...Indonesia akan menguasai dunia dengan produk olahan rumput laut...
.

Rabu, 26 November 2014

PROSPEK PENGEMBANGAN POTENSI RUMPUT LAUT (Gracilaria sp.) DI SULAWESI SELATAN



PROSPEK PENGEMBANGAN POTENSI RUMPUT LAUT (Gracilaria sp.)
DI SULAWESI SELATAN


Muhammad Arhan Rajab
C252110201/SPL
arhan_rajab@yahoo.co.id

Pendahuluan
Dalam pembangunan wilayah pesisir, salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan non migas yang mempunyai prospek yang cukup baik karena mudah dibudidayakan dan mempunyai kegunaan yang sangat luas yaitu untuk bahan makanan, industri farmasi, industri kosmetik, industri tekstil, industri kulit, obat-obatan dan lain-lain.
Sulawesi Selatan menyimpan potensi sumberdaya kelautan, baik hayati maupun non hayati yang cukup menjanjikan untuk dikelola. Potensi ini bukan hanya menjadi aset lokal namun juga nasional jika dikelola dan dimanfaatkan secara arif dan bijaksana. Salah satu komoditas marikultuer yang sedang dikembangkan dan merupakan salah satu program pengembangan ekonomi pesisir di Sulawesi Selatan saat ini adalah rumput laut.
Sulawesi Selatan merupakan provinsi penyumbang terbesar produksi rumput laut nasional. Peningkatan produksi tercapai karena lahan yang luas untuk pengembangan rumput laut di daerah ini, yakni 250 ribu hektare. Prospek rumput laut sangat cerah dikarenakan kebutuhan pasar dunia akan rumput laut mencapai 300 ribu ton per tahun (Tribun timur, Edisi : 17 Juli 2008 ). Berdasarkan laporan Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan (2008) produksi rumput laut nasional mencapai 1.728.475 ton basah pada tahun 2007 lalu atau setara 172.847,5 ton kering. Sementara produksi rumput laut Sulawesi Selatan telah mencapai 670.740 ton basah atau setara dengan 63.074 ton kering (36,5%). Usaha untuk meningkatkan produksi rumput laut sangat memungkinkan dapat dicapai, karena daerah Sulawesi Selatan dinilai memiliki potensi sumberdaya perikanan pantai yang cukup besar, teknologi budidaya dan pasca panen mudah dilaksanakan serta tidak membutuhkan modal yang besar (Ujung Pandang Ekspres, Edisi: 29 Oktober 2008).


