik pengolahan rumput laut di Pasuruan, Jawa Timur dengan kapasitas produksi 8.000 metrik ton (MT) per tahun agar-agar dan 3.000 MT per tahun produk karaginan. Selain agar-agar dan karaginan, perusahaan ini juga mengembangkan JB stabilizer Series untuk stabilisator bahan pangan.

Hakiki Donarta adalah perusahaan yang bergerak dalam kegiatan distribusi produk makanan. Berbasis di Surabaya, perusahaan itu memiliki produk makanan dengan beberapa merek, antara lain Lankrone, Muhlenchemie, Symrise dan Pak Maya.

Ekspor olahan minim

Anak usaha Hakiki Donarta itu  akan memperketat per-saingan di industri hilir rumput laut. Hingga akhir 2012, KKP mencatat ada 24 perusahaan pengolahan rumput laut di Indonesia. "Program hilirisasi KKP berdampak positif bagi pengembangan bisnis rumput laut," kata Sharif C. Sutardjo, Menteri KKP.

Dengan maraknya kegiatan di sektor hilir, kinerja ekspor rumput laut diharapkan makin kenyal. Tahun lalu nilai ekspor US$ 176 juta, di mana kontribusi ekspor rumput laut olahan hanya 10%. Sebagian besar ekspor masih dalam bentuk rumput laut mentah.

Nilai ekspor masih mini, mengikuti rendahnya produksi 24 perusahaan pengolah rumput laut di dalam negeri. Produksi olahan rumput laut yang tahun lalu cuma 180.000 ton, tahun ini diperkirakan naik 13,8% menjadi 205.000 ton dan naik 15% pada 2014.

Untuk mendukung program hilirisasi,  Sharif menuturkan, pemerintah juga menggenjot produksi hulu. Tahun ini KKP menargetkan produksi rumput laut basah mencapai 7,5 juta ton, naik 30% dibandingkan tahun lalu 5,2 juta ton. Areal potensial budidaya rumput laut di Indonesia mencapai 1.110.900 ha.

Safari Aziz Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), menuturkan, untuk bisa menggenjot bisnis di sektor hilir rumput laut, Indonesia harus bisa meningkatkan daya saing karena produk rumput laut Indonesia masih kalah dari produk China. "Di sana eksportir mendapat keringanan fiskal, hingga harga lebih murah," kata dia.

Sumber : http://industri.kontan.co.id/news/industri-hilir-rumput-laut-makin-bergairah


Mesin Pengering Rumput Laut



Mesin Pengering Rumput Laut

Di sebagian besar kawasan pantai Indonesia banyak terdapat usaha produksi rumput laut dan merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk sekitarnya. Namun kelemahan produk rumput laut selama ini rumput laut dijual dalam keadaan utuh kering sinar matahari (kering kawat) yang kadang-kadang tidak memenuhi standar kadar air sehingga harga jualnya rendah. Dengan peralatan ini maka pengeringan rumput laut akan menghasilkan rumput laut kering yang memenuhi standar perdagangan. Berikut beberapa jenis mesin pengering rumput laut :

1. Mesin Pengering Rumput Laut Model Box Dryer

Spesifikasi :
  • Bahan pelat stenliss atau plat mild steel
  • Lantai pengering : ayakan stenliss atau alumunium
  • Rangka besi profil kotak
  • Kapasitas pengering antara 500 kg/proses – 4 ton/proses (atau sesuai permintaan)
  • Sumber panas dari bahan bakar LPG atau Biomassa
  • Penggerak blower memakai motor diesel / Bensin 5,5 PK atau Elektro listrik 1 Hp

2. Mesin Pengering Rumput Laut

Spesifikasi :
  • Bahan stenliss steel atau mild steel
  • bahan Rak pengering stenliss steel atau alumunium
  • Kapasitas 50 kg/proses
  • Dimensi 2400 X 800 X 1200 mm
  • sistem siklon blower
  • Pemanas memakai gas LPG
  • Pengatur suhu otomatis

3. Mesin Pengering Keraginan Rumput Laut

Spesifikasi
  • Bahan Stenliss steel
  • Bahan stenliss steel
  • bahan Rak pengering stenliss steel
  • Kapasitas 1000 kg/proses (atau sesui permintaan)
  • Dimensi 4000 X 800 X 1200 mm
  • sistem siklon blower
  • Pemanas memakai gas LPG
  • Pengatur suhu otomatis

Info Pemesanan

Hub : Mansur Mashuri | Cp. 0813 2804 2283 | email : rumahmesin@gmail.com

Sumber : http://rumahmesin.com/mesin-pengering-rumput-laut/