...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Sabtu, 02 Juni 2012

Di Balik Kegelisahan Petani Rumput Laut, Semoga BI Jadi Pengobat Lara

1322871818175761553513228721971190453071




0Sha

Di Balik Kegelisahan Petani Rumput Laut, Semoga BI Jadi Pengobat Lara


Bank Indonesia plus Bankaltim saat ini sedang melakukan survey terhadap budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan yang dipusatkan pada dua lokasi yaitu Kampung Nelayan Kelurahan Mansapa Kecamatan Nunukan Selatan dan Kecamatan Sebatik Barat.

Survey ini dijadikan titik awal peningkatan produksi petani yang selama dinilai banyak kelemahan dalam pembudidayaan karena masih dilakukan secara tradisional. Agar rumput laut yang sudah menjadi mata pencaharian utama sebagian masyarakat di Kabupaten Nunukan-Kaltim ini dapat meningkatkan taraf hidupnya, maka BI menjajaki peluang tersebut.

Adanya langkah dari BI ini, kemungkinan memandang budidaya rumput laut di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia memiliki potensi besar untuk saling menguntungkan kedua belah pihak (ptani dan BI). Survey yang dilakukan BI ini sejak Bulan Agustus 2011, dengan kesimpulan sementara bahwa budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan dimanapun ditanam hasilnya tetap sama artinya antara lokasi pembudidayaan yang satu dengan lainnya produksi dan kualitasnya tetap sama.

Sehingga, pihak BI menilai agar produksi petani dapat ditingkatkan lagi dari yang telah ada sekarang sisa memperhatikan metode yang harus diterapkan ketika pasca panen, misalnya metode penjemuran dan pemasarannya. Seperti yang disampaikan Sulistyono dari BI di hadapan petani rumput laut Kampung Nelayan Kelurahan Mansapa, Kamis (1/12).

Namun, survey yang dilakukan pihak BI belum dapat dipastikan apakah petani yang menjadi lokasi survey atau seluruh petani rumput laut di Kabupaten Nunukan akan diberikan bantuan modal usaha. Padahal, petani rumput laut yang hadir pada saat sosialisasi tersebut jumlahnya mencapai 40 orang. Ini menandakan atusias mereka sangat tinggi untuk memperbaiki taraf hidupnya. Dan diakui pula dari pihak perbankan ini, bahwa banyaknya petanu rumput laut yang hadir itu sebagai tanda keinginannya memperbaiki diri dalam mengelola rumput laut.

13228726662166175651322872912886288843


Khususnya masyarakat Kampung Nelayan, sejak melakoni hidup dengan menjadi petani rumput laut, selalu dirundung masalah yaitu ketidakmampuan mereka meningkatkan produksi yang dinotabene dapat meningkatkan penghasilan untuk kesejahteraannya. Yaitu tidak adanya perhatian pemerintah ataupun pihak swasta yang meliriknya untuk memberikan bantuan.

Kalaupun selama ini banyak yang datang menemui mereka, hanya sekadar memberikan pelajaran tentang tatacara budidaya dan lain-lainnya. Tetapi belum pernah ada yang bisa memberikan solusi terkait dengan kegelisahan mereka untuk diberikan bantuan.

Suwitno misalnya, salah satu petani rumput Kampung Nelayan mengeluhkan bahwa, dari 74 KK (kepala keluarga) yang tinggal diperkampungan nelayan itu, 71 KK diantaranya hidup dari rumput laut. Namun, sampai sekarang juga penghidupannya tidak mengalami perubahan apa-apa meskipun profesinya itu telah dilakoni bertahun-tahun.

Persoalan pelik yang dialaminya, adalah pertama ketidakmampuan meningkatkan produksi akibat kurangnya modal usaha. Sehingga hasil penjualan dari produksi rumput laut mereka hanya untuk memenui kebutuhan hidup sehari-hari.

Kendala kedua adalah harga yang setiap saat mengalami penurunan secara drastis. Harga sekarang sisa Rp 6300 per kilogramnya. Bahkan ada ada harga hingga Rp 5000 perkilogramnya. Diakibatkan tidak adanya perhatiandari pihak pemerintah atau semacam wadah berupa koperasi yang diharapkan bisa mengontrol harga. Sehingga para tengkulak leluasa mempermainkan harga.

