...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Sabtu, 05 Oktober 2013

MENCARI TEKNOLOGI PENGERINGAN CEPAT RUMPUT LAUT

Vacuum Belt Dryer 
Vacuum Belt Dryer

Beberapa Alternatif Teknologi Pengeringan untuk Rumput Laut



Vacuum Belt Dryer
Teknologi pemrosesan bahan pangan terus berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan teknologi ini didorong oleh kebutuhan pangan manusia yang terus meningkat yang diakibatkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia. Pada saat yang sama, luas lahan penghasil bahan pangan makin menyempit. Hal tersebut menyebabkan dibutuhkannya teknologi-teknologi pemrosesan pangan yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk makanan; salah satunya adalah teknologi pengeringan bahan makanan.

Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang terjadi dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas kandungan air yang ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber panas dan penerima uap cairan (Sumber: Treybal, 1980).
Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan perubahan kimia pada makanan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air (Sumber : Geankoplis, 1993). Tujuan kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan makanan karena makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil.
Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material. Dalam pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan kelembaban antara udara pengering dengan bahan makanan yang dikeringkan. Material biasanya dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi perpindahan massa air dari material ke udara pengering.

Dalam beberapa kasus, air dihilangkan secara mekanik dari material padat dengan cara di-press, sentrifugasi dan lain sebagainya. Cara ini lebih murah dibandingkan pengeringan dengan menggunakan panas. Kandungan air dari bahan yang sudah dikeringkan bervariasi bergantung dari produk yang ingin dihasilkan. Garam kering mengandung 0.5% air, batu bara mengandung 4% air dan produk makanan mengandung sekitar 5% air. Biasanya pengeringan merupakan proses akhir sebelum pengemasan dan membuat beberapa benda lebih mudah untuk ditangani.

Klasifikasi Pengeringan
Ditinjau dari pergerakan bahan padatnya, pengeringan dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengeringan batch dan pengeringan kontinyu. Pengeringan batch adalah pengeringan dimana bahan yang dikeringakan dimasukan ke dalam alat pengering dan didiamkan selama waktu yang ditentukan. Pengeringan kontinyu adalah pengeringan dimana bahan basah masuk secara sinambung dan bahan kering keluar secara sinambung dari alat pengering.
Berdasarkan kondisi fisik yang digunakan untuk memberikan panas pada sistem dan memindahkan uap air, proses pengeringan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (Sumber: Geankoplis, 1993)
  1. Pengeringan kontak langsung
    Menggunakan udara panas sebagai medium pengering pada tekanan atmosferik. Pada proses ini uap yang terbentuk terbawa oleh udara.
  2. Pengeringan vakum
    Menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan efek radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan rendah.
  3. Pengeringan beku
    Pengeringan yang melibatkan proses sublimasi air dari suatu material beku.
Mekanisme Pengeringan
Ketika benda basah dikeringkan secara termal, ada dua proses yang berlangsung secara simultan, yaitu :
  1. Perpindahan energi dari lingkungan untuk menguapkan air yang terdapat di permukaan benda padat
    Perpindahan energi dari lingkungan ini dapat berlangsung secara konduksi, konveksi , radiasi, atau kombinasi dari ketiganya. Proses ini dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan, laju dan arah aliran udara, bentuk fisik padatan, luas permukaan kontak dengan udara dan tekanan. Proses ini merupakan proses penting selama tahap awal pengeringan ketika air tidak terikat dihilangkan. Penguapan yang terjadi pada permukaan padatan dikendalikan oleh peristiwa difusi uap dari permukaan padatan ke lingkungan melalui lapisan film tipis udara
  2. Perpindahan massa  air yang terdapat di dalam benda ke permukaan
    Ketika terjadi penguapan pada permukaan padatan, terjadi perbedaan temperatur sehingga air mengalir dari bagian dalam benda padat menuju ke permukaan benda padat. Struktur benda padat tersebut akan menentukan mekanisme aliran internal air.
Beberapa mekanisme aliran internal air yang dapat berlangsung :
  1. Diffusi
    Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di bawah titik jenuh atmosferik dan padatan dengan cairan di dalam sistem bersifat mutually soluble.
    Contoh: pengeringan tepung, kertas, kayu, tekstil dan sebagainya.
  2. Capillary flow
    Cairan bergerak mengikuti gaya gravitasi dan kapilaritas. Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di atas titik jenuh atmosferik.
    Contoh: pada pengeringan tanah, pasir, dll.
Benda padat basah yang diletakkan dalam aliran gas kontinyu akan kehilangan kandungan air sampai suatu saat tekanan uap air di dalam padatan sama dengan tekanan parsial uap air dalam gas. Keadaan ini disebut equilibrium dan kandungan air yang berada dalam padatan disebut equilibrium moisture content. Pada kesetimbangan, penghilangan air tidak akan terjadi lagi  kecuali apabila material diletakkan pada lingkungan (gas) dengan relative humidity yang lebih rendah (tekanan parsial uap air yang lebih rendah).