Potensi Rumput Laut Sulawesi Selatan
            Kondisi potensi lahan budidaya perikanan dan jumlah sumberdaya manusia yang cukup menjadikan prospek pengembangan budidaya perikanan termasuk rumput laut di Sulawesi Selatan cukup besar. Selain potensi perikanan yang cukup besar, potensi sumberdaya manusia yang bergerak di bidang budidaya laut dan tambak juga cukup besar yaitu mencapai sekitar 50.775 RTP (Rumah Tangga Perikanan).
            Banyaknya lahan pertambakan yang terbengkalai efek dari gagalnya budidaya udang windu dan udang vannamei membuat pemerintah Sulawesi Selatan menganjurkan untuk memanfaatkan lahan tambak tersebut untuk pemanfaatan budidaya rumput laut Gracilaria sp. Baik secara monokultur maupun secara polikultur dengan ikan ataupun udang windu. Hasil produksinya nyata dengan model polikultur sekitar 7-12 ton/ha/siklus rumput laut basah (setara 700-1.200 kg rumput laut kering), 400-600 kg ikan bandeng/ha/siklus dan 300-400 kg udang windu/ha/siklus (Ratnawati & Pantjara, 2002). Sementara rumput laut yang berkembang pada budidaya laut adalah jenis Eucheuma sp. dan untuk komoditas perikanan lainnya masih bersifat rintisan.
            Hal yang mendukung berkembangnya budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan baik di tambak maupun di laut selain potensi lahan yang masih cukup luas, teknologinya juga masih sederhana dan tidak padat modal sehingga terjangkau oleh masyarakat yang berpengetahuan rendah dan memiliki modal yang kecil (Nurdjana, 2006; Anonim, 2007).
Status Budidaya Rumput Laut di Sulawesi Selatan
            Prospek pengembangan rumput laut di Sulawesi Selatan sangat potensial untuk dikembangkan dan strategis. Hal ini dikarenakan Sulawesi Selatan didukung oleh sumberdaya lahan yang masih cukup luas yakitu sekitar 50.201 ha untuk budidaya Gracilariasp. dan lahan budidaya Eucheuma sp. Sekitar 193.700 ha (Anonim, 2007).
            Status pengembangan budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan telah menjadi salah satu komoditas unggulan oleh pemerintah. Rumput laut sebagai komoditas unggulan didasarkan pada beberapa aspek meliputi mudahnya melakukan budidaya rumput laut, bersifat massal, cepat panen, tidak padat modal, menyerap tenaga kerja, permintaan tinggi dan harga yang menguntungkan (Nurdjana, 2006).
            Sulawesi Selatan menargetkan pada tahun 2012 sudah dapat menjadi sentra produksi rumput laut terbesar di Indonesia dan sekaligus menempatkan Indonesia sebagai Negara penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia setelah Chili (Basmal & Irianto, 2006). Sementara untuk mempercepat laju pertumbuhan budidaya rumput laut, Pemerintah Sulawesi Selatan menargetkan pada tahun 2009 status agribisnis rumput laut meningkat menjadi agroindustri rumput laut (Anonim, 2007; Huseini, 2006).
Rumput Laut Jenis Gracilaria sp. di Sulawesi Selatan
            Luas tambak budidaya rumput laut jenis Gracilaria sp dan produksinya di Sulawesi Selatan tahun 2006.
Tabel 1. Luas tambak budidaya Gracilaria sp. (ha) dan produksinya (ton) per kabupaten di Sulawesi Selatan tahun 2006.
Kabupaten/Kotamadya
Luas Tambak (ha)
Produksi (ton)
Nilai (Rp)
Bantaeng
191
-
-
Barru
2,399
120
180,000
Bone
10,810
13.179,80
19.769.700
Bulukumba
4,000
6,005
9.007.500
Gowa
137
-
-
Jeneponto
2,948
-
-
Luwu
6,374
83,538
125.307.000
Luwu Timur
7,441
-
-
Luwu Utara
6,367
24.469,20
36.703,800
Makassar
1,180
-
-
Maros
9,388
-
-
Palopo
979
65.633,80
98.450.700
Pangkep
12,527
1.947,80
2.921.700
Pare-Pare
71
-
-
Pinrang
15,855
650
975,000
Selayar
858
3.019,50
4.529.228
Sinjai
678
5.890,50
8.835.750
Takalar
4,100
1.300,00
1.950.000
Wajo
11,876
8,193
12.289.500
TOTAL
50,201
15.144,80
213.949,60
Sumber : Anonim, 2007
            Tabel tersebut menjelaskan bahwa kabupaten yang memiliki luas tambak yang terluas yaitu Kabupaten Pinrang dan tersempit adalah Pare-pare. Sedangkan yang tertinggi produksi dan nilai rumput lautnya adalah kabupaten Luwu Utara dan terendah adalah Kabupaten Barru. Sementara Kotamadya Makassar, Pare-pare, Jeneponto, Bantaeng, Gowa dan Maros belum berproduksi kemungkinan disebabkan oleh tidak cocoknya lahan pertambakan untuk budidaya dengan Gracilaria sp. (Tangko & Pantjara, 2007).
            Sebagai estimasi kasar jika potensi lahan pertambakan Sulawesi Selatan sebesar 50,201 ha semuanya dapat terealisasi, maka produksi rumput laut Gracilaria sp. per hektar per siklus adalah 50.201 ha x (7-12 ton) = (351.407-602.412 ton/ha/siklus) dan oleh karena panen rumput laut dapat dilakukan 6 kali dalam setahun, maka produksi rumput laut jenis Gracilariasp. per tahun dapat mencapai 6 x (351.407-602.412 ton/tahun).