13228738171569524661



Masalah pemasaran ini juga perlu menjadi perhatian berbagai pihak termasuk pihak swasta seperti perbankan. Jika benar pihak perbankan seperti BI memiliki niat baik untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat petani rumput laut di Kabupaten Nunukan, sebaiknya melakukan tindakan prioritas.
Apabila langkah-langkah prioritas tidak dilakukannya, maka finishing dari setiap upaya tetap seperti sekarang ini yaitu tidak memberikan solusi dari seluruh persoalan yang dihadapi petani rumput laut di Kabupaten Nunukan.

Meskipun, pembelajaran tentang metode persemaian, penanaman, dan penjemuran juga sangat penting sebagai bagian dari awal peningkatan produksi sekaligus peningkatan penghasilan. Kembali kepada survey yang dilakukan pihak BI. Pada intinya, kualitas rumput laut di Kabupaten Nunukan sangat baik.

Informasi dari petani pun disebutkan dalam satu bentangan tali yang panjangnya 15 depa atau sekitar 20 meter dapat menghasilkan 5 kilogram kering. Memperhatikan netto setiap bentangan ini, maka diperkirakan potensi rumput laut di Kabupaten Nunukan benar-benar menguntungkan. Untuk itu, kemungkinan kehadiran BI di tengah-tengah masyarakat petani rumput laut di Kampung Nelayan Mansapa dapat menjadi pengobat laranya selama ini.

Masalah netto itu sendiri masih tergantung dari tatacara penjemuran/pengeringan. Sejak beberapa bulan terakhir, petani rumput laut menggunakan dua cara pengeringan yaitu :
1.  
- - Metode gantung

Metode ini memiliki keunggulan dan kelemahan.
Dari sisi keunggulannya adalah waktu yang digunakan sangat singkat hanya sekitar dua hari apabila cuaca baik atau tidak hujan. Kemudian kadar airnya sangat rendah, sehingga kualitas finishingnya benar-benar baik.
Kelemahannya adalah warna pada saat kering menjadi hitam dan berat/nettonya ringan. Dibandingkan dengan metode pengeringan dengan menghampar berat/nettonya biasanya beda tiga kilogram.

1322873498354441029

213228733501758472139


. - Metode hamparan

Cara pengeringan kedua ini, merupakan metode yang banyak digunakan dan umum dilakukan oleh petani. Dan metode ini, yang masih umum dilakukan oleh para petani. Keunggulannya adalah hasil pengeringannya berwarna putih dan memiliki berat lebi tinggi. Kelemahannya terletak pada waktu yang digunakan bisa mencapai satu minggu dan prosesnya rumit karena harus rajin membolak balik.
Selain kedua metode tersebut, adalh hal lain yang perlu diperhatikan apabila ingin meningkatkan kualitas dan nilai jual. Misalnya, pada saat berlangsung pengeringan ditutupi dengan plastik/terpal /kain. Dengan menggunakan alat bantu ini selain warna lkebih putih juga tidak terlalu banyak mempengaruhi berat, sebut Sirajuddin, Kasi Sarana Prasaran Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan sebelum acara sosialisasi di mulai

Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/12/03/di-balik-kegelisahan-petani-rumput-laut-semoga-bi-jadi-pengobat-lara/

PENGERING SURYA TIPE LORONG

Pengering Ikan, Rumput Laut, Soun, cabe, Manisan Buah, Pisang Sale

(Ini merupakan hasil penelitian dari dosen universitas darma persada tentang teknologi tepat guna)
PENGERING SURYA TIPE LORONG

Keunggulan:
•Memanfaatkan sumber energi terbarukan setempat (Surya, angin, limbah kehutanan, pertanian)
•Dapat melakukan pengeringan dengan relatip lebih cepat dibanding penjemuran
•Dapat beroperasi secara kontinyu siang dan malam
•Kandungan lokal 100% (hasil invensi sendiri)
•Dapat digunakan untuk terutama untuk pengeringan ikan, rumput laut, soun,  dendeng, bawang, cabe, manisan buah, pisang sale, dll.
•√ Blower dapat digerakkan dengan menggunakan solar PV
•√ Pengering mudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan
Spesifikasi