Batch Tray Dryer (Batch Drying)

Tray Dryer

Batch Tray Dryer
Metode batch merupakan metode tray drying yang paling sederhana. Tray dryer terdiri dari bilik pemanasan yang terbuat dari kayu atau logam-logam tertentu. Tray/kolom yang telah dimasukkan material yang ingin dikeringkan kemudian di letakkan secara bersusun dalam kolom. Setelah ruangan ditutup, maka udara panas dialirkan ke dalam ruang pemanas hingga semua bahan menjadi kering.
Udara panas yang masuk dari sebelah bawah ruang menyebabkan material yang ada kolom yang paling bawah menjadi yang paling pertama kering. Setelah tenggat waktu tertentu, tray akan dikeluarkan dan material yang telah kering diambil. Material lain yang ingin dikeringkan dimasukkan dan prosedur terjadi berulang-ulang.

Solar Dryer (Continuous Drying)

Solar Dryer

Solar Dryer
Solar drying merupakan metode pengeringan yang saat ini sering digunakan untuk mengeringkan bahan-bahan makanan hasil panen. Metode ini bersifat ekonomis pada skala pengeringan besar karena biaya operasinya lebih murah dibandingkan dengan pengeringan dengan mesin. Prinsip dari solar drying ini adalah pengeringan dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Perbedaan dari pengeringan dengan sinar matahari biasa adalah solar drying dibantu dengan alat sederhana sedemikian rupa sehingga pengeringan yang dihasilkan lebih efektif.
Metode solar drying sering digunakan untuk mengeringkan padi. Namun karena pada prinsipnya pengeringan adalah untuk mengurangi jumlah air (kelembaban) bahan, maka metode ini juga bisa diaplikasikan untuk bahan makanan lain.

Cara kerja solar dryer adalah sebagai berikut:
Bahan yang ingin dikeringkan dimasukkan ke dalam bilik yang berada pada ketinggian tertentu dari permukaan tanah. Udara sekitar masuk melalui saluran yang dibuat lebih rendah daripada bilik pemanasan dan secara otomatis terpanaskan oleh sinar matahari secara konveksi pada saat udara tersebut mengalir menuju bilik pemanasan. Udara yang telah terpanaskan oleh sinar matahari kemudian masuk kedalam bilik pemanas dan memanaskan bahan makanan. Pengeringan bahan makanan jadi lebih efektif karena pemanasan yang terjadi berasal dari dua arah, yaitu dari sinar matahari secara langsung (radiasi) dan aliran udara panas dari bawah (konveksi). (Sumber: http:// www.appropedia.org/Solar_drying)

Spray Dryer (Continuous Drying)