Gambar : Rumput Laut Jenis Gracilaria sp.
Teknologi dan Produksi Rumput Laut Gracilaria sp. Sulawesi Selatan
            Budidaya rumput laut Gracilaria sp. di Sulawesi Selatan menggunakan model polikultur rumput laut dengan ikan bandeng dan udang windu, dimana rumput laut menjadi hasil utama sedangkan ikan bandeng dan udang windu menjadi hasil sampingan. Dari segi penggunaan lahan, tentu sangat optimal untuk meningkatkan produktivitas tambak dan tentunya pendapatan bagi para pembudidaya.
            Untuk mencegah ikan bandeng tidak memakan rumput laut maka bandeng berukuran 100 gr/ekor keatas dipindahkan ke petak tambak pembesaran sebelum mencapai ukuran konsumsi dan panen. Sehingga hanya bandeng yang berukuran kecil yang berada pada tambak rumput laut dengan harapan dapat memakan lumut yang menempel pada rumput laut. Sementara untuk udang windu sendiri tidak ada masalah dalam polikultur dengan rumput laut sampai konsumsi (Tangko, 2008).
Kesimpulan
Sulawesi Selatan menjadi  satu-satunya provinsi yang mampu memproduksi rumput laut jenis Gracilaria sp mencapai ratusan ribu ton. Kemajuan budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari potensi yang dimiliki provinsi ini yang memiliki daerah pantai yang hampir seluruhnya dapat dikembangkan budidaya rumput laut. Bahkan dapat dikatakan bahwa semua kabupaten di provinsi ini menjadikan rumput laut sebagai kegiatan budidayanya.     
Produksi total rumput laut jenis Gracilaria sp. di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 telah mencapai 403.201 ton. Dengan potensi lahan budidaya yang mencapai 50.201 ha untuk budidaya Gracilaria sp. Maka prospek peningkatan produksi yang dapat dicapai untuk kedepan yakni 50.201 ha x (7-12 ton) = (351.407-602.412 ton/ha/siklus, dengan produksi total per tahun adalah 6 x (351.407-602.412) = (2108.442-3614.472 ton/tahun). Prospek peningkatan produksi tersebut didukung oleh tersedianya teknologi yang memadai dan sumberdaya manusia sekitar 50.755 RTP (Rumah Tangga Perikanan).

Sumber :  http://21aandjuventini.blogspot.com/2012/04/v-behaviorurldefaultvmlo.html

RUMPUT LAUT GRACILARIA


RUMPUT LAUT GRACILARIA

Rumput Laut jenis Gracilaria
rumput laut gracilaria
Gracilaria sp Merupakan rumput laut yang dibudidayakan di muara sungai atau di tambak, meskipun habitat awalnya berasal dari laut. Hal ini terjadi karena tingkat toleransi hidup yang tinggi ampai salinitas 15 per mil (Anggadiredja, dkk. 2006)Gracilaria sp. merupakan bahan mentah untuk pembuatan agar-agar. Di Indonesia, rumput laut marga ini merupakan pemasok bahan baku pabrik agar-agar
Rumput laut marga gracilaria banyak jenisnya, masing-masing memiliki sifat-sifat morfologi dan anatomi yang berbeda serta dengan nama ilmiah yang berbeda pula, seperti: gracilaria confervoides, gracilaria gigas, gracilaria verucosa, gracilaria lichenoides, gracilaria crasa, gracilaria blodgettii, gracilaria arcuata, gracilaria taenioides, gracilaria eucheumoides, dan banyak lagi. Beberapa ahli menduga bahwa rumput laut marga gracilaria memiliki jenis yang paling banyak dibandingkan dengan marga lainnya
Pertumbuhan Gracilaria sp, umumnya lebih baik di tempat dangkal daripada tempat dalam. Substrat tempat melekatnya dapat berupa batu, pasir, lumpur, dan lain-lain. Kebanyakan lebih menyukai intensitas cahaya yang lebih tinggi. Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan pembiakan. Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah antara 20-28oC, tumbuh pada kisaran kadar garam yang tinggi dan tahan sampai pada kadar garam 50 permil. Dalam keadaan basah dapat tahan hidup diatas permukaan air (exposed) selama satu hari (Aslan, 1993).
Potensi dan kandungan Gracilaria
Potensi produksi rumput laut cukup meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data Departemen Pertanian (1988) dalam Winarno, F.G (1996), lokasi pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia seluas 25.700 Ha, akan tetapi tingkat konsumsi bagi masyarakat Indonesia yang menggunakannya sebagai bahan pangan sumber serat dan yodium masih rendah. Oleh karena itu hal tersebut merupakan peluang yang sangat potensial bagi pengembangan teknologi pangan yang memanfaatkan rumput laut untuk menghasilkan produk olahan yang berkualitas cukup tinggi bagi jenis-jenis makanan yang banyak digemari oleh masyarakat luas.
Komposisi utama dari rumput laut yang dapat digunakan sebagai bahan pangan adalah karbohidrat, tetapi karena kandungan karbohidrat sebagian besar terdiri dari senyawa gumi yakni polimer polisakarida yang berbentuk serat, dikenal sebagai dietary fiber, maka hanya sebagian kecil saja dari kandungan karbohidrat yang dapat diserap dalam sistem pencernaan manusia. Kandungan gizi rumput laut terpenting justru pada trace element, khususnya yodium yang berkisar 0,1-0,15% dari berat keringnya.
Sumber :https://farizkywulandari.wordpress.com/2013/03/16/rumput-laut-gracilaria/