Komponen Utama
- Dimensi : 2 m x 4 m x 2,5 m
- Struktur transparan
- Penyerap panas
- Rak pengering
- Axial Blowers : 3 buah, 12V- dc
- Penukaran panas rangkaian pipa di bagian dasar bangunan
- Unit pemanas tambahan tungku biomasa
- Suhu pengering : 40 – 50 C
Kapasitas: Tergantung jenis produk (100 – 600 kg basah)
Waktu pengeringan :
• 200 – 300 kg ikan ; 1 hari (20% BK)
• rumput laut – 2hari.

Hasil uji kinerja prototipe

•Berat Pepaya Awal                                                            5 kg
•Waktu Pengeringan Efektif                                             6,5 jam
•Berat kering Pepaya setelah                                          6,5 jam pengeringan 1,5 kg
•Laju Penurunan Kadar Air                                              5,49 %
•Suhu air                                                                                  62,25°C
•Suhu Udara di ruang Depan                                           38,01°C
•Suhu Udara di Ruang Tengah                                        36,47°C
•Suhu Udara di Ruang Belakang                                     37,34°C
•Keragaman Kadar Air                                                       0,09 -1,12
•Pemakaian Bahan Bakar                                                   41,1MJ/jam
•~ Arang Kayu                                                                       (11 kg)
•~ Iradiasi Sinar Matahari (248,39 watt/jam)          137,57 kJ/jam
•Efisiensi Panas Pengeringan                                          0,44%
•Pemakaian Energi Panas                                                41,23 MJ/jam
•      13. Kecepatan angin                                                   3,59 m/dt

Prospek/peluang pemasaran produk

•Program pemerintah mulai tahun 2007 dalam pengembangan SET dan desa mandiri energi.
•Potensi SET (Sumber Energi Terbarukan)setempat yang cukup melimpah seperti energi surya, angin, mini-hidro, bio massa, panas bumi dan energi laut.
•Makin meningkatnya pemahaman dan kesadaran pemerintah, swasta dan perguruan tinggi terhadap pentingnya SET sebagai alat untuk memajukan desa.
•Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan energi masyarakat desa juga akan meningkat.
•Komitmen dunia dalam mencapai MDG dan mengurangi pemanasan global melalui protokol Kyoto.
( LPPM Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah)
Sumber : https://yefrichan.wordpress.com/2010/05/06/pengering-ikan-rumput-laut-soun-cabe-manisan-buah-pisang-sale/

Ekstrak Rumput Laut untuk Pengobatan Kanker

Ekstrak Rumput Laut untuk Pengobatan Kanker

Ekstrak rumput laut berpotensi untuk dijadikan obat untuk limfoma, kanker sel darah putih. Demikian hasil studi pendahuluan yang dilakukan tim peneliti di Universitas Hashemit di Yordania. Para peneliti bereksperimen dengan senyawa yang berasal dari rumput laut dan menggunakannya untuk mengobati limfoma sel-B.

"Beberapa bentuk limfoma sel-B resisten terhadap pengobatan standar, dan dengan demikian diperlukan terapi baru," kata Mohammad Irhimeh, asisten profesor hematologi/onkologi dan sel-sel induk di Universitas Hashemit.

Sebelumnya para ilmuwan telah melaporkan bahwa senyawa yang disebut fucoidan, ditemukan dalam rumput laut, untuk membunuh sel tumor pada tikus dan sel tumor pada manusia.

Dalam studi baru ini, Irhimeh dan rekan-rekannya menguji sel-sel limfoma manusia dengan jenis ekstrak rumput laut. Mereka menemukan bahwa ekstrak rumput laut menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, tetapi tidak mempengaruhi sel-sel sehat.

HealthDay News/Ngarto Februana
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2010/03/12/107232202/Ekstrak-Rumput-Laut-untuk-Pengobatan-Kanker

Selasa, 22 Mei 2012

Teknis Budidaya Rumput Laut Organik

Teknis Budidaya Rumput Laut Organik


A. Latar Belakang
Rumput laut (sea weeds) yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dalam dunia perdagangan akhir - akhir ini.
 

Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira - kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat - obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas.
 

Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak diketahui. Hanya pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia sekitar tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Baru pada masa sebelum perang dunia ke - 2, tercatat bahwa Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, dan Perancis.

Sekarang ini rumput laut di Indonesia banyak dikembangkan di pesisir pantai Bali dan Nusa Tenggara. Mengingat panjangnya garis pantai Indonesia (81.000 km), maka peluang budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Jika menilik permintaan pasar dunia ke Indonesia yang setiap tahunnya mencapai rata - rata 21,8 % dari kebutuhan dunia, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu hanya berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dari Indonesia disebabkan karena kegiatan budidaya yang kurang baik dan kurangnya informasi tentang potensi rumput laut kepada para petani.

B. Kandungan
Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar - agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan - bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung jodium.

C. Manfaat
 

1. Agar - agar
Masyarakat pada umumnya mengenal agar - agar dalam bentuk tepung yang biasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tidak tahu secara pasti apa agar - agar itu. Agar - agar merupakan asam sulfanik yang meruapakan ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang jenis Agarophytae. Agar - agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larut dalam air dingin.

Sekarang ini penggunaan agar - agar semakin berkembang, yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain - lain. Fungsi utamanya adalah sebagai bahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel. Dalam industri, agar - agar banyak digunakan dalam industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat. Dalam industri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi. Dalam industri tekstil dapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Dalam industri kosmetik, agar - agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun. Selain itu masih banyak manfaat lain dari agar - agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.

2. Keraginan
Keraginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1 - 4 glikosilik. Ciri kas dari keraginan adalah setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%.
Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar - agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi dan obat - obatan. Selain itu juga dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.

3. Algin (Alginat)
Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat. Algin ini merupakan polimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air.
Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalam industri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, dan puding. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut,. Dan dalam industri lain seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

D. Fungsi TON dalam Ekologi Rumput Laut
Rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami bukan hasil budidaya. Mereka tersebar di perairan sesuai dengan lingkungan yang dibutuhkannya. Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk menunjang kehidupannya. Di alam tempat menempel ini bisa berupa karang mati, cangkang moluska, dan bisa juga berupa pasir dan lumpur.

Selain itu rumput laut sangat membutuhkan sinar matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa. Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut. Supaya kebutuhan sinar matahari tersedia dalam jumlah yang optimal maka harus diatur kedalaman dalam membudidayakannya. Kedalaman idealnya adalah berada 30 - 50 cm dari permukaan air.

Proses fotosintesa rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dari lingkungan air yang diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman. Untuk mensuplai unsur hara ini biasanya dilakukan pemupukan selama budidaya. Untuk membantu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang optimal dan supaya cepat diserap oleh rumput laut ini, maka harus disediakan unsur hara yang sudah dalam keadaan siap pakai (ionik). Unsur hara ini banyak dikandung dalam TON (Tambak Organik Nusantara).

TON (Tambak Organik Nusantara), mengandung segala bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan rumput laut. Baik menyediakan unsur hara mikro lengkap, juga menyediakan unsur makro. Selain itu TON juga akan meningkatkan kualitas rumput laut, karena akan menurunkan tingkat pencemaran logam berat yang juga akan terserap oleh rumput laut. Jika logam berat ini tidak ada yang mengikat, maka akan ikut terserap dalam proses absorbsi unsur hara dari rumput laut, sehingga sangat berbahaya bagi konsumen. Dengan adanya TON, logam berat ini akan terikat dalam bentuk senyawa dan akan mengendap atau sulit terserap oleh proses absorbsi.

Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh jumlah oksigen terlarut (DO), salinitas (kadar garam) dan temperatur. Kandungan Oksigen selain dipengaruhi oleh gerakan air juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Sehingga TON juga sangat penting untuk menunjang ketersediaan oksigen di perairan. Temperatur ideal bagi pertumbuhan rumput laut adalah berkisar 200 - 280 C

Dengan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang optimal dan kondisi lingkungan yang seimbang karena pengaruh TON, maka kualitas dan kuantitas bahan - bahan yang dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat.