Spray Dryer

Spray Dryer
Metode mengeringan spray drying merupakan metode pengeringan yang paling banyak digunakan dalam industri terutama industri makanan. Metode ini mampu menghasilkan produk dalam bentuk bubuk atau serbuk dari bahan-bahan seperti susu, buah buahan, dll.
Bagian-bagian dari unit spray dryer:
  • feed pump
  • atomizer
  • Pemanas uap (air heater)
  • Pendispersi udara (air disperse)
  • drying chamber
  • recovery powder system
  • pembersih udara keluaran
Cara kerja spray dryer adalah sebagai berikut:
Pertama-tama seluruh air dari bahan yang ingin dikeringkan, diubah ke dalam bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari bahan yang telah berbentuk tetesan-tetesan tersebut kemudian di kontakan dengan udara panas. Peristiwa pengontakkan ini menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan tersebut mengering dan berubah menjadi serbuk. Selanjutnya proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan cyclone atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian kembali diturunkan suhunya sesuai dengan kebutuhan produksi. (Sumber: http://www.niro.com/NIRO/CMSDoc.nsf /WebDoc/ndkk5hmc6zSprayDryersSprayDryers)




Diskusi Rumput Laut di Grup FB Peduli Nunukan


DISKUSI RUMPUT LAUT DI GRUP PEDULI NUNUKAN

Rata2 sebuah pabrik pengolahan rumput laut di beberapa daerah di Indonesia berkapasitas olah 300 ton per bulan atau sekitar 10 ton rumput laut kering per hari.
Dengan produksi hampir 900 ton/bulan, maka Nunukan bisa mendirikan 3 unit Pabrik sendiri
 Top of Form
Dian Kusumanto Kalau ada pabrik sendiri di Nunukan tentu akan banyak nilai tambahnya bagi daerah ini, petani senang, peluang kerjaan tersedia, jasa pelabuhan akan ramai, sektor ekonomi kecil akan bergeliat lagi.

Ainul Kosasih Insya allah akan berdiri pabrik usulan dr rakyat pt. Sampurna

Andi Zakaria inilah bentuk real yg harus dikembangkan di masyarakat.....pemerintah harus berpikir orentasi pembangunan bukan semua bukan dlm bentuk fisik PU. tapi pembangunan yg menghidupkan perekonomian rakyat..!!!!

Dian Kusumanto Iya informasi peluang usaha seperti inilah yang harus sering dirilis... Jangan dijual ke investor luar Nunukan! Org2 Nunukan banyak berduit kok! Ya kan Bung Andi??
Itu Bu Ainul juga mau bikin pabrik juga rupanya! Hehehe....

Andi Zakaria bu ainul siapa tuch pak dian

Andi Zakaria setuju pak....!!!

Kris Nandy Klo urusan pbrik di nunukn mw di bngun... Pmerinyah bnyk mkir.. Ntar gak ada uwang yg mw di korup

Dian Kusumanto Hehehe.... nggak segitunya kali....
Bottom of Form


Dibutuhkan sekitar 10.000 botol bekas untuk pelampung tali rumput laut
Ukuran yang 1,5 liter, sekarang harganya Rp 1.500 per botol, kalau lebih tebal harganya bisa sampai Rp 1.700.
Ayo siapa yang mau suply ??
Top of Form

Andi Zakaria mantap....limbah/sampah botol plastik bakalan sangat sudah ditemukan di nunukan....

Dian Kusumanto Ini kebutuhan per hari!

Dian Kusumanto Hitungannya begini. Diperkirakan ada sekitar 200 ribu tali bentangan di petani. Setiap tali itu perlu rata2 5 botol pelampung, jadi jumlah botol pelampung ada sekitar 1 juta botol. (200ribu x 5 =1 juta). Botol pelampung itu 2 kali musim harus diganti! 2 musim itu sekitar 100 hari. Jadi 1juta botol dibagi 100 hari itu sama dengan 10 ribu per hari, harus ganti botol. Artinya perlu 10 ribu botol pelampung baru setiap hari!
Bgmn menurut Anda?!

Andi Zakaria rang lebih lah...

Andi Zakaria yaaaa kurang lebih begitu...pak setuju..!!!

Syamsul Bahri Lagi berpikir mau beli Pabrik Plastik hahaha ...

Andi Zakaria kalo 10.000 sehari x utung 200 aja sdh 2 jt gang..!!! woowwww bisa org nnk jadi bisnis botol lagi

Dian Kusumanto Bung Syamsul Bahri.... Bisa itu! Kan ada banyak bahan di para pengumpul plastik! Dari pada dikirim ke Surabaya, baik diolah jadi botol atau pelampung untuk Rumput Laut di Nunukan! Untungnya bisa lumayan! Alat untuk bikin botol sudah banyak dibuat di Indonesia, ada yg cuma 50 jutaan, ada juga yg sampai ratusan juta! Silakan Bung! Peluangnya ada! Ini rejeki harian, kalau proyek kan tahunan! Hehehehe...!

Dian Kusumanto Bung Andi Zakaria! Betul Bung! Ayo silakan ambil peluang! Nanti kalau ada untung jangan lupa Pak Dian! Hahahaha....

Andi Zakaria iyaaa nich pak dian lagi hunting botol nich,,,,teman2 caleg wwkkwkwkwk

Dian Kusumanto Wah... Botol bisa jadi alat politik nih! Hahahaha!!
Bisnis botol dijual ke para Caleg! Caleg membagi2 botol ke petani RL untuk sosialisasi! Mantab! Kerja sama saling untung!

Dian Kusumanto Kalau perlu ada yg jual botol bergambar Caleg....hahahaha...mantab!

Andi Zakaria qiqiqiiqiqii......biar lautnya penuh dgn kapling caleg wkwkwkwkwkkw seru..habis pak dian..!!!

Dian Kusumanto Seru...seru...seru..! Rame..rame...rame..! Nggak di darat nggak di laut! Caleg2 menyerbu! Serbuuuuuu!!

Faisal Rizaldy Dochmie Caleg ga perlu repot bagi2 duit, cukup bagi2 botol aja hehehe

Dian Kusumanto Betul Bung Faisal! Botol langsung dipasang...usaha RL jalan lagi! Nanti ada perang botol...hahaha!
Bottom of Form

Mengapa sekarang banyak petani rumput laut yg 'gantung tali' ? Padahal harganya tinggi sekarang!?
Top of Form
Eddy Santry Karena kurangnya perhatian Pemkab Nunukan dalam merealisasikan Ekonomi Kerakyatan.

Dian Kusumanto Mas Eddy Santry....jawaban sampean salah besar!! Hehehe...

Eddy Santry lantas yg bnr ap pak ?

Pak Ci Awal Darwis Rumput lautnx kan memang digantung pakai tali, masa pakai hanger, He33x

Dian Kusumanto Pak Ci benar!!! Hahahaha....

Dian Kusumanto Justru sekarang ini perhatian Pemerintah sangat besar ke rumput laut. Pemda Nunukan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Disperindagkop, sampai Kementrian PDT, Kementrian Perindustrian ....akan turut memperhatikan pengembangan rumput laut di Nunukan.

Eddy Santry tapi sepanjang yg sy lihat,sosialisasinya kok kurang ke masyarakat.apakah gaung pembangunan yg berdasar kerakyatan baru bergema setelah ada keluhan ?

Dian Kusumanto Sekarang petani 'menggantung' tali karena :
1. Belum sempat dipasang bibit
2. Tenaga pasang bibit kurang
3. Petani harus antri
4. Banyak tali bentang baru, karena antusiasme usaha meningkat.
5. Harga bagus investasi usaha meningkat lebih tinggi dibanding kesiapan tenaga

Eddy Santry itu dia masalahnya,kurangnya tenaga kpasang bibit disebabkan karna kejenuhan serta ketidak puasan masyarakat waktu itu atas hasil jual dari rumput laut.dimana kita bisa lihat sendiri,1-2 thun lalu hampir mayoritas masyarakat Nunukan di pesisir menggantungkan hidupnya dgn bercocok tanam rumput laut.nah,seharusnya pada saat itu Pemda Nunukan dapat mengantisipasi terjadinya "krodit' di belakang hari.namun seperti yg terjadi,kala itu Pemkaab Nunukan seolah2 malah larut dalam Uforia berbagai retorika yg justru malah menenggelamkan harapan para petani rumput laut itu sendiri.

Edy Masran Nunukan Rakyat bergerak sendiri tanpa sektor swasta manufactur, ada masalah ya diam masyarakat.

Pak Ci Awal Darwis Uforia bukan Apriori, He33x

Dian Kusumanto Beda keadaannya dg tahun sebelumnya, aksi 'gantung tali' disebabkan harga RL jatuh! Usaha budidaya RL kurang menguntungkan. Sehingga lebih baik mereka istirahat/berhenti dg menyimpan tali atau 'menggantung' bahkan menjualnya!
Namun bagi petani asli yg tidak ada pilihan usaha lain tetap menekuninya.
Maka harga yg bagus sekarang sebenarnya adalah BERKAH yg kesekian kali untuk para petani RL.
Harusnya kita banyak bersyukur terutama para pelaku usaha RL!
Supaya BERKAH itu selalu ada! Aamiin!

Anwar Andry @ Mas Bro Eddy Santry.., kl dikatakan sosialisasi perhatian pemerintah terhadap petani rumput laut kurang., saya rasa itu kurang tepat. Sblm harga bisa sprt skrng, teman DKP khususx PPL sering melakukan sosialisasi ke petani di dampingi Bank BI. Kegiatan temu usaha antra petani dgn DKP juga merupakan kegiatan rutin. Terakhir pelaksanaanx 1 minggu yg lalu. Tq buat teman2 di lapangan berkat kerja kerasx selama ini utk menghubungan kelompok pembudidaya dgn pabrik pengolahan rumput laut di Surabaya membuahkan hsl sprt skrng ini. Pengusaha pengumpul RL lokalpun sdh tdk bisa memainkan harga jika ingin dapat RL dari petani. Sukses buat teman2 dan memperthankan apa yg sdh diraih. Masyarakatpun bisa tersenyum

Dian Kusumanto Terimakasih Bung Anwar Andry...sudah membantu menjelaskan! Semoga ini jadi informasi yg menyeimbangkan selama ini!

Deni Yusdianto Rumput Laut telah memberikan Kontribusi penting bagi ekonomi msyrkat nunukan .... tapi syg alur transportasi laut banyak yang terganggu ... padahal salah satu pintu masuk nunukan adalah wilayah laut ... harus ada upaya penataan dari leading sector terkait:)

H Bahri Nunukan Salah satu faktor naiknya harga RL, karena RL adalah salah satu komiditi ekspor, yg harganya mengikuti kurs USD yg berlaku, kalau kurs USD naik / turun ya otomatis harga RL juga naik / turun (PR - andaikan kurs USD turun apakah kita bisa pertahankan harga RL ?)

Anwar Andry @ Bang H. Bahri mudah2an harga bisa bertahan., amin
@ Mas Bro Deni : penanaman rumput laut di nunukan yg wilayahx tdk tertata yg berdampak pd jalur pelayaran, mudah2an bisa segera teratasi dari hasil kajian zonasi rinci pesisir dan pulau2 kecil yg sedang dilaksanakan DKP tahun ini.

Romzan Mbah Man kalo pembelinya tdkada jiwa cinta rakyat harga diombang ambing,apa enaknya,...saat harga naik banyak yang belum panen saat turun banyak yang panen

Dian Kusumanto Kalau pembeli itu berfikir jangka panjang, dan agak cerdas, tentu dia harus bangun win-win solution. Agar petani memberi kepercayaan penuh kepadanya. Sayang kebanyakan pedagang RL yg duku itu berfikir instan dan kurang cerdas! Sehingga yg dipikir untungnya sendiri!
Tapi kini, petani rumput laut kita sudah pintar, sudah relatif punya modal, sudah lebih kompak!
Yg penting harus banyak bersyukur! Jangan sampai lupa dg yg memberi rezeki dan berkah ini! Harusnya semakin kuat beribadah! Jangan sebaliknya!

Hardi Ronggolawe ini jg termasuk salah satu penyebab petani RL menggantung tali pak H. Dian...selain menjadi pemain mereka jg pd ikut mnjd penonton saat syuting.hehehe

 

Dian Kusumanto Mas Hardi Ronggolawe..... betul betul betul.... ada yang jadi bintang film juga ternyata! hahaha....

Adhima Soekotjo peran perusda gimana nih???????????????????????????????

Dian Kusumanto Perusdanya nggak ngurus Rumput Laut Mas!
Bottom of Form



Dian Kusumanto Yang terlihat dari jauh adalah botol-botol bekas air minum kemasan 1,5 liter. Dulu botol2 bekas itu dihargai Rp 500 per botol, sekarang karena langka dan sulit didapat maka petani rumput laut pun membelinya dengan harga Rp 1.500 per botol.
Bisa2 sampai Rp 2.000 sekarang??





Dian Kusumanto Sistem pengelolaan pasca panen rumput laut sekarang menggunakan metode gantung dan hampar. Kalau sebelumnya rata-rata petani hanya menghampar saja rumput laut hasil panennya.
Metode gantung dan hampar ini ternyata memiliki beberapa kelebihan :
1. Mengurangi resiko terjadinya fermentasi dan pembusukan rumput laut sebelum kering.
2. Meningkatkan rendemen rumput laut hasil kering
3. Proses pengeringan relatif lebih cepat, sehingga petani lebih cepat lagi untuk mendapatkan hasil jualnya
Bottom of Form
 

Senin, 30 September 2013

Nelayan pemukat Nunukan pun mendapat rejeki dari rumput laut yang semakin marak


 
 
 
Nelayan pemukat Nunukan pun mendapat rejeki dari rumput laut yang semakin marak

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Pada era dimana harga BBM naik sementara harga ikan turun,  maka banyak nelayan yang kemudian menggantung perahunya.  Banyak nelayan yang kemudian beralih profesi.  Sampai masa kemudian ada harapan dari budidaya rumput laut, akhirnya banyak nelayan yang juga membudidayakan rumput laut.  Namun ternyata dari sebagian nelayan yang tidak berminat atau mungkin tidak cukup modal untuk memasang lahan budidaya rumput laut.  Penyiapan lahan budidaya memang cukup banyak perlu biaya, untuk membuat fondasi, tiang pancang, tali bentang, dan lain-lain.

Diantara nelayan-nelayan yang tidak ikut membudidayakan rumput laut tersebut, mereka terus melanjutkan usaha penagkapan ikannya di laut.  Ada yang menggunakan trawl dan lebih banyak yang memasang pukat di perairan yang tidak jauh dari lahan budidaya rumput laut.  Niat awal memang mencari ikan namun setelah lahan rumput laut semakin banyak, para nelayan ini semakin banyak mendapatkan rumput laut dari pada ikannya.  Akhirnya sekarang ini para nelayan melakukan ‘penangkapan’ rumput laut sebagai kegiatan utamanya.  Hampir sebagian besar pemukat ikan sekarang beralih konsentrasi menjadi nelayan pemukat rumput laut.

Rupanya dari lahan budidaya rumput laut yang ada, hampir sekitar 20% rumput laut itu mengalami ‘kerontokan’ selama masa budidayanya di laut.  Sebab-sebab rontok atau jatuhnya rumput laut yang dibudidaya itu macam-macam,  yang utama adalah karena arus atau gelombang.  Arus dan gelombang yang kuat, disertai lemahnya rumput laut karena terkena penyakit, tiram atau tali yang kencang, semakin menambah banyak kerontokan rumput laut.  Suhu air laut yang panas juga bisa menyebabkan prosentase kerontokan semakin tinggi.  

Air laut lepas yang biasanya lebih panas yang bertemu air tawar dari sungai-sungai didaratan dengan suhu lebih dingin, pada kondisi tertentu akan menjadi kombinasi yang baik untuk pertumbuhan lebih cepat dari rumput laut.  Karena suhu yang sangat panas bisa menyebabkan rumput laut menjadi agak lunak dan jika terkena arus gelombang agak kuat maka rumput laut akan mudah jatuh atau terputus.   Maka secara alami selalu ada rumput laut yang terputus sebab arus yang kuat karena terlepas juga talinya, terputus karena rumput lautnya lembek dan rusak karena panas atau penyakit.

Rumput laut yang terjatuh akan turun di dasar laut dan terombang-ambing oleh arus bawah di dasar laut.  Pada saat terjadi pasang dan surutnya air laut ataupun pada saat terjadinya arus aliran karena perbedaan suhu samudra.  Maka rumput laut yang terputus tadi seiring waktu juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan.  Namun demikian juga menjadi santapan ikan herbivor yang menyukai rumput laut.  Namun perkembangannya yang pesat menyebabkan akhirnya banyak juga rumput laut lepas yang berada di dasar laut.   Maka kemudian banyak petani yang memasang pukat untuk ikan juga mendapatkan rumput laut yang lepas ini.

Dulu petani ikan sempat menggerutu karena yang diinginkan adalah ikan, namun yang didapat malah rumput laut.  Namun sekarang ini menjadi profesi baru, yaitu munculnya para nelayan pemukat rumput laut.  Bahkan mereka dengan sengaja cuma mengandalkan tangkapan yang masuk dalam pukatnya itu adalah rumput laut, bukan hanya ikan.   Malah sekarang banyak nelayan yang menjadi pemukat rumput laut saja, dan tidak perlu mencari ikan atau menanam rumput laut.  Para pemukat rumput laut di Nunukan kini jumlahnya semakin banyak berkisar 200-an perahu.

Hampir setiap hari para pemukat rumput laut ini memasang pukatnya di laut.  Hanya pada saat-saat tertentu saja mereka tidak turun ke laut, misalnya pada saat arus melemah yaitu pada saat ‘air mati’, maka mereka memilih beristirahat tidak memasang pukat.  Dalam satu bulan masa-masa air mati itu terjadi hanya sekitar 2 kali dengan masa sekitar 4 hari.  Masa-masa itu dipakai untuk mengerjakan pemeliharaan pukat yang putus atau rusak, memperbaiki perahu, dan mengurus penjemuran rumput laut, atau pekerjaan-pekerjaan rumah dan sosial lainnya.

Pendapatan para pemukat itu biasanya ditentukan dengan berapa panjang pukat yang dibentangkan,  berapa besar perahu pengangkut, berapa banyak orang yang turut bekerja di dalam satu grup atau satu perahu.  Semakin panjang pukat biasanya semakin banyak rumput laut yang terjaring.  Semakin besar kapasitas perahu biasanya juga menyangkut daya tambung hasil tangkapan.  Kadang-kadang petani harus membuang kelebihan tangkapannya karena perahu sudah over load  atau kelebihan muatan.  Sebab kalau tetap dibawa, maka akan membahayakan jiwanya, apalagi kalau arus dan gelombangnya kuat, tentu muatan akan dikurangi agar perahu bisa lincah menerobos arus dan gelombang tanpa resiko perahu akan tenggelam.

Kisaran pendapatan dari setiap pemukat rumput laut itu antara 30-50 kg rumput laut kering per hari per perahu.  Kalau sekarang harga rumput laut Rp 14.000 per kg, maka  pendapatan para pemukat itu berkisar antara Rp 420.000 – Rp 700.000 per hari.   Kalau dalam sebulan mereka bisa turun ke laut memukat sebanyak 20 hari saja, maka pendapatan kotor para pemukat itu berkisar antara Rp 8,4 juta sampai 14 juta per bulan.  Ini pendapatan yang sangat bagus bagi para nelayan pukat rumput laut di Nunukan. 

Para nelayan ini masih akan mengeluarkan biaya-biaya seperti bahan bakar untuk perahu, biaya sewa tempat pengeringan (kalau tidak mempunyai tempat pengeringan sendiri),  biaya tenaga pengeringan (kalau diupahkan ke orang lain), biaya pemeliharaan pukat dan perahu, dan lain-lain.  Untuk pemukat biasanya minimal terdiri dari 2 orang per perahu, pemukat dengan keluarganya sendiri atau menyewa tenaga orang lain atau bisa jadi bekerja sama dengan tetangga atau temannya. 

Namun demikian berkah rumput laut ini bagaimanapun juga merupakan berkah dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada seluruh masyarakat di Nunukan.  Tidak hanya para petani, tidak hanya para pemukat, tidak hanya para pedagang, tapi masyarakat yang yang lain ikut bersyukur.  Semoga berkah dan nikmat ini semakin ditambah dan dilanggengkan.  Aamiin.