Kamis, 20 November 2014

Rabu, 19 November 2014

Berkunjung ke Petani Rumput Laut di Pulau Bum bum Sampoerna Sabah Malaysia

Pak Asep Ridwan alias Pak Hendra 
(yang semua foto dalam artikel ini berasal dsri beliau)

Pak Cik Wira bersama istri dan anaknya.
Sosok milyarder rumput laut dari Pulau Bum bum,  
Sampoerna,  Sabah, Malaysia

Pak Hendra bersama Pak Steven dan Timnya

Sosok rumput laut yang banyak berkembang 
di Sampoerna


Mencari terobosan ekspor yang lebih cepat dan menguntungkan dari Pelabuhan Tawau

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto,  M. Si.

Saya sangat salut dengan Pak Asep Ridwan, yang akrab dipanggil dengan Pak Hendra ini.  Beliau sangat mudah berbagi pengalaman, pengetahuan bahkan sangat terbuka jika ingin bekerjasama dengan beliau.  Pak Hendra sudah lama sekali berkecimpung di dunia rumput laut ini.  Bahkan hampir semua wilayah yang memiliki produk rumput laut di seluruh Indonesia ini pernah beliau kunjungi.  Sekarang ini banyak waktu Beliau tetcurah di Tarakan dan Nunukan, alasannya karena disini perlu peningkatan kualitas agar bisa bersaing dan bisa dijamin keberlanjutan usahanya di masa depan.   Soalnya produksi rumput laut dsri Nunukan dan Tarakan ini tidak pernah berhenti sepanjang tahun, dan sekarang sudah mencapai angka 3.500 ton per bulannya.

Minggu yang lalu Pak Hendra pergi melancong ke kawasan Sampoerna, tepatnya di Pulau Bum bum.  Menemui beberapa orang untuk menjajaki berbagai hal yang terkait dengan bisnis rumput laut.  Di kawasan ini, usaha rumput laut rupanya sudah sekitar 15 tahun berjalan.  Khususnya yang dikelola oleh Pak Cik Wira, warga tempatan di sana, yang hingga saat ini usaha itu berkembang semakin besar.

Pak Hendra memang agak lama berkunjung di tempat usahanya Pak Cik Wira ini.  Usaha farming rumpai laut, begitu disana orang menyebutkan rumput laut,  agak berbeda dengan yang dilakukan oleh para petani di Nunukan dan Indonesia pada umumnya.  Mungkin karena karakteristik wilayah perairan lautnya yang dangkal, terdapat banyak pulau-pulau kecil, perairannya yang jernih, dan di beberapa tempat juga ada dasar laut yang berkarang, serta arus laut atau gelombang yangbtidak terlalu kencang.

Oleh Pemerintah setempat Pak Cik Wira dan teman-temannya diberikan ijin penggunaan kawasan laut seluas 22.000 hektar.  Pak Cik Wira salah satu pemilik usaha farming rumput laut yang terbesar disana.  Beliau memulai nya sejak 15 tahun yang lalu, atau sekitar tahun 1999.  Beliau memulainya hanya dari 20 tali bentangan saja.  Usaha ini ditekuninya hingga sekarang beliau memiliki 3.000 tali bentangan yang sudah berproduksi setiap 40-50 hari sekali.  Selain itu, sekarang pun sudah siap 5.000 tali di gudang beliau yang sudah siap diturunkan ke laut.  Tidak lama lagi beliau akan memiliki 8.000 tali bentangan.  Luar biasa !!!











Ternyata tali bentangan yang dikelola Pak Wira tidak sama dengan model tali bentangan di Nunukan dan tempat lain di Indonesia.  Kalau di Nunukan, panjang tali bentangan hanya sekitar 22-25 meter.  Tetapi di kawasan Pulau Bum bum Sampoerna ini panjang setiap tali bentangan ada 200 meter.  Makanya tali ini tidak selalu diangkat ke daratan, tetapi selalu terikat di pancang-pancang di dasar perairan.  Mereka di kawasan ini menggunakan sistem budidaya tanam dasar.  Hampir sama seperti yang dilakukan oleh petani rumput laut di Nusa Lembongan Bali.

Dalam setiap tali yang panjang nya 200 meter itu diikati bibit rumput laut dengan jarak cincin atau titik sekitar 15 cm.  Jadi setiap tali itu ada sekitar 1.330 titik bibit yang terikat dengan tali rafia yang dililitkan di tali bentangan yang dipasangi botol-botol bekas sebagai pelampungnya.  Ukuran bibit lebih besar dibandingkan dengan bibit yang biasa dipasangkan di tali bentangan paranpetani di Nunukan dan Tarakan.  Mungkin sekitar antara 20 sampai 50 gram beratnya setiap bibit.  Kalau di Nunukan para petani menggunakan ukuran bibit hanya sekitar 10-15 gram per titik cincin bibit.  Di Sampoerna ini setiap titik bibit hanya dipasang 1 cincin saja.  Beda dengan di Nunukan dan Tarakan yang setiap titoknya dipasang 2-3 cincin bibit.

Milyarder dari Pulau Bum bum

Menurut cerita Pak Hendra,  rata-rata produksi rumput laut kering dari setiap tali bentang milik Pak Cik Wira ini sekitar antara 75-80 kg.  Maka dari 3.000 tali bentangan yang ada akan menghasilkan sekitaran 225 sampai 240 ton setiap 50 harinya.  Hasil yang sangat besar bagi Pak Cik Wira yang beristri perempuan keturnan Indonesia ini.  Kalau seandainya harga rumput laut itu hanya Rp 10.000 saja, maka pendapatan kotor Pak Cik Wira ini sudah sekitar Rp 2,25 Milyar sampai Rp 2,4 Molyar setiap 50 hari.   Sebulannya ya lebih dari Rp 1,2 Milyar.  Maka benar saja kalau beliau sekarang sudah layak disebut sebagai Milyarder dari Pulau Bum bum Sampoerna.

Pada setiap petak lahan 1 hektar dengan ukuran 50 x 200 meter persegi, terdapat sekitar 50 tali bentangan.  Hal ini karena jarak pemasangan antar tali bentangan ini adalah sekitar 1 meteran, dan hanya dipasang 1 tali saja, atau single. Tidak seperti di Nunukan, kebanyakan petani memasang 2 tali bentangan berdempetan dalam satu ikatannya.   Maka jika ada 50 tali bentangan dalam setiap petak perairan seluas 1 hektar, akan menghasilkan setiap musimnya sekitar 3,75 - 4,0 ton rumput laut kering per musim per hektar.   Ini angka produksi yang sangat bagus sekali.   Dari 3.000 tali bentangan Pak Cik Wira ini berarti perlu areal penanaman 60 hektaran.  Namun demikian dalam hal pengaturan petak-petak penanaman masih mempertimbangkan spasi-spasi kosong untuk arus lalu lintas panen, pemeliharaan dan transportasi laut lainnya.

Dalam mengelola usaha farming rumput lautnya Pak Cik Wira ini memiliki 3 unit rumah penjemuran dan gudang di atas laut, jauh dari pantai dan berada di tengah-tengah areal kawasan budidaya rumput laut.  Masing-masing berukuran sekitar 20 x 30 meter persegi, yang berfungsi untuk rumah pondokan pekerja,  tempat kerja pemasangan bibit, gudang dan sekaligus lantai penjemuran dan paska panen rumput laut.  Di setiap unit rumah dan lantai penjemuran itu selalu ramai setiap harinya dengan aktifitas-aktifitas  para ibu-ibu memasang bibit,  pengelolaan paska panen dan lain-lainnya.  Ada berpuluh-puluh orang yang beraktifitas setiap harinya.  Kebanyakan mereka adalah tenaga borongan untuk pasang bibit dan pemanenan.  Sedangkan Pak Cik Wira sendiri hanya memiliki tenaga tetap 7 orang saja.

Menurut penilaian Pak Hendra yang berkunjung kesana dengan Tim sebanyak 4 orang itu,  sistem kerja mereka sangat efisien.   Pola kerjanya sangat rapi dan teratur, mungkin karena tidak banyak orang pemiliknya, yang lain hanya pekerja.  Dalam hal pengelolaan mutu rumput lautnya juga sangat bagus,  mereka sangat menomorsatukan kualitas. Terlihat dari contoh hasil  rumput lautnya yang dibawa Pak Hendra sangat bagus.  Warnanya benih dan bersih, kekeringannya sangat rata sekitar 36-38 % kadar airnya.   Kandungan garam yang menempel juga sangat minim.  Kalau untuk ekspor sudah pasti langsung lolos.

Menjajagi ekspor rumput laut dari Pelabuhan Tawau

Karena itulah Pak Hendra dan timnya sekalian menjajagi peluang ekspor rumput laut dari Pelabuhan Tawau itu.  Kabarnya biaya pengiriman kontainer unyik ekspor ke China dan Philippina jauh lebih murah.  Ke China hanya sekitar  US$ 500,  atau sekitar Rp 6 juta per kontainer 20 feet, yang berisi 20 ton rumput laut kering yang sudah dipress.  Jadi biaya kirim dari Pelabuhan Tawau ke China hanya Rp 300 per kg.  Biaya yang sangat murah, setara dengan biaya-biaya lokal dari tempat petani sampai di Pelabuhan lokal di Nunukan.   Betapa murahnya biaya pengiriman ekspor ke China dsri Pelabuhan Tawau itu.

Kalau kita bandingkan dengan biaya pengiriman dari Pelabuhan Nunukan ke Makassar atau ke Pelabuhan Surabaya yang hampir mencapai Rp 1.000 per kg nya, bahkan bisa lebih besar lagi.  Hal ini tentu bisa menjadi suatu alternatif untuk melakukan ekspor rumput laut asal Nunukan bekerja sama dengan Eksportir rumput laut di Tawau.  Kalau perlu kita berkongsi membuat perusahaan eksport dengan warga Malaysia sana untuk sama-sama melakukan kerja sama ekspor bersama-sama.   Hal itu dimaksudkan agar biaya-biaya untuk ekspor bisa lebih murah,  dan agar bisa menjadi nilai tambah bagi harga pembelian di tingkat petani.   Meskipun sebenarnya kita kehilangan peluang pendapatan dari jasa trabsportasi dan pelabuhan lokal.

Beberapa hitungan perkiraan biaya dari Nunukan ke Pelabuhan ekspor di Tawau sekitar Rp 500 per kg nya.  Ada penghematan lumayan besar, yaitu sekitar Rp 500 - Rp 1.000 per kg.  Apalagi jika pengiriman dilakukan langsung dari laut ke laut, artinya tidak usah lagi hsrus naik ke daratan.   Karena tingkat kemahalan biaya bongkar muat inilah yang sangat besar, biasa membebani sistem perdagangan komoditi-komoditi wilayah kepulauan Indonesia ini.  Ini tentu sejalan dengan perkembangan terbaru, yaitu akan bergulirnya Masyarakat Ekonomi ASEAN.... MEA.

Semoga.

(Sumber : Wawancara dsn diskusi dengan Pak Hendra lewat lisan dan bia WA)






Senin, 17 November 2014

Usaha meningkatkan produktivitas Rumput Laut Eucheuma cottonii di PT. TAP Tarakan





Foto-foto di atas oleh : Pak Asep Ridwan 
Lokasi : Mamolo Nunukan Selatan

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto,  M.Si.

Kemarin kedatangan tamu dari PT TIRTA AGUNG PERKASA.
Pak Rudy Gunawan didampingi Pak Sumardi.  Beliau usaha Seaweed Farming &  Carrageenan di Pantai Amal Tarakan.
Sistem usahanya adalah kemitraan antara Perusahaan (Inti) dan Petani (Plasma).   Pola kemitraan usahanya bagi hasil dengan proporsi tertentu, sedangkan semua sarana prasarana difasilitasi oleh Perusahaan.  Petani hanya menanggung tenaga dalam persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan, pemanenan serta pengeringan.

Semula.....pola budidayanya masih mengikuti yang sudah berkembang dan dilakukan oleh petani di Tarakan, yaitu :
1.  Dalam setiap tali bentang dipasang tali cincin rangkap 3 di setiap titik yang berjumlah sekitar 235 titik.
2.  Tempat dan waktu untuk pasang bibit hiasanya memakan waktu hingga 36 jam dan tidak diberi perlakuan khusus.
3.  Bibit rumput laut diambil dari tanaman budidaya yang berumur sekitar 2 bulan.

Dengan pola itu produktivitasnya sejak bulan Oktober November 2013 hingga Maret 2014 yang lalu... menghasilkan rata-rata 5-6 kg rumput laut kering per bentang.  Tetapi sejak April hingga Juni 2014 produktivitas turun hingga cuma 4 kg RLK per bentang.
Karena hasil yang tidak bagus itu lah maka Perusahaan melakukan beberapa perbaikan pola budidaya rumput laut sebagai berikut :

1. Jumlah titik tanam dalam bentangan dikurangi atau dijarangkan hanya menjadi 160 titik.
2. Sedangkan jumlah cincin per titik dikurangi hanya 1 atau 2 cincin saja per titik tanam.
3. Untuk pemasangan bibit dilakukan dengan bibit yang berumur sekitar 30 hari saja.
4. Lama pemasangan bibit diusahakan maksimal hanya 6 jam saja supaya tidak terjadi pengeringan di permukaan bibit yang menyebabkan stagnasi pertumbuhannya.
5. Melakukan pemupukan dengan cara perendaman sebentar atau pencelupan dalam larutan NPK encer pada saat rumput laut usia sekitar 30 hari.

Dengan perubahan perlakuan seperti di atas, menurut Pak Rudy Gunawan.... maka ada peningkatan hasil mulai bulan Juli hingga September 2014 dengan produktivitas mencapai 9 kg RLK per tali bentang.
Namun demikian ternyata angka produktivitas ini kemudian menurun lagi pada pertengahan September hinggabulan November sekarang ini hanya tinggal 4 kg RLK per bentang.

Pada saat kemaren datang ke kantor saya, dan meminta saran tentang upaya perbaikan dan peningkatan produksi.  Maka saya sarankan  untuk tetap melakukan pola perbaikan sebelumnya itu, serta ditambahkan juga dengan  melakukan beberapa hal sebagai berikut :

1. Penggunaa bibit rumput laut E. cottonii hasil kultur jaringan.
2. Pola tanam mengadopsi sistem Jajar Legowo.
3. Penggunaan bibit besar ukuran 100 - 200 gram per titik yang diikat dengan tali rafia.
4. Melakukan perendaman bibit... selama masa pemasangan bibit, untuk menjaga tetap basah dan lembabnya permukaan bibit rumput laut.  Perendaman dilakukan di dalam suatu wadah yang berisi air laut yang sudah diberikan cairan "pupuk".

Mudahan upaya ini bisa berhasil meningkatkan produksi dan hasil panen serta meningkatkan pendapatan keuntungan perusahaan serta petani peserta kemitraan itu.
Semoga.

Selasa, 11 November 2014

Kaltara Oacu Industti Rumput Laut



Kaltara Pacu Industri Rumput Laut


Sumber: Bisnis Indonesia
TARAKAN-Provinsi Kalimantan Utara membuka peluang investasi pabrik pengolahan rumput laut seiring potensi sumber daya alam yang melimpah.
Bupati Nunukan Basri mengatakan pihaknya berharap investor menanamkan modalnya untuk pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerahnya karena produksi komoditas tersebut terus meningkat.
“Jangan sampai investor nasional datang terlambat dari investor Malaysia,” ujar Basri dalam semiloka bertema Mendorong Pengembangan Industri Hasil Perikanan dan Rumput Laut Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Ekonomi Kaltara di Universitas Borneo, Tarakan, Kamis (9/10).
Semiloka tersebut diselenggarakan oleh Perwakilan Bank In donesia Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tarakan dan Universitas Borneo di Tarakan.
Sementara itu, Pj. Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie mengatakan pemerintah daerah membuka pintu investasi di industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan, termasuk rumput laut.
“Saat ini, sudah ada investor yang bekerja secara diam-diam di Nunukan untuk dibangun pabrik pengolahan rumput laut. Kami juga mencari investor untuk mengelola hasil perikanan, baik ikan segar untuk ekspor dan ikan olahan. Kami sangat mendukung adanya insentif bagi pengusaha yang mau berinvestasi atau petani dan nelayan yang melakukan usaha,” tuturnya.
Pemerintah berkewajiban untuk membangun infrastruktur agar aksesibilitas produksi berjalanlancar, menciptakan keamanan agar in vestasi berlanjut, dan memberikan bimbingan serta asistensi. Menurut Irianto, dukungan perbankan untuk sumber pembiayaan menjadi salah satu kunci terwujudnya investasi.
Wali Kota Tarakan Sofian Raga menegaskan rumput laut menjadi satu dari empat komoditas andalan yang dikembangkan di daerahnya, selain ikan, udang dan kepiting.
Pemkot Tarakan, mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut melalui pembangunan infrastruktur baik pelabuhan, bandara, kawasan industri, ketersediaan listrik dan air bersih.
“Untuk listrik tidak ada masalah. Air bersih, kami akan membangun embung baru pada 2015 sehingga pada 2018 produksi air bersih diharapkan 1.000 liter per detik. Kami jamin kebutuhan dua infrastruktur ini untuk investasi pabrik pengolahan rumput laut,” tegasnya.
Irianto, petani rumput laut di daerah pesisir Pantai Amal Tarakan, mengaku mendukung adanya rencana pembangunan pabrik pengolahan rumput laut karena keberadaan fasilitas tersebut dapat meningkatkan harga jual komoditas di tingkat petani.
PABRIK
Perwakilan dari Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) Sasmoyo S. Boesari mengatakan Tarakan dan Nunukan memiliki potensi yang luar biasa untuk dibangun pabrik, kendati ada beberapa tantangan yang harus diatasi untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut.
Tantangan tersebut yakni faktor warna hasil rumput laut yang lebih coklat dibandingkan hasil dari daerah lain, faktor impurity (kadar kotoran) dan kadar logam yang relatif lebih tinggi.
“Namun, handycap itu menjadi tanggung jawab bersama untuk diatasi. Saya punya harapan besar, akademisi di sini lebih serius mengkaji tiga handycap. Kalau itu bisa dipecahkan saya yakin dua daerah ini akan sukses,” katanya.
Menurut Sasmoyo, pihaknya merekomendasikan cukup dibangun satu pabrik dulu untuk tahap awal dan Tarakan dinilai lebih feasible dibandingkan dengan Nunukan. Satu pabrik pengolahan rumput laut tersebut memiliki kapasitas 300 ton per bulan dengan nilai investasi diperkirakan Rp15 miliar-Rp20 miliar.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) Arman Arfah mengatakan sistem resi gudang perlu dikembangkan untuk mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini.
Kasubdit Pangan Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Norhayati Gobel menambahkan pemerintah mendukung pengembangan industri pengolahan rumput laut di daerah ini melalui sejumlah program.
“Infrastruktur tentunya perlu dipersiapkan untuk pengembangan sektor ini. Kami dukung dengan memberi fasilitasi seperti sarana produksi dan peralatan. Tahun lalu kami sediakan alokasi dana Rp1,7 miliar untuk Nunukan, tapi belum dapat terserap karena belum ada infrastruktur,” paparnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) Mokhammad Dadi Aryadi mengatakan Kaltara memiliki potensi yang besar di bidang kelautan dan perikanan. Potensi tersebut harus dapat dioptimalkan dengan baik sehingga bernilai ekonomis. 
Siti Munawaroh.





Indonesia dan Filipina Kolaborasi untuk Kuasai Pasar Rumput Laut Dunia









Indonesia dan Filipina Kolaborasi untuk Kuasai Pasar Rumput Laut Dunia

Indonesia dan Filipina berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan rumput laut di pasaran dunia. Meski kedua negara ini semula bersaing.

"Kita mulai melihat (persoalan ini) dengan perspektif baru. Pasar dunia untuk rumput laut sangat besar, sehingga kedua negara dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia akan komoditi ini," jelas Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), seperti dikutip dari rilis Humas Kementerian Perdagangan, Senin (15/9/2014).
Di bawah payung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kedua negara berjanji akan berkolaborasi untuk menjadikan ASEAN sebagai basis produksi, dan memaksimalkan pemenuhan pasar rumput laut dunia.

Kolaborasi ini diwujudkan melalui penandatangan memorandum of understanding (MoU) oleh Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dan Seaweed Industry Assosiation of the Phillipines (SIAP), sekaligus menjadi 'win win situation' bagi kedua negara yang semula bersaing.

"ARLI dan SIAP sepakat untuk melakukan kerja sama dalam pengolahan dan pemasaran rumput laut sejumlah 50 ribu ton atau senilai US$50 juta. Indonesia saat ini mengekspor sekitar 180 ribu ton rumput laut atau senilai US$165 juta," jelas Bayu.

Sebagai penghasil dan eksportir rumput laut, Indonesia dan Filipina menjalin kerja sama dari hulu hingga hilir. Keduanya sepakat saling memperkuat pengembangan industri rumput laut, dimana SIAP berperan untuk memenuhi kebutuhan food grade seaweed, sementara Indonesia untuk mengembangkan rumput laut sebagai bahan baku biofuel. (pemi)

Sumber: Citra Indonesia