Selain itu, pemakaian TON untuk budidaya rumput laut juga akan membantu mengikat senyawa - senyawa dan unsur - unsur berbahaya dalam perairan. Senyawa - senyawa dan unsur-unsur ini jika teradsorbsi dalam sistem metabolisme rumput laut, akan mengganggu pertumbuhan rumput laut dan juga akan menurunkan kualitas hasilnya. Selain itu jika rumput laut ini akan digunakan untuk bahan makanan, akan sangat berbahaya bagi yang menkonsumsinya. Kandungan senyawa karbon aktif dari TON akan sangat membantu untuk mereduksi senyawa-senyawa dan unsur - unsur berbahaya tersebut.

E. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pemakaian TON (Tambak Organik Nusantara)
Dalam menjalankan budidaya rumput laut, pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi budidaya. Sebaiknya lokasi budidaya diusahakan di perairan yang tidak mengalami fluktuasi salinitas (kadar garam) yang besar dan bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis dan tenaga kerja.

Budidaya rumput laut dapat dilakukan di areal pantai lepas maupun di tambak. Dalam pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada budidaya di tambak. Hal ini mengingat peran TON yang tidak efektif jika diperairan lepas (pantai). Untuk budidaya perairan lepas dibedakan dalam beberapa metode, yaitu :
1. Metode Lepas Dasar
Dimana cara ini dikerjakan dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali - tali yang dipatok secara berjajar - jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30 - 60 cm. Rumput laut ditanam di dasar perairan.

2. Metode Rakit
Cara ini dikerjakan di perairan yang kedalamannya lebih dari 60 cm. Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali - tali yang diikatkan di patok - patok dalam posisi seperti melayang di tengah - tengah kedalaman perairan.

3. Metode Tali Gantung
Jika dua metode di atas posisi bibit - bibit rumput laut dalam posisi horizontal (mendatar), maka metode tali gantung ini dilakukan dengan mengikatkan bibit - bibit rumput laut dalam posisi vertikal (tegak lurus) pada tali - tali yang disusun berjajar.

Pemakaian TON dengan 3 cara di atas hanya dapat dilakukan dengan sistem perendaman bibit. Karena jika TON diaplikasikan di perairan akan tidak efektif dan akan banyak yang hilang oleh arus laut. Metode perendaman bibit dilakukan dengan cara :
1. Larutkan TON dalam air laut yang ditempatkan dalam wadah .
2. Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 - 10 gr) TON dan tambahkan 1 - 2 cc Hormonik.
3. Rendam selama 4 - 5 jam, dan bibit siap ditanam.

Pemakaian TON akan sangat efektif jika diaplikasikan dalam budidaya rumput laut di tambak. Cara budidaya di tambak ini dapat dilakukan dengan metode tebar. Caranya adalah sebagai berikut :
1. Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran.
2. Tambak dikeringkan dahulu.
3. Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 - 2 ton per-hektar tergantung kondisi keasaman lahan).
4. Diamkan selama 1 minggu.
5. Aplikasikan TON, dengan dosis 1 - 5 botol per-hektar (untuk daerah - daerah yang tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dengan cara dilarutkan dengan air dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.
6. Diamkan 1 hari
7. Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.
8. Tebarkan bibit rumput laut yang sudah direndam dengan TON dan hormonik seperti cara perendaman di atas. Dengan kepadatan 80 - 100 gram/m2.
9. Bila dasar tambak cukup keras, bibit dapat ditancapkan seperti penanaman padi.
10. Tidak perlu ditambah pupuk makro.

F. Pemeliharaan dan aplikasi TON (Tambak Organik Nusantara) susulan.
Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 - 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut yang ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, jika demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal tambak.

Kotoran dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka tanaman harus digoyang - goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha sering membelit tanaman. Tumbuhan - tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan dan dipisahkan dari rumput laut agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan dan penyu merupakan hewan herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput laut. Untuk menghindari itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk budidaya di tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan pengeluaran.

G. Pemanenan
Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan waktu yang tepat agar diperoleh hasil yang sesuai dengan permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas.

Tanaman dapat dipanen setelah umur 6 - 8 minggu setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan cara rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut. Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang - cabang dari tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan dan pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan menurun.

Jika rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah dan berat kering 8 : 1, dan jika dipanen pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan 6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 - 2000 kg rumput laut kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 - 100 %


Sumber : http://informasi-budidaya.blogspot.com/2009/06/teknis-budidaya-rumput-laut-organik.html

Rabu, 09 Mei 2012

Wabup Berharap Produksi Rumput Laut Meningkat menjadi 500 ton sebulan


Wabup Berharap Produksi Rumput Laut Meningkat

NUNUKAN,tribunkaltim.co.id -  

Wakil Bupati Nunukan Hajjah Asmah Gani berharap, produksi rumput laut di Nunukan bisa meningkat dari 250 ton sebulan menjadi 500 ton sebulan. Untuk mencapai peningkatan produksi, Pemkab Nunukan dan Bank Indonesia melakukan kerjasama pelatihan bubidaya dan pengolahan rumput laut bagi para petani rumput laut di Nunukan.

Asmah Gani mengatakan, Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua belah pihak sudah dilaksanakan sejak beberapa bulan lalu. Dengan peningkatan kualitas sumber daya para petani rumput laut, diharapkan produksi dapat meningkat, penghasilan para petani rumput laut juga dapat meningkat.

Dengan peningkatan sumber daya manusianya menjadi lebih baik, tentu penghasilannya  akan meningkat. Sekarang ini saja masih tradisional hasilnya satu bulan tidak kurang 250 ton. Harapan kita kedepan bukan 250 ton, kalau bisa 500 ton setiap bulannya,” ujarnya.
Secara kasar, kata Wabup, sebenarnya penghasilan para petani rumput laut hampir menyamai pendapatan dalam APBD Nunukan.
“Penghasilan mereka sekitar Rp360 miliar. Hampir sama dengan pendapatan daerah. Kita harapkan dengan adanya peningkatan SDM petani rumput laut ini, ekonomi Nunukan akan meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Selasa (8/5/2012) hingga Jumat (11/5/2012) digelar Pelatihan Budidaya dan Produk Olahan Rumput Laut. Pelatihan digelar di Desa Mamolo, Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan. Pelatihan itu dibuka Asmah Gani.
Para peserta mendapatkan pelatihan langsung dari pakar-pakar asal Jakarta yang didatangkan Bank Indonesia ke Nunukan. Selama mengikuti pelatihan dimaksud, para petani diantaranya mendapatkan pelatihan mengenai siraman rohani, motivasi kewirausahaan, teori budidaya rumput laut dan penanganan pasca panen, serta praktik  penanganan pasca panen dan praktik produk olahan rumput laut.
Asmah Gani menegaskan, Pemkab Nunukan sangat berharap pembudidayaan rumput laut ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Nunukan.
Ia berharap, pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas rumput laut para petani sehingga mereka bisa bersaing. Dengan demikian rumput laut bisa menjadi unggulan terbaik di Kabupaten Nunukan.
 
Sumber :  http://kaltim.tribunnews.com/2012/05/08/wabup-berharap-produksi-rumput-laut-meningkat


Pemkab Nunukan Bantu Petani Rumput Laut

Pemkab Nunukan Bantu Petani Rumput Laut

 
NUNUKAN, tribunkaltim.co.id
Dinas Kelautan dan Perikanan Nunukan memberikan bantuan berupa mesin tempel 5 PK, kepada kelompok tani budi daya rumput laut yang berada di pesisir Pulau Nunukan, Kecamatan Sebatik dan Kecamatan Sebatik Barat.

Bantuan itu diserahkan Bupati Nunukan Basri, Kamis (3/5/2012) saat mencanangkan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat Ke-IX di Stadion Mini, Desa Binusan, Kecamatan Nunukan.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Budi Daya Dinas Perikanan dan Kelautan Nunukan Sirajudin mengatakan, bantuan ini merupakan bentuk perhatian Pemkab Nunukan terhadap nasib para nelayan.

"Itu bantuan untuk pembudidayaan rumput laut di Kabupaten Nunukan. Tentunya dia berkelompok-kelompok yang mengusahakan budidaya rumput laut," ujarnya.

Bantuan seperti itu akan selalu di usahakan Dinas Kelautan dan Perikanan Nunukan. Saat ini hanya sebagian kecil masyarakat yang dapat menerima bantuan.
 
Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2012/05/03/pemkab-nunukan-bantu-petani-rumput-laut
 

Senin, 23 April 2012

Produksi Rumput Laut di Ende 623 Ton

Ende, Flores (ANTARA) - Produksi rumput laut di Kabupaten Ende, Pulau Flores, pada 2009 hanya mencapai 623 ton dari target yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 24.000 ton per tahun.

"Untuk tahun 2009, produksi rumput laut hanya 623 ton. Hingga September 2010, trennya meningkat namun tidak seberapa," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ende Wellem Enga di Ende, Senin. Dia mengatakan, rendahnya produksi rumput laut tersebut karena belum semua masyarakat yang bermukim di wilayah pantai utara kabupaten itu membudidayakan komoditas ini.

Rendahnya produksi rumput laut itu diduga, karena wilayah perairan budidaya sudah tercemar menyusul meledaknya sumur minyak Montara di Laut Timor pada 21 Agustus 2009 lalu. Hampir sebagian besar wilayah perairan Indonesia, khususnya di pantai selatan Pulau Timor, Rote, Sabu, Sumba, dan Flores, sudah tercemar minyak sehingga usaha budidaya rumput laut ini, gagal total. "Harapan kita, target yang ditetapkan bisa tercapai atau paling tidak bisa mencapai 60 persen apabila semua masyarakat pesisir di pantai utara sudah melakukan budidaya," kata Wellem Enga.

Menurut dia, wilayah perairan di pantai utara Ende jauh lebih kondusif untuk kegiatan budidaya rumput laut dibanding dengan pantai selatan yang ombaknya lebih ganas. Wilayah laut di pantai utara yang membentang dari Kecamatan Kota Baru yang berbatasan dengan Kabupaten Sikka hingga Kecamatan Maukaro yang berbatasan dengan Kabupaten Nagekeo, baru sekitar 2.000 hektare yang dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut.

"Ini belum sampai 10 persen dari luas lahan yang sudah dimanfaatkan. Sedangkan pantai selatan yang sudah dimanfaatkan berkisar 200-300 hektare," katanya. Dia mengatakan, pantai selatan tidak bisa diandalkan untuk mendongkrak produksi rumput laut karena hanya beberapa lokasi di bagian teluk yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya. "Itu pun hanya pada musim barat. Sementara pada musim timur, praktis tidak ada kegiatan budidaya karena ombaknya sangat besar," katanya.

Ia menambahkan, untuk mendorong masyarakat membudidayakan rumput laut, pihaknya terus mensosialisasikan prospek komoditas "emas hijau" itu untuk peningkatan pendapatan ekonomi keluarga. Dalam berbagai kesempatan pertemuan, kata Wellem Enga, disampaikan pemerintah bersedia memberikan bantuan bibit rumput laut dan melakukan pendampingan kepada masyarakat. Diharapkan bibit bantuan yang disalurkan pemerintah itu dikembangkan dengan baik sehingga ke depan tidak ada lagi bibit yang didatangkan dari luar daerah.

Hingga saat ini, ada 120 kelompok budidaya rumput laut dengan jumlah anggota perkelompok sebanyak lima orang. Namun dari jumlah tersebut, baru ada dua kelompok yang bisa mandiri. Kelompok yang sudah didata ini pada tahun ini mendapat 90 paket bantuan bibit yang dananya bersumber Kementerian Kelautan dan Perikanan. Wellem Enga mengatakan kegiatan budidaya rumput laut di kabupaten itu mulai dikenal pada 1988, namun karena tidak ada akses pasar maka kegiatan tersebut berhenti pada 1990. "Baru pada 2001, kegiatan budidaya mulai dilakukan lagi. Saat ini sudah ada satu perusahan yang secara rutin membeli rumput laut dari masyarakat," katanya.

Sumber : http://teknologihasilperikanan-unsri.blogspot.com/2010_09_01_archive